
Hari kian sore, sepasang pengantin itu berencana untuk melihat sunset bersama. Menghabiskan waktu senja di tepi pantai, memang menjadi keinginan siapapun. Termasuk para remaja yang membututi pasangan pengantin tersebut.
"Ck! Ngapain sih kalian pada buntutin segala? Ganggu aja!" kesal Arga pada ke empat gadis dan dua pria dibelakang mereka.
"Yey, ge-er banget sih! Siapa juga yang ngikutin kalian? Kita juga mau nikmati sunset," celetuk Ara membalas, gadis itu bergelayut manja dilengan Zea.
"Iya bener," sambung Reysa yang berjalan disamping Zea. "Mentang-mentang pengantin baru. Dunia berasa milik berdua kali, ya?" ledeknya.
"Emang, dasar bucin!" timpal Key ikut meledek. Kemudian disambut gelak tawa dari yang lain.
Arga berdecak kesal mendapat balasan dari orang-orang dibelakang mereka. Cheryl yang melihat raut wajah Arga terkekeh. "Udah biarin aja," ucapnya menenangkan seraya merangkul lengan kekar suaminya itu.
Arga masih memberenggut kesal. Yakin, bahwa suasana romantis akan ambyar dengan kehadiran mereka. Cheryl yang mengerti kegundahan sang suami, melepaskan dekapan tangannya. Lalu, gadis itu menautkan tangannya dengan tangan Arga. Kemudian tersenyum memberi kode pada sang suami.
"Lari!" Cheryl menyeret tangan Arga dan mengajak Arga berlari.
Sontak saja Arga yang belum ngeuh dibuat kaget. Namun, didetik berikutnya tak ayal pria tampan itu berlari dan tersenyum. Bahkan, memimpin didepan, menjadi Cheryl yang terseret olehnya.
"Eh, kalian mau kemana?" pekik Ara ikut kaget.
"Wah, mereka minta dikejar nih. Ayo kita kejar!" Zea menggandeng tangan Ara dan Reysa. Lalu, mengajak kedua gadis itu berlari.
Ketiga gadis itu tertawa mengejar, meninggalkan Rayna yang masih berjalan malas. Sebelumnya gadis itu enggan untuk ikut dan memilih istirahat. Namun, para gadis itu memaksanya untuk pergi. Dengan terpaksa ia ikut, namun apa? Ia sekarang ditinggal seorang diri.
"Haissh, dasar lebay!" ledek Key. Tiba-tiba atensinya beralih pada dua gadis yang kini tengah memperhatikannya dengan senyum-senyum malu.
Sontak saja, insting buayanya bekerja. Ia pun menyeringai, bagai dapat makanan empuk. Bukan berjalan lurus, pria itu justru berbelok untuk menghampiri kedua gadis itu. Tanpa berpamitan pada Al. Hingga menysiakan sepasang manusia itu saja yang berjalan santai.
Keadaan hening antara keduanya. Rayna benar-benar malas. Mau kembali pun rasanya percuma, perjalannya sudah terlanjur jauh. Berbeda dengan Al, pria tampan itu tampak terus menyunggingkan senyum. Sesekali ia melirik wajah sang gadis tanpa mau memulai obrolan. Rambut lurus Rayna yang tergerai terombang ambing diterpa angin laut, membuat Al semakin fokus memperhatikan gadis itu.
'Cantik!' batinnya.
"Ngapain lu lihatin gue terus?" tanya Rayna ketus. Tentu ia dapat merasakan dan melihat pria itu terus mencuri pandang padanya.
"Ehem!!" Al berdehem merasa malu karena sudah ketahuan diam-diam memperhatikan gadis itu.
"Soal malam itu, aku belum sempat minta maaf," Al memulai obrolan mereka dengan sedikit ragu.
Rayna tak menanggapi. Ia hanya berjalan menatap kedepan, Al kembali melirik gadis dingin yang tidak banyak bicara itu.
"Maaf, waktu itu aku gak sengaja. Maaf, juga sudah banyak bicara. Aku kira kamu Reysa," sesal Al atas kejadian malam itu. Rayna hanya tersenyum kecut, tanpa mau menanggapi.
"Oh iya, kita belum berkenalan. Kamu Rayna 'kan? Aku Al, Alzein," ucap Al mengulurkan tangan kehadapan Rayna seraya menghentikan pergerakan kakinya.
Sontak Rayna ikut berhenti. Gadis itu memperhatikan uluran tangan Al, lalu beralih menoleh, mendongak menatap Al yang lebih tinggi darinya. Keadaan hening sejenak, Al benar-benar memperhatikan dengan seksama wajah cantik gadis itu.
Ternyata adegan tersebut menjadi perhatian gadis yang sudah berdiri ditepi pantai. Saat kedua gadis lain sibuk berfoto selfi diantara deburan ombak. Reysa masih sibuk memperhatikan sepasang manusia itu.
'Kenapa kamu menatap Rayna? Kenapa bukan aku, Al?' batin Reysa mentap sendu.
Sementara disisi lain, pria tampan bejuta pesona yang tengah mendekati mangsa itu, sudah berada didepan kedua sang gadis incarannya. "Hai, girls!" sapanya disertai senyuman maut.
Sontak kedua gadis itu kelabakan. Tidak menyangka, pria tampan itu mau mendekat pada mereka bahkan menyapanya.
"Ha-hai," balas kedua gadis itu tergugup dengan wajah memerah.
"I-iya bo-boleh!" balas salah satu dari mereka.
"Key!"
"Sena," balas gadis itu menjabat tangan Key.
Deg!
Tiba-tiba ia teringat sang mama, saat gadis itu menyebutkan nama yang sama dengan ibu tercintanya. Sontak ia menggulirkan kepala, takut-takut wanita cantik itu mengawasi pergerakannya.
'Perasaan gue gak enak. Jangan-jangan si Mama lagi ngawasin gue!' batin Key bergumam sendiri.
"Ehem!" Deheman dari sang gadis membuat Key, tersadar dari lamunannya. Lalu, segera ia tersenyum manis mengalihkan perhatian seraya melerai jabatan tangan mereka.
"Boleh minta nomor hapenya?" tanya gadis itu menyodorkan ponselnya.
"Ah tentu," Key pun meraih benda pipih tersebut. Lalu, mengetikan nomor miliknya disana.
"Baiklah, nona-nona manis. Aku pergi dulu," pamit Key dan diiyakan kedua gadis itu.
Pria itu hendak berlenggang, namun tiba-tiba ia kembali berbalik. "Oh ya, jangan lupa!" Key mengangkat jari jempol dan kelingkingnya didepan telinga, membentuk sebuah telepon. Kemudian diakhiri kerlingan mata nakal dar pria tampan.
Akhhh!!! Histeris sudah para gadis itu. Mereka berjingkrak kegirangan mendapat nomor ponsel pria tertampan yang mereka temui hari ini.
Tentu saja gerak gerik kedua gadis itu menjadi perhatian Zea dan Ara. "Ck, ck, ck! Kasihan sekali para gadis itu," Zea menggelengkan kepala merasa miris pada keduanya.
"Haisshh andai mereka tau, kalo sudah masuk kedalam perangkap buaya," balas Ara ikut menatap miris kedua gadis itu.
"Kak Ze ngerasa gak sih?" tanya Ara menoleh kearah Zea.
"Hem?" Zea ikut menoleh ke arah Ara seraya bertanya. "Apa?"
"Aku rasa, Key bukan anak kandung uncle Abi!" celetuk Ara dengan wajah serius. Sontak saja Zea tergelak mendengar celetukan itu. Kedua gadis itu terus menertawakan sepupu mereka yang dirasa aneh seorang diri.
Masih ditepi pantai yang sama. Namun, jauh dari keramaian gadis-gadis itu. Sepasang manusia tengah berlarian didekat deburan ombak. Arga dan Cheryl benar-benar menikmati waktu mereka. Mungkin inilah definisi dunia milik berdua. Mereka tidak peduli dengan keadaan sekitar dan hanya fokus bercanda berdua.
"Aku cape," keluh Cheryl mendudukan diri diatas pasir putih tersebut. Nafas gadis itu ngos-ngosan setelah cukup lama mereka saling kejar dan menangkap.
Arga terkekeh dengan nafas yang sama. Lalu, ikut mendudukan diri disamping gadis itu. Ia membenahi rambut Cheryl yang berantakan, kemudian menyeka keringat dari dahi gadis itu. Senyum terus terukir dari kedua manusia yang tengah merajut cinta itu.
"Mungkin ini kali ya, yang dikatakan enaknya pacaran setelah nikah," kekeh Arga.
Cheryl tergelak mendengar itu. Pacaran? Seumur hidup ia baru mengalami hal seperti ini. Dan apa benar seperti ini pacaran itu?
"Emang waktu sama Tania gimana?" ledek Cheryl.
Arga ikut tertawa, tentu saja berbeda. Jangankan untuk tertawa lepas seperti itu, Tania terlalu menjaga sikap saat bersamanya. Sampai ia tidak percaya wanita itu ternyata memiliki kepribadian ganda.
"Entahlah, aku gak pernah merasakan seperti apa yang kurasakan bersamamu. Bahkan hanya untuk tertawa aja, aku harus kentut terlebih dahulu di depannya!"
\*\*\*\*\*\*