
Disebuah kamar seorang wanita tengah duduk diatas sofa dengan kaki menyilang bertumpu ke atas meja. Bahkan menampakkan kaki jenjangnya yang terekspos. Kepulan asap rokok berterbangam mengelilingi kepala wanita tersebut.
"Kau yakin tidak akan kembali?" tanya seorang pria yang kini tengah berdiri didepan jendela besar dengan segelas wine ditangannya.
"Untuk apa?" tanya si wanita dengan santai.
Pria itu berbalik, kemudiam mendekati wanita itu. "Ayolah, Tania! Aku sudah melakukan segalanya untukmu. Bukankah sudah waktunya kau membalas kebaikanku?" bujuk pria itu mendudukkan diri disamping wanita itu.
Tania menyeringai. "Kau yang menyembunyikanku, pak Alex!" balasnya. Lalu, meraih minuman yang sama seperti ditangan pria itu.
"Itu hanya untuk sementara. Semua berita tentangmu sudah tenggelam. Dan apa kau tidak ingin mendapatkan putra pak Shaka itu lagi?"
"Nggak!"
"Jadi, kau akan membiarkan mereka bahagia begitu saja?" tanya pak Alex tak percaya.
"Tentu saja tidak. Mereka yang menyakitiku, gak berhak untuk bahagia," sambar Tania disertai seringai yang sama.
Lalu, wanita itu mematikan sisa puntung rokok kedalam asbak, hingga padam sempurna. "Bukankah mematikan itu lebih mudah?" tanyanya. "Lalu, kenapa tidak mempertahankannya terlebih dahulu?"
Pak Alex menyeringai. "Kau memang cerdik. Itu yang ingin dengar darimi. Buat mereka merasakan apa yang kita rasakan!" ucapnya.
Setelah kejadian itu, papa Shaka menarik kembali investasi dari perusahaan pak Alex. Hal itu tentu membuat pak Alex kelabakan dan ikut dendam pada pria berpengaruh tersebut.
"Lalu, kapan kau kembali?" tanya pak Alex menarik tubuh wanita itu keatas pangkuannya. Tangan besar itu bergeliyara menelusup kedalam dress mini yang dikenakan Tania.
"Tiba waktunya aku pasti kembali," balas Tania mengalungkan tangan di leher pria itu seraya bibir sexynya bergeliyara disana.
Ya, sekarang Tania bukan anak pak Alex lagi. Melainkan simpanan pria itu. Hingga pak Alex dengan rapi menyembunyikan Tania untuk kelangsungan bisnisnya yang hampir terendus pihak berwajib. Tentu dengan perjanjian menguntungkan antara ia dan wanita itu.
**
"Kamu mau kemana?" tanya seorang pria berusia kepala empat pada anak gadisnya. Seketika langkah sang gadis pun terhenti.
"Keluar!" balasnya dingin.
"Ray?"
"Aku cuma sebentar," sela sang gadis dan segera berlalu tanpa menolehlan wajahnya.
Pria itu menghembuskan napas panjang, entah kenapa putrinya yang satu itu berbeda dengan putri satunya lagi.
"Sudahlah, Papih gak perlu khawatir. Paling Rayna pergi lari malam ke taman." Seorang gadis dengan wajah yang sama menghampiri dengan secangkir kopi ditangannya.
Gadis itu mendudukan diri disamping sang ayah sekaligus ibunya itu, seraya meletakan kopi tersebut diatas meja. Pria yang masih tampan diusianya itu tersenyum, mengusap sayang rambut putrinya.
"Gimana kamu menghadapi saudaramu itu?" tanyanya.
"Ya, gimana lagi? Aku senyumin aja apapun kemauan dia," balas Reysa, gadis yang kini tersenyum kecut pada sang Papih.
Rizky, Papih si kembar itu hanya tersenyum menyemangati dengan tangan terus membelai rambut bergelombag gadisnya. Walaupun ada perasaan sesak saat ia harus melihat kedua putrinya tersebut jarang sekali akur. Namun, ia terus mencoba adil pada keduanya.
Dulu sebelum mendiang sang istri berpulang. Rayna begitu ceria, ia juga begitu dekat dengan sang Mamih. Berbeda dengan Reysa yang lebih dekat dengan sang Papih sedari kecil. Mungkin itu adalah alasan Rayna menutup diri dan merubah sikapnya menjadi lebih dingin.
"Pih!" Panggilan Reysa mengalihkan perhatian Rizky.
"Hem, iya Sayang?"
"Papih melamun lagi?" tanya Reysa khawatir.
Rizky tersenyum seraya merapihkan anak rambut gadisnya itu. "Nggak! Ngapain Papih melamun?" sangkalnya.
"Cieee ... Cemburu?" goda Rizky.
Reysa berdecak dan hal itu membuat sang papih tertawa seraya mengacak rambut gadisnya itu.
"Isshh Papih!" rengeknya.
"Apa?" tanya Rizky disela tawanya.
Reysa menghentikan tangan Rizky dan menatap ayahnya itu serius, hingga pria itu pun berhenti tawa.
"Bisa gak, Papih itu lupain Mamih?" tanya Reysa serius. "Lima tahun, Pih! Bahkan sebentar lagi memasuki enam tahun," jelasnya.
Rizky sontak terdiam menanggapi. Reysa mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh dengan kasar. "Sebentar lagi, aku dan Rayna mungkin akan segera mendapatkan pasangan hidup. Lalu, apa Papih akan terus seperti ini?"
"Papih masih muda. Gak ada salahnya membuka hati untuk wanita lain," lanjutnya. "Maafin aku, Pih! Aku hanya ingin Papih juga bahagia. Seperti apa yang diinginkan Mamih."
Reysa berlenggang meninggalkan sang Papih seorang diri diruang keluarga. Pria tampan itu menunduk seraya memegang pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Kamu gak tau Rey, karena belum merasakan jatuh cinta," ucap Rizky dengan bulir bening keluar dari sudut matanya.
"Papih lupa untuk tidak bucin. Dan sekarang? Hah~"
Brakk!!
Reysa menutup pintu keras. Ia menyandarkan tubuh didaun pintu kamarnya. Menahan sesak yang menghimpit rongga dadanya. Bukan maksud ia untuk melupakan sang Mamih. Namun, melihat sang papih dengan keadaannya yang terus terpuruk membuat gadis berusia dua puluh dua tahun itu ikut merasakan sakit.
"Maafin aku, Mih! Aku hanya ingin Papih kembali seperti dulu. Aku ingin melihat Papih bahagia lagi," isak Reysa.
Ditengah keterpurukannya, tiba-tiba satu notif terdengar dari ponsel miliknya. Gadis itu mendudukkan diri ditepi ranjang seraya menghapus jejak kebasahan dipipinya. Lalu, meraih ponselnya diatas nakas.
Terlihat sebuah chat dari seseorang yang membuat senyum dibibir gadis itu mengembang. Sebuah balasan chat dari media sosial yang ia tunggu sedari kemarin. Segera ia membuka chat tersebut.
[Alhamdulillah, aku baik. Kamu sendiri gimana kabarnya?]
Ia tersenyum senang mendapati chat tersebut, dengan semangat ia pun segera membalasnya.
[Aku juga baik. Katanya dua minggu lagi resepsi pernikahan Cheryl dan Arga. Apa kamu akan pulang?]
Satu detik, dua detik, ponsel Reysa kembali bersuara. Bukan satu, tapi dua chat sekaligus
Tring!
[Tentu saja, kita sekeluarga pasti pulang.]
[Oh iya, gimana kabar Rayna?]
Senyum Reysa sedikit surut. Entah kenapa pria yang ia kagumi menanyakan saudaranya membuat ia sedikit kesal. Hingga ia enggan membalasnya lagi. Namun, satu notif lagi membuat gadis itu segera menepis pikiran buruk itu.
[Uncle Iky juga? Apa semuanya sehat?]
Reysa tersenyum dan kembali membalas chat tersebut. Terlalu senang berbalas chat, membuat ia lupa akan kesedihannya tadi. Hingga entah sampai jam berapa ia asyik berbalas chat dengan pria yang selalu ia klaim suami idaman itu.
"Hem salah gak ya, kalo gue suka sama dia? Terus apa gak akan aneh karena usia dia lebih muda dari gue?" tanyanya bermonolog sendiri.
"Apa kamu juga merasakan hal yang sama, Al?" tanyanya lagi menelisik foto seorang pria tampan di profil media sosialnya. Pria kalem dan penuh wibawa yang sudah lama menjadi kriterianya itu.
******