
Kain tipis yang melekat ditubuh Cheryl sukses membuat si jack yang hanya terhadang kain putih dan tebal itu berdiri tegak. Hanya dengan memandang siluit tubuh sexy itu, sudah membuat benda keramat itu tak ingin diam. Bagai candu, aroma tubuh Cheryl sudah melekat dijiwa seorang Arga.
"Kamu cantik," bisik Arga.
Bibir sexy itu langsung bergerak memainkan daun teling sang gadis. Tangannya sudah bergeliyara mengangkat kain tipis itu tinggi-tinggi. Menyusuri tubuh mulus dan berisi Cheryl, hingga membuat si empunya mendesis.
"Emmhh, Ga!"
Seperti kata Arga sebelumnya, Cheryl senang sekali menggoda terlebih dahulu. Sekarang saja, tubuhya sudah bergoyang tak mau diam. Hal yang membuat Arga semakin liar. Tanpa aba-aba ia menarik kain ditubuh Cheryl sedikit kasar, hingga lingery itu robek.
"Ahh, kenapa dirobek?" tanya Cheryl kaget.
"Gak apa-apa, itu udah nasib dia," celetuk Arga sekenanya.
"Ta-"belum juga kalimat Cheryl kelar, Arga sudah membungkam bibir yang kemungkinan akan nyerocos itu. Menyesap bibir itu lembut penuh gairah.
Dengan gesit, pria tampan itu membuka satu persatu kain dari tubuh molek Cheryl. Hingga gadis itu polos dan hanya menyisakan benda segitiga saja. Seperti Arga, tangan Cehryl pun juga bergerak menarik tali bathrob suaminya itu. Hingga tubuh sispek itu terpampang jelas.
Cheryl mendorong tubuh Arga hingga telentang. Cheryl turun sebentar untuk membuka kain yang tersisa ditubuhnya. Lalu, dengan gerakan nakal, gadis itu bergeliyara diatas tubuh Arga. Pria itu memejamkan mata merasakan sensasi yang diberikan istrinya itu. Memanglah foreplay yang mencukupi membuat permainan kian memanas.
"Uhhh, Ga!"
De sahan Cheryl begitu menggema. Gaya si nona makan pisang menjadi pilihan Cheryl sendiri. Ia ingin membuktikan, jika ia bisa mengalahkan Arga malam ini.
"Yeah Cher, ini ouhhh!"
Arga merasakan sensasi berbeda malam ini. Entah apa penyebabnya. Namun, rasanya malam ini berbeda dari malam-malam yang sudah terlewati. Ia merasakan senjatanya akan segera kalah dengan cengkraman erat si nona.
Sudah tidak mampu lagi menahan gelombang panas yang membakar tubuhnya, Arga segera membalikan tubuh hingga ia yang menguasai permainan.
Arga semakin berpacu lebih cepat, Cheryl masih mampu bertahan. Hingga entah di detik keberapa, keduanya mengerang bersama. Untuk pertama kali, Cheryl bisa menyeimbangi permainan Arga dan tumbang bersama.
Nafas tersenggal terdengar dari bibir keduanya. Arga masih enggan bergerak atau menarik senjatanya. Membiarkan bibit-bibit berbentuk lahar panas itu menyelam ke rahim terdalam sang istri. Bahkan, terbesit sebuah harapan agar bibit itu bisa segera tumbuh di dalam sana.
"Ga?" tanya Cheryl mengusap rambut Arga yang basah keringat.
"Hem?" Arga mengangkat kepala dari ceruk basah Cheryl. "Apa?" tanyanya.
"Apa kamu sudah mencintaiku?" tanya Cheryl dengan ragu.
Arga tersenyum ia membiarkan satu tangannya menahan bobot tubuhnya dan satu tangan lagi ia biarkan menghapus buliran-buliran bening didahi gadis itu.
"Emm, entah!" balas Arga sekenanya.
"Ck! Hissshh," kesal Cheryl memalingkan wajah. Tentu ia ingin sekali suaminya itu mengucapkan kata-kata manis setelah mereka melakukan penyatuan.
Arga terkekeh, kemudian mengecup bibir merah ulahnya itu. "Kenapa masih tanya? Harusnya kamu paham, aku melakukan semua ini karena apa?" tanya Arga menggoda.
"Ya, 'kan bisa aja. Kamu melakukan itu karena n*fsu semata," sela Cheryl dengan wajah kesal.
"Ya ampun, mana ada n*fsu siap mengorbankan segalanya?" Cheryl masih berdecak tak percaya.
Arga yang melihat itu akhirnya menghembuskan napas pasrah. Ia membisikan sesuatu tepat ditelinga istrinya itu.
"I Love you, Cheryl."
Perlahan Cheryl tersenyum mendengar itu. "Apa? Gak kedengaran?" godanya.
"Apa, apa?" Lagi-lagi gadis itu terus menggoda dengan bibir mengembang dan kedua pipi yang sudah memerah.
"Kayaknya minta ngulang nih," seringai Arga menggoda.
Segera Arga menyergap ceruk istrinya itu seraya menaikan selimut menutupi seluruh tubuh mereka, hingga Cheryl menjerit dan tergelak. Kedua manusia itu kembali bergulat, mengulang candu dibawah selimut tersebut.
**
Waktu sudah menunjukan hampir jam dua belas malam. Ara bangkit dari tidurnya, saat merasakan cacing diperutnya yang tiba-tiba saja berdemo. Padahal, terakhir mereka selesai makan malam jam sembilan. Bahkan jam sepuluh ia masih ngemil sambil nonton drakor. Dan sekarang?
"Oh! Ya ampun," keluhnya frustasi. "Perutku terbuat dari apa coba? Masa jam segini udah nagih lagi diisi?" tanyanya kesal sendiri.
"Andai aku banyak-banyak makan bisa semok kayak Cheryl, lha ini mah tetap aja cungkring," gerutunya mendumel sendiri.
"Kak Ze, bangun!" Gadis itu menggoyangkan tubuh gadis disampingnya.
"Hem," hanya gumaman yang keluar dari bibir Zea.
"Temenin aku makan, yuk! Aku laper nih!" ajaknya. Namun, lagi-lagi hanya gumaman yag keluar dari bibir sang gadis yang jiwanya sudah berlayar entah kemana.
"Ck! Ayo dong, Kak Ze. Masa aku sendirian cari makan? Kalo aku diculik gimana?" cerocos gadis itu membujuk. Namun, tidak mempan sama sekali untuk gadis yang tertidur teramat pulas itu.
"Isshh dasar, canti-cantik kebo!" kesal Ara. "Ini kalo ada kebakaran atau hal urgent, aku yakin Kak Ze, gak bakal tau apapun." gerutunya menggelengkan kepala.
Dengan terpaksa gadis itu pun harus keluar seorang diri. Rasa laparnya mengalahkan rasa takut bertemu orang jahat ataupun setan malam. Sepanjang perjalanan menuju lift, ia hanya merutuki dirinya yang melupakan menyetok cemilan malam penunda lapar.
Tring!
Gadis itu masuk kedalam kotak besi itu untuk sampai dilantai dasar. Baru saja pintu hendak tertutup, tiba-tiba seseorang menghentikannya.
Deg!
Ara terpaku kala melihat siapa yang masuk kedalam lift tersebut dan tersenyum tipis padanya. Gadis itu membalas dengan senyum kaku. Lalu, memalingkan wajah saat seorang pria dewasa itu masuk dan berdiri disampingnya. Ia berusaha mengatur nafas untuk terlihat biasa-biasa saja. Apalagi saat kedaan hening ia mencoba untuk mengakrabkan diri.
"Emm, Uncle mau kemana malam-malam gini?" tanya Ara memulai obrolan.
Pria itu menoleh menatap sang gadis yang bertanya. "Mau cari angin," balasnya. "Emm," tiba-tiba pria itu mengerutkan kening seolah berpikir.
"Kamu?" tanyanya mengingat-ngingat siapa gadis itu.
"Ah, iya. Uncle pasti lupa sama aku. Aku Ara, Uncle. Putrinya Mami Kia," ucap gadis itu memperkenalkan diri seraya menyodorkan tangan.
Pria dewasa itu terkekeh pelan. Benar, ia memang melupakan gadis itu. Lalu, ia pun menjabat tangan sang gadis. "Ah, iya. Uncle lupa. Maaf ya! Tapi kamu gak lupa 'kan siapa Uncle?"
Ara tertawa sejenak. "Sejujurnya, aku hampir lupa Uncle. Soalnya Uncle masih aja muda, masih aja tampan," kekeh Ara hingga pria itu semakin melebarkan senyumnya.
"Tentu aku ingat. Uncle adalah Uncle Iky, Papih si kembar Reysa dan Rayna. 'Kan?" tanya Ara memastikan.
Rizky tertawa. Gadis muda itu persis seperti Maminya yang begitu cerewet. Hingga tanpa sadar ia mengusek rambut sang gadis gemas. Sontak perlakuan itu membuat Ara menyurutkan senyum dan terpaku.
'Ya ampun, aku mau pingsan!'
\*\*\*\*\*\*