
**
"Ayo anak-anak, semuanya berjajar yang rapi, ya!" intruksi seorang wanita dewasa yang diketahui wali murid anak-anak berseragam TK tersebut.
Semua anak-anak yang tengah bermain pun, mulai serius dan mengikuti intrukis Guru mereka. Para bocah menggemaskan itu berebut untuk mendapat posisi paling terdepan.
"Awas, aku disini!"
"Gak mau, aku disini!"
"Eh, gak boleh berebut ya! Semuanya pasti ke foto, oke!" peringat Bu Guru.
Seorang bocah tampan mendekat dan berdiri disamping Cheryl. Ia hendak menggandeng tangan sang gadis, namun tiba-tiba bocah laki-laki yang tak kalah tampan menyerobot ditengah mereka.
"Aku mau deket, Cheryl!" ucap Key seraya merangkul pundak gadis kecil itu.
"Tapi, aku duluan!" protes bocah tampan itu memberenggut kesal.
"Udah, gak apa-apa! Arga disana aja, aku mau disini!" balas Key pada bocah tampan itu.
Arga kecil berdecak kesal. Bocah tampan itu beralih pindah ke sisi kanan sang gadis tanpa protes lagi. Wajah tampan itu kian kusut, saat Cheryl nampak ikut senang dirangkul oleh Key. Hingga tangannya melilat didepan dada.
"Oke, anak-anak. Semuanya senyum," intruksi sang fotografi. "Satu, dua, tiga!"
Cekrek! Cekrek!
Cheryl dan Key nampak senang berganti pose, namun tidak dengan Arga. Bocah tampan itu masih memberenggut dengan posisi yang sama.
**
"Sini, biar Ibu bersihin ya lukamu!" ucap Bu Guru jongkok didepan Key.
"Tapi, lukaku udah sembuh. Udah ditiup sama Cheryl," balas Key kecil dengan polos.
"Tapi, ini tetap harus dibersihin. Kalo tidak, nanti bisa infeksi. Nanti makin sakit, lho!" bujuk Bu Guru. Key pun mengangguk dan menyetujui.
Bu Guru mulai membuka pita pink itu. Lalu, mulai membersihkan luka tersebut. Arga yang tengah menemani sepupunya itu, tiba-tiba terbesit untuk mengambil kain panjang itu. Tanpa sepengetahuan Key dan Bu Guru, Arga segera mengambil benda itu dari meja. Lalu, memasukannya kedalam saku celana.
'Cuma aku yang boleh dapat barang Cheryl. Kamu gak boleh,' batin Arga menatap Key kesal. Lalu, bocah itu keluar terlebih dahulu dari ruang UKS.
Sementara itu key yang sudah selesai diobati oleh Sang Guru mencari pita yang tadi dikenakan dikakinya. "Ibu, pita aku mana?" tanyanya celingukan.
Bu Guru ikut celingukan mencari benda tersbeut. "Tadi, Ibu taruh sini!" ucapnya bingung menunjuk meja. "Tapi, kok hilang ya?"
"Huaaa!!" Key menangis setelah mendapati pita tersebut sudah hilang. Bu guru pun hanya bisa mencoba untuk menenangkan bocah tampan itu, setelah dirasa pita itu memang benar-benar sudah hilang.
**
Setelah pulang sekolah, didalam kamar Arga melihat kain pita itu. Ia tersenyum bisa mendapatkan benda yang sudah membuatnya kesal. "Kamu gak boleh memberikan apapun pada siapapun, kecuali aku!"
Ceklek!
Pintu kamar terbuka segera Arga menyembunyikan pita tersebut ke dalam laci nakasnya. Terlihat gadis kecil memasuki kamar tersebut.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Arga ketus melipat tangan didada.
Gadis itu menekukkan wajah seraya berdecih. "Cih, aku pulang!" pamit Cheryl kesal. Gadis itu berlenggang keluar kamar.
Aga menatap kepergian gadis itu. Kemudian, ia tersenyum setelah pintu itu tertutup. Hal yang berbanding terbalik dengan apa yang ia tunjukkan di hadapan sang gadis barusan.
Flash back off~
Cheryl tergelak mendengar cerita Arga. Sungguh sedikit pun ia tak menyangka, pria yang selama ini selalu mengajak ia bertengkar ternyata memendam rasa cemburu padanya. Menolak terpesona akan kecantikan seorang Cheryl.
"Udah nggak usah ketawa!" Arga mencubit hidung sang gadis hingga kian tergelak. Sungguh memalukan memang menceritakan kelakuannya itu. Namun, ia rasa tidak ada yang perlu disembunyikan lagi.
Cheryl mengatur nafasnya seraya menatap langit-langit kamar. Memutar kembali kenangan masa kecilnya dulu. "Aku kira kamu benar-benar membenciku," kekehnya.
Arga yang ikut terlentang di samping sang gadis, dengan tangan yang bertumpuk sebagai bantal tersenyum menanggapi. "Kau sendiri?" tanyanya menolehkan wajah.
Cheryl ikut menoleh. "Emm ...." Gadis itu tersenyum yang terlihat sebuah ledekan. Lalu, tergelak.
Arga yang merasa gemas, segera menindih tubuh sang istri dan mengukungnya. "Kenapa ketawa, hem?" godanya.
Cheryl belum mau berhenti tertawa. Ia hanya menggelengkan kepala, saat pergerakannya terkunci oleh tubuh yang lebih besar darinya itu.
"Ck! Minta dihajar."
"Aaa!!" Cheryl memekik dan hendak memberontak, ia sudah membayangkan tangan Arga menjamah perutnya untuk menggelitik. Namun, siapa sangka? Bukan hal itu yang dilakukan Arga.
Pria tampan itu justru menyerang bibir Cheryl. Seketika gadis itu bukam dan berhenti memberontak. Arga melepaskan tangan sang istri, membiarkan tangan itu bergelayut manja melingkari lehernya.
Pagutan sejoli itu kian dalam, menghasilkan decapan-decapan merdu meriuhkan suasana kamar. Sungguh hal yang membuat mereka candu untuk mengulang lagi dan lagi, sesatu yang membuat mereka sulit untuk saling melepaskan.
Suasana pengantin baru yang sudah terlewati lebih dari sebulan, baru mereka rasakan hari ini. Bahkan, Cheryl melupakan rasa sakit dan kebas diarea si nona sebelumnya. Justru perlakuan Arga membuat Cheryl ingin merasakan kenikmatan itu kembali.
"Apa sakithh?" tanya Arga disela aktifitasnya. Cheryl tak menjawab, ia hanya menggeleng sebagai jawaban seraya mengigit bibir bawah untuk menahan de sahannya yang kemungkinan akan tembus keluar kamar..
"Jangan ditahan, keluarkan aja sshh!!!" peringat Arga.
"Ma-lu mmhhh ..." Sekuat mungkin Cheryl menahan suaranya, tetap saja suara sexy itu tetap keluar.
Suara sejoli itu menggema saling bersahutan, seirama dengan derit ranjang yang menopang tubuh keduanya. Bahkan, suara Cheryl mendominan dan melengking begitu sexy terdengar hingga digendang telinga seseorang.
"Astaga! Itu suara?" papa Shaka yang baru saja keluar dari kamar sebelah Arga untuk menumpang kamar mandi, dibuat kaget dengan suara samar-samar meresahkan dari bilik kamar sebelah.
Bukan mengabaikan, pria paruh baya itu justru penasaran. Lalu, ia semakin mendekat untuk memastikan pendengarannya. "Apa benar mereka melakukannya?" tanyanya bermonolog sendiri.
Tentu bukan tanpa alasan, ia benar-benar belum percaya mereka sudah melakukannya. Pria itu mendaktkan kuping pada daun pintu kamar Arga. Berharap bisa lebih jelas mendengar suara itu. Namun, suara itu hilang kembali.
"Ck! Tuh 'kan? Mereka mana mungkin melakukannya. Kalian, awas aja! Dikira Papa bakal ketipu apa?" kesalnya.
Ia mencoba menggerakan handle pintu pelan-pelan, namun ternyata dikunci. Ia tidak habis akal, segera ia berlalu meninggalkan posisi dan keluar menuju balkon dari kamar yang pernah ia masuki. Berhubung dua kamar bergandengan itu hanya memiliki satu balkon besar, tentu hal itu memudahkan papa Shaka mengintip kamar sebelah.
Bola mata papa Shaka membola besar dengan menelan salivanya kuat, saat netra elang itu menatap pemandangan yang sempat ia ragukan.
"Sial! Bagaiamana mereka bisa melakukan gaya itu?"
\*\*\*\*\*\*