
Arga membantu Cheryl berjalan menuju rumah sebrang. Tepatnya rumah papa Shaka.
"Ini kalo mereka tanya, aku jawab apa ya?" tanya Cheryl bingung. Pastilah orang-orang pada bertanya, pasal dirinya berjalan sedikit tertatih.
"Bilang aja keseleo," saran Arga.
"Isshh masa bohong?" protes Cheryl.
"Ya udah, jujur aja!" lanjut Arga mengusulkan.
"Isshh masa harus jujur, malu lah," protes Cheryl lagi.
Arga menghembuskan napas kasar. Saat semua usulannya salah terus bagi sang istri. "Ya, terus mau gimana?" tanya Arga mulai kesal.
Belum sempat Cheryl menjawab, suara pria tua mengagetkan mereka yang baru saja memginjakan kaki dihalaman rumah sang papa.
"Kalian ributin apaan?" tanya opa Ar menghampiri sejoli itu.
"Ah, ini ...." Cheryl tampak kikuk untuk membalas.
"Bukan apa-apa Opa," sambar Arga.
Terlihat bukan pria itu saja, namun ada opa Juna, opa Age, dan opa Devan dibelakangnya. "Wihh, habis dari mana ini kompak bener?" celetuk Arga mengalihkan pembicaraan.
Keempat pria itu tersenyum melihat ekspresi Arga yang tampak segar dan berbeda hari ini. Tentu mereka bisa mengerti, jika pengantin baru memanglah selalu lupa akan waktu.
"Seger banget, Ga? Tiati, jangan keseringan bisa lama jadi," celetuk opa Age.
"Lha salah dong, Bang! Yang ada, makin sering makin cepet jadi," balas opa Devan.
"Isshh kau ini. Sengaja aku bilang gitu, biar kita gak cepat dapat cicit," sela opa Age lagi.
Kedua pria kalem seusianya hanya menggelengkan kepala mendengar ocehan mereka. Sedangkan Arga dan Cheryl hanya tersenyum kikuk menanggapi.
"Sudahlah, ayo kedalam! Mungkin mereka sudah menunggu," ajak opa Juna.
Arga mempersilahkan para orang tua itu untuk berjalan lebih dulu. Sementara pasangan itu memutuskan untuk berjalan dibelakang.
Arga membungkuk diri dihadapan sang istri dengan posisi membelakangi. "Sini!" ajaknya menepuk pundak.
"Kamu mau gendong aku?" tanya Cheryl tak percaya.
"Bukan!"
"Terus?"
"Mau ngintip," kekeh Arga.
"Isshhh!!" kesal Cheryl mengacak rambut Arga. Pria itu tergelak melihat wajah cemberut sang istri saat ia menengok.
"Udah ayo!" bujuk Arga.
"Eh, udah lama ya kamu gak gendong aku kayak gini?" tanya Cheryl mengingat-ingat, kapan terakhir Arga menggendongnya.
"Mungkin terakhir pas kita masih sekolah dasar, ya?" lanjutnya menebak.
Arga terkekeh. "Kamu lupa? Pas kamu jatuh saat olahrah aja aku yang gendong," balas Arga mengingatkan.
"Oh iya, tapi 'kan waktu itu kamu gendong sambil ngomel-ngomel!"
"Ya, 'kan sama aja digendong," balas Arga mebela diri. Cheryl hanya berdecak serya mengacak rambut Arga kembali.
Tak terasa keduanya terus bercanda hingga memasuki rumah dan hal itu tentu menjadi perhatian semua penghuni rumah. Senyum senang dilayangkan para orang tua yang sudah menyambut mereka di ruang makan.
"Ciee ...." goda oma Siska mengawali.
"Uhh so sweet!" sambung oma Rilla.
Gelak tawa terdengar renyah dari mereka. Arga menurunkan Cheryl dengan hati-hati. Kemudian, keduanya nampak tersenyum canggung mendapat godaan-godaan dari mereka. Arga segera menarik kursi untuk Cheryl duduki, hal yang semakin membuat riuh orang-orang disana. Hingga pasangan itu pun segera mendudukkan diri.
Jika sebelumnya, mereka melakukan itu karena sebuah sandiwara. Kini, mereka melakukannya benar-benar dengan hati dan keinginan tulus.
"Udah, ayo kita makan!" ajak oma Ay, menghentikan keramaian mereka.
Mereka pun mulai menyantap makan siang mereka, sebelum kembali membahas soal resepsi.
Beberapa menit kemudian, acara makan siang pun selesai. Keluarga besar itu sudah berkumpul di sofa ruang keluarga dan kembali membahas soal resepsi. Banyak hal yang mereka bicarakan mengenai hal itu. Arga dan Cheryl sendiri tidak memberikan saran apapun, mereka menyerahkan segala sesuatunya pada orang tua mereka.
**
"Apa kalian gak ada niatan menginap disini?" tanya mama Jingga, saat waktu sudah sore dan mulai menggelap. Para orang tua disana juga sudah pulang kerumah masing-masing menyisakan sepasang pengantin saja disana.
"Kita-"
"Ada dong, sekarang kita mau nginep. Ya 'kan, Ga?" Cheryl menyela ucapan Arga yang hendak menolak.
Mama Jingga tersenyum, senang jika keduanya mau menginap disana. Ia pun memutuskan untuk mempersiapkan kamar mereka terlebih dahulu.
"Kenapa harus nginep?" tanya Arga kesal. Padahal ia ingin kembali kerumah mereka untuk mengulang aktifitas menyenangkan seperti tadi pagi.
"Kenapa emang?" goda Cheryl dan hanya dibalas decakan oleh Arga.
Cehryl terkekeh. "Aku cuma ingin memastikan kamar kamu," celetuknya.
"Memastikan apa?"
"Memastikan, kamar kamu tembus suara apa nggak?"
\*\*\*\*\*\*