My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Sanksi sosial



Arga menatap danau tenang yang membentang dihadapannya. Menikmati sejuknya angin yang sama sekali tidak menyejukkan hati dan pikirannya. Rasa kecewa, sakit, dan amarah masih menguasai dirinya.


Nyesss!!!


Sesuatu yang dingin menyapa pipi, berhasil mengalihkan atensi pria tampan itu. Ia menoleh, kemudian tersenyum melihat siapa yang kini tersenyum dan mendudukan diri disampingnya.


"Hem?" Cheryl memberi kode agar Arga meraih eskrim yang ia bawa. Arga pun meraih eskrim berbungkus itu, lalu membukanya.


"Kamu ingat gak?" tanya Cheryl mulai menji lati eskrim rasa mangga ditangannya.


"Hem?" balas Arga yang juga sudah mulai menikmati makanan menyejukan itu.


"Dulu waktu kita kecil. kamu sering banget beliin aku ini, buat nyogok," kekeh Cheryl mengingat kembali masa kecil mereka.


Arga tersenyum, tentu saja ia masih mengingat itu. Kedua bocah yang selalu bertengkar bila mana berdua. Namun, beda hal ketika mereka bertiga. Arga selalu cemburu dan tidak ingin orang lain dekat dengan Cheryl, kecuali dirinya.


"Kamu selalu nyogok aku pake eskrim ini, biar aku gak main sama Key," Cheryl tertawa mengingat itu, "lucu banget."


Arga ikut terkekeh. "Entah kenapa aku gak suka lihat kamu bertengkar sama orang lain. Apalagi orang itu perhatian sama kamu, rasanya kesal banget. Cuma aku yang boleh meledek kamu dan memperhatikanmu. Bahkan ...." Pria itu menjeda kalimatnya dan menolehkan wajah. Hingga Cheryl pun ikut menoleh.


"Cuma aku, yang boleh memilikimu."


Cheryl tertawa menarik hidung Arga. "Ya iyalah, cuma kamu. Kamu 'kan emang suami kamu. Ada-ada aja," jelas Cheryl menggelengkan kepala.


"Lalu, apa boleh aku menyerahkan hati yang penuh luka ini padamu?" Pertanyaan Arga sukses membuat tawa Cheryl menghilang.


Keduanya terdiam dengan tatapan saling mengunci. Hati Cheryl berdebar mendengar ungkapan itu. Bolehkah ia juga berharap demikian?


"Maukah kamu memulai semuanya dengan hati? Bersamaku?" lanjut Arga bertanya.


Ia memang sudah menerima pernikahan ini, tentu tidak dengan hati yang mana masih milik orang lain. Tapi, sekarang? Semua sudah berakhir, hatinya sudah penuh dengan luka. Dan ia ingin menyerahkan hatinya yang rapuh untuk Cheryl. Mungkin terdengar tidak adil, namun ia ingin berusaha bangkit dan memulai semuanya bersama gadis halalnya kini.


Cheryl tediam sejenak. Ia pun menerima pernikahan itu. Tapi, masih belum paham. Apa ia menggunakan hati atau tidak?


Didetik berikutnya Cheryl tersenyum. "Baiklah, kita coba!" balasnya.


Arga tersenyum lega. Ia menarik tubuh Cheryl kedalam dekapannya. Tersisip perasaan bahagia diujung hatinya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menyerahkan segalanya hanya pada satu gadis, yaitu Cheryl. "Gue janji Cher!" ungkap Arga dalam hati.


**


Sementara ketegangan didepan kampus masih belum berakhir setelah kepergian Arga dan Cheryl. Tania masih belum bisa menghindar dari banyaknya orang-orang, termasuk Key. Pria tampan itu begitu senang melihat wajah kerakutan dari Tania, ketika gadis-gadis disana siap memberi sanksi padanya.


"Jadi, Key! Hukuman apa yang pantes untuk cewek kayak dia?" tanya salah satu gadis dengan manja meraih lengan pria itu.


"Isshh, gak usah cari kesempatan dalam kesempitan!" tepis satu gadis lagi tak terima.


"Isshh apaan sih, lu?" kesal gadis itu. Hingga para gadis begitu riuh, sama-sama memperebutkan Key.


Key memutar bola matanya jengah. Niat hati meminta gadis-gadis itu untuk menyudutkan Tania, dengan iming-iming pacaran. Ia justru harus dibuat bingung dengan tingkah mereka.


Tentu keadaan itu tidak disia-siakan Tania. Semua atensi yang beralih pada kedua gadis itu, membuat mereka tidak sadar, jika wanita itu sudah diam-diam keluar dari kerumunan dan bergegas pergi.


"Ck! Diem!" bentak Key kesal. Hingga ia baru menyadari, jika Tania sudah tidak ada dihadapannya.


"Argghh sial!" erangnya frustasi.


"Ini semua gara-gara kalian. Mulai detik ini jangan lagi hubungi gue, ngerti!" tegasnya, lalu segera berlenggang pergi.


Key masih terlihat kesal, ia masih belum puas memberi pelajaran pada wanita itu. "Larilah, Tania! Gue pastikan lu mendapat ganjaran setimpal," ucapnya menyeringai.


**


Sementara itu Tania sudah kembali kerumahnya. Ia membanting seluruh perabotan kamarnya, masih belum bisa menenangkan diri dengan anarah yang membuncak. Apalagi video tersebut semakin viral dan masuk ke media sosial. Namanya sudah menyebar dimana-mana. Meski video tersebut disensor. Namun, semua orang tau setelah mendapat akun sosial wanita itu.


"Aaargghh sialaan!!!"


"Awas aja kalian semua, gue bakal balas. Arrgghh!!!"


Sanksi sosial memang didapatkan wanita itu. Namun, itu tidak membuat wanita itu jera. Ia terus merutuki orang-orang yang menurutnya sangat merugikan dirinya.


Disisi lain, kabar tersebut sudah sampai ditelinga kedua bapak yang kini tengah menikamati makan siang mereka.


"Syukurlah akhirnya, terbongkar juga," ucap papa Deril melihat sosial media yang menjadi trending kali ini.


Papa Shaka tersenyum senang. "Iya, biar melek tuh si Arga," kekehnya.


"Ck! Kau ini!" Papa Deril menoyor kepala sahabatnya itu. Merasa tak habis pikir akan sikap papa Shaka yang begitu senang meledek putranya.


"Tapi ... Apa dia gak apa-apa?" tanya papa Deril khawatir. Tentu ia takut terjadi sesuatu pada menantunya itu.


"Ck! Nggaklah, 'kan ada Chimut!" balas papa Shaka meyakinkan dan hanya dibalas hembusan napas panjang dengan harapan yang sama.


Sama seperti papa Shaka yang menganggap Cheryl seperti putrinya sendiri, bagi papa Deril Arga juga bukan sekedar menantu. Tapi, pria itu sudah seperti putranya sendiri.


**


"Mau nonton apa sih?" tanya Arga malas.


Kini sejoli itu sudah berada disebuah pusat perbelanjaan, tepatnya diarea bioskop. Arga yang sudah merasa lelah, tentu ingin segera pulang mengistirahatkan hati, tubuh dan pikirnnya. Namun, Cheryl memaksa untuk mengajaknya menonton.


"Hari ini film terbaru kesayanganku tayang. Aku gak mau melewati kesempatan itu. Udah ayo!" ajak Cheryl menyeret lengan Arga untuk membeli tiket dan popcorn tentunya. Meski malas, namun Arga akhirnya pasrah mengikuti langkah gadis itu.


Setelah mendapat tiket dan popcorn, mereka pun memasuki bioskop yang ternyata sudah ramai. Hingga mereka mendapatkan tempat dipojokan.


"Ck! Tuh 'kan, gara-gara kamu sih kita kebagiannya dibelakang deh," gerutu Cheryl dengan wajah menekuk. Padahal ini adalah film romantis yang ingin ia tonton bersama pasangannya paling depan.


Arga terkekeh melihat ekspresi wajah gadis itu. "Iya deh, maaf!" sesalnya mengusek rambut sang gadis.


Cheryl menghindar diiringi decakan kesal. Namun, hal itu sukses membuat Arga tertawa dengan tangan semakin gemas mengacak rambut gadis itu. Cheryl semakin kesal dibuatnya. Namun, dibalik itu terselip rasa bahagia melihat tawa dari bibir sexy Arga. Hal yang menjadi tujuan utamanya mengajak sang suami kesana, untuk menghilangkan rasa sedihnya.


"Ck! Udah ah, berantakan ini," final Cheryl menghentikan pergerakan Arga. Lalu, merapihkan rambutnya yang acakadul. Arga pun membantu untuk merapihkan rambut itu.


"Lagian kenapa sih pengen banget didepan?" tanya Arga disela mensisir rambut Cheryl.


"Ya 'kan, kalo didepan tuh biar kita bisa nonton dengan jelas, bisa menghayati. Biar romantis gitu," balas Cheryl menjelaskan.


"Aku rasa disini lebih tepat," balas Arga tersenyum dan dibalas kerutan dahi oleh Cheryl. Lalu, Arga mendekatkan diri dan membisikkan sesuatu ditelinga sang gadis.


"Lebih leluasa, buat bikin scene romantis."


Deg!


\*\*\*\*\*\*