My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Acara resepsi



Pagi pun menyapa, hari ini semua orang tengah bersiap untuk menghadiri acara besar resepsi Arga dan Cheryl. Rencananya acara akan diadakan siang dan malam. Siang terkhusus untuk para kolega bisinis dan teman-teman dari jauh yang pastinya diadakan begitu formal. Sedangkan malam, terkhusus untuk para keluarga dan sahabat yang diadakan secara casual party.


Ballroom hotel sudah ramai dengan pegawai yang begitu sibuk tengah mempersiapkan segala sesuatunya. Penjagaan juga begitu ketat dipersiapakan oleh papa Sha.


Didalam kamar masing-masing semua tengah bersiap berdandan. Acara yang akan dimulai sejam lagi, membuat mereka dengan cepat menyelesaikan aktifitasnya. Begitupun, sang pemeran utama.


Cheryl tengah didandani MUA ternama, yang bekerja sama dengan mama Chika. Hari ini gadis cantik itu disulap bak seorang ratu dari Negri dongeng. Penampilan Cheryl begitu elegan dengan dress panjang tanpa lengan berwarna silver. Bagian atasnya terbuka dengan hiasan kalung berlian melingkar dilehernya. Rambutnya ditata rapi membentuk sebuah sanggul simple dengan tiara kecil menghaiasi. Nampak cantik berkharisma.


Sementara Arga juga tampak gagah dengan setelan tuxedo warna senada. Rambutnya ditata rapi dengan wajah tampak segar, setelah mendapat charge energi semalam. Meski kurang tidur, namun hal itu tidak membuat mereka kusut atau kurang fresh. Justru, mereka terlihat sebaliknya.


"Sudah siap?" tanya Arga membentuk sebelah tangan kiri untuk Cheryl dapat menggandeng lengannya.


"Hem, siap!" balas Cheryl mengandeng lengan suaminya. Satu tangan kirinya menggenggam buket bunga.


Pintu terbuka lebar, sepasang pengantin itu berjalan pelan menyusuri red karpet untuk menuju keatas pelaminan. Kamera terdengar riuh, mengabadikan momen berharga itu. Semua mata tertuju pada pasangan yang nampak serasi itu. Mereka ikut tersenyum bahagia, dan begitu mengagumi pasangan muda tersebut.


Pasangan itu, diintruksikan untuk duduk terlebih dahulu di kursi pelamianan. Acara pun dimulai. Berbagai sambutan dari keluarga untuk para tamu sukses digelar. Hingga acara pemberian ucapan selamat pun siap dilaksanakan. Senyum terus terukir dari pasangan pengantin itu, saat semua orang menjabat tangan bersamaan dengan ucapan selamat.


"Kaki aku udah pegel, Ga!" bisik Cheryl didepan telinga suaminya itu.


"Dikit lagi, sabar ya!" balas Arga dan hanya dibalas anggukan yang disertai hembusan napas pasrah dari gadis itu.


"Ntar aku pijitin," bisik Arga menggoda. Cheryl berdecak dengan senyum malu. Tentu ia tau pijitan seperti apa yang dimaksud suaminya itu. Arga hanya tersenyum, senang sekali melihat rona merah diwajah istrinya itu.


Tamu yang mencapai ribuan, membuat pengantin itu harus benar-benar bersabar mempertahankan kaki mereka. Hingga acara salaman pun selesai dan kini berganti pelemparan bunga. Para gadis dan pria single sudah siap dibelakang mereka.


"Satu ... Dua ... Ti ... Ga!!!"


Cheryl dan Arga bersamaan melempar buket bunga tersebut ke belakang dengan semangat dan diiringi gelak tawa. Suasana riuh saat seikat bunga tersebut mengenai jidat seseorang yang tidak ikut serta memenangkan bunga tersebut.


Dug!!!


"Awww!!!"


Seorang pria dengan sigap memeluk bunga tersebut. Ia membelakak kaget, ketika tiba-tiba bunga itu terjatuh padanya. Padahal tak ada niatan untuk mengikuti hal-hal yang menurutnya aneh seperti itu.


"Cieee ... Key! Siap nikah," ledek Ara pada pria itu.


Semua orang bersorak sorai, melihat Key lah yang mendapat buket bunga tersebut. Seorang buaya seperti pria itu, siapa yang siap jadi pawangnya?


"Ck! Apaan? Cuma bunga, mitos di percaya?" gerutu Key kesal seraya memberikan bunga itu pada Ara.


"Isshh enak aja dikasih ke aku! Gak mau aku jadi jodoh buaya kayak kamu," ledek Ara lagi menolak bunga tersebut.


"Apa sih lu, lebay deh. Cuma bunga doang. Lu kira gue mau sama cewek cerewet kayak lu. Ogah!" kesal Key. Hingga saudara-saudaranya itu tergelak.


"Kalo bener ini membawa jodoh. Gue mau kasih aja ini ke dia!" Key memberikan bunga itu pada Rayna yang ia pikir itu adalah Reysa.


Penampilan kedua gadis itu begitu mirip hari ini, hingga sulit dibedakan siapapun. Namun, tentu dari raut wajahnya, seseorang mengenali itu. Hingga tiba-tiba saja, Al mengambil bunga tersebut dari tangan Rayna.


"Cieee ... Reysa!" goda Zea yang juga tidak menyadari itu.


"Kak Al cemburu nih, Reysa diambil Key," Ara phn tak kalah gencar ikut menggoda.


Key berdecak kesal, saat tiba-tiba Al berbuat seperti itu. Sementara Al tak lekat memandang wajah cantik gadis itu. Rayna sendiri hanya mampu menghembuskan napas kasar saat semua orang menganggap dirinya Reysa.


"Hai, semuanya!" sapa seorang gadis yang begitu mirip dengan Rayna. Ya, Reysa baru bergabung setelah pergi dari toilet. Bahkan, gadis itu melewati acara berburu bunga tersebut.


"Wah, acara pelemparan bunganya sudah selesai ya? Siapa yang menang?" tanyanya beruntun.


Namun hal itu membuat Ara, Zea dan Key shok. Tau siapa yang selalu bersikap seperti itu. Membuat mereka tanpa sadar salah mengenali orang. Ketiga manusia itu hanya saling lirik menatap sesal pada Rayna.


"Gue pergi!" pamit Rayna dingin.


"Rayna!" panggil Al. Namun, gadis itu hanya berlalu bergitu saja tidak menghiraukan panggilan Al.


Ara dan Zea menatap tak percaya ke arah Al. Ternyata pria itu dapat membedakan si kembar yang sangat identik itu. Bahkan, mereka menyadari satu hal, mungkinkah Al ...?


"Ada apa sih?" tanya Reysa bingung menatap satu persatu orang-orang disana. Namun, tidak ada yang menjawab. Bahkan Key ikut bingung dengan keadaan itu.


Reysa menghembuskan napas panjang. Pasti semua itu ada sangkut pautnya dengan saudari kembarnya yang berlalu begitu saja.


"Kalian pasti merasa gak nyaman atas sikap Rayna. Maaf ya, jangan diambil hati. Dia emang kayak gitu!" sesal Reysa sendu.


Semua atensi berpindah pada gadis itu. Zea mendekat dan merangkul bahu Reysa. "Gak apa-apa!" balasnya mencoba menenangkan. Ia mengalihkan perhatian, agar semua bisa melupakan kejadian barusan. Meski sebenarnya masih ada yang mengganjal dihatinya.


"Maaf ya, Rey. Kalo boleh tau, sejak kapan Rayna seperti itu? Seingatku ya, dulu dia gak kaya gitu?" tanya Zea memberanikan diri.


Reysa menghembuskan napas panjang. "Iya, kamu benar. Dulu dia gak kayak gitu," balasnya sendu.


Semua orang berfokus pada apa yang akan diceritakan Reysa. Bahkan, Key pun tidak tau apa penyebabnya. Mungkin karena tidak terlalu dekat juga, jadi ia tidak terlalu peduli. Namun, kali ini pria itu juga penasaran.


"Rayna paling deket sama Mami. Dan semenjak kepergian Mami, dia berubah drastis. Dia lebih menutup diri dan gak mempedulikan orang-orang sekitarnya," jelas Reysa, bulir bening jatuh begitu saja dari sudut mata gadis itu.


"Ya ampun! Sabar ya, Rey!" Ara ikut merangkul sebelah bahu Reysa seraya mengusap semangat punggung gadis itu.


"Aku yakin suatu saat nanti, akan ada seseorang yang membuatnya kembali seperti dulu. Mungkin dia cuma butuh waktu untuk keluar dari zona sakitnya," lanjut Ara memberi pengertian.


"Makasih, ya. Kalian semua sudah mau ngertiin Ray," ucap Reysa tersenyum dan diangguki mereka.


Sementara Al, ia menatap punggung gadis yang kian menjauh itu. Penjelasan Reysa tiba-tiba membuat sesuatu tergerak dihatinya.


'Sesakit itu kah? Apa bisa aku menjadi obat penyembuh lukamu?'


\*\*\*\*\*\*