My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Memaafkan



Tania menjatuhkan dirinya ke atas lantai. Hingga dekapan Cheryl pun terlepas. Tanpa diduga wanita itu bersujud di kaki Cheryl dengan tangis pecah.


"Maafin gue, maafin gue!" ucapnya tersedu-sedu.


Cheryl menghela napas pelan. Lalu, ia pun berjongok untuk membangunkan Tania. "Bangunlah! Gak perlu kayak gini," titahnya.


"Maafin gue, gue berdosa sama lu. Gue bener-bener jahat, maafin gue!" ucap Tania lagi.


Ya, Tania menyadari setiap kesalahan yang ia perbuat. Termasuk dosa terbesar pada wanita dihadapannya. Bahkan, karma yang kini menimpanya, mungkin tidak akan cukup untuk menebus semua dosa-dosanya.


Cheryl menekukkan sebelah kaki di lantai dan mengangkat kedua pundak wanita itu. "Gue udah maafin lu, dari kemarin. Maka dari itu gue sekarang kesini," ucapnya.


Tania semakin terisak mendengar itu. Entah terbuat dari apa hati wanita yang kini berada dihadapannya. Hingga begitu mudah memaafkannya. "Makasih, makasih!"


"Dan sebaliknya. Gue juga mau minta maaf sama lu. Karena gue udah ngambil Arga dari lu! Hal yang membuat lu berbuat demikian," ucap Cheryl.


Tania menggelengkan kepala. "Nggak! Lu gak salah. Gue yang salah!" ucapnya kembali tersedu.


"Arga udah mengambil jalan yang benar, karena memilih lu. Gue ... Gue ...." Tania tidak dapat mengungakapkan kata, ketika ia mengingat tentang pengkhiantannya terhadap Arga.


"Sekarang gue udah mendapat balasan dari apa yang pernah gue perbuat. Gue mau bertobat, Cher! Gue mau tobat!" ungkap Tania.


Cheryl tersenyum, itulah yang ingin ia dengar. Ia mengusap air mata diwajah wanita itu, merapaihkan rambutnya yang berantakan. "Lu benar. Lu harus bertobat! Berdoa lah untuk wanita yang sudah menjadi korban kejahatan lu, dan mintalah maaf padanya!" titahnya dan diangguki oleh Tania.


Arga dan Key terdiam ditempat mereka, menonton adegan dua wanita itu. Mungkin sebagai seorang pria, mereka kurang peka akan perasaan sebenarnya seorang wanita.


"Ga!"


Panggilan Cheryl mengalihkan atensi Arga. Cheryl tersenyum dan memberi kode pada suaminya untuk mendekat. Namun, Arga terlihat ragu untuk melakukan itu.


Tania mendongak, ia yang mengerti hanya tersenyum. "Gak apa-apa! Maafin aku, ya Ga! Aku gak tau seberapa banyak kesalahan yang aku perbuat. Bahkan, aku gak layak kamu maafin! Tapi, aku akan tetap minta maaf sama kamu," ucap Tania yang sudah sedikit tenang.


"Dan buat lu juga, Key! Gue minta maaf, sudah buat lu dibenci keluarga lu sendiri," lanjut Tania dan hanya dibalas decihan oleh Key, yang masih saja kesal.


Meski hal itulah yang sebenarnya membawa ia kesana. Untuk melihat Tania mengakui kesalahannya.


"Maaf, waktu kunjungan sudah habis!" peringat petugas.


Tania mencoba tersenyum ke hadapan Cheryl. "Makasih ya, sudah mau jenguk gue! Sekali lagi gue minta maaf. Gue juga akan berdoa untuk lu dan Arga. Smoga rumah tangga kalian selalu bahagia," ucapnya.


Cheryl tersenyum dan menganggukan kepala. "Lu juga! Smoga kelak hidup lu lebih baik lagi," balasnya dan dibalas anggukan sama.


Lalu, petugas dan Cheryl membantu wanita itu untuk kembali ke atas kursi roda. Tania menatap sebentar Arga yang enggan menatapnya. Ia hanya tersenyum, setidaknya ia sudah meminta maaf pada pria yang sudah ia sakiti. Petugas itu memutar kursi, membantu untuk mendorong kursi roda Tania. Namun, baru beberapa langkah, suara Arga menghentikan pergerakan Tania, hingga ia menoleh.


"Gue maafin lu!" ucapnya.


"Gue belum bisa, maafin lu!" celetuk Key. "Iya, gue masih kesel. Gak tau kalo nanti," lanjutnya.


Tania tersenyum mendengar jawaban dari kedua pria itu. "Makasih!" ucapnya.


Karena waktu sudah benar-benar habis, petugas membawa Tania untuk kembali ketempatnya. Sementara ketiga orang itu memutuskan untuk pulang.


**


"Cih! Kalian tuh lebay, masa iya maafin orang seenak jidat. Kalo gue sih masih ogah maafin dia," Key berkomentar saat mereka sudah melesat di jalan raya.


Plak!!!


Satu pukulan dilayangkan Cheryl dikepala pria dibalik kemudi. Hingga pria itu meringis kesakitan.


"Kenapa lu pukul kepala gue?" protes Key tak terima menatap tajam kearah Chery dari spion atas.


"Biar otak lu bener," balas Cheryl sekenanya. Key berdecak kesal menanggapi.


"Merasa udah kayak Tuhan kali, ya. Sulit banget memafkan," ledek Cheryl.


"Justru karena gue bukan Tuhan. Gue gak bisa gitu aja memafkan!" timpal Key tak mau kalah.


"Serah lu!" final Cheryl mendengus kesal dan ditanggapi cebikan pria itu.


Cheryl melirik Arga yang nampak terdiam. Tak menanggapi obrolan mereka. Hingga Cheryl pun ingin sekali menggodanya.


"Cieee ... Yang baper, udah ketemu mantan," ledek Cheryl menyenggol bahu Arga.


Arga terkekeh, lalu mengusek pucuk kepala sang istri. "Cieee ... Cemburu," godanya balik.


Cheryl menampol pipi Arga gemas, hingga kedua sejoli itu tertawa bersama. Lagi-lagi hal itu membuat Key mengiri. Dengan kesal, ia sengaja meleok-leokkan mobil kanan kiri mengerjai mereka.


"Eh lu nyetir yang bener!" kesal Arga menampol kepala pria dihadapannya. Namun, Arga hanya tergelak menanggapi.


Untung saja keadaan jalanan sepi. Coba jika banyak pengendara, sudahlah mereka dapat umpatan pengendara lain.


"Maaf, Pak. Bisa tolong tunjukkan peta lokasi, yang ingin dituju!" pinta Key, persis seorang supir taxi. Hingga membuat Cheryl terkekeh, namun tidak dengan Arga yang sudah menampol kepala pria itu.


"Ck! Lu kesenengan banget sih, nampol kepala? Tiati, tiap tahun difitahin woy!" kesal Key menepis tangan sepupunya itu.


"Cih!" Arga berdecih meledek.


"Orang nanya baik-baik juga," gerutu Key.


"Kita ke pemakaman," sela Arga.


"Hem?" sontak itu membuat kedua orang disana bingung.


Tak berselang lama mobil yang ketiga orang itu tumpangi sudah sampai dipemakaman Muslim. Tempat wanita yang menjadi korban kecelakaan itu di semayamkan. Terlihat tanah tersebut masih basah dengan taburan kelopak bunga yang memenuhi gundukan tanah tersebut.


Namun, bukan hal itu yang menjadi perhatian mereka. Atensi mereka tertuju pada seorang anak laki-laki berusia sekita lima tahun yang tengah berjongkok di makam tersebut. Bocah itu terus mengeluarkan air mata, namun tidak mengeluarkan suara.


"Adek lagi ngapain disini?" tanya Cheryl lembut membelai kepala bocah tersebut. Gadis itu ikut berjongkok disamping sang anak.


Anak itu tidak menjawab, ia hanya mengusap kasar air matanya. Lalu, berlenggang begitu saja tanpa kata.


"Siapa tuh anak?" tanya Key heran dan dibalas gedikan bahu oleh Arga.


Pria itu mendekat ikut berjongkok bersama Cheryl. Hal inilah yang sedari tadi mengganjal dipikirannya. Ia ingin meminta maaf pada wanita itu. Karena bagaimana pun juga, semua masalah itu bermula dari dirinya.


"Kita gak pernah saling mengenal, tapi kau harus terlibat dalam masalah kami. Mohon maafkan kami. Kami harap, kamu bisa tenang disana," sesal Arga. Satu bulir tetes air matanya luruh begitu saja.


Cheryl yang mengerti mengusap bahu suaminya itu. Ia pun demikian, merasa bersalah pada wanita itu. Namun, apa daya semua sudah terjadi. Dan semua sudah menjadi garis Takdir yang Tuhan kehendaki.


\*\*\*\*\*\*