
Dipagi yang cerah, Cheryl sudah bangun terlebih dahulu. Seperti yang sudah mereka sepakati. Gadis itu benar-benar berperan sebagai seorang istri. Ia sudah rapi dan kini tengah menyipakan pakaian ganti untuk suaminya.
"Katanya takut dosa?" ledek Arga yang baru keluar dari kamar mandi.
Cheryl menoleh dan terpaku sejenak menatap penampilan Arga yang begitu menggoda iman. Handuk yang melilit dipinggang menampilkan tubuh bagian atas pria itu yang membuat siapa saja terpana melihat pahatan indah tubuh tegapnya. Meski bukan sengaja membentuk otot, namun Arga tidak pernah absen untuk menyempatkan berolahraga.
"Natapnya b aja. Ntar mata lu keluar lagi," ledek Arga lagi. Tentu ia tau gadis itu terpaku melihat tubuhnya. Dan hal itu semakin gencar untuk Arga menggodanya, dengan sengaja ia berjalan santai mendekat seraya menggosok rambut menggunakan handuk kecil.
Segera gadis itu memalingkan wajah, saat tiba-tiba pipinya terasa panas. Ia menyerahkan pakain yang akan dikenakan Arga tanpa melihat si empunya.
"Apan sih. Nih! Buruan ganti," titahnya.
Arga tersenyum merasa lucu, ingin sekali lagi dia menggoda gadis itu. Namun, atensinya teralihkan pada kain ditangannya. Lalu, beralih pada apa yang dikenakan gadis itu.
"Apaan ini? Lu sengaja cari baju senada?" protes Arga tak percaya.
"Emangnya kenapa? Udahlah buruan sana pake aja!" titah Cheryl lagi tanpa mau menatap pria itu. Hanya tangan saja yang mengibas-ibas seolah mengusirnya.
Arga berdecak kesal. "Ck! Ya, gak harus sama juga, Oneng. Ogah lah, gue gak mau samaan sama lu. Bikin tengsin aja," kesalnya.
Cheryl membalikan tubuhnya berhadapan dengn Arga. Ia sampai lupa, jika tadi ia tidak ingin mentatap tubuh kekar itu. "Ck! Lu gimana sih? Kita harus tampil perfect hadapan mereka," jelasnya. "Cuma disuruh pake baju senada aja ribet lu, gue sengaja lakuin ini biar atm lu balik semua. Gue yakin, semakin kita buat mereka senang. Mereka semakin ngabulin permintaan kita," lanjutnya diakhiri kedua alis yang turun naik.
Arga terdiam sejenak. Ada benarnya juga apa yang diucapkan gadis itu, ia tidak mungkin bisa hidup dengan jaminan satu kartunya saja. Namun, ada hal yang masih mengganjal dihatinya. "Tapi, bukannya semalam lu gak mau lanjutin akting kita ini?" tanyanya heran.
Cheryl menghembuskan napas panjang. "Awalnya sih gitu. Tapi, setelah gue pikir-pikir gak ada untungnya juga menyerah dan memberontak. Mereka akan semakin senang mengatur hidup kita. Dan sebaliknya, jika kita mengalah sedikit aja buat mereka, menyenangkan hati mereka. Gue yakin, kita bisa hidup bebas seperti semula. Bener gak?"
Arga menarik satu sudutnya. "Nah, sekali-kali dong pikiran lu tuh waras. Jangan lemot terus," ledeknya mengusek kepala gadis itu.
"Issshh apaan sih lu?" kesal Cheryl menepis tangan Arga, hingga pria itu tergelak. Hal yang membuat gadis itu semakin memajukan bibirnya.
"Udah gak usah manyun," Arga mengusap wajah gadis itu hingga membuat gadis itu kian dongkol. Namun, tanpa dosa pria itu terus saja menertawakannya.
"Jadi, gue beneran harus pake baju ini?" tanya Arga kembali memastikan.
"Yapss!!" balas Cheryl mantap.
"Kita mau ngampus Oneng. Masa iya kita pergi samaan gini. Gimana kata anak-anak coba?" tanya Arga lagi yang masih enggan mengenakan itu.
Dari pada menggubris Arga yang masih menimang, ia memilih untuk merapihkan kembali lipstik diwajahnya yang sempat berantakan ulah pria itu.
"Ck! Kebanyakan mikir lu, keburu siang ini, buruan dah!" titah Cheryl.
"Ck! Iya, iya," Tidak ada pilihan lain, Arga pun segera berlenggang ke kamar mandi membawa pakaian untuk membungkus tubuhnya. Smoga saja saran Cheryl ini benar-benar ampuh untuk mengembalikan semua isi dompetnya.
Beberpaa menit kemudian, Arga keluar dari kamar mandi dengan berpakaian rapi. Celana jeans panjang dengan kaos biru muda plus kemeja kotak hitam bergaris biru navy terlihat keren ditubuh pria itu. Cheryl tersenyum puas, kala kemeja itu begitu sama dengan yang ia kenakan kini. Gadis itu mengenakan jeans panjang dengan kemeja yang ia ikat bagian ujung depannya, dengan bagian lengan yang tegulung hingga sikut. Rambut panjang itu ia kuncir kuda, hingga menampakan Cheryl yang tampak manis.
Berbeda dengan Cheryl, Arga tampak kurang bergairah. Gadis itu dengan cekatan merapihkan rambut Arga yang masih berantakan. Hal itu membuat Arga sedikit aneh dengan perubahan gadis itu.
"Lu kenapa sih? Kok gue ngerasa aneh?" tanya Arga bingung.
"Isshh lu tuh, ini 'kan dirumah, kita harus memperlihatkan keromatisan kita. Siapa tau disetiap sudut rumah ini ada aja CCTV. 'Kan gawat," cerocos Cheryl menjelaskan.
Arga menghembuskan napas pasrah. "Dah rapi, yok berangkat!" ajak Cheryl. Bahkan gadis itu segera menggandeng lengannya.
Arga benar-benar dibuat bingung, ia hendak menepis tangan Cheryl, namun tak diindahkan gadis itu dengan bisikan, "ingat, dalam panggung!" Akhirnya Arga pasrah dan mengikuti semua rencana gadis itu.
Sesuai rencana, benar saja Arga mendapatkan semua penghuni dompetnya kembali. Ia tak menyangka dengan hal itu saja, sang papa sudah kembali baik padanya. Jika begitu, ia akan dengan senang hati untuk menjadi aktor terbaik dihadapan mereka.
"Kalian ini benar-benar serasi," puji mama Chika melihat kekompakan putra putrinya. Disambut dengan senyum mengembang dari keduanya.
"Hati-hati dijalan ya!" pesan mama Jingga. Kini kedua ibu itu tengah mengantar mereka dihalaman depan rumah Arga.
"Iya, Ma!" balas keduanya serempak. Arga pun dengan segera memacu kijang besi silver itu menuju jalan raya untuk segera pergi ke kampus.
"Ahhh, Kak Jin! Aku seneng sekali," pekik mama Chika memeluk besannya itu. Mama Jingga ikut tersenyum seraya mengelus tangan sang besan yang berasa adiknya itu.
"Iya Chi, aku juga. Smoga rumah tangga anak-anak kita selalu dalam kebahagiaan," balas mama Jingga.
"Iya Kak. Aminnn ...." sambung mama Chika yang tak henti mengembangkan senyumnya. Waktu yang sudah siang, memang hanya menyisakan dua ibu itu saja. Sedangkan, para ayah sudah berangkat ke kantor mereka, pagi seperti biasanya.
\*\*\*\*\*\*
Jangan lupa jejaknya yaa gaisss😘