My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Pancaran kebahagiaan



Seketika tawa Cheryl pecah. Ia tidak mengira hubungan yang terlihat bucin itu ternyata begitu banyak tekanan. Arga hanya bisa bersikap manis, tanpa bisa mengeluarkan jati diri yang sebenarnya.


"Asyem bener. Itu pacaran apa kontes pasangan uwu?" ledek Cheryl disela gelak tawanya.


Arga ikut tertawa seraya mengusek rambut gadis itu. "Maklum, cuma ngikuti alur," ucapnya.


"Alur siapa? Alur mak othor ya?" kekeh Cheryl disela tawanya. Arga semakin tergelak, mengacak gemas rambut Cheryl.


"By the way, gimana ya keadaannya dia sekarang?" tanya Cheryl setelah menghentikan tawanya.


Arga terkekeh. "Kenapa kangen sama dia?" ledeknya.


"Isshh, enak aja! Aku yang harusnya tanya itu sama kamu?"


Arga tertawa, merangkul bahu sang istri kedalam dekapannya. "Gak ada sekali pun aku merindukan dia. Yang ada, cuma rasa sesal. Kenapa aku gak menyadarinya dari awal? Sampai aku harus terlihat bodoh dimata semua orang?" ucapnya tersenyum kecut.


Cheryl menghela napas panjang. Lalu, memeluk tubuh tegap itu. Tau dampak dari kejadian itu, tak sedikit yang menjelekan dan menertawakn Arga disosial media. Mereka meledek Arga, dengan dalih mengasihani karena sudah tertipu wanita itu. Dan hal itu selalu membuat Arga benar-benar merasa menjadi pria paling bodoh. Hingga disinilah peran Cheryl yang selalu menutup mata dan telinga Arga dari mereka.


"Sudahlah, gak penting mikirin orang lain. Bukannya yang harus kamu pikirin itu aku? Rumah tangga kita? Lalu, buat apa kamu buang-buang tenaga mikirin hal yang gak penting?"


Arga tersenyum seraya mengusap bahu gadis itu, dengan mendaratkan kecupan dikepalanya. "Kamu benar. Sekarang, aku hanya akan fokus sama kamu, rumah tangga kita, dan masa depan kita," balasnya. Hingga Cheryl pun tersenyum dan mendongak.


"Nah gitu dong!" ucap Cheryl memonyongkan bibir.


Arga terkekeh dan segera meraup bibir ranum itu, mengecupnya singkat namun begitu dalam. Keduanya terus mengembangkan senyum, pancaran kebahagiaan nampak jelas dari wajah mereka. Hingga seseorang dari kejauhan yang sedari tadi memperhatikan, tersenyum sinis melihat pemandangan itu.


"Tertawalah sekarang. Karena besok gue pastikan gak akan ada lagi tawa dibibir lu, Cheryl!"


Seringai nampak jelas dari wanita berdress sexy itu. Lalu, ia pun segera berlalu dari tempat tersebut.


Disatu sisi, Reysa memicing melihat sekelebat bayangan seseorang yang seperti ia kenali. Namun, ia tidak bisa memastikan itu. Hingga suara seseorang mengalihkan atensinya.


"Lu lihat apa? Serius bener?" tanya Key.


Sontak Reysa berpindah menatap pria itu. "Gue tadi kayak lihat ...." Gadis itu tampak berfikir sejenak, siapa kira-kira wajah familier itu.


Key, mengikuti arah tatapan Reysa yang tidak nampak siapapun disana. "Hantu, maksud lu?" ledek pria itu terkekeh.


"Ck! Apaan sih lu, ngomongnya malah nakutin," kesal Reysa mengeplak lengan pria itu hingga tertawa.


"Lagian sih lu, gak jelas amat!"


"Ada apa?" tanya Al menghampiri kedua orang itu.


"Gak tau ini. Si cantik kayaknya lagi ngehalu nih, mikirin cowok kalem sang idaman," celetuk Key menyindir, yang mengingat Reysa pernah mengatakan itu. Dan ia baru sadar, jika pria yang dimaksud gadis itu, kemungkinan besar sepupunya, Al.


"Apaan sih, Key? Gaje deh!" elak Reysa dengan wajah memerah.


Al tersenyum mananggapi. "Siapa sih? Jadi, penasaran," tanyanya menggoda.


Merah sudah seluruh wajah Reysa. Key yang menyadari itu terkekeh. Ia hendak berucap, namun dengan cepat Reysa melayangkan injakan maut, disertai tatapan tajam. Hingga pria itu meringis menahan kakinya yang hanya menggunakan sandal jepit diinjak keras oleh Reysa yang mengenakan sepatu.


"Aahh!! Lu?" kesal Key, mengangkat kakinya berjingkrak.


"Makanya kalo punya mulut tuh gak usah lemes!" ledek Reysa puas.


Tidak ingin Key terus membeberkan aibnya, tanpa sadar Reysa segera meraih tangan Al dan mengajaknya pergi dari sana.


Gadis yang tadi membuntuti Al, hanya bersidekap melihat drama itu. Key yang baru menyadari kehadiran Rayna, hendak mengomel pada gadis itu. Namun, sebelum Key berucap, gadis itu sudah berlenggang meninggalkannya juga ke lain arah.


"Eh lu mau kemana?" tanya Key.


"Balik!" balas Rayna singkat tanpa menoleh.


"Astaga! Gue dicuekin dua cewek berwajah sama," ucap Key merasa tak percaya. "Hei, gue Arkyano. Lu berani nyuekin gue?" teriaknya. Namun, tak didengar oleh gadis itu.


"Akhh sial!" kesal pria tampan itu frustasi.


Bagaimana tidak? Untuk pertama kali, seorang Key tidak dihiraukan para gadis. Dan itu sungguh meruntuhkan harga dirinya. Jiwa buayanya mendadak terluka karena itu.


"Cih! Kalian gak tau siapa gue? Gue bakal buktiin, besok gue akan terlihat paling keren dari pria lain. Bahkan gue akan ngalahin mantennya sekalian!" kesal Key, lalu ia pun berlenggang dengan tertatih untuk mencari gadis yang mau suka rela mengompres kakinya yang sudah membiru.


Sementara itu, Reysa terus berjalan cepat tanpa melepas pegangan tangannya. Al tidak berkomentar, tatapannya masih ketempat semula melihat Rayna bersama Key, hingga gadis itu pergi dari sana. Lalu, ia baru menyadari, Reysa sudah terlalu jauh berjalan.


"Berhenti, Rey!" ucap Al menghentikan langkahnya. Hingga Reysa ikut berhenti.


Gadis itu baru tersadar. 'Astaga apa yang gue lakuin?' batin Reysa bertanya.


Perlahan Reysa membalikan tubuh dengan senyum kikuknya. "Kita mau kemana?" tanya Al bingung.


"Ah, itu, itu ...." Tiba-tiba atensi Reysa berpindah pada pegangan tangan mereka. Buru-buru gadis itu melepas pegangan tangannya.


"Ma-maaf, aku gak bermaksud ...." Reysa nampak tergugup dan bingung menjelaskan.


Al terlekeh merasa lucu dengan sikap aneh gadis itu. "Kamu tuh lucu," ledeknya. Lalu, kembali menggandeng tangan Reysa. Hal yang tentu saja membuat gadis itu menegang.


"Ayo, kita kembali!" ajak Al dan berlenggang menyeret tangan gadis itu.


Blush!


Tersipu sudah Reysa dibuat Al. Ia berjalan mengikuti langkah Al dengan hati berdegup tak beraturan. 'Gue seneng, Al. Lu bisa melihat gue juga,' batinnya tersenyum senang.


Reysa pun memulai obrolan. Membahas chat mereka selama ini. Al menanggapi, hingga keduanya mengobrol bersama sambil berjalan menyusuri pantai. Meski gandengan tangan mereka terlepas. Namun, Reysa begitu menikmati kebersamaan itu.


**


Disebuah kamar bertaburan kelopak bunga, sepasang pengantin itu begitu dimanjakan dengan hal-hal romantis dari pelayanam room service hotel tersebut. Dengan hanya menggunakan lampu temaram dan lilin-lilin saja, membuat suasana kian romantis.


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka, mengalihkan atensi Arga dari layar ponselnya. Ia dibuat terpana dengan penampilan Cheryl hari ini. Setelah mendapat perawatan dan pelayanan spa, gadis itu benar-benar telihat fresh dan segar. Apalagi dengan pakain yang dikenakannya kini, sebuah lingery sexy yang sengaja disiapkan mama Chika.


Tidak seperti saat honeymoon waktu itu. Kini Cheryl membeanikan diri mengenakan gaun dinas malam para istri itu. Arga tak bisa berucap apapun, jiwa kelelakiannya meronta seketika. Tanpa permisi, Cheryl sudah mendudukan diri dipangkuan Arga yang terduduk ditepi ranjang.


"Apa kamu siap?" goda Cheryl melingkarkan tangan dileher suaminya itu.


Sontak Arga memeluk tubuh itu agar tidak terjatuh. "Tentu!" balasnya menyeringai.


"Lihatlah! Dia bahkan udah siaga, lebih awal."


\*\*\*\*\*\*