My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Scene romantis



Sapuan napas hangat dari hidung Arga, sukses membuat Cheryl meremang seketika. Gadis itu menelan salivanya kuat-kuat dengan bayangan adegan romantis apa yang akan mereka lakukan ditempat umum seperti itu. Hingga ia tersadar kala lampu sudah mati, pertanda film siap dimulai.


"Ehemm! I-itu filmnya udah mau mulai," Cheryl berdehem keras mengalihkan perhatian. Segera ia membuang muka, mengembang kempiskan pipi yang terasa memanas.


Arga yang melihat ekspresi gadis itu tersenyum lucu. Ia pun kembali menegakkan diri menatap layar besar yang sudah dimulai. Sesekali ia melirik Cheryl dengan wajah memerahnya. Hingga ia tidak bisa untuk tidak tersenyum melihat itu. Kemudian, ia pun mulai fokus melihat film yang sudah berjalan.


Sesuai pilihan Cheryl, genre romantis yang dipilih membuat suasana kian tak karuan. Banyak adegan yang bikin baper, hingga dengan gemas Cheryl menggigit bibir bawahnya dengan senyum yang ia tahan.


Arga yang menyadari itu, kembali tersenyum. Ia pun merasakan hal yang sama, melihat bibir ranum itu digigit membuat ia tidak fokus dan lebih menarik memperhatikan bibir yang memerah itu. Bayangin Cheryl saat men desah waktu itu tiba-tiba melintas diotaknya. Hal itu sukses membuat Arga hilang kendali, dengan cepat ia meraih tengkuk Cheryl dan mendaratkan bibirnya dibibir gadis itu.


Cheryl terlonjak, namun tidak lama ia pun mulai menikmati saat bibir Arga bergerak lembut diatas bibirnya. Mata Cheryl terpejam seraya menyeimbangi ciuman mereka. Soundtrack dari dalam film tersebut membuat suasana kian mendukung. Tempat mereka yang berada dipojokan membuat mereka leluasa membuat scene romantis itu.


**


"Sialan, panggilan gue terus aja ditolak," kesal Tania. Ia tidak menyerah dan terus menghubungi nomor seseorang.


"Oh, jadi pria itu mau main-main sama gue? Oke kita lihat, apa setelah ini diamasih mau mengabaikan gue?" Seringai nampak dari wanita yang nampak kacau itu.


Setelah kejadian beberapa waktu lalu, tidak ada tempat yang harus ia mintai perlindungan. Kondisi rumah yang sudah dikepung wartawan, membuat ia harus segera kabur sebelum polisi menangkapnya atas kasus video syur yang beredar. Dan harapan satu-satunya hanyalah pak Alex. Hanya pria itu, tempat ia berlindung sekarang.


Tring!


Setelah menunggu beberapa detik, akhirnya pak Alex membalas chat darinya.


[Berhenti membuat keributan! Sekarang juga pergi dari kota ini, aku akan mentransfer uang. Dan orang-orangku akan mengantarmu ke Bandara lima belas menit lagi.]


Tania tersenyum menang. Dengan sedikit ancaman, pria paruh baya itu akhirnya mau membantunya keluar dari masalah. "Baiklah, untuk sementara, kalian boleh senang-senang dulu. Tapi ... Lihat saja, suatu saat gue akan kembali dan membalas apa yang kalian lakukan pada gue!" tekadnya mantap.


Sesuai intruksi, ia pun segera mengemasi barangnya dan keluar dari pintu belakang. Hanya dengan membawa tas gendong dan berpakaian tertutup, ia dapat keluar tanpa diketahui orang-orang.


**


"Apa?" pekik Key, setelah mendengar suara seseorang dari sebrang telepon.


"Ck! Sialan!" umpatnya.


"Ya udah, lu terus cari dia sampai ketemu. Gue gak mau tau. Jangan sampai dia ngusik keluarga gue lagi!" tegasnya. Lalu, mengakhiri panggilan itu sepihak.


Hembusan napas kasar terdengar dari pria tampan itu. Bagaiamana mungkin ia kehilangan jejak Tania begitu saja? Bahkan anak buahnya tidak dapat menemukan wanita ular itu.


"Gue harap lu gak kembali, sudah cukup lu mengacau. Walaupun lu kembali, lain kali lu gak akan selamat dari tangan gue."


"Key, honey! Where are you?" teriakan seseorang membuat Key menghembuskan napas pelan. Segera ia merapihkan penampilan, terutama membuka anting yang terpasang dikedua telinganya.


"Ya, Ma!" balasnya segera berlari keluar kamar untuk menyambut wanita tercintanya itu.


Cup!


"Apa kabar, Sayang?" tanya wanita cerewet yang masih cantik diusianya itu, setelah mengecup pipi putra tunggalnya tersebut.


"I'm oke, Ma!" balasnya.


"Kamu gak mau menyapa Papa?" tanya mama Sena menggoda. Terkadang ia bingung suami dan putranya bagai orang lain yang tidak mau saling menyapa.


"Aku pergi dulu, Ma! Ada urusan sebentar," Bukan menjawab, Key justru berpamitan keluar.


"Sebentar aja, Ma. Gak akan malam, kok!" sela Key. Segera ia mengecup pipi sang mama dan berlenggang pergi.


Seperti biasa, hubungan antara ayah dan anak itu belum juga berubah setelah pertengkaran antara Key dan Arga waktu itu. Key enggan berdamai dan mengalah pada sang papa, begitupun papa Abi yang memang memiliki sifat dingin. Ia tidak bisa berkomunikasi dengan baik, kecuali dengan sang istri. Bahkan dengan putranya sekalipun, ia tidak bisa melakukan itu.


"Pa!!" mama Sena mendekat ke arah sang suami dengan wajah sendu.


Papa Abi menyunggingkan senyum kecil. "Biar nanti aku coba," ucapnya, kemudian mengecup pucuk kepala istrinya itu.


Mama Sena memeluk tubuh tegap itu. "Cobalah mendekat pada Key, dia gak sama kayak kamu yang sulit diajak komunikasi. Dia hanya butuh pengakuanmu. Dan kamu harus memulainya," jelasnya. "Ya?" pintanya mengadahkan menatap harap suaminya itu.


Abi tersenyum, menangkup wajah cantik itu. "Ya, aku pasti mencobanya, hem."


Cup!


Papa Abi mengecup bibir istrinya sekilas. "I miss you!" godanya.


Mama Sena tersenyum menanggapinya. "Me too," balasnya. Seperti biasa pasangan paruh baya itu, kembali menikmati waktu mereka. Meski keduanya tinggal bersama dimana pun, namun itu tak cukup waktu untuk melakukan me time karena padatnya jadwal kerja mereka.


Sementara Key, memilih untuk menyambangi rumah papa Shaka. Membicarakan masalah Tania, menjadi alasan pria tampan itu menghindari sang papa. Ia masih enggan bicara dengan ayahnya itu.


**


"Akkhh! Akhirnya ... Aku nonton juga film itu," pekik Cheryl kegirangan.


Arga tersenyum seraya mengusek rambut sang gadis. "Seneng?"


"Iya, dong! Ini film udah ditunggu-tunggu dari dua bulan lalu," balas Cheryl.


"Iya deh!" Arga semakin mengacak rambut gadis itu gemas.


"Isshh, rambutku," rengek Cheryl tak terima. Namun Arga hanya tertawa, seraya berjalan cepat meminggalkan gadis itu.


"Eh, tungguin!" Cheryl bergegas menyusul sang suami, hingga canda tawa terdengar dari sepasang manusia itu yang berjalan menuju baseman.


"Kita makan dulu?" tanya Arga, setelah keduanya memasuki mobil mereka.


"Emm, kita makan dirumah aja. Aku mau bikin sesuatu buat kamu," balas Cheryl tersenyum.


Arga megerutkan dahi tak percaya. "Oh ya? Gak percaya aku," ledeknya.


"Isshh serius! Aku udah cari resep terenak buat kita makan malam," sela gadis itu meyakinkan.


Arga terkekeh. "Iya deh, iya. Suami makan masakan istri," goda Arga.


Cheryl memanyunkan bibir seraya menampol bahu Arga. Panggilan itu terasa aneh menurutnya. Namun, tak ayal ia tersenyum dengan semburat merah dipipinya.


Karena waktu yang semakin malam mereka memutuskan untuk segera pulang. Mobil pun melesat meninggalkan tempat tersebut, hingga tak membutuhkan waktu lama mobil yang mereka tumpangi sampai didepan gerbang. Namun, sejoli itu dibuat bingung dengan seseorang yang kini tengah berdiri bersandar di gerbang seperti tengah menunggu mereka.


"Dia ngapain disitu?"


******