
Arga bergandengan tangan dengan Tania menuju parkiran. Wanita itu terlihat bahagia dapat menggandeng sang kekasih tercinta setelah beberapa hari tak bertemu. Arga yang sempat ingin jujur dan memutuskan hubungan dengan wanita itu, terpaksa mengurungkan niatnya. Ia akan mencari waktu yang tepat, agar kekasihnya itu dapat menerima keadaan.
"Hari ini, enaknya kita kemana dulu?" tanya Tania antusias.
"Emm, terserah kamu aja," balas Arga tersenyum, mencoba terlihat biasa saja.
"Gimana, kalo kita makan dulu. Aku laper," usul Tania. Arga hanya mengangguk seraya menguseuk pucuk kepalanya.
Sejoli itu mendekati mobil Arga yang terparkir. Arga memijit tombol untuk membuka kunci, baru saja mereka hampir sampai dipintu samping kemudi, Cheryl sudah menyerobot mendahului untuk duduk disana. Hingga hampir saja Tania terjengkang. Jika, tidak ditangkap oleh Arga.
"Lu?" kesal Arga menunjuk Cheryl yang sudah stay duduk dikursi yang seharusnya diduduki oleh Tania.
"Ck! Lama, buruan!" ajak Cheryl tanpa dosa. Bahkan ia sudah siap memasang sabung pengamannya.
Arga menatap tak percaya pada gadis itu, begitupun Tania yang terlihat meminta penjelasan pada kekasihnya.
"Dia bareng sama aku motornya masih dibengkel," jelas Arga pada Tania. Wanita itu menghembuskan napas pelan, mau protes tapi ia tidak bisa melakukan itu.
"Lu ngapain disitu? Dibelakang sana!" usir Arga menujuk jok belakang dengan dagunya. Berharap Cheryl pindah dari tempat sang kekasih.
"Nggak, gue mau disini. Suruh aja cewek lu dibelakang," balas Cheryl sekenanya.
"Lu?" greget Arga. Namun, dibalas tatapan menantang dari gadis itu. "Apa?"
"Yang, udah!" lerai Tania mencoba sekalem mungkin.
"Tapi-"
"Buruan! Ah, ribet lu. Nih si mama sama mama Jin udah nelponin mulu. Gue gak mau ya, dapat hukuman gara-gara lu," sela Cheryl.
Tania terdiam mencerna ucapan gadis yang mengesalkan itu baginya. Entah kenapa ada yang mengganjal dari ucapan gadis itu. Arga berdecak pelan, ia hampir lupa akan janjinya bersama kedua orang tua mereka untuk membahas tempat tinggal baru untuk mereka.
Tiba-tiba atensi Tania berpindah pada sebuah kain yanh tersampir dijok kemudi. Kain yang sama dengan yang dikenakan ditubuh Cheryl kini. Ya, Arga benar-benar membuka kemeja tersebut dan hanya menyisakan t-shirt saja yang melekat ditubuhnya. Bukan karena Tania saja, ia juga tidak bisa tampil couple seperti itu didepan umum.
"Sa-"
"Emm, maaf ya, Tan. Aku lupa, kalo aku ada janji sama papa untuk menghadiri makan malam bersama temannya. Gak apa-apa 'kan, kita jalannya lain waktu aja?" sela Arga, menghentikan ucapan Tania.
"Tan?" tanya Tania memgerutkan dahinya, kala Arga tidak menyematkan nama 'Sayang' seperti biasa.
"Ah emm maksudku, Sayang," Arga mengulangnya dengan sedikit terbata. Entah kenapa lidahnya tiba-tiba lupa untuk menyematkan nama itu. 'Kenapa gue lupa?' batinnya.
"Kamu tau sendiri 'kan, perintah papa gak bisa dibantah. Aku harap kamu bisa mengerti," lanjutnya mengalihkan pembicaraan.
Tania tersenyum semanis mungkin. Ia mengangguk mengerti maksud dari kekasihnya itu. Arga ikut tersenyum seraya menggenggam tangan wanita itu. "Aku janji, besok kita jalan. Hem?" hiburnya menenangkan dan diangguki Tania kembali.
Setelah berpamitan, Arga pun segera masuk kedalam mobil. Tania memperhatikan mobil tersebut, hingga menghilang dari pandangan.
"Kenapa gue merasa aneh, ya?" tanya Tania bermonolog sendiri.
"Ck! Pria tua itu benar-benar ngeselin. Suka sekali menghalangi waktu gue sama Arga. Huhh~ demi imej gue harus mengalah lagi," gerutunya kala ia harus pura-pura menjadi gadis baik didepan keluarga Arga.
"Sebaiknya gue pergi ke salon. Malam ini gue punya klien terbaik yang tidak boleh gue sia-siakan," lanjutnya berencana. Segera ia pun memesan taxi online untuk membawanya ke tempat memanjakan diri.
**
Didalam mobil, Cheryl kembali sibuk dengan ponsel digenggamannya. Ia tidak berhenti cekikikan sendiri. Entah apa yang dilakukan gadis itu, namun yang jelas hal itu mengganggu Arga.
"Apa mereka menunggu dirumahmu?" tanya Arga memulai obrolan untuk mengalihkan atensi gadis itu.
"Hem," balas Cheryl singkat.
Tentu bukan itu jawaban yang diinginkan Arga, ia memicingkan mata melirik kearah sang gadis yang masih saja fokus.
"Lu gak penasaran, gue putus apa nggak sama Tania?" tanya Arga lagi, memancing agar gadis itu mau fokus padanya.
"Lu beneran gak penasaran?" tanya Arga lagi tak percaya.
"Nggak!"
"Gue masih belum mutusin Tania," lanjut Arga.
"Serah!!"
Ckitttt!!!!
Dug!
"Awww!!!" Cheryl meringis mengusap jidatnya yang berhasil mencium dasbor. Mobil yang tiba-tiba mengerem mendadak membuat ia tersungkur kedepan, bahkan ponselnya sampai terjatuh kebawah.
"Lu gila ya? Sstt awww!" kesal Cheryl meringis masih mengusap jidatnya yang memanas. Dapat dipastikan jidat lebar itu memerah.
"Lampu merah," kekeh Arga yang memang sengaja menginjak pedal rem mendadak untuk mengerjai gadis itu.
Cheryl mendengus kesal, seraya memukul lengan pria itu. "Lu sengaja ya? Sakit tau gak?"
Arga tertawa tanpa dosa dan hal itu sukses membuat Cheryl semakin kesal. Gadis itu tak henti melayangkan pukulan pada Arga yang masih saja menertawakannya.
"Udah gak apa-apa, biar makin luas tuh jidat," ledek Arga disela tawanya.
"Isshh lu ngeselin, kalo gue celaka gimana? Kalo gue geger otak gimana? Kalo gue sampe hilang ingatan, terus lupa sama Jung-kook, gimana?" cerocos gadis itu semakin membabi buta memukul Arga.
Hal itu semakin membuat Arga tertawa lepas. Entah kenapa cerocosan gadis itu membuat ia senang, dari pada diabaikan seperti sebelumnya lebih baik ia mendengar cerocosan unfaedah itu.
"Keterlaluan lu, ngeselin!" Melihat sang gadis yang sudah berkaca-kaca, Arga pun menghentikan tawanya.
"Oke, oke sory! Udah iya, gue minta maaf," Arga mencekal tangan sang gadis untuk menghentikan aksinya itu.
Terlihat Cheryl terisak dengan jidat yang memerah. "Sakit," lirihnya.
Arga mendesah kecil mungkinkah ia sudah keterlaluan? Ia meraih kepala Cheryl untuk melihat kening yang memerah itu. "Mana sini gue lihat!" Cheryl hanya pasrah dengan air mata membasahi pipinya.
Fuhh~
Arga meniup kening gadis itu. Ada rasa bersalah, dihati pria itu. Niat hati hanya main-main malah berujung celaka. Benar kata Cheryl, jika gadis itu terluka parah. Bagaimana?
"Sakit banget?" tanya Arga dan hanya diangguki gadis itu.
Arga menghapus jejak kebasahan dipipi cantik itu. Hal itu membuat mereka saling menatap satu sama lain. Mendadak keadaan menjadi hening, dengan jantung mereka yang berdegup tak beraturan. Desiran aneh kembali hadir diantara mereka.
'Kenapa lu harus bersikap manis sama gue? Sikap lu yang seperti ini, membuat gue ....' batin Cheryl.
'Sekesal apapun gue sama sikap lu. Sekhawatir itu pula gue memikirkan tentang lu,' batin Arga.
Tin! Tin!
Klakson dari belakang kendaraan mereka mengalihkan atensi sejoli itu. Keduanya berdehem keras seraya kembali menegakan tubuh mereka.
"Ehem, udah lampu ijo," ucap Cheryl memberitahu, dengan wajah yang tiba-tiba memanas.
"Ah, iya," balas Arga kikuk, lalu segera kembali menyalakan mesin. Hingga mobil itu kembali melesat untuk segera pulang kerumah. Sejoli itu kembali hening, dengan pikiran masing-masing. Hanya ada senyum dari sejoli itu kala merasakan dada mereka yang semakin bergemuruh
'Jantung, tolong tenanglah!'
\*\*\*\*\*\*
Maaf yaa gaiss baru up. Liburan dulu🙈 mak othor lupa ngucapin, Selamat tahun baru 2023. Pada liburan kemana ini??🤭 Oh iya mengenai pemberian like, mak othor mohon ya, untuk like dan komen setelah baca oke! Yang suka download dulu, gak apa-apa gak ngasih like juga yaa. Atau misal ketinggalan, baru baca 2 bab, terus bab pertama lupa like. Udah gak apa2 jangan balik lagi cuma buat kasih like ya like yang terakhir aja ... Bukan apa2 ya, soalnya itu berpengaruh buat performa karya. Mohon pengertiannya yaa gaisss🙏🙏 lope banyak-banyak dah buat kalian😘