My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Bahagia itu sederhana



**


"Kita makan yuk!" bujuk Arga saat Cheryl baru bangun dari tidurnya.


Setelah lama menumpahkan air mata, Cheryl kembali terlelap dan baru saja kembali bangun di waktu yang sudah siang.


Gadis bermata sembab dengan penampilan berantakan itu hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban. Ia masih belum bisa mengatur hatinya akan fakta yang ia ketahui pagi ini.


"Cinta, ayolah! Kita makan ya," bujuk Arga untuk kedua kalinya.


"Aku gak lapar," balas Cheryl dengan tatapan kosong.


Arga mendesah pelan. Ia bingung harus membujuk dengan cara apa?


"Ayo!" ajak Arga menarik tangan sang istri. Namun, Cheryl tak bergerak sama sekali.


Tak mau kalah, Arga menggendong paksa istrinya itu. Hingga Cheryl sempat memberontak, namun kekuatannya kalah dengan tenaga Arga.


"Arga turunin!" rengek Cheryl. Namun tak dihiraukan pria itu.


"Nggak mau!" tolak Arga. Pria itu terus berjalan keluar dari kamar.


"Arga ih ... Kita mau ke mana? Turunin aku!" rengek Cheryl lagi, namun Arga tetap tidak menghiraukan dan terus berjalan menuju lift.


Merasa berontak pun tidak ada gunanya, Cheryl akhirnya diam pasrah meski dengan wajah memberenggut kesal.


Arga membawa Cheryl keluar dari hotel dengan mempertahankan gendongannya. Arga membawa istrinya itu ke tepi pantai, Cheryl masih memberontak kesal hingga ia dibuat kaget saat tiba-tiba saja Arga melepaskan dirinya.


Byurrr!!!


"Aaaa!!!"


Cheryl Shock bukan main, Arga dengan teganya membiarkan ia jatuh ke dalam air. "Arga!!!" pekiknya kaget.


Arga tersenyum tanpa dosa Seraya berkacak pinggang. "Kenapa?" godanya.


Cheryl menatap kesal, dengan bibir mengerucut tajam. "Tega banget, sih?" Meski ombak terus menyapunya, namun ia masih tidak bergerak dan hanya merengek kesal.


Sementara Arga justru tertawa meledek melihat sang istri yang basah kuyup. "Syukurin, emang enak? Sekali-kali tubuhmu harus dicelupin air garam, biar mau gerak," ledeknya.


"Isshh, kok lu ngeselin sih?" sungut Cheryl dengan bahasa kasarnya yang keluar begitu saja.


Tanpa diduda Arga menjulurkan lidah menggerakan ****** meledek kearah Cheryl. Dan hal itu sukses membuat Cheryl semakin murka.


"Lu bener-bener ngajak ribut, ya?" sungut Cheryl.


Arga berjalan dengan gaya meledeknya itu. Sementara Cheryl yang kesal segera berdiri. "Mau kemana, lu? Sini gak?!" teriaknya berkacak pinggang.


"Kejar aja, kalo berani!" tantang Arga yang kemudian berlari.


"Wah, bener-bener ya? Heh, Arganta marga satwa! Sini lu." Cheryl pun mengejar suaminya itu.


"Awas lu ya! Malam ini gue gak akan kasih lu jatah."


"Arga! Balik gak?"


"Dasar lakik gak ada akhlak! Gue laporin Kak Seto lu!"


"Argaaa!!!"


Cheryl terus berteriak dengan umpatan-umpatan kesal, gadis itu terus berlari mengejar Arga. Sementara pria itu tertawa mendengar kalimat-kalimat keramat dari bibir sang istri yang sudah lama tidak ia dengar. Rasanya itu lebih baik, dari pada melihat gadis itu terus menangis dengan tatapan kosong.


'Ini lebih baik. Aku rela diumpat apapun, karena aku lebih suka mendengar ocehanmu, dari pada diammu,' batin Arga senang.


Kedua sejoli itu terus saling kejar ditepi pantai. Cheryl dapat menangkap Arga, lalu memukuli tubuh Arga sesukanya. Meski suara Cheryl begitu berisik, namun tak ayal suara itu berubah menjadi tawa. Saat Arga berbalik menyerang dan menggelitikinya. Mereka terus bergulat dengan air yang menerpa tubuh mereka. Hingga tubuh keduanya benar-benar basah kuyup.


Hal itu menjadi perhatian dua wanita yang berdiri tak jauh dari pantai. Saat Arga dan Cheryl keluar dari hotel. Kedua ibu yang sangat khawatir itu, segera menyusul mereka. Hingga terlihatlah pemandangan menyejukkan didepan mereka.


Mama Jingga yang berada disamping wanita itu ikut mengembangkan senyumnya. Ia merangkul pundak sang besan melihat anak dan mantunya yang tengah bahagia. "Sekarang, kamu percaya 'kan? Arga bisa mengatasi semuanya."


Mama Chika tertawa kecil. "Iya, Kak Jin. Sepertinya memang aneh, jika mereka terlihat rukun tanpa suara. Meski mereka terlihat bertengkar, tapi disitulah letak kebahagiaan mereka," tuturnya. Mama Jingga hanya mengangguk disertai tawa yang sama.


"Bahagia itu memang cukup sederhana, tentu dengan porsinya masing-masing!"


**


Di tempat lain, tepatnya disebuah ruangan bercat putih dengan aroma khas obat yang menyengat. Seorang wanita baru saja membuka matanya.


"Ssstt awww, dimana gue?" Wanita itu mencoba bangkit seraya memegang kepalanya.


Mata wanita itu berputar mengelilingi ruangan tersebut, hingga ia tersadar jika ia tengah berada di rumah sakit. "Apa yang terjadi?" tanyanya mencoba mengingat-ngingat kejadian sebelumnya.


Beberapa detik kemudian ia teringat, saat dirinya dikejar polisi hingga mobilnya terjungkal dan ia tidak sadarkan diri. "Sial! Apa gue ketangkap?" tanyanya menerka.


"Siap pak!" hormat beberapa anggota polisi yang berdiri didepan pintu ruangan tersebut.


"Bagaiamana kondisi tahanan bernama Tania itu?" tanya seseorang, yang mungkin komandan disana.


"Kondisinya sampai saat ini masih belum tersadar, Pak." balas seseorang dari anggota itu.


"Baiklah, terus awasi dia sampai dia tersadar. Setelah itu hubungi saya. Kita harus segera mengiterogasinya!" perintah sang komandan.


"Siap, Pak. Laksanakan!" balas mereka serempak.


Tentu saja percakapan itu terdengar Tania, wanita yang kini berada diruangan tersebut. Wajah wanita itu memucat, sekarang ia benar-benar menjadi tahanan. "Ayo, Tan berfikir! Lu pasti bisa kabur dari mereka," ucapnya panik.


Wanita itu tampak berfikir untuk kabur dari sana. Hingga ia melihat sebuah buplit yang mungkin bisa ia jadikan jalan untuk keluar. "Iya, gue harus coba itu," ucapnya yakin.


Ia pun mencabut paksa selang infus dari tangan kirinya. Lalu, segera ia membuka selimut yang menutupi setengah tubuh bawahnya. Namun, tiba-tiba saja ia terdiam dan bingung saat kakinya tidak dapat ia gerakan sama sekali.


"Kaki gue kenapa?" tanyanya shok.


Sekali lagi ia mencoba menggerakan, namun hasilnya nihil. Bahkan bok*ng pun sama, tidak dapat bergerak. "Gue kenapa?" teriaknya panik.


Tentu teriakan itu terdengar oleh para petugas diluar. Segera ketiga polisi itu memasuki ruangan, dan salah satu polisi memanggil dokter.


"Anda sudah sadar?" tanya salah satu anggota.


Terlihat Tania tengah meraung karena setengah tubuhnya tidak.dapat bergerak. "Gue kenapa? Kenapa gue gak bisa gerak?" teriaknya frustasi.


"Tenanglah dulu! Anda jangan bergerak," perintah polisi yang sama.


"Diam!" teriak Tania dengan nafas tersenggal. "Kalian, jangan mendekat!"


"Gue gak salah! Gue bukan penjahat!" tegasnya.


Ketiga polisi itu berhenti mendekat. Hingga tim dokter dan satu polisi tadi memasuki ruangan tersebut.


"Dokter! Apa yang terjadi sama saya, Dok? Kenapa gak bisa gerak?" tanya Tania.


"Tenang dulu, Nona. Saya akan coba periksa!" balas dokter tersebut.


"Iya, periksa sekarang, Dok! Pokoknya Dokter harus nyembuhin saya!" pinta Tania mengiba.


Dokter pun mulai memeriksa, dari mulai detak jantung, tekanan darah, dan terakhir kaki wanita itu. "Dari hasil pemeriksaan, kemarin sampai saat ini. Anda ... Dinyatakan lumpuh permanen!"


Deg


"Apa??? Tidak!!!"


\*\*\*\*\*\*