
Sementara Arga memasuki kamar dirumah orang tuanya. Ia membereskan beberapa barang yang akan ia bawa pindah. Sejenak ia memperhatikan pigura kecil yang tersemat foto dirinya dan sang kekasih disana. Perasaan bersalah kembali menyeruak. Ada rasa bersalah, karena ia merasa sudah mengkhianati wanita yang dicintainya.
"Maafin aku, Tan. Aku berdosa udah khianati kamu. Tapi, apa dayaku. Semua udah terjadi. Sekarang, aku punya tanggung jawab terhadap istriku," sesalnya disertai hembusan napas berat.
Ia tersenyum tipis kala nama istri yang tiba-tiba ia ucapkan. "Gue gak tau apa yang akan terjadi dengan rumah tangga yang penuh sandiwara ini. Haruskah gue memulainya? Menerima semua kenyataan yang ada. Atau ...." Kembali helaan napas terdengar dari pria itu. Arga masih bingung dengan perasannya kini. Hatinya memang milik wanita lain. Namun, keadaan memaksa ia harus menerima kenyataan yang ada.
**
Disebuah kamar hotel seorang wanita tak henti men de sah. Suara sexy menggema memenuhi ruangan itu. Seorang pria tengah berpacu diatas tubuh si wanita. Pria berusia setengah abad itu, masih terlihat gagah dengan postur tubuh yang menggiurkan.
"Ommm ... Uhhh! Ini luar biasa," jerit wanita itu ketika ia mencapai ******* untuk kedua kalinya. Namun, si pria masih tak memperlihatkan tanda-tanda menyerah.
"Kau menyukainya?" tanya pria itu menyeringai. Wanita itu mengangguk pasrah. Ia sudah tidak dapat membalas ucapan sang pria. Kenikmatan yang diberikan pria itu sungguh membuat wanita itu tak berkutik dan hampir gila.
Berulang kali erangan terus keluar dari bibir wanita itu, namun sang pria masih tak juga menemukan puncaknya. Berbagai gaya dilakukan pria itu, namun si wanita hanya pasrah karena sudah terlalu kelelahan. Ia hanya mampu mende sah dan menjerit akan hentakan demi hentakan yang diberikan pria itu.
Hingga entah dimenit keberapa erangan panjang dari sang pria mengakhiri permainan panas mereka.
"Ahh, Om! Ke-kenapa keluar didalam?" tanya si wanita dengan napas tersenggal.
Si pria mengeluarkan senjatanya. "Maaf, aku gak bisa menahannya," sesalnya.
"Ta-tapi-"
"Kau sangat memuaskanku. Akan kuberikan berapapun yang kau mau," sela pria itu tersenyum membelai pipi wanita itu.
Tania, wanita yang kini lemas diatas ranjang itu menyeringai puas. Tentu, itulah yang ingin ia dengar. Ia bangkit dan mengecup rahang pria itu. "Thank you, Om! Aku akan siap kapan pun Om butuh," ucapnya tersenyum manis
Pria itu tersenyum dan mengusap sayang kepala wanita itu. "Kamu yang terbaik, Tania!" pujinya, hingga dibalas senyum senang wanita itu.
"Bersihkan dirimu, sebelum kau pulang! Aku akan mentransfer sesuai dengan yang kamu mau," titah pria itu.
"Om yakin, menyuruhku pulang lebih awal?" tanya Tania merasa tak percaya. Memang bukan sekali, wanita itu melayani om Edward yang sudah menjadi pelanggannya itu. Pria itu akan meminta sampai pagi pada Tania.
"Iya, kau pulanglah lebih awal. Malam ini keponakanku pulang dari Swiss, jadi aku harus segera pulang ke rumah!" jelas om Edward.
Tania mengangguk mengerti. Ia hanya takut pelanggan setianya itu merasa bosan padanya. Padahal dia sendiri begitu menyukai permainan yang diberikan pria gagah itu. Dari sekian pria, tidak ada yang membuat ia puas selain om Edward.
Beberapa menit kemudian, Tania keluar terlebih dahulu dari hotel setelah membersihkan diri. Edward mengambil sebuah kamera kecil dari dekat lampu nakas. Ia menyeringai, lalu menghubungi seseorang dengan ponsel miliknya.
"Hallo!" sapanya setelah panggilan itu tersambung.
"Bagaimana, Om?" tanya seseorang dari sebrang telepon.
"Kamu tenang aja, semua sudah sesuai permintaan kamu," balas om Edward.
"Bagus, thank you, Om!"
"By the way untuk apa kamu butuh ini? Jika untuk film, tolong jaga privasi, Om!" pinta om Edward. Tentu ia tak mau, jika privasinya sampai tercium publik. Meski ia seorang duda, namun tetap saja itu akan mempengaruhi kariernya.
"Tentu saja nggak, Om! Aku butuh itu untuk diriku sendiri," ucapnya tertawa dari sebrang telepon.
"Dasar anak nakal!" ledek om Edward disertai kekehan, merasa tak percaya pada pria yang sudah seperti keponakaannya itu. "Lalu, bagaimana dengan kesepakatan kita? Kamu akan berinvestasi 'kan diperusahaan, Om?" tanyanya memastikan.
"Itu pasti, Om! Aku Arkeyano tidak pernah mengingkari janji," balas pria disebrang telepon yang ternyata Key.
"Beres, Om! Thanks untuk semua bantuannya. Jika saja aku tau dari awal, Om kenal sama dia. Maka sudah dari dulu aku meminta bantuan, Om!" Sedikit menyesal karena Key baru saja mengetahui hal itu.
"It's oke! Gak apa-apa, Ar. Semua belum terlambat. Smoga dendammu segera terbalaskan!" balas om Edward memberi semangat.
"Iya, Om! Sekali lagi thanks ya, aku tunggu datanya!"
"Oke, Ar. Om kirim sekarang."
Panggilan pun berakhir. Key bersyukur memiliki orang yang masih mempercayainya. Disaat ia berusaha keras untuk mencari bukti, orang tuanya masih saja menganggap ia salah. Hingga, sang uncle yang percaya padanya mendapatkan bukti itu. Ia masih tidak ingin membongkar itu dengan cepat. Yang ia pikirkan adalah hati Arga. Hingga ia ikut andil dengan rencana uncle Sha dan juga uncle Deril mengenai perjodohan itu. Dan sekarang rencana-rencana itu sudah berjalan perlahan.
"Uncle salut sama kamu, Key! Makasih udah bantu uncle buat nyadarin anak tengil itu," ucap papa Sha, menepuk bahu sang ponakan dengan bangga. Kini kedua pria berbeda usia itu tengah berada di Kafe tak jauh dari rumah papa Sha.
"Aku yang harusnya berterima kasih sama uncle. Cuma uncle yang percaya sama aku," balas Key tersenyum kecut.
Papa Sha yang mengerti, kembali menepuk bahu Key. "Ck! Udah gak usah dipikirin. Kamu kayak gak tau aja sifat si kulkas itu. Kamu harus percaya, dibalik sikap papamu itu dia sangat menyayangimu, hem?"
Key hanya melebarkan senyumnya sedikit. Terkadang ia berpikir, kenapa bukan sang uncle yang menjadi papa nya. Sifat mereka bahkan hampir mirip. Julukan mereka pun sama. Namun, kenapa ia sungguh berbeda dengan sang papa?
"Oh iya, ngomong-ngomong kamu bilang apa sama Chimut? Dia sampai gak protes pasal pindahan itu?" tanya papa Sha heran.
Key hanya tersenyum seraya menegak minumannya. Entah ia harus berkata jujur tentang rencana mainstreemnya atau tidak.
**
Dilain tempat, Cheryl baru saja selesai mengemas barang-barangnya. "Hah~ akhirnya selesai juga," ucapnya mengusap keringat dikening, lalu bertolak pinggang.
"Selesai juga?"
"Astaga!" pekik Cheryl terperanjat. Ia sampai mengusap dada saat tiba-tiba Arga bicara dari belakang dirinya.
"Isshhh kayak setan lu, ngagetin aja!" kesalnya. Arga tergelak melihat ekspresi gadis itu.
"Ngapain sih lewat sana? Bikin orang jantungan aja," omel Cheryl tak habis pikir, bisa-bisanya Arga manjat balkon lagi.
"Sengaja, gue gak mau bangunin orang rumah," balas Arga menghentikan tawanya. Kemudian mendudukan diri ditepi ranjang. Cheryl hanya berdecak kesal menanggapi.
Tiba-tiba Arga ingat sesuatu yang ia ambil dari laci dikamarnya. "Duduk sini!" titahnya menepuk ruang kosong disampingnya.
"Ngapain?" tanya Cheryl waspada.
"Ck! Ya elah, duduk aja sii. Lagian gue gak akan ngapa-ngapain lu," jelas Arga. Karena Cheryl tak kunjung juga duduk, ia pun menarik tangan gadis itu untuk segera duduk.
Akhirnya Cheryl pasrah dan duduk disamping Arga. Lalu, pria itu mengambil sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah salep yang membuat Cheryl keheranan. Tanpa diduga, Arga membuka salep itu, lalu ia usapkan pada kening sang gadis.
Deg!
Cheryl sedikit terperanjat dengan perlakuan tak terduga itu. "Maafin gue ya, gue gak sengaja bikin lu kayak gini," sesal Arga. Cheryl tak menyahuti, ia masih terpaku akan perlakuan itu.
'Kenapa lu kayak gini? Kenapa lu bikin hati gue melunak?'
\*\*\*\*\*\*
Jangan lupa jejaknya yaa😘