
Sudah beberapa menit keadaan masih saja hening didepan meja makan. Arga dan Key masih belum ada yang bersuara. Arga masih bingung harus memulai dari mana, sedangkan Key tidak ingin memulai sampai Arga mengakui kesalahannya. Meski berhadapan dan hanya ter skat meja saja, nyatanya tidak membuat mereka saling menatap.
"Tadaa!!!"
Suara Cheryl dengan dentingan piring beradu dihadapan lelaki itu membuat keduanya terlonjak. Gadis itu tersenyum menyiapkan makan ke meja dihadapan mereka.
Arga menoleh seraya menautkan alisnya. "Ini? Bukannya mau masak?" tanyanya.
"Ini aku masak," balas Cheryl sekenanya.
"Ini kepala restoran yang masak," sela Arga dengan wajah tak habis pikir. Bagaimana mungkin masakan restoran bisa disebut masakan buatan gadis itu sendiri?
"Tapi, makanan ini dingin. Jadi aku yang masak ulang," balas Cheryl tersenyum menampilkan deretan giginya dan hanya dibalas decakan oleh Arga.
Key tertawa melihat tingkah Cheryl. Seketika atensi Arga berpindah pada pria itu.
"Lu itu lucu ya," ucap Key. "Bikin gemes tau gak?" lanjutnya mengusek rambut gadis itu.
Plak!
Arga menepis kasar tangan Key yang bertengger dikepala sang istri. Tak terima jika Cheryl diperlakukan seperti itu.
"Aww, apa sih lu?" kesal Arga menarik tangannya dari kepala sang gadis.
"Lu yang sopan sama kakak ipar! Main pegang-pegang kepala segala," protes Arga tak terima.
"Ya udah, gue pegang yang lain deh," balas Key hendak meraih tangan Cheryl. Namun, Arga kembali menepisnya.
"Enak aja lu, gak usah pegang-pegang!" peringat Arga kesal. "Dasar buaya, cari kesempatan dalam kesempitan," gerutunya. Key tergelak, senang sekali membuat cemburu sepupunya tersebut.
"Udah!" Cheryl mencoba melerai, dengan menggenggam tangan suaminya itu. Arga mendengus kesal, sementara Key masih setia dengan tawanya.
"Lu diem, atau gak usah makan sekalian!" peringat Cheryl, hingga Key pun mengatupkan bibirnya dan berhenti bersuara.
Arga tersenyum meledek ke arah Key, dan ditanggapi delikan dari mata pria itu. "Lagian lu ngapain sih, malam-malam bertamu ke rumah orang? Ganggu aja," tanya Arga dengan nada kesal.
"Kalo tau gue tamu. Harusnya lu sambut gue dengan sopan," balas Key dengan telak, namun hanya ditimpali Arga dengan ekspresi wajah yang sama.
"Isshh kalian tuh!"
Tak! Tak!
"Awww!!" Kedua pria itu meringis menahan sakit dilengan mereka dari hantaman sendok yang dilayangkan Cheryl.
"Bisa gak ketemu tuh yang akur, gak usah tarik urat terus?" kesal gadis itu. "Lama-lama urat kalian pada putus."
"Udah sekarang kalian diem dan makan. Kalo gak mau diem pergi aja, jangan makan!" cerocos Cheryl.
Gadis itu segera meraih makanannya terlebih dahulu. Perutnya yang sudah keroncongan enggan menanggapi kedua pria tersebut. Arga dan Key hanya pasrah dan mengikuti perintah sang gadis. Kemudian, kedua pria itu pun memulai makan malam mereka.
Keadaan kembali hening, tidak ada percakapan antara tiga orang itu. Hanya denting sendok dan piring saja yang mendominan disana. Hingga makanan pun habis tak tersisa.
Seperti Arga, Cheryl juga penasaran akan kedatangan sepupu iparnya itu. "Pasti ada alasan 'kan lu kesini, ada apa?" tanyanya.
Key menegak terlebih dahulu minuman dihadapannya. "Sebenarnya gue bukan mau kesini," jawabnya. "Tapi ... Kerumah depan tuh!" tunjuk pria itu dengan dagu kearah depan.
"Lha, terus napa nyasar kesini?" tanya Cheryl heran, saat melhat Arga menujuk rumah mertuanya.
"Penghuni rumah gak ada, kayaknya kedua orang tua itu sedang live," celetuk Key meneguk air dari gelasnya.
"Live? Live apaan?" tanyanya bingung.
Byurr!!!
Sontak saja air dari dalam mulut Key, menyembur keluar. Ia tidak mengira Cheryl sepolos itu. Padahal bahasa nyeleneh itu sudah tidak asing keluar dari bibir keluarga mereka.
"Lu gak tau?" tanya Key tak percaya.
Belum sempat Cheryl menjawab, Arga segera menyelanya. Ia tidak ingin Key mengetahui jika ia dan Cheryl belum pernah melakukan hal tersebut. "Udahlah gak usah dibahas. Ada yang mau gue bicarain sama lu!"
Arga berlalu lebih dulu meninggalkan meja makan. Key terdiam sejenak melirik Cheryl meminta pendapat, namun gadis itu hanya menggelengkan kepala seraya mengedikan bahunya saja. Lalu, gadis itu bergegas membereskan sisa makan mereka.
Meski malas, namun sepertinya ia harus tau apa yang ingin dikatakan sepupunya itu. Key pun berlalu menyusul Arga menuju balkon. Pria tampan itu mendekat seraya memasuakn tangan kedalam celana.
"Ada apa?" tanya Key to the point.
Arga menarik napas dalam-dalam. Pria itu tengah berdiri menatap lurus kedepan, dengan tangan menopang diantara pagar balkon. "Maafin gue!" ucapnya, tanpa mengubah posisi.
"Cih!" Key berdecih, kemudian pria itu menyandarkan diri di pagar tersebut. "Setelah otak lu bekerja?" ledeknya. Tatapan Key juga sama lurus kedepan dengan tangan yang masih bertahan disakunya.
Arga tersenyum kecut. Ia menunduk dengan memori kembali pada kejadian waktu ia begitu bodoh tidak mempercayai saudaranya itu. "Lu benar, otak gue gak bekerja selama ini," ucapnya.
Suasana nampak hening sejenak, hingga Arga kembali bersuara. "Gue lebih mempercayai perasaan yang justru menghancurkan gue," ucapnya disertai tawa sumbang.
"Tapi ... Setidaknya lu tersadar," sela Key terkekeh masih dengan posisi sama.
Arga menoleh melihat wajah Key. Hingga pria itu juga menatapnya. "Thanks, lu udah mau nyadarin gue!" ucapnya tulus, terlihat cairan bening yang menggenang di pelupuk mata pria itu.
Key menarik satu sudut bibirnya. "Cih, gue gak yadarin lu! Gue cuma buktiin kalo omongan gue itu fakta," balasnya.
Arga tersenyum lebar. Satu bulir air matanya jatuh begitu saja. Segera ia mendekap saudaranya itu, dengan perasaan haru dihatinya. "Maafin gue, maafin gue!" ungkapnya dengan air mata yang kian berdesakan keluar.
Key ikut tersenyum lebar. Ia menepuk bahu saudaranya. "Maaf aja gak cukup! Harus ada balasan setimpal buat gue," celetuknya.
"Ck! Sialan lu," Arga menonjok pelan perut Key disertai kekehan.
Key ikut terkekeh memegang perutnya. "Tentu aja, lu pikir didunia ini ada yang gratis," ledeknya. Namun hanya dibalas decihan oleh Arga.
"Cengeng lu! Gitu aja mewek," ledek Key lagi menoyor kepala Arga.
"Apa sih lu, gue gak mewek!" elak Arga menghapus kasar pipinya.
"Heleh, tuh bini lu aja lihat. Ya gak, Cher?" Key semakin gencar meledek Arga.
Sontak Arga menoleh dan melihat Cheryl yang tersenyum kearah mereka. Arga tidak menyadari, sedari tadi percakapannya bersama Key didengar gadis itu.
"Kamu? Dari kapan?" tanya Arga kikuk saat Cheryl sudah berada disampingnya.
"Dari kamu mewek," balas Cheryl ikut meledek.
"Ishh kau ini," Arga merangkul bahu Cheryl, lalu mengusek rambut istrinya itu gemas. Hingga gadis itu tergelak dibuatnya.
Key tersenyum melihat keakraban sejoli itu. Ia tidak mengira Arga akan semudah itu menyerahkan hatinya kembali untuk seorang gadis. Sementara dirinya, masih belum bisa menyerahkan hati untuk gadis mana pun.
'Akankah gue juga bisa menyerahkan hati untuk seorang gadis?'
\*\*\*\*\*\*