
Cheryl yang sudah mengarungi dermaga mimpi, seketika terlonjak mendengar suara gaduh. Ia bangkit menegakkan tubuhnya, hingga kedua buahnya menyembul dari air. Ia terpaku menatap Arga yang juga tengah menatap kearahnya.
"Aaaa!!!"
Suara Cheryl menggelegar dengan tangan cepat memeluk dadanya. Seketika Arga membalikan tubuh dengan wajah memerah. Jantungnya berdegup tak beraturan. Harus diakui, Arga bukanlah pria suci yang tidak pernah menonton film biru. Waktu masih berseragam putih abu Arga dan Key memang cukup dekat meski kadang banyak bersaing. Hingga otak Arga tercemar dengan koleksi film si pria playboy itu.
Sekarang melihat tubuh wanita secara langsung tentu baru pertama ia lihat. Lebih tepatnya, untuk kedua kali. Pertama ia melihat tubuh gadis itu saat insiden dikamar, dan sekarang ...
"Ngapain lu disini? Keluar!" teriak Cheryl. "Dasar mesum lu!"
Namun Arga masih juga terpaku diambang pintu. Hinggga punggungnya terkena benda, barulah ia tersadar dan ngibrit meninggalkan ruangan tersebut.
Pletak!!
"Ihh, lu bud*k ya? Keluar!" kesal Cheryl.
"Iya, iya. Ini gue keluar," balasnya segera menutup pintu itu dan kembali kedalam kamar.
Arga memegang dadanya yang masih berdebar. Sungguh ini hal gila yang pernah ia lihat. "Astaga! Ada apa sama gue?" gumamnya bermonolog sendiri.
Ia memegangi selurah wajahnya yang terasa terbakar, lalu mengusap wajah memerah itu yang disertai hembusan napas kasar. "Ini gila? Mana mungkin dia-" Arga tidak meneruskan ucapannya, kala ia harus mengakui tubuh Cheryl yang berbeda dari ekspetasinya.
Buah madu itu? "Aisshh, apa yang ada diotak gue?" keluhnya, saat bayangan tubuh atas Cheryl terekspos jelas oleh netranya. Apalagi dua buah madu dengan chocochip menggoda yang padat berisi itu terlihat menantangnya. Oh sungguh, hal itu membuat Arga sulit melepaskan bayangan itu dari otaknya.
"Astaga! Sadar, Ga! Sadar!" Tidak habis pikir dengan otaknya, Arga sampai menepuk-nepuk pipi dan kepalanya berulang kali.
Namun hal lain membuat ia mengumpat kesal. Ketika atensi ia beralih pada tubuh bagian tengahnya yang tiba-tiba saja membengkak. "Astaga, apalagi ini?" kesalnya.
"Shitt! Si*l" geramnya mengumpat.
"Kenapa lu bangun sih?" tanyanya pada aset berharganya yang sukses membuat ia frustasi. "Cuma gara-gara-"
Ceklek
Brakkk!!!
Ucapan Arga terputus dengan suara pintu kamar mandi yang tertutup keras. Bahkan ia sampai terlonjak kaget dibuatnya. Ia menoleh dan berdecak kesal melihat raut tak bersahabat dari gadis itu.
Cheryl keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrob dan handuk kecil yang melilit diatas kepala. Gadis itu berjalan mendekar kearah Arga yang kini tengah berdiri didepan kaca besar. Wajahnya menekuk kesal dengan tangan bertolak pinggang.
"Lu!" tunjuknya pada wajah Arga, setelah ia menghentikan langakhnya tak jauh didepan pria itu. "Lu ngapain masuk kamar mandi, hah?" tanyanya pelan namun penuh penekanan. "Lu sengaja ya, mau ngintip gue? Mau mesum lu, ya? Ngaku lu!" cerocosnya memberikan pertanyaan.
"A-apa, hah?" tanya Cheryl tergagap melihat tatapan Arga yang seolah ingin menelan ia bulat-bulat. Sungguh lebih baik ia mendengar pria itu mengeluarkan kalimat kasar, dari pada diam dengan tatapan seperti itu.
"L-lu mau apa?" tanya Cehryl lagi yang semakin mundur kala Arga semakin maju dan hendak mendekat.
Berulang kali dituduh mesum, tentu membuat Arga kesal dan tak terima. Ia bahkan tak ada minat untuk menggoda gadis itu sama sekali.
Brukkk!!!
Cheryl terjatuh telentang keatas kasur. Arga mendekat dengan satu tangan menopang berat bobot tubuhnya, lalu satunya lagi membelai pipi gadis itu. Cheryl kembali terpaku dengan wajah memucat. Suaranya tiba-tiba hilang tak bisa mengumpat atau memperingati Arga yang semakin mengikis jarak dengannya.
"Mesum?" tanya Arga menaikan sebelah alisnya. "Lu pengen gue kayak gitu?" lanjutnya membelai lembut bibir gadis itu.
Cheryl semakin membeku dengan bibir terbungkam. Bahkan napasnya semakin tercekat, saat hembusan angin hangat dari Arga menerpa wajahnya. Menimbulkan gelenyar aneh yang lagi-lagi tak dapat ia jabarkan.
"Oke, bakal gue turutin kemauan lu," ucap Arga menyeringai. Cheryl menggelengkan kepala saat bibir Arga semakin dekat dan hendak menjangkau bibirnya. Ia ingin berontak, dan hendak mendorong tubuh Arga. Namun, tanganmya kalah cepat. Arga sudah mengunci kedua tangan gadis itu keatas kepala. Tubuhnya terkunci dengan kukungan pria itu.
"Kenapa? Bukannya ini yang lu inginkan?" tanyanya dengan nada menggoda. "Ini malam pertama kita, bukankah kita harus menikmatinya?"
"L-l" Lidah Cheryl semakin kelu dengan rasa takut menghinggapi. Sungguh ini pertama kalinya Cheryl menghadapi sikap Arga yang menakutkan menurutnya.
"Apa yang mau dia lakukin?" Hanya dalam hati gadis itu bisa mengungkapkn itu.
Arga semakin dekat dan Cheryl terus mencoba untuk memberontak. Namun, suaranya tak kunjung juga kembali. Hanya gerakan saja yang bisa ia lakukan. Dirasa percuma, ia pun hanya menutup mata kala bibir Arga semakin dekat dengan bibirnya.
Pletakkk!!!
"Sstt aaa!!" ringis Cheryl membuka matanya.
Gadis itu membelakak melihat ekspresi pria diatasnya. Arga bangkit dan melepaskan tangan Cheryl dengan tersenyum menang pada gadis itu.
"Sekarang lu tau 'kan? Gue atau lu yang mesum," ucap Arga penuh penekanan. Tanpa perasaan pria itu berlenggang begitu saja meninggalkan gadis itu.
Cheryl merasa tak percaya. Ia berhasil dikerjai pria itu dengan mudahnya. Wajahnya memerah menahan kesal. Ia menggeram tertahan dalam hati.
"Arganta marga satwa!"
\*\*\*\*\*\*
Jangan lupa jejakmya gaisss😘😘