My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Berhutang terima kasih



Reysa berjalan cepat dari kamar menuju outdoor dimana pesta barbeque itu digelar. Gadis itu terus menggerutu saat ia harus kembali ke kamar, karena Rayna melupakan jaketnya. Mengingat kondisi gadis itu yang masih lemah, sang oma begitu bawel dan menyuruh Reysa untuk mengambil kain tebal itu.


"Ck! Kebiasaan 'kan, gue lagi yang kena. Sebagai seorang Kakak, walaupun cuma beda lima menit. Kurang apa, coba gue?" kesal Reysa saat mengingat sikap Rayna selama ini.


Tak berselang lama ia sampai ditempat tujuan. Ia berhenti sejenak, melihat Rayna yang termenung sendiri di sebuah ayunan dipinggir kolam ikan. Reysa menghembuskan nafas kasar. Entah fikiran apa yang selalu menghantui saudarinya itu, hingga kerap sekali melamun.


"Entah mengapa lu selalu merasa sendiri? Padahal lu bisa berbagi sama gue," gumam Reysa.


Gadis itu mulai berjalan, hendak mendekat untuk memberikan jaket ditangannya. Namun, baru saja beberapa langkah, tiba-tiba seseorang mendudukan diri disamping gadis itu seraya menyampirkan sebuah jaket dipundak. Reysa terdiam, tentu ia harus menguatkan hati saat sadar siapa yang kini bersama saudarinya itu.


'Kayaknya mulai sekarang gue harus terbiasa,' gumamnya dalam hati. 'Tolong bekerja samalah!' lanjutnya memegang dada.


Tidak ingin semakin sesak, ia memilih untuk menghindar dan bergabung dengan semua orang.


Sementara diayunan itu, Rayna sedikit terlonjak saat tiba-tiba sesuatu tersangkut dibahunya. Bagai dejavu, hal yang terjadi diatas rooftop terulang kembali.


Rayna menoleh, kemudian menarik sedikit bibirnya melihat Al yang tersenyum padanya. "Gak perlu!" ucapnya hendak melepas jaket tersebut.


Namun, Al menghentikan pergerakan tangan Rayna. Menggenggam tangan gadis itu hingga keduanya terdiam saling menatap. Sebentar suasana mendadak hening antara dua manusia tersebut. Hingga Rayna berdehem, membuat Al tersadar dan segera melepas genggamannya.


"Emm, maaf!" sesal Al.


"Udah seharusnya, yang lebih muda bersikap sopan," ucap Rayna dengan nada ledekan, yang diakhiri senyum tipis.


Al tertawa kecil menanggapi. Disebut lebih muda membuat ia sedikit lucu. "Aku rasa gak perlu, cuma dua tahun 'kan?"


"Cih!" Rayna berdecih yang disertai senyum sebelumnya.


"Apa kamu gak merasa melupakan sesuatu?" tanya Al. Rayna menaikan sebelah alis seolah bertanya.


Al kembali tersenyum. "Kamu berhutang terima kasih padaku," jelasnya.


Rayna terkekeh kecil mendengar itu. Tentu saja ia tidak akan pernah melupakan itu. Orang yang sudah menyelamatkan nyawanya. "Thanks!" ucapnya singkat.


"Ck! Cuma gitu doang?" Al berdecak mendengar jawaban itu. Kembali Rayna menaikan sebelah alisnya.


"Setidaknya, mentraktir makan enak gitu?" goda Al.


Tanpa diduga senyum Rayna tiba-tiba terukir lebar. Bukan sekedar senyum, tapi tawa kecil yang keluar dari bibir gadis itu. Al tidak mengira akan melihat senyum itu lagi. Senyum ketika dimana dirinyalah yang menjadi alasan. Bolehkah ia senang?


"Oke! Gue traktir," final Rayna tersenyum menatap Al, begitupun sebaliknya. Entah apa yang Rayna rasakan, yang jelas ia merasa tenang berbicara dengan pria itu.


Sementara didepan panggangan, Ara tengah berkutat membuat eksperimennya sendiri. Gadis itu nampak sibuk, celemek menempel ditubuh bagian depan. Kaos panjang yang sudah tergulung hingga siku. Jangan lupakan tangan yang sudah belepotan hitam. Bahkan, warna itu sudah tergores dipipi cantiknya.


"Finally!" ucapnya riang.


"Wah cucu Oma pintar banget. Sini biar Oma cobain!" puji oma Siska hendak meraih piring itu. Namun, dengan tega Ara segera menjauhkannya.


"Jangan Oma!" larangnya.


"Isshh bukan Oma yang harus nyobain. Tapi, ahlinya!" balas Ara. Sontak saja oma Siska mengerutkan dahinya, tidak mengerti ucapan cucunya itu.


"Maksudmu-"


"Udah Oma, nanti aku bikinin lagi. Aku mau minta penilaian dulu sama masternya. Bye!" sela gadis itu berpamitan.


Oma Siska hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sang cucu yang berbeda dengan mamihnya. Kia sang putri hanya tau perkara menghabiskan uang, tanpa tau urusan dapur. Namun, berbeda dengan sang cucu. Meski manja anak dan ibu itu sama, kebiasaan mereka seolah bertolak belakang.


"Setidaknya kita masih bisa berkumpul. Hah~ aku harap, salah satu dari mereka mau menemaniku yang tua ini," lirih wanita yang sebenarnya masih cantik dari usianya itu.


**


"Hai Uncle!" sapa Ara pada pria paruh baya dihadapannya itu.


"Hem, Ara?" sapa balik pria itu. "Wah kayaknya enak tuh!" tunjuknya melihat piring yang Ara bawa.


"Tada!" Ara menyuguhkan piring tersebut dihadapan pria itu. Sontak pria itu mengerutkan dahi tak mengerti.


"Ishh gak usah ge-er dulu," ledek Ara hingga pria itu terkekeh.


"Berhubung Uncle Iky adalah pemilik resto ternama. Aku akan melakukan vote dari hasil kreasi masakanku hari ini. Harap teliti dalam eksperimenku yang gak pernah gagal ini, ya Uncle! Dan ... Setelah itu kasih aku nilai dari lima sampai sepuluh." jelas Ara begitu serius.


Rizky tertawa mendengar ocehan gadis itu. Sebenarnya ia sudah kenyang, namun mendengar itu hasil eksperimen, membuat pria berusia empat puluh tiga tahun itu tertantang.


"Baiklah! Uncle akan mencobanya," balas Rizky.


Ara pun mengembangkan senyumnya. Segera gadis manis itu menuntun sang pria menuju meja. Lalu, memberikan piring tadi didepan pria itu.


"Harus yang fair ya, Uncle. Gak boleh bohong!" peringat Ara.


"Oke, baiklah!" Rizky mulai memotong dan memakan yang Ara panggang dengan resep rahasianya itu.


Gadis itu nampak tersenyum senang, masakan spesialnya dapat dinikmati pria yang diam-diam mulai spesial dihatinya. 'Dulu aku pernah bermimpi, masakan spesialku akan dicicipi terlebih dahulu oleh suamiku. Apa semua itu akan menjadi kenyataan?' batinnya bertanya.


"Gimana Uncle?" tanya Ara waswas.


"Emm ..." Rizky nampak berfikir dan tak segera memberi jawaban. Ara dengan serius menatap harap-harap cemas pada pria itu.


"Lumayan!"


"Ck!" Ara berdecak kala hanya satu kata itu yang diberikan sang pria. "Kok, cuma lumayan sih?" kesalnya.


Rizky terkekeh seraya mengusek rambut gadis itu. Hal yang justru membuat gadis itu menjadi tegang. "Kamu tuh! Itu artinya, kamu harus terus belajar untuk dapat nilai lebih baik. Sekarang uncle kasih delapan dulu aja, ya. Nanti, jika ada kesempatan lagi. Kamu harus bisa dapat nilai sepuluh. Oke!" jelas Rizky seraya menghapus noda hitam dipipi gadis itu, hingga sang gadis hanya mengangguk kecil merasa ada sengatan listrik diarea dadanya.


'Ya ampun setiap sentuhan yang diberikan, seolah sampai dihatiku!'


\*\*\*\*\*\*