
Beberapa menit sebelumnya ...
Berulang kali Rayna melirik kesamping, kearah jetski yang ditumpangi Al dan Resya. Entah kenapa sejoli itu kerap saja mengundang perhatian gadis itu. Hingga tanpa sadar ia pun hilang konsentrasi.
"Rayna awas!!!"
Peringatan Zea sontak membuat Rayna melihat ke depan. Ia membelakak kaget saat papan selancarnya tidak sejajar dengan jetski yang ia tarik, hingga posisi ia sendiri menyamping. Dan lebih mengejutkan, saat jarak ia bersama jetski yang dikendarai Arga hampir berdempetan. Segera Rayna membelokkan kembali pegangan tali yang ia pegang, agar tidak sampai menabrak Arga. Namun, karena kurangnya perhitungan sehingga ia menukik terlalu tajam. Ia pun melepaskan tali tersebut dan tenggelam bersama papan seluncurnya.
Byurrr!!!
"Rayna!!!" pekik semua orang.
Seketika Al menghentikan jetskinya. Lalu, tanpa aba-aba ia menceburkan diri untuk menyelamatakan gadis tersebut. Bahkan ia melupakan Resya yang panik dan ketakutan diatas jetski itu.
Bukan hanya Reysa, semua orang juga terekjut dan ikut panik. Arga dan Cheryl yang baru sadar, kembali mendekat ke arah mereka. Begitupun Key dan Ara yang segera mendekat ke arah Reysa. Beberapa petugas juga datang untuk membantu.
Meski Rayna pandai berenang, namun tetap saja bantingan keras membuat ia tidak sadarkan diri. "Rayna! Bangun Ray!" Al sudah berhasil membawa Rayna keatas permukaan.
Gadis itu tampak memucat dengan mata tertutup rapat. Berulang kali Al menepuk pipi gadis itu, namun tak ada jawaban apapun.
Petugas dengan sebuah kapal kecil menghampiri. Segera petugas mengevakausi tubuh Rayna dan menarik Al juga kesana. Sementara, pengendara jetski yang tadi menarik Rayna, mendekat ke arah Reysa dan menggantikan posisi Al.
Mereka semua pun kembali ke tepian. Zea sudah sampai terlebih dahulu bersama jetski yang membawanya. Tak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai ditepian. Segera Al menggendong Rayna dan merebahkan tubuh itu ditepi pantai.
"Rayna! Bangun Ray!" Al berusaha menyadarkan gadis itu. Karena tak juga tersadar, tanpa berfikir panjang Al pun memberikan pertolongan pertama pada gadis itu.
Ia berulang kali menekan bagian dada sang gadis, hingga ia pun berinisiatif untuk memberikan nafas buatan.
Deg!
Reysa terpaku, menatap adegan tersebut. Tubuhnya seolah tak bertulang, jiwanya seakan terbang entah kemana. Melihat bibir Rayna dan Al bersatu, bagai sembilah pisau yang menancap didada. Hingga menimbulkan cairan bening yang sempat keluar ditengah laut tadi luruh kembali. Bukan hanya mengkhawatirkan saudari kembarnya saja. Namun, ada rasa sakit juga dibalik itu.
'Apa gue harus seegois ini? Tapi ... ini sakit!' lirih Reysa dalam hati.
"Uhukk uhukk!!!"
Rayna memuntahkan air yang keluar dari paru-parunya. Al masih setia membantu gadis itu terbangun saat memuntahkan air tersebut. Semua orang disana bernapas lega melihat itu.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Al khawatir. Rayna hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Hah~ syukurlah!" Tanpa diduga Al berani mendekap gadis itu begitu erat. Menyalurkan rasa bahagia, saat tau gadis itu baik-baik saja.
Sontak semua shok dan saling lirik satu sama lain. Ini adalah kali pertama Al berbuat seperti demikian pada seorang gadis, selain pada kedua saudarinya Zea dan Ara. Tatapan Cheryl langsung beralih pada Reysa. Ia yang tau perasaan Reysa hendak mendekat.
Namun, tiba-tiba saja Reysa mendekat ke arah sejoli yang berpelukan itu. Cheryl mengurungkan niat dan hanya menelan salivanya kuat-kuat. Ia takut sesuatu akan terjadi pada dua saudari itu.
"Ga!" cicit Cheryl.
"Hem?"
"Sebaiknya kamu cepet peringatin Al, untuk menjauh dari Rayna!" titah Cheryl. "Aku takut sesuatu terjadi sama Reysa."
Seketika Arga menoleh, tentu ia tidak paham apa maksud dari Cheryl. "Maksudnya?" tanyanya bingung. Belum sempat Cheryl menjawab, suara Reysa mengalihkan atensi mereka.
"Rayna?!"
Perlahan Al melepaskan dekapannya, hingga nampak Rayna yang begitu lemah. Reysa menjatuhkan diri, lalu segera memeluk erat saudarinya itu.
Tangis Reysa pun seketika pecah. "Kenapa lu selalu bikin gue khawatir?" omelnya.
"Apa lu gak tau, gue sangat takut! Gue takut, Ray ..."
Jatuh juga air mata Rayna. Selama ini ia selalu menganggap Reysa tidak pernah peduli padanya. Namun, sekarang ia melihat saudarinya begitu mengkhawatirkan dirinya. Hingga, hati gadis itu pun tiba-tiba terasa menghangat.
"Gue gak apa-apa, gue gak apa-apa ..." lirih Rayna disela isak tangis yang mana membuat kedua saudara itu menangis bersama. Meruntuhkan ego yang selama ini mengikis jarak antara keduanya.
"Rayna, Reysa?!"
Seorang pria paruh baya menghampiri mereka. Seketika mereka pun menoleh bersama. "Papih!" pekik keduanya serentak.
Papih Rizky mendekat, lalu mendekap kedua putrinya itu. Pria yang masih gagah dan justru nampak semakin muda itu melayangkan kecupan dikepala keduanya.
"Kalian baik-baik aja?" tanyanya dan diiyakan kedua gadis itu.
"Syukurlah, Papih sangat mengkhawatirkan kalian," ucapnya penuh syukur.
"Sebaiknya kita rumah sakit!" ajak Rizky melerai pelukan mereka.
"Iya bener, Pih! Aku takut sesuatu terjadi sama Ray," balas Reysa.
Rayna tersenyum. "Gak usah! Aku gak apa-apa," balasnya.
Hati Rizky terasa menghangat melihat senyum anak gadisnya yang baru ia lihat lagi setelah bertahun-tahun hilang tertelan luka.
"Kalo gitu kita kembali ke hotel, ya. Papih gendong!" ajak Rizky tersenyum dengan bulir yang jatuh begitu saja.
Masih dengan ekspresi yang sama, Rayna mengangguk mengiyakan. Senyum Rizky semakin lebar. Dengan senang hati, ia segera menggendong putrinya itu dan membawanya pergi. Reysa ikut berdiri untuk mengekori, namun ia menoleh terlebih dahulu kearah Al.
"Thanks ya, Al." ucapnya dan diangguki Al.
Reysa berbalik, meski ujung hatinya masih terasa ngilu. Namun, ia tetap merasa bahagia akan perubahan sikap Rayna yang kembali hangat seperti dulu.
'Mungkin melupakan rasa itu adalah cara paling tepat! Karena begitu sulit perjuanganku ingin sampai dititik ini,' batin Reysa.
'Makasih Al, sudah memberi warna dihatiku. Meski aku tau, kamu tidak pernah merasa seperti demikian.'
"Ya ampun, Uncle Iky so sweet banget!" celetuk Ara tiba-tiba mengalihkan perhatian mereka. Seketika ia segera membekap bibirnya sendiri yang asal nyeplos.
"Uncle Iky?" tanya Key menyelidik.
"Bu-bukan! Maksudku-"
"Ck, ck, ck!" Key menyela dan hendak menyelidiki, namun seketika gadis itu ngibrit lari meninggalkan mereka.
"Wah tuh anak gak beres. Woy! Sini lu, jelasin sama gue. Apa maksud lu?" teriak Key mengejar Ara.
"Apa mungkin Ara suka sama Uncle Iky?" tanya Cheryl menebak. Arga tersenyum seraya merangkul bahu gadis itu untuk berjalan kembali menuju hotel.
"Entah!"
"Isshh kamu tuh, ngeselin!" Sejoli itu berlalu meninggalkan kedua saudara yang masih tertinggal disana.
"Apa kita akan tetap disini?" kekeh Al bertanya dan dibalas tawa oleh Zea.
Gadis itu segera merangkul lengan kekar saudaranya itu dan menyeretnya berjalan. "Harusnya Kakak lebih jujur dari awal," celetuk Zea.
"Jujur apa?" tanya Al.
"Jujur kalo Kakak sukanya sama Rayna, bukan Reysa!"
\*\*\*\*\*\*