My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Ijab Qabul



Pagi terburuk disepanjang sejarah Arga dan Cheryl pun tiba. Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia tidak berlaku untuk sepasang calon pengantin ini. Pernikahan yang digelar sederhana, namun ternyata begitu megah itu menjadi kutukan untuk seorang Arga. Belum sempat ia berbicara pada sang kekasih, sang papa sudah menyita ponselnya dan membuat ia benar-benar tidak bisa kabur dari pernikahan tersebut.


Lelaki tampan itu keluar dari pintu utama rumah dengan setelan tuxedo putih yang melekat pas ditubuh tegapnya. Hingga nampak begitu gagah dan berkharisma. Diapit kedua orang tua dari samping, serta diiringi keluarga intinya dari belakang. Jarak yang hanya beberapa langkah membuat mereka dengan cepat sampai didepan pintu utama kediaman mempelai wanita.


"Kenapa berhenti?" tanya papa Shaka heran.


Arga menahan napas dan membeku. Kakinya tiba-tiba terasa kaku dan berat untuk ia gerakan kedepan.


"Ada apa?" tanya oma Ay dari belakang.


"Ya ampun, cucu kita pasti gugup kak Ay," celetuk oma Siska. Wanita yang sudah melebihi setengah abad itu, menyerobot dan berdiri disamping cucunya itu.


"Ayo sayang, jangan nervous! Kita semua ada disini nemenin kamu, oke!" ucapnya menyemangati. "Ingat! Laki-laki sejati itu pantang lari dari tanggung jawab," lanjutnya merangkul lengan kekar Arga.


Hal itu membuat Arga menelan salivanya kuat-kuat. Bagaimana mungkin, papanya begitu tega menyebar aib yang tidak ia lakukan pada seluruh anggota keluarganya. Ya, semua keluarga percaya jika Arga nikah dadakan karena sudah tercyduk macam-macam dengan kekasihnya atas informasi dari papa Shaka tentunya. Padahal kenyataannya? Sang calon mempelai wanita bukanlah kekasih melainkan musuh yang ingin ia hindari. Sungguh keadaan yang membuat Arga tidak dapat berkutik sama sekali.


Oma Siska menyeret cucunya itu untuk segera memasuki rumah dengan pintu terbuka lebar tersebut. Suasana seperti kediaman pengantin pada umumnya. Mama Chika benar-benar menyiapkan semua dalam sekejap mata.


WO yang didirikan sang ibu mertua, berlanjut ia kelola hingga sekarang. Hanya untuk mempercantik rumah, tidak perlu membutuhkan waktu lama. Semalam saja, pekerjanya mampu lembur dan menyulap ruangan luas tersebut. Begitupun untuk makanan, Restoran onty Feby yang melegenda mampu menyiapkan katerimg hanya dalam semalam. Sungguh bukan sultan kaleng-kaleng.


"Eh kalian sudah datang, ayo silahkan duduk-duduk!" mama Chika yang sudah tampil cantik, menyambut calon menantu, besan dan keluarganya.


Tidak ada tamu luar, acaranya hanya dihadiri keluarga inti dari kedua calon pengantin saja. Hanya pak RT dan pak Kyai tetua komplek saja yang diundang diacara sakral itu. Tak berselamg lama, pak penghulu nampak hadir memasuki ruangan. Hal itu membuat Arga benar-benar gugup. Keringat dingin, mulai membanjiri pelipis dan telapak tangannya.


Sungguh ia tak mengira hal yang akan ia ikrarkan sekali seumur hidup akan terjadi hari ini juga. Bukan itu poin utamanya, namun calon istri yang tak pernah terlintas dibenaknya sama sekali.


Ditengah pikiran-pikiran kalutnya, tiba-tiba ia dikejutkan dengan senggolan dari sang papa, membuat ia ingin berkomentar. Namun, belum juga ucapannya terlontar, atensinya membuat ia bungkam dan terpaku.


Tatapan Arga terfokus pada seorang gadis yang menuruni anak tangga dengan kebaya pengantin yang melekat pas ditubuh indahnya. Lengkap dengan siger dan makeup yang membuat gadis itu tampak memukau. Diapit dua gadis berpakaian brismaid yang menggiring sang calon mempelai wanita. Terpesona, mungkin itu bahasa yang kini menggambarkan seorang Arga.


"Ehemm!!!"


Deheman keras papa Deril sukses membuat Arga tersadar. Ia mengalihkan atensinya kesembarang arah untuk menetralkan dirinya yang tiba-tiba semakin gugup.


"Astaga, apa yang terjadi padaku?" gumamnya dalam hati.


Dukk!!


Arga menoleh setelah merasakan tendangan dikakinya. Ia terlonjak, tiba-tiba sudah berada disampingnya. Cheryl melirik tajam memberi kode namun tak dimengerti oleh pria itu yang hanya menaikan sebelah alisnya.


"Seneng banget ledek gue lemot. Lihat! Dia sendiri gak kalah lemot," gerutu Cheryl dalam hati.


"Ck! Apaan sih nih anak. Ngasih kode yang bisa dimengerti, napa?" kesal Arga dalam hati.


"Cari cara dong, gimana supaya pernikahan ini batal?" tanya Cheryl dalam hati dengan mata yang seilah menyalurkan ucapan itu.


"Cara apa? Lu pikir gue diem aja. Dari semalam gue cari cara tapi selalu aja gagal," balas Arga dalam hati, seolah kini batin mereka tengah berdiskusi.


"Lu tuh laki, masa gak bisa kasih solusi?" gerutu Cheryl lagi.


"Terus karena lu cewek, lu cuma bisa pasrah? Dasar dangkal," kesal Arga.


"Heh ini gara-gara lu juga. Kalo aja lu gak mesum, gak mungkin ini terjadi!"


Tanpa mereka sadari kini wajah mereka sudah saling tatap dengan jarak yang teramat dekat. Hal itu mengundang senyum dan tawa kecil dari para keluarga. Mereka pikir, sepasang calon mempelai ini tengah bucin dan ingin segera melakukan ritual pengantinan mereka.


"Saudara Arga, apa anda sudah siap?" tanya pak penghulu. Arga terdiam dengan pikiran yang masih angkurawut pabaliut. Tentu hal itu membuat atensi orang-orang beralih padanya.


Papa Shaka yang menyadari itu, menginjak kaki sang putra hingga membuat Arga mengeram tertahan. "Siap!" balasnya sedikit terbata menahan ngilu dikakinya. Sungguh tak berperikeayahan. Pikir Arga melirik kesal sang papa. Namun, yang dilirik justru hanya santai tanpa dosa.


"Baiklah silahkan pak Deril," pak penghulu mempersilahakn papa Deril untuk memulai acara.


Dimulai dari permintaan restu wali nikah yang dilakukan Cheryl pada sang papa, dengan dipandu pak penghulu. Pembacaan ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan dengan khidmat oleh pak Kyai yang dilanjutkan dengan bacaan tiga kalimat Syahadat. Hingga acara inti pun dimulai.


Papa Deril sudah menjabat tangan Arga dan mulai melantunkan ijab. Susana semakin khidmat mendengar kata demi kata yang dilantunkan papa Deril.


"... Dibayar tunai,"


"Sa-saya terima, ni-nikah dan kawinnya, Chemot-"


"Kok Chemot? Cheryl," sela papa Deril.


Suasana mulai tegang kala Arga salah mengucap nama sang mempelai istri. Grasak grusuk dari para tamu terdengar riuh. Hal itu semakin membuat Arga gugup. Sumpah demi apapun ini ada hal yang paling mendebarakn disepanjang sejarah hidup pria itu. Keringat dingin pun semakin membanjiri tubuhnya.


Berbeda dengan Cheryl, satu kata Yes! terlantun dihatinya. Meski hatinya berdebar, namun ia berharap Arga sampai tiga kali pengulangan selalu salah mengucap ijab. Agar pernikahan ini terhenti.


"Baiklah! Sepertinya, mempelai pria sedikit gugup, jadi kita bisa mengulangnya kembali," jelas pak penghulu membuat para tamu sedikit tenang.


Oma Ayra berinisiatif memberikan air putih pada sang cucu. Berharap itu akan mengembalikan konsentrasinya kembali. Setelah dirasa cukup, ijab pun kembali digelar.


"Konsentrasi, Ga! Konsentrasi," peringat sang papa dari samping.


"... Dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Che,ryl Malas pa-"


"Astaga! Kenapa malas?" celetuk pak penghulu. Hal itu tentu saja membuat suasana kembali riuh. Untuk kedua kalinya pengucapan ijab kembali salah.


Kedua orang tua mereka terlihat memijit pelipis masing-amsing yang dipastikan berdenyut. Akankan pernikahan ini gagal? Pikiran negatif terus berkelana didalam otak mereka. Semua orang berbisik dengan pikiran yang sama. Namun itu menjadi poin plus untuk Cheryl. Satu kesempatan lagi, ia yakin akan terlepas dari jeratan pernikahan konyol ini.


Arga menghembuskan napas kasar. Sejujurnya tidak ada niatan sama sekali untuk mempermainkan ijab ini. Namun, entah kenapa lidahnya seolah keselo untuk berucap kata yang benar. Meski ia senang dengan kegagalan pernikahan yang mungkin akan terjadi. Namun, ada sedikit rasa bersalah dihatinya, karena merasa sudah mempermainkan ikrar janji suci tersebut. Hingga ditengah kegelisahan dihatinya, suara sang mama bagai bongkahan es yang menyejukan, namun begitu keras memukul hatinya.


"Mama tau, kamu tidak menginginkan semua ini. Semua terserah padamu, kita tidak akan memaksa. Jika menurutmu, ini harus gagal dan harus berhenti disini, lakukanlah! Hanya saja, satu hal yang perlu kamu ingat! Kita tidak pernah mengajarkanmu untuk main-main dengan ajaran Tuhan," bisik mama Jingga.


Deg!


Bagai tersentil, dengan kalimat terakhir sang mama, Arga semakin bimbang. Hingga acara itu kembali digelar Arga memperhatikan sejenak sekelilingnya. Berbagai harapan dari wajah orang-orang disana membuat ia terpaku, apakah ia sudah mempermainkan sebuah pernikahan? Sedangkan ia tau, apa yang ia ucap bukan sekedar ikatan. Namun, sebuah janji dihadapan Tuhan. Dan jika ia gagal, bukan hanya dosa ia kepada Tuhan saja, namun kepada kedua orang tuanya pula.


Hingga gerakan tangan, kode dari papa Deril membuat ia tersentak dari lamunannya.


"... Tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Cheryl Maylaffayza binti Deryl Deliano dengan maskawinnya tersebut tunai!"


\*\*\*\*\*\*


Sah oyy sah! Kasih hadiah dong buat bang Arga yang hampir aja dicempulngin ke empang🙈😆 Jejaknya jangan lupa yaa gaisss😘