
Atensi dari empat pasang netra itu beralih pada sosok pria yang tiba-tiba ikut nimrung dan mendudukan diri disampimg Ara.
"Widih ... Dari mana aja nih anak tampan? Dari kemarin baru nampak batang hidungnya," tanya Ara menyindir, menepuk lengan pria itu
"Kenapa Ara yang cantik kangen ya, sama gue?" goda Key, pria tersebut.
"Oh tentu saja, aku sangat merindukanmu. Rindu ingin menjitakmu!"
Pletakkk!!
Tidak main-main Ara benar-benar melayangkan jitakkan pada kepala key pria itu meringis kesakitan tidak mengira sepupunya itu benar-benar tega melakukan itu padanya.
"Lu bener-bener, ya?" kesal Key mengusap kepalanya.
"Apa?" tantang Ara, "dasar buaya, manis banget tuh ngomong!"
Key hanya mendengus kesal di disertai lirik kan tajam pada gadis itu Seandainya saja itu bukan seorang gadis, sudah ia ajak adu gulat. Berbeda dengan Key ketiga orang di sana tertawa melihat keributan Dua Saudara itu.
"Bener kata Ara, ke mana aja? Setiap kita datang gak pernah disambut," Zea mulai ikut berkomentar.
Belum sempat key membalas suaranya sudah terselak terlebih dahulu. "Ke mana lagi, buaya ya cari mangsa lah?!"
Satu tendangan dilayangkan Key di bawah meja sana pada pria di hadapannya. "Sok tahu lu!"
"Heleh, masih aja gak akur," ledek Ara tak habis pikir dengan kedua sepupunya itu.
"Arga itu ngeselin ngajaknya ribut mulu, nggak kayak Al," sindir Key hingga mendapat tendangan balik dari Arga.
"Ck, udah!" lerai Cheryl, Arga hanya mendengus kesal menanggapi. Sementara key terkekeh merasa menang.
"Oh ya, di mana tuh si kalem?" tanya key.
"Entahlah, dia sibuk dengan dunianya sendiri. Bagi Al, tidak ada yang penting selain bukunya," timpal Zea dan diangguki orang-orang di sana
"By the way, ini kita mau ngobrol terus. Kapan Makannya, perutku laper Ini?" celetuk Ara.
Semua terkekeh dengan sikap gadis itu. Benar, mereka hampir saja melupakan makan siang yang sudah dingin dimeja tersebut. Akhirnya mereka pun menikmati makan siang itu bersama.
**
"Huhh~"
Cheryl membanting tubuhnya diatas ranjang. Hari ini begitu melelahkan untuk wanita itu. Ia tengkurap dengan mata sayup dan hampir tertutup.
"Lelah banget, ya?" tanya Arga yang ikut telentang disamping gadis itu.
"Hem,"
"Tuker pijitan, yuk! Tubuhku juga rasanya remuk," tawar Arga.
Cheryl membuka matanya, mendengar Arga lelah, ia jadi teringat akan nasihat sang Mama kemarin. Wanita paruh baya itu mengajari Cheryl melayani suami dengan baik dan benar. Bukan hanya urusan kasur, tapi juga mulai dari hal-hal kecil yang membuat suami merasa senang.
Segera ia bangkit, bersila diatas kasur. "Sini, aku pijit!"
"Katanya lelah, biar aku yang pijit kamu duluan," balas Arga masih dengan posisi yang sama.
"Kamu suami, jadi kamu duluan!" Cheryl meraih lengan Arga dan mulai memijatnya.
"Bentar!" Gadis itu menghentikan aksinya. Lalu, beralih mencari sesuatu dari dalam nakas.
"Kamu nyari apa?" tanya Arga heran.
"Coba buka bajumu!" titah Cheryl.
"Kamu mau pijat pake minyak angin?" tanya Arga tak percaya. Ia pernah mencium aroma itu dari security didepan rumah. Dan baunya itu ...
"Ini bukan minyak angin biasa. Gak akan bau atau lengket," jelas Cheryl yang mengerti kegundahan suaminya itu.
"Ta-tapi-"
"Udah buruan buka aja!" sela Cheryl. Bahkan gadis itu segera membantu pria itu membuka kemejanya.
"Tapi, Cher. Katanya pake ini tuh panas," Arga bangkit sesuai intruksi, masih mencoba untuk mengelak.
"Kata pak Maman," balas Arga yang terlihat ragu saat Cheryl hendak meraih pundak terbukanya.
"Gak bakalan, udah sini coba dulu!" Cheryl meraih pundak Arga.
Terlihat pria itu menelan salivanya susah payah saat Cheryl menuangkan minyak itu ditangannya. Lalu, gadis itu mencoba mencium tangan yang sudah ia gosokan dikedua telapaknya.
"Hemm, ini wangi kok," ucap Cheryl menyodorkan satu telapak tangan kehadapan Arga.
Pria itu dengan ragu mencoba mencium aroma tersebut. Benar, tidak bau sama sekali. Lalu, apa yang Bapak security itu pake? Pikirnya bertanya.
"Dah sini!" Cheryl mulai menggerakan tangan dibahu suaminya itu. "Kamu harus rilex, biar otot-ototnya gak tegang!" ucapnya mengintuksi.
"Hem," balas Arga dengan deheman. Sejujurnya, ia tidak pernah dipijit apapun. Hingga baru sekarang ia merasakan dipijit dengan tangan lembut sang istri, dan rasanya ....
"Cher?"
"Hem?"
"Ini tegang," balasnya dengan mata terpejam.
"Ishhh 'kan aku udah bilang, rilex!" peringat Cheryl.
"Tapi ini, makin tegang," sela Arga.
"Apa sih? Disuruh rilex aja terus tegang," omel Cheryl.
Greppp!!
Arga meraih tangan Cheryl yang bertengger dibahunya. Lalu, menuntun tangan lembut itu menuju kedalam celana. Gadis itu menggigit bibir bawah, kala si jack kesayangannya sudah berdiri tegak. Ternyata sentuhan itu sukses membuat si jack tegang.
"Gimana?" goda Arga menolehkan wajah, hingga wajah mereka pun terkikis.
Blush!
Merona sudah kedua pipi gadis itu, saat dengan nakal si jack justru bergerak-gerak dalam kandangnya itu. Belum sempat gadis itu menjawab. Tangan Arga sudah meraih kepala sang gadis, dengan cepat meraup bibir ranumnya.
"Mau pijat plus-plus?" goda Arga menawarkan, setelah melepas tautan bibir mereka. Ibu jarinya bergerak mengusap bibir basah itu.
Cheryl tersenyum manis seraya menganggukan kepala. Tentu, ia tidak akan pernah menolak sesuatu yang selalu membuatnya melayang itu. Meski Cheryl tidak pernah merasakan menyatu dengan pria selain Arga. Namun, untuknya Arga lah yang teramat luar biasa.
"Mmhhh!!!"
Bukan dari kamar Arga saja. Dikamar sebrang, de sahan juga silih bersahutan dari dua rumah yang bergandengan. Entah itu malam apa? Namun, tiba-tiba saja dengan serempak semua pasangan tengah mengadakan sesi mencari pahala.
Jika saja dinding-dinding itu terbuat dari triplek, dipastikan mereka bisa saling mendengar.
"Kamu tau gaya ini dari mana, Pahhh?" tanya mama Jingga disela de sahannya.
"Dari anak baruu, ohh tenyata ... Mhhh," balas papa Shaka.
"Anak baru?" tanya mama Jingga bingung. Namun, rasa yang membuncak membuat ia tak peduli lagi. Yang jelas ia siap terbang menuju nirwana.
Dikamar lain, tepatnya dirumah sebelah. Papa Deril dan mama Chika tak kalah panas. Keduanya masih menggali puncak menuju surga dunia.
"Kira-kira anak-anak udah bisa gaya apa aja ya, Pahh?" tanya mama Chika yang sempat memikirkan anak mantunya, padahal papa Deril sudah tidak mampu lagi berucap.
"Fokus, Ma. Ini Papa udah mau nyampe, uhhh!" peringat papa Deril yang mulai mempercepat gerak laju tempo permainannya.
"Ouhhh oke-oke, ini Mama konsen kok, mmhh!!"
Malam semakin larut, pasangan-pasangan pasutri itu sudah mencapai puncak dengan ditandai erangan panjang.
Namun hal itu tak berlaku untuk pasangan baru, Arga dan Cheryl. Gairah pengantin memang tak ada duanya. Rasa lelah yang sempat mereka rasa sebelumnya, kalah dengan deburan gairah yang membara.
"Mmhh, Ga!!"
"Sekarang, Cher!!"
"Ouuuhhh ...."
\*\*\*\*\*\*