
Arga terpaku di ambang pintu melihat pemandangan dihadapannya. Perlahan ia mendekat untuk menghampiri brankar dengan seseorang yang sudah terbujur kaku terselimuti kain putih.
"Nggak! Ini gak mungkin!" Arga menggelengkan kepala, tangisnya pecah seraya memeluk seseorang yang terbaring tersebut.
"Kamu gak bisa kayak gini? Bangun!!!" teriak Arga histeris. Pikirannya benar-benar kalut saat ini. Berbagai kenangan terputar begitu saja dikepalanya.
"Cheryl .... Kenapa lu ninggalin gue kayak gini? Kenapa?" teriak Arga kian frustasi.
Pria itu menangis sesenggukan memeluk erat tubuh itu, hingga tiba-tiba sebuah suara panggilan mengalihkan atensinya.
"Mas, Mas!" seseorang menyentuh pundak Arga namun ditepis pria itu.
"Jangan sentuh gue!" teriaknya, seorang wanita yang ternyata seorang suster terkejut mendapati teriakan pria itu.
"Tapi, Mas-"
"Gue gak butuh siapapun! Pergi lu!" teriak Arga mengusir.
"Mas, anda gak bisa kayak gini," suara seorang pria yang baru saja menghampiri ikut berkomentar.
"Apa?" bentak Arga melepaskan pelukan menatap mereka.
"Kalo anda membuat keributan kayak gini, saya akan panggil keamanan dan gak akan segan mengusir anda," balas seorang perawat pria.
"Lu?" tunjuk Arga, "berani lu-"
"Maaf, Mas. Jika kedatangan saya mengganggu anda. Tapi saya hanya ingin memberitahukan, kalo ini ruangan mayat. Bukan ruangan Dokter Rika!" sela suster yang tadi berada di meja resepsionis, dengan cepat.
Melihat kepanikan pria itu, suster itu berinisiatif untuk mengarahkan jalan yang benar. Namun, pria itu justru sudah terlanjur masuk ke ruangan jenazah. Sementara perawat pria yang bertugas mengurus jenazah mengerutkan dahi heran. Ia yang tidak tau apapun menjadi bingung dengan keadaan itu. Ia pikir Arga salah satu keluarga dari jenazah yang baru masuk tersebut.
Arga terdiam, menganga. Apa tadi ruang jenazah? Dokter Rika? Oh sungguh, pria itu hendak menyugar rambut ke belakang.
Namun, ia baru sadar jika ternyata masih ada helm yang masih stay dikepalanya. Kedua orang disnaa sedikit melipat bibir melihat kelakuan itu. Arga membuka helm dikepalanya, lalu memberikan benda itu pada perawat pria, yang dengan reflek diterima pria itu.
"Baiklah, tunjukin gue jalan yang bener!" lirih Arga pasrah pada sang suster. Ia berjalan gontai mengikuti langkah sang suster, setelah wanita itu mempersilahkannya.
Perawat pria itu menggelengkan kepala melihat kelakuan Arga disertai senyum tipis dibibirnya, masih merasa lucu. Lalu, ia pun menutup kembali ruangan itu dan kembali pada pekerjaannya.
Sungguh, hari ini begitu melelahkan. Seolah semu emosi dan tenaganya terkuras habis hari ini. Arga tidak tau, apa lagi yang akan ia lihat setelah ini. Ia hanya berharap tidak terjadi apapun pada sang istri. Berharap gadis yang sudah sangat ia cintai itu baik-baik saja.
"Ini ruangannya, Mas!" tunjuk suster itu.
"Makasih, Sus! Dan maaf atas keributan tadi," sesal Arga lemah. Ia sadar tidak seharusnya ia berbuat seperti itu pada sang suster.
"Iya, Mas. Tidak apa-apa. Kalo begitu, saya permisi dulu!" balas suster itu dan berlalu meninggalkan Arga.
Pria itu terlihat menghela napas panjang terlebih dahulu, sebelum membuka pintu dihadapannya. Hingga pintu itu terbuka lebar dan nampaklah orang yang menjadikan ia seperti orang gila hari ini.
"Surpiseee!!!"
Bukan hanya Cheryl, namun ada kedua mama dan satu lagi wanita dengan jas putih yang dapat dipastikan dia seorang Dokter. Terompet pernak pernik seperti ulang tahun terdengar menghiasi ruangan itu.
Bukan terkejut, ataupun memikirkan apa yang menjadi kejutan, Arga yang sudah merasa lelah fisik dan hatinya segera berjalan cepat dan tanpa aba-aba mendekap tubuh Cheryl yang terduduk di atas brankar.
Arga terisak lirih, ia tidak bisa membayangkan seandainya seseorang yang ia peluk tadi benar-benar sang istri entah apa yang akan terjadi padanya.
"Jangan kayak gini lagi, aku bener-bener takut! Aku takut, Cher ...." Tangis pria itu pecah dipundak sang istri. Menumpahkan segala ke khawatirannya hari ini.
Keempat orang disana saling lirik satu sama lain. Mereka tidak mengira Arga akan bereaksi seperti itu. Mereka berfikir pria itu akan marah besar dan mengamuk. Namun, keadaan justru tidak demikian.
Cheryl menepuk pundak Arga, mencoba untuk menenangkan suaminya itu. "Udah jangan nangis! Maafin aku ya, aku gak maksud buat kamu capek hari ini," sesalnya.
Arga masih belum menanggapi, ia masih tenggelam dalam rasa khawatir dan takutnya. Ia bahkan tidak peduli akan orang-orang disana. Ketiga wanita paruh baya itupun juga hanya terdiam, membiarkan Arga menenangkan dirinya.
"Udah dong nangisnya! Masa calon Papa nangis terus, ntar diketawain si utun, lho!" ledek Cheryl.
Arga melepaskan dekapannya, mengusap air matanya kasar. "Kamu gak tau betapa cemasnya aku? Betapa aku takut kehilangan kamu? Aku seharian muter sana muter sini, cuma buat nyari kamu. Aku udah kayak orang gila tau gak?" omel Arga kembali ke mode kesalnya. "Dan sekarang?"
Arga tediam sejenak, mencerna ucapan Cheryl barusan. Apa katanya tadi? Calon Papa? Si Utun? Tanyanya berpikir keras.
Seketika Arga tersadar. Ia memolehkan wajah kanan kiri melihat satu persatu orang-orang disana yang tersenyum kepadanya. Hingga netranya menangkap sebuah gambar dilayar persegi yang terpampang di samping brankar.
"I-ini?" tanya Arga tergagap. Jantungnya berdegup tak beraturan melihat hal yang sungguh menakjubkan dilayar monitor itu.
"Iya, Ga. Selamat! Kamu akan menjadi calon Ayah. Cheryl hamil, dan usia kandunganya baru menginjak tujuh minggu," ucap Dokter Rika, yang ternyata seorang Dokter kandungan.
Arga terpaku mendengar kabar baik itu. Benarkah? Tentu ia tidak ingin kena prank, dan salah mengartikan seperti sebelumnya.
"Iya, Papa. Aku udah tumbuh disini," sambung Cheryl dengan suara dibuat kecil.
Arga menoleh kearah Cheryl. Bulir-bulir bening dari sudut mata Arga kembali berjatuhan, diiringi lengkung bibir yang merekah darinya. Melihat senyum mengembang dari Cheryl, sungguh membuat pria itu tak bisa menahan haru.
Grep!!
Lagi-lagi Arga kembali mendekap tubuh sang istri. Pelukannya kian erat disertai kecupan bertubi-tubi dikepala sang istri. Tidak lupa ia juga terus menggumamkan kata terimakasih. Apa yang selama ini mereka perjuangkan ternyata sudah berbuah manis.
Arga melepaskan dekapan. Tanpa rasa malu didepan ketiga wanita paruh baya itu, ia melayangkan kecupan diseluruh wajah sang istri. Tak ada satu jengkal pun yang lelaki itu lewatkan. Setelah mendapat protesan dari Cheryl, Arga pun mengehtikannya. Lalu, ia beralih sedikit berjongkok, untuk melihat perut sang istri.
"Makasih, makasih sudah hadir! Papa mencintaimu, Nak!" ucap Arga mengelus sayang perut rata itu. Lalu, ia mengecup bertubi-tubi perut itu.
Arga duduk disamping sang istri dan kembali mendekap tubuh itu, Cheryl pun membalas tubub tegap suaminya itu.
Semua orang disana dibuat terharu. Mama Chika memeluk sang besan disampingnya dengan air mata ikut luruh. "Kak, Jin!"
"Hem?" balas mama Jingga yang sama ikut menangis.
"Kita jadi nenek," celetuknya,
Mama Jingga terkekeh. "Iya!"
Masih terasa seperti mimpi. Padahal serasa baru kemarin kedua wanita itu mengandung bersama, belanja kebutuhan bayi bersama, bahkan melahirkan bersama. Dan sekarang? Sungguh mereka tidak mengira jika putra putri mereka benar-benar berjodoh. Dan sebentar lagi mereka akan benar-benar menjadi seorang nenek. Ternyata kebiasaan mereka menjodohkan setiap barang yang kedua putra putri mereka gunakan, benar-benar menjodohkan hati keduanya.
**
Cup!
Satu kecupan dilayangkan Arga dipucuk kepala sang istri setelah mereka baru saja melaksanakan penengokan si utun. Tangan Arga tak lepas meraba perut polos istrinya itu.
"Ihh udah, Ga! Geli," kekeh Cheryl yang belum terbiasa.
"Tapi, aku suka," balas Arga, mengecup wajah sang istri. Hingga si calon ibu itu tertawa.
"Kapan kamu cek-nya? Sengaja bikin kejutan ini?" tanya Arga penasaran. Tangan pria itu membelai rambut sang istri.
Cheryl tersenyum, ia membenarkan posisinya sejenak, untuk terbaring di dada polos suaminya. "Sebenarnya, aku juga baru tau tadi pagi. Aku iseng-iseng cek dan ternyata hasilnya garis dua. Tau kamu sangat menginginkan dia, aku gak mau ngecewain. Jadi aku gak mau ngasih tau kamu dulu, sebelum mastiin kebenaranya. Aku cerita sama mama dan mama Jingga, mereka ngajak aku untuk ke tempat Dokter Rika dan ngasih kamu kejutan. Karena mereka udah yakin, kalo aku benar-benar hamil. Ya udah jadilah begitu!" jelasnya panjang kali lebar.
"Ck! Dasar nakal!" Arga menarik hidung Cheryl gemas, hingga wanita itu meringis kesakitan.
"Ihhh, aku 'kan gak tau apa-apa, cuma nurutin saran mereka." ucap Cheryl membela diri.
"Ya gak gitu juga Oneng," lagi-lagi Arga mencubit gemas hidung istrinya itu, hingga Cheryl memberenggut kesal.
"Kamu tau gak? Hari ini aku ngalamain berbagai hal, karena drama ini. Bagai dejavu, aku salah mengenali orang mati yang aku kira itu kamu. Ya ampun!" Arga benar-benar tidak bisa menceritakan akan kejadian dan perasaannya hari ini.
Cheryl tergelak, sedikit ia mendengar kejadian dirumah sakit tadi dari suster yang mengetahuinya.
"Tapi ... Bahagia 'kan?" tanya Cheryl mendongak menatap pria itu.
Arga tersenyum begitu manis. Hari yang pernah ia sebut, hari sial. Kini ia tarik kembali kata itu dan mengubahnya menjadi hari paling bahagia dihidupnya. Rasa lelah dan segala emosinya kalah dengan rasa bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Arga mendekap tubuh polos itu, mengecup bertubi-tubi pucuk kepala wanita didekapannya. "Sangat! Aku gak bisa jabarin rasa bahagiaku," ungkapnya.
Cheryl ikut memeluk erat tubuh kekar itu. Masih belum percaya musuh bebuyutannya ternyata adalah jodohnya. Dikala mereka sempat menolak, Tuhan justru mempererat mereka. Bahkan, hati mereka terikat tanpa mereka tau, dan entah sejak kapan.
"Makasih untuk segalanya!"
\*\*\***SELESAI**\*\*\*
"Tolak ukur sebuah kebahagiaan, bukan hanya dari siapa yang membuat kita selalu tertawa. Terkadang hal kecil yang membuat kita marah, adalah kebahagiaan yang sesungguhnya ..." -Mak othor-
...----------------...
Selesai yaa, gaiss!!! Alhamdulillah Arga dan Cheryl udah bahagia. Besok kita pindah ke lapak Key, yaa!!! Eksklusif publish 5 bab pertama. Jangan lewatkan, pantau terus profil mak othor oke😘😘 Makasih banyak-banyak atas segala dukungannya🙏🙏 Sehat-sehat selau, sayangnya mak🤲😘😘
**Si calon Papa Mama🤭
"Jumpa lagi, di lapak Key, yaa! Kita sering-sering nongol kok, disana**."