My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Tidur seranjang



Deg!


Keadaan mendadak hening diantara dua insan itu. Tatapan keduanya bertemu lurus saling mencerna apa yang tiba-tiba membuat jantung mereka berdegup tak beraturan.


'Sebenarnya perasaan apa ini?' gumam Cheryl dalam hati.


'Apa yang terjadi sama gue? Ketika sama Tania gue...' batin Arga bertanya-tanya, membandingkan antara dekat dengan gadis itu dan kekasihnya. Niat ingin mengerjai kembali gadis itu, namun keadaan justru berujung membuat ia tak berkutik.


Cheryl sadar terlebih dahulu. Mengingat Arga yang pernah mengerjainya, tentu ia tidak ingin masuk kedalam jebakan yang sama.


Duggh!!


"Awww!!" Arga meringis mengusap hidungnya yang mendapat hantaman jidat Cheryl.


"Makanya gak usah mesum! Gak usah cari kesempatan dalam kesempitan," kesal Cheryl menggerutu.


Tentu hal itu membuat Arga kesal dan hendak mengumpat namun mulutnya terbungkam dengan telapak tangan Cheryl. "Gak ada sentuhan! No touch!" ucapnya, menggelengkan jari telunjuk.


"Dah pokoknya itu. Lu sendiri ngerti lah! Sekarang gue tanda tangan dulu, lu juga!" final gadis itu melepaskan bekapan dan mulai mengambil kertas itu, lalu membubuhkan tanda tangan disana.


Arga yang hendak berkomentar mengurungkan niatnya. Percuma juga, ia membuang tenaga untuk berbicara. Yang hasilnya, gadis itu tetap pada pendiriannya. Hingga untuk sementara ia hanya pasrah mengikuti keinginan istri berisiknya itu.


Istri? Arga mengangkat satu sudut bibirnya. Merasa geli dengan status mereka sekarang. Ia memperhatikan gadis itu yang tengah fokus mencoretkan pena pada kertas di atas bantal. Segudang pertanyaan terus memenuhi otaknya. Tentang bagaimana ia menjalani hari-hari kedepannya? Bagaimana cara ia menghadapi kekasihnya nanti?


"Nih, giliran lu disini!" titahnya Cheryl membuyarkan lamunan Arga. Ia segera meraih kertas dan pena itu.


"Harus banget gue tanda tangan?" tanya Arga memperhatikan tanda tangan gadis itu yang terlihat ke kanak-kanakan.


"Harus!" tegas Cheryl, "udah buruan tanda tangan! Gue ngantuk mau tidur," lanjutnya menampol lengan pria itu.


Arga berdecak kesal, namun tak urung ia pun segera membubuhkan tanda tangan disana. Padahal masih ada satu poin lagi yang belum mereka bahas. Namun, menurut Arga sendiri percuma mendengar penjelasan gadis itu yang berujung dirinyalah yang dirugikan. Ia beranggapan surat tersebut, hanya surat abal-abal dan gak ada artinya sama sekali. Berbeda dengan Cheryl, segera ia merapihkan surat tersebut dan meyimpannya dengan apik kedalam tas slempang.


Arga hanya menggelengkan kepala melihat begitu antusiasnya gadis itu. Hingga ia mengerutkan dahi, saat melihat Cheryl sibuk membenahi guling ditengah kasur mereka. "Lu mau ngapain?" tanyanya heran.


"Tidur lah," balas Cheryl sekenanya. Ia meraih selimut seraya merebahkan dirinya.


"Maksud lu? Kita tidur satu ranjang?" Arga membelakakkan mata merasa tak percaya.


"Yapss!!" Cheryl menatap santai pada pria itu. Tau apa arti tatapan Arga, ia pun menjelaskan maksudnya. "Otak lu jangan dangkal, gak usah mikir macam-macam!" ledeknya dan hanya dibalas guliran mata malas oleh pria itu.


"Gini ya, mulai sekarang kita harus terbiasa tidur seranjang. Ini semua demi kebaikan kita. Kita-"


"Maksud lu. Lu mau ngibarin bendera putih sama gue, terus mau jalani pernikahan ini kayak pasangan pada umumnya gitu?" selak Arga.


"Idihh, siapa juga yang ngibarin bendera putih. Mana ada gue nyerahin diri sama lu. Enak aja," protes Cheryl.


Cheryl yang sudah terbaring kembali bangkit dari posisinya. Pukulan dilayangkan gadis itu pada Arga. Tentu ia tak terima dituduh seperti itu. "Isshh pede banget lu. Siapa juga yang suka sama lu?" protesnya.


Arga meringis mengusap lengan atasnya yang terasa panas. "Gue lakuin ini, buat menghindari bencana lebih besar. Coba lu bayangin, setiap hari kita pasti diawasi orang tua kita. Kalo mereka sampai melihat kita pisah ranjang, gue jamin, kita gak bakal bisa hidup bebas lagi," jelas Cheryl.


Arga mengerutkan dahinya masih tak mengerti. Cheryl yang melihat ekspresi wajah pria itu kembali berdecak kesal. "Lu seneng banget ledekin gue lemot. Sampai lu sendiri ketularan lemot 'kan?" cerocosnya.


Pletak!


"Awww!!" Cheryl meringis mengusap jidatnya yang kena sentil.


"Enak aja, gue gak lemot. Lu 'kan punya lidah normal, bicaralah yang jelas," kesal Arga.


"Ck! Itu gue ngomong udah jelas sejelas jelasnya, samsudin," sungut Cheryl yang ikut kesal.


Arga menghembuskan napas panjang. Entah kenapa sedari tadi ia tidak dapat berkonsentrasi dengan benar. "Oke, jadi maksud lu, kita harus pura-pura baik-baik saja dihadapan kedua orang tua kita. Gitu?" tanya Arga dan diiyakan Cheryl disertai anggukan.


"Harus?" tanya Arga memastikan.


"Ck! Ya iyalah. Gue yakin, semakin kita memberontak, semakin gencar mereka membuat hal yang aneh-aneh. Kayak sekarang ini. Semua sudah mereka setting begitu perfect. Ini tuh udah jadi bencana buat gue. Emang lu mau mereka makin menjadi? Gue sih ogah," jelas Cheryl.


Arga terdiam mencerna ucapan gadis itu. Benar. Tentu ia kenal siapa orang tua mereka. Bahkan mereka memiliki banyak cara untuk membuat ia dan Cheryl bersatu.


"Kita lakukan ini cuma dirumah. Diluar, kita bisa kembali jadi diri kita masing-masing. Kecuali ..." Cheryl menghentikan sejenak ucapannya.


Seketika atensi Arga beralih padanya dengan tautan kening yang begitu kentara. "Apa?" tanyanya.


"Tania," balas Cheryl singkat.


"Maksud lu, gue harus mutusin cewek gue gitu? Gila aja," sergah Arga tak terima.


"Terserah lu sih," balas Cheryl yang kembali merebahkan diri dan membelakangi pria itu. "Cuma gue gak yakin uncle Sha, diam aja!" lanjutnya.


Hal itu tentu membuat Arga terdiam. Mungkinkah sang papa akan melakukan itu? Jika itu benar, lalu bagaimana dengan kekasihnya. Apa ia siap untuk memutuskan hubungan yang sudah terjalin setahun itu? Pikirnya.


Hening!


Tak ada suara apapun setelah kalimat terakhir Cheryl. Bahkan Arga sudah merebahkan diri dengan pikiran yang berkelana entah kemana. Begitupun Cheryl, ia juga masih berpikir akan hal yang mengganjal hatinya ketika mengingat kembali nasehat dari ayah mertuanya dimalam sebelum hari pernikahan itu berlangsung.


'Sebenarnya apa yang membuat uncle Sha, begitu menginginkan Arga putus dengan Tania? Apa iya, karena sekarang ada aku istrinya?'


\*\*\*\*\*\*


Maaf ya baru up lagi🙏 jangan lupa jejaknyaa yaa gaiss😘