
"Eurrghhh!!!"
Suara erangan panjang terdengar menggema disebuah kamar temaram. Seorang wanita dengan napas tersenggal turun dari tubuh seorang pria.
"You're so sexy ... Thanks baby!" bisik pria itu tepat ditelinga sang gadis yang kini tengah mengenakan kembali kain ditubuhnya.
Cup!
Berulang kali pria itu mendaratkan kecupan bertubi-tubi dileher jenjang wanita itu dari belakang. Namun, si wanita memahan wajah si pria yang semakin bringas.
"Why?" tanyanya heran.
"Apa itu setimpal?" tanya wanita itu.
Si pria tersenyum, ia meraih benda pipih dari atas nakas. "Masukan nomor rekeningmu!" titahnya memberikan benda itu pada sang wanita.
Wanita itu menyeringai. "Private?"
"Sure! Berapapun," pria itu kembali berbisik pada sang wanita. "Puaskan aku sampai pagi!" titahnya.
Tania tersenyum puas, ia mengetikan sesuatu dibenda pipih itu. Kesempatan yang tidak pernah disia-siakan oleh wanita itu. Sebagai wanita pemuas, ia hanya mendapat lima puluh persen. Bahkan, terkadang hanya dua puluh lima persen yang didapatnya dari pak Alex.
Setelah selesai dengan transaksi yang tidak diketahui pak Alex. Tentunya dengan nominal yang tidak main-main, ia kembali membalikan tubuhnya. Lingerie yang sempat ia talikan, ia buka kembali dengan gaya sensual, wanita itu merangkak menaiki tubuh sang pria tanpa sehelai benang pun dan memulai tugasnya.
**
Waktu masih menunjukan pukul tiga dini hari, Cheryl terbangun karena terganggu akan hajat yang sudah tidak dapat ia tahan. Segera ia bangkit dan berlari menuju kamar mandi.
"Ahh, leganya ...." ucapnya setelah menutup pintu kamar mandi kembali.
Gadis itu hendak kembali keatas ranjang. Namun, atensinya tiba-tiba tertuju pada suara guamaman dari atas sofa. Cheryl terdiam sejenak, ia menghampiri Arga yang tengah memeluk tubuhnya sendiri. Lalu, beralih kearah ac yang masih menyala.
"Ck! Dasar bod*h. Kenapa juga ac nya gak dimatiin?" umpatnya.
Cheryl sedikit membungkukkan tubhnya hendak meraba kening Arga. Namun, belum sampai tangannya menyentuh kening itu ia menghentikan pergerakannya. "Ngapain juga gue peduli?"
Ia kembali menegakkan tubuhnya dan berlalu menuju ranjang. Ia meraih remot ac, lalu mematikan benda tersebut. Ia hendak berbaring, namun ia teringat sesuatu. Hingga ia bangkit kembali membawa selimut yang ia gunakan sebelumnya. Lalu, membawa benda itu menghampiri Arga.
Meski pria itu selalu membuatnya kesal, namun ia tidak akan membiarkan pria itu sakit. Tentu ia tau apa kelemahan Arga, udara dingin tidak cocok untuk pria yang memiliki riwayat hiportemia sepertinya. Meski mereka musuh yang tak pernah akur, namun tetap saja mereka tau kepribadian masing-masing.
"Jangan nyusahin gue!" ucapnya setelah menyelimuti Arga dan mengukur suhu dahinya. Tanpa ia sadari, itu sebuah pengertian yang secara alami tergerak dari hatinya yang paling dalam.
Gadis itu kembali ke atas ranjang, lalu kembali merebahkan diri. Ia peluk guling itu dan kembali menutup matanya. Tidak seperti Arga, Cheryl jarang sekali tidur mengenakan selimut. Maka buka apa-apa jika ia membagi selimutnya pada Arga.
**
"Kak Jin," sapa mama Chika meghampiri besannya yang tengah menyiapkan sarapan. "Eh Onty disini juga?" tanyanya pada wanita yang tengah membantu mama Jingga.
"Iya, Chi. Mertua kamu gak ikut?" tanya oma Ayra.
"Lha kamu sendiri malah kesini, bukannya ikut," ledek oma Ayra. Chika hanya menampilkan deretan giginya, membuat wanita yang masih telihat cantik diusianya itu menggelengkan kepala.
"Heleh, pagi-pagi udah mau gosip," ledek oma Ayra lagi yang mengerti akan kedatangan besan dari putranya itu.
"Isshh ini tuh penting, Ti. Menyangkut masa depan keturunan kita." celetuk mama Chika disertai kekehan.
"Aisshh iya dah percaya," balas oma Ayra, terkekeh.
Mama Jingga hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan dua wanita yang sudah satu frekuensi itu. Semenjak menikah, mama Chika sudah tertular gesrek dari mama mertuanya. Berbeda dengan mama Jingga, meski mama mertua dan adik iparnya somplak, cerewet juga. Tapi tidak dengan dirinya. Terkadang hanya dia wanita yang waras dikeluarga itu.
"Kak Jin, gak penasaran?" tanya mama Chika yang melihat sang besan biasa saja.
Mama Jingga tersenyum. "Hem, apa?"
"Aku yakin, saat mereka pulang honeymoon nanti. Kita bakal cepat dapat kabar baik," ucap mama Chika antusias memulai gosip mereka pagi ini.
"Maksud kamu?" Bukan mama Jingga tapi oma Ayra yang bertanya.
"Isshh Onty nih, gak peka amat. Tentu aja baby diperut Chimut lah," celetuk mama Chika.
"Hah? Kamu serius?" tanya oma Ayra tak percaya dan diangguki semangat oleh mama Chika.
"Sebaiknya, kita jangan dulu terlalu berharap," sergah mama Jingga yang lebih percaya pada logika.
"Isshh kak Jin, nih. Aku serius. Aku jamin, sekeras apapun mereka saling menolak, keadaan tidak akan demikian," jelas mama Chika.
Kedua wanita disana menaikan alis mereka tanda tak mengerti. Chika pun menceritakan tentang lingerie yang sempat ia tukar. Dan satu hal lagi yang membuat dua wanita disana tercengang. Vitamin yang biasa Cheryl konsumsi sudah ia ganti dengan obat penambah stamina, sekaligus obat penyubur reproduksi.
"Gimana keren 'kan?" tanya mama Chika berbinar merasa sudah melakukan tugas dengan baik. Mama Jingga dan oma Ayra hanya mengangguk pasrah, masih merasa tak percaya, Chika yang kalem bisa sekeren itu.
**
Sementara itu, Arga terbangun terlebih dahulu. Ia mengerjapkan mata, melihat kain menutupi tubuhnya, tentu membuat ia bingung. Ia bangkit dan membuka kain itu, lalu atensinya beralih pada ranjang, dimana Cheryl masih terlelap disana tanpa selimut.
Tiba-tiba senyum kecil terukir dari ujung bibirnya. Hanya lima detik, karena berikutnya ia justru merutuki dirinya dalam hati.
"Apaan sih gue? Cuma selimut doang," gumamnya dalam hati.
Ia berdiri membawa selimut itu untuk ia kembalikan. Baru saja ia sampai ditepi ranjang, ia justru dibuat terpaku menatap tubuh gadis itu. Paha putih mulus Cheryl terekspos jelas. Dengan hot pants dan kaos kebesaran yang dikenakannya sungguh membuat ia diam tak berkutik.
Glek!
\*\*\*\*\*\*
Jangan lupa jejaknyaa gaiss😘