
Cheryl terus berjalan menaiki anak tangga untuk sampai dirooftop. Benar saja, Key sudah menunggu disana. Pria tampan itu terbaring diatas sofa panjang. Matanya terpejam, dengan kedua lengan ia lipat dan digunakan sebagai bantal.
Cheryl mendekat, sejenak ia memperhatikan wajah tenang itu yang terlihat lebih tampan. Gadis itu tersenyum disertai gelengan kepala. "Pasti nih anak bolos lagi. Cewek mana lagi, sasarannya sekarang?" gumamnya bertanya.
Terkadang Cheryl tak habis pikir dengan kelakuan pria yang sekarang menjadi sepupunya itu. Dulu saat masih kecil, Cheryl tentu sering bermain dengan Key dan Arga. Namun ia tak menyangka Key akan berubah menjadi sosok penjahat wanita. Padahal Key yang ia kenal dulu adalah sosok yang sangat pendiam dan perhatian. Ya, tentu saja seratus delapan puluh derajat berbeda dengan Arga yang sudah mengesalkan sedari kecil. Bahkan, Key lah yang selalu membelanya ketika ia berebut mainan dengan Arga.
Namun, setelah Cheryl masuk masa puber tentu mereka jarang bermain bersama lagi. Meski satu sekolah mereka tidak sedekat saat kecil. Cheryl lebih banyak bermain dengan teman perempun, seperti Reysa dan Rayna. Dari situ ia tidak pernah memperhatikan perubahan drastis yang dialami Key sampai sekarang.
"Gue emang tampan. Gak usah dilihatin terus, entar lu jatuh cinta sama gue, berabe."
Cheryl sedikit terperanjat mnendengar Key yang tiba-tiba bersuara. Mata pria itu perlahan terbuka, dengan tarikan disatu sudut bibirnya.
"Cih! Ge-er lu," kesel Cheryl memutar bola matanya malas.
Key terkekeh seraya bangkit dari posisinya. Hingga memberikan Cheryl ruang untuk mendudukan diri disamping pria itu.
"Apa yang lu pikirkan tentang gue?" tanya Key.
"Apa?" bukan menjawab Cheryl justru balik bertanya.
"Cih!" Key berdecih seolah meledek gadis itu.
Cheryl yang kesal menoyor bahu pria itu. "Ck!Lu gak masuk kelas lagi 'kan?" tanyanya menyelidik.
Key meraih minuman kaleng dari bawah sofa tersebut. Lalu, membukanya untuk ditegak isinya. "Malas!" jawabnya singkat.
"Heleh, main sama cewek aja oke, giliran belajar mah ogah," ledek Cheryl tak habis pikir. Key hanya tertawa menanggapi. "Terkadang gue kasihan sama onty Sena. Pasti nyesel tuh punya anak kayak lu," cerocos gadis itu tanpa filter.
"Iya, mereka nyesel. Makanya mereka lebih mementingkan pekerjaan dari pada gue," balas Key dingin.
Seketika Cheryl bungkam, lalu ia beralih menatap pria yang tertunduk itu. "Maksud gue ..." lirih Cheryl tak enak hati.
"Hem," Key ikut menatap gadis itu seraya tersenyum kecut. "Sudahlah gak perlu dibahas. Kita disini bukan mau bahas hidup gue, 'kan?"
Cheryl mengangguk masih dengan perasaan tak enak hati. Tentu tak seharusnya lidahnya itu losdol seperti itu. Namun, itulah Cheryl. Ia terbiasa bicara apa adanya. Sekarang gadis itu menyadari satu hal yang membuat pria itu tumbuh menjadi nakal. Kurangnya kasih sayang orang tua membuat ia kesepian dan bebas.
"Apa yang mau lu tanyain?" tanya Key mengalihkan pembicraan. Ia menyodorkan minuman kaleng kearah gadis itu yang sudah ia buka.
Cheryl meraih minuman itu dan menegaknya sedikit. "Soal yang tadi kita bahas," balasnya.
"Kenapa? Lu masih belum percaya?" tanya Key.
"Emm lebih tepatnya, gue pengen tau aja. Dari mana lu tau semua tentang Tania?" Tentu Cheryl penasaran. Apakah Tania salah satu gadis yang pernah Key mainkan?
Key tersenyum menanggapi. Lalu, kembali menegak minuman itu. "Lu beneran pengen tau?" tanyanya memastikn dan dibalas anggukan serius oleh Cheryl.
Terdengar hembusan napas panjang dari pria itu. "Sebenarnya, hal inilah yang menjadi benteng antara gue dan Arga. Tania ..." Mata Key lurus kedepan mengingat kembali kejadian yang membuat hubungan Key dan Arga menjauh. Hal itu bermula dari satu tahun yang lalu ....
Flash back on~
Brukkk!!!
"Upss, sory! Lu gak apa-apa?" tanya Key mengulurkan tangan pada gadis yang ia tabrak, hingga terduduk dilantai.
"Tania?" pekik Key merasa tak percaya.
Belum juga gadis itu menjawab. Key dibuat bingung akan kedatangan pria dewasa yang menghampiri mereka.
"Ya ampun baby, are you oke?" tanyanya khawatir, seraya mengajak gadis itu berdiri.
Tentu saja hal itu membuat Key shok. Gadis yang baru sebulan menjadi kekasih dari sepupunya itu, berada di klub bersama seorang pria dewasa. Mungkinkah?
"Lain kali, anda harus lebih berhati-hati. Wanita saya bisa terluka karena anda," peringat pria itu.
"Maaf! Saya tidak sengaja," balas Key. Namun, tatapannya tetap pada gadis itu. Begitupun sang gadis yang tampak memucat.
"Tidak apa-apa, sebaiknya kita pergi," Segera gadis itu menyeret lengan prianya untuk meninggalkan tempat tersebut.
"Tapi, Beb-" Bahkan ucapan pria itu terputus, saat sang gadis memaksa pergi dengan tergesa.
Key terdiam sejenak. Meski ia mabuk, namun ia tidak kehilangan kesadarannya dan masih cukup mengenali seseorang. "Itu Tania 'kan?Apa gue salah lihat?" tanyanya bermonolog sendiri.
Dari pada penasaran. Key berlalu keluar dari tempat bising itu. Ia mencoba menghubungi Arga untuk memberitahu jika ia melihat pacarnya berada di klub dengan seorang pria. Tentu saja, hal itu tidak dipercayai Arga. Pria itu mengatakan jika sang pacar sudah tidur. Bahkan, pacarnya mengirim foto sang gadis yang sudah mengenakan piyama.
Sesaat itu Key berpikir, mungkin dirinya salah mengira orang. Namun, dilain hari ia kembali mendapati Tania bersama pria yang berbeda di klub yang berbeda. Tentu saja bukan hal aneh, jika Key berada dibeberapa klub terkenal dikota itu. Ia akan menghabiskan malam untuk minum dan mencari perempuan targetnya untuk bermain.
Hingga ia semakin penasaran dan mencari tau pada salah satu temannya yang berada disana. "Lu gak tau? Dia Tania. Berliannya om Alex. Katanya, dia cewek berkualitas yang diidamkan semua pria," jelasnya.
Key tersenyum miring. "Bekas, mana ada yang berkualitas."
"Tapi, ini beda men. Gue udah coba order. Tapi, sayang tarifnya terlalu mahal," balas Doni, pria penjajah wanita itu.
"Eh, duit lu 'kan banyak. Gimana kalo lu coba. Hah? Hah?" tanya Doni menaik turunkan alisnya.
Key terdiam sejenak, kemudian menyeringai seolah mendapatkan mangsa. "Pesan dia atas nama lu!" titahnya.
"Kampret lu, kenapa harus atas nama gue?" protes Doni tak terima.
"Gue bayar lu dua kali lipat," sela Key memicingkan mata pada pria itu.
Seketika Doni tersenyum lebar. "Gampanglah itu, bisa diatur!" ucapnya cengengesan. "Kapan lu butuh dia?" tanyanya.
"Secepatnya!" balas Key dengan aura dingin.
"Siipp beres. Lu mau ketemu disini apa langsung chek-in?" tanya Doni antusias. Tentu ia akan siap membantu dengan harga yang ditawarkan pria sultan itu.
Key melirik seolah memberi peringatan. "Oke, oke! Sory, gue lupa. Lu tenang aja, pokoknya privasi lu aman," final Doni yang hampir lupa siapa Key.
Key menegak kembali minumannya dengan mata tak lepas pada gadis itu.
'Tania ... Siapa lu sebenarnya?'
\*\*\*\*\*\*
Jangan lupa jejaknya gaisss😘