My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Panggung sandiwara



Semua mata tertuju pada gerak gerik wanita termuda yang kini tengah menyiapkan makan malam untuk suaminya. Suasana mendadak hening, penghuni meja makan itu terlihat fokus memperhatikan hal yang sungguh tidak mereka duga sama sekali.


"Selamat makan my hubby!" ucap Cheryl dengan senyum yang begitu mengembang.


"Makasih Che-" Arga menjeda sebentar ucapannya ketika ia hampir saja salah menyebut nama, "Yang ..." lanjutnya disertai senyum manis dan usekan dipucuk kepala gadis itu.


"Ahhh sweeet sekali ..." pekik mama Chika senang. Tangan wanita itu sampai bertepuk tangan kecil melihat keromantisan pasangan tersebut.


Begitupun anggota keluarga yang lain, mereka tersenyum bahagia melihat perubahan dari pasangan baru itu. Meski mereka tidak tau bagaimana cara sejoli itu bisa akur, bahkan bisa seromantis itu. Namun, mereka tetap bersyukur ada berkah dari pernikahan dadakan tersebut. Ternyata pernikaahn yang terkesan terpaksa itu berakhir diterima keduanya.


"Oma senang lihat kalian akur kayak gini. Romantis," kekeh oma Ayra.


"Iya bener, oma juga seneng banget. Belajarlah dari Oma, Opa kalian ini. Pernikahan kita bertahan sampai sekarang dan selalu harmonis, iya 'kan Ay?" sambung oma Rila dan diangguki oma Ayra.


"Isshh Mama nih, gak kalian aja dong. Kita juga, Mama Papa nya, ya nggak kak Jin?" protes mama Chika dan disambut gelak tawa oleh mereka.


"Alhamdulillah, Opa berdo'a smoga kalian selalu bahagia. Diberikam keturunan yang Sholeh dan Sholeha," sambung Opa Ar. Pria yang masih terlihat bugar diusianya itu selalu memberikan nasehat dengan bahasa yang menenangkan hati siapa saja yang mendengarnya.


"Iya bener. Jangan ditunda-tunda buat dapat momongan, biar Opa dapat kesempatan buat gendong cicit," sambung opa Devan, hingga seketika membuat mereka terdiam.


"Isshhh Opa apaan sih. Jangan ngomong gitu dong! Opa bakal gendong cicit yang banyak dari aku. Bahkan akan menyaksikan mereka sukses. Ya, 'kan Pa?" sela Cheryl dengan mata sudah berkaca-kaca.


"Iya, Pa. Benar kata Chimut. Papa akan sehat dan baik-baik saja sampai lima puluh tahun kedepan, hem!" ucap Deril meyakinkan.


Tentu dibalik itu ada rasa ngilu dihati pria paruh baya itu. Bagaimana pun, juga ia begitu takut sang Khalik akan cepat menjemput pria kesayangannya. Ia masih merasa menjadi bocah kecil saat bersama ayahnya itu.


"Benar, Om. Jangan memikirkan hal yang gak perlu dipikirkan! Bukannya Om sendiri yang selalu mengajarkan aku dan Deril untuk menikmati hidup, bagaimanapun keadaanya," sambung papa Sha.


"Jangan menengok kebelakang, jangan diam ditempat, berjalan tanpa harus berlari." ucap papa Shaka dan papa Deril serempak.


Opa Devan tersenyum mendengar ucapan jagoan-jagoannya yang ternyata sudah dewasa. Kedua bocah kecil yang selalu ia ajari-ajari cara menikmati hidup, tak terasa kini sudah hampir menyusul usianya.


"Opa harus sehat, Arga janji. Arga gak akan pernah ngecewain Opa," sambung Arga mantap.


Tentu saja hal itu sukses membuat Cheryl menoleh menatap tak percaya pada suaminya itu. Ia tidak menyangka Arga dapat mengatakan itu pada sang opa. 'Oh iya, kita 'kan lagi akting,' gumam Cheryl dalam hati. Entah kenapa ada rasa sedikit kecewa, ketika gadis itu harus mengakui mereka tengah berada dalam panggung sandiwara yang mereka mainkan.


'Gue gak tau, kenapa gue bisa ngucapin itu? Tapi hati kecil gue berkata, gue harus melakukannya,' batin Arga.


Semua orang kembali mengembangkan senyum bahagia mendengar ucapan Arga. Saat mereka begitu waswas akan ikatan tersebut, namun mereka akhirnya bisa bernapas lega.


Mereka pun sepakat untuk mengakhiri perbincangan dan mulai melahap makanan mereka yang beberapa saat sudah mereka anggurkan.


**


Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, Cheryl masih termenung dibalkon kamarnya. Entah kenapa sandiwara yang ia mainkan terasa mengganjal dihatinya. Padahal ini baru hari pertama, ia menjadi aktris dadakan.


"Kenapa?" tanya Arga yang ikut duduk disamping gadis itu.


Cheryl menghembuskan napas pelan seraya melirik sekilas kearah suaminya. "Hem, nggak," balasnya singkat.


"Lu ada masalah?" tanya Arga lagi memperhatikan raut wajah gadis yang tengah menatap bintang-bintang dilangit. Cheryl hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.


Arga menghembuskan napas panjang. Tentu ia tau ada yang disembunyikan gadis itu. "Biarpun hubungan kita gak sedekat itu. Lu bisa kok, cerita sama gue," ucapnya.


Seketika Cheryl menoleh menatap pria itu. "Cih!" ia berdecih dengan senyum meledek.


"Gue serius, mumpung gue lagi baik nih. Mau dengerin curhatan lu," sambung Arga yang sukses membuat Cheryl terkekeh.


Gadis itu kembali menatap langit dengan ekspresi kembali seperti semula. "Lu udah hubungi Tania?" tanyanya. Tentu ia tau, Arga sudah mendapat ponselnya kembali, begitupun dirinya.


"Hem, kenapa lu nanya itu?" tanya balik Arga. Tentu terasa aneh, tidak mungkin juga gadis itu tiba-tiba cemburu.


"Gak, gue nanya aja," balas Cheryl. "Pasti susah buat mutusin dia, atau ..." Cheryl kembali manatap pria itu.


"Lu gak akan pernah mutusin dia," lanjutnya. Kemudian ia menarik satu sudut bibirnya dengan tatapan kembali menatap langit.


"Bentar dulu. Lu cemburu?" tanya Arga merasa tak percaya.


Bukan menjawab Cheryl justru tertawa. "Ge-er lu!" ia menoyor lengan Arga hingga pria itu berdecak kesal.


Gadis itu menghentikan tawanya dan kembali serius menatap langit.


"Gue cuma lagi mikir aja. Kita berdosa gak sih melakukan sandiwara ini?"


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa jejaknya gaiss😘😘 mumpung mak othor lagi semangat ini🤭