My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Bentuk khawatir



Hufhh~


Berulang kali Arga menghembuskan napas saat melihat tatapan jal*ng para pria yang kini menatap Cheryl. Bagaimana tidak? Cheryl yang biasa berpenampilan manis dan apa adanya, kini berubah menjadi begitu girly. Berbalutkan dress bunga diatas lutut, dengan bagian atas terbuka tanpa lengan membuat gadis itu tampil berbeda. Apalagi rambut panjang yang biasa tergerai kini dicepol asal keatas. Sungguh sangat mempesona.


"Aisshh," Arga berdecak saat ia harus mengakui kecantikan Cheryl.


Greeppp!!


Arga menarik tangan sang gadis hingga membuat ia berhenti sejenak. "Ada apa?" tanya Cheryl heran.


"Ehem, bisa gak rambut lu digerai aja!" titahnya.


"Hem? Kenapa?" tanya Cheryl heran. Ia memperhatikan penampilannya takut terlihat aneh.


"Ck! Lu gak sadar? Semua cowok pada lihatin lu," celetuk Arga yang sukses membuat Cheryl melongo.


"Aisshh, lu baru nyadar? Tiap hari juga gue jadi perhatian mereka," balas Cheryl dengan percaya diri. Tentu ia tak mengerti maksud sebenarnya dari perkataan Arga.


Arga kembali berdecak kesal. Tentu ia tak bisa menjelaskan, jika para pria tengah memperhatikan leher jenjang nan mulus milik gadis itu. "Maksud gue bukan itu."


"Terus apa?" tanya Cheryl yang mulai tersulut emosi. Tentu ia tak paham dengan maksud Arga yang menurutnya terlalu berbelit-belit.


Arga hanya mengepalkan tangan yang disertai hembusan napas kasar, yang terlihat sangat frustasi. Cheryl yang melihat Arga menggelengkan kepala merasa aneh.


"Isshh dasar aneh!" gerutunya. Ia hendak berlalu mendahului, namun belum sempat ia melangkah, tangan Arga sudah sampai dikepalanya.


Sreett!!!


Cheryl sedikit terkejut kala rambutnya tergerai dari cepolannya. Tanpa dosa, Arga berlenggang mendahului setelah mengambil tali rambut gadis itu.


"Isshh Arga!" teriak Cheryl, kala rambutnya sudah berhamburan tak beraturan terkena tiupan angin laut. Padahal ia sengaja mencepol rambut agar terbebas dari sapuan angin yang membuat rambutnya kusut. Namun, pria itu justru menagacukan. Arga berajalan cepat dan semakin membuatnya kesal.


Gadis itu berlari untuk menerkam pria itu hingga pergulatan dengan umpatan bersahutan sepanjang perjalanan dilakukan sejoli itu. Bukan terlihat aneh, justru mereka terlihat romantis untuk sebagian pengunjung pantai.


**


"Dah dapat!" Cheryl membawa beberapa helai pakaian yang ia ambil menuju kasir.


Kini sejoli itu sudah berada disalah satu toko dipantai tersebut. Toko khusus pakaian yang hanya terdapat satu disana.


"Bayarin!" titah Cheryl dengan cengiran kudanya.


"Gue?" tanya Arga menunjuk dirinya sendiri dengan wajah tak percaya.


"He'em!" balas Cheryl menganggukan kepala.


"Nggak, bayar sendiri," tolak Arga tak terima. Gadis itu yang belanja, masa dia yang harus bayar. Mana belanjaannya gak kira-kira lagi.


Cheryl menghela dan menghembuskan napasnya panjang. "Setelah gue sah jadi istri lu, buka hp gue aja yang diambil. Dompet sama semua penghuninya raib digondol si Mama," jelasnya yang membuat Arga menganga.


Oh sungguh amazing para orang tua itu. Mendengar Cheryl mengakui dirinya seorang istri, ia pun tak dapat menolak. Terlebih lagi didepan banyak orang yang memperhatikan mereka. Tentu ia tak ingin menjadi masalah besar.


Arga mengeluarkan card miliknya, yang disisipkan sang papa dalam dompetnya. Dari sekian banyak card yang ia punya, hanya satu yang tertanggal disana. Kembali pria itu menghembuskan napas panjang untuk meraup banyak-banyak kesabaran.


"Ini namanya si Papa lagi nantangin gue jadi rakyat jelata, huhhh!" kesalnya dalam hati.


Setelah selesai, kini mereka sudah keluar dari dalam toko tersebut. Terlihat Cheryl seperti kewalahan dengan belanjaan yang ditentengnya. Namun, Arga mencoba untuk pura-pura tak melihat.


"Eh, bantuin gue dong! Susah ini," protes Cheryl.


"Salah siapa bikin susah sendiri? Minta langsung dikirim ke kamar 'kan bisa?" ledek Arga berjalan santai dengan tangan tetap masuk kedalam celana.


Cheryl terdiam sejenak. Benar, dia baru menyadari itu. Kenapa ia tidak melakukannya? Matanya langsung menyalak tajam pada Arga. "Kok lu baru ngomong sekarang?" tanyanya kesal.


"Lu 'kan gak nanya," balas Arga disertai senyuman meledek. Kemudian berlenggang sedikit cepat.


"Isshh, dasar lu ngeselin!" kesal Cheryl menghentakkan kakinya. "Arga! Tungguin, bantuin gue!" teriaknya.


"Isshh, awas lu ya!" Dengan langkah tergesa ia berusaha mengejar pria itu.


Bruukkk!!!


"Awww!"


Arga yang sudah sedikit menjauh, tertawa puas sudah dapat mengerjai gadis itu. Hingga ia berbalik kembali dan menghentikan tawanya setelah mendengar pekikan Cheryl.


"Astaga! Chemot," Segera ia berlari kembali dan menghampiri gadis itu.


"Lu ngapain duduk disitu?" Pertanyaan yang membuat siapa saja jengkel mendengarnya, tak terkecuali Cheryl.


"Duduk, duduk, mata lu belek. Sakit!!!" kesal Cheryl terisak, memegang lututnya yang berdarah.


Arga sedikit terekeh mendengar gerutuan gadis itu, sebelum akhirnya berjongkok dan meraih tangan yang tengah memegang lutut itu. "Coba gue lihat!" pintanya.


Cheryl melepaskan lututnya. Darah terus merembas dari kulit putih itu. Benturan pada pavinblock membuat kulit sang gadis lecet cukup serius.


Arga melirik kanan kiri. Lalu, memanggil seseorang untuk membantu mereka. "Tolong antarkan barang-barang ini ke hotel itu," titah Arga pada pria itu. Ia menunjuk semua paper bag, lalu memberi tips padanya.


"Baik, Tuan!" balasnya dan bergegas pergi membawa barang Cheryl menuju hotel.


Sementara Cheryl masih tak mengerti dengan tindakan Arga. Tanpa aba-aba pria itu sudah menggendongnya ala bridal style. Hal itu sontak saja membuat Cheryl sedikit terperanjat. Tiba-tiba keadaan mendadak hening. Cheryl terpaku melihat wajah khawatir dari pria itu. Terlihat mata Arga yang memandangnya, penuh dengan rasa takut. Tidak seperti Arga yang biasa saling ejek dengannya.


Deg! Deg!


'Jantung gue kenapa?' tanya Cheryl dalam hati. 'Apa itu bentuk khawatir?' Bahkan ia tak menyadari Arga sudah membawanya sampai dikursi santai ditepi pantai.


Cesss!!


Aliran dingin diatas kulitnya menyadarkannya dari lamunan. Rasa perih yang mendominan membuat ia terperanjat.


"Sstt awaw sakit," ringisnya.


"Makanya kalo jalan tuh hati-hati!" peringat Arga yang begitu telaten mengompres luka gadis itu dengan es batu.


Entah dari mana dan sejak kapan pria itu mendapatkan benda itu. Sesaat jiwanya terbang entah kemana, hingga ia tak menyadarinya.


"Lu dapat ini dari mana?" tanya Cheryl pelan.


"Tuh!" tunjuk Arga dengan dagu kearah samping. Ternyata mereka duduk tepat ditukang pedagang es kelapa muda. Pantesan!


Berharap seperti di drama-drama korea yang ia tonton, mendapat jawaban yang terdengar romantis. Cheryl justru mendapat jawaban nyablak yang apa adanya.


'Isshh ngapain juga gue berharap kayak gitu. Ini Arga si raja hutan. Bukan, oppa-oppa si makhluk tampan,' tepisnya dalam hati.


**


Dua wanita tengah duduk dikursi salah satu kafe. Keduanya tengah membahas menghilangnya sang kekasih tanpa kabar seharian ini.


"Udahlah Tan, sebaiknya lu samperin aja kerumahnya! Siapa tau dia sakit," titah Dinda teman Tania.


"Tapi ..." Tania terlihat ragu dengan saran temannya itu.


"Bukannya lu deket ya, dengan mamanya Arga?" tanya Dinda lagi meyakinkan.


Tania hanya tersenyum tipis menanggapi. 'Dekat dari mana? Dekat mau gigit sih iya,' balasnya dalam hati.


Siapa yang tidak tau perangai mama Jingga. Hanya orang terdekatlah yang tau sifat asli wanita itu. Wanita yang baru kenal, tentu akan menilai mama Jingga adalah sosok mama mertua yang ditakuti para calon menantunya.


"Udah samperin aja!" lanjut Dinda kembali menyemangati.


"Hem iya," balas Tania sekenanya dengan senyum dibuat semanis mungkin. Tanpa Dinda tau, dibalik itu ia mendelik kesal.


'Dari pada gue nyamperin mak lampir, mening gue shoping!'


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa jejaknya yaa gaisss😘