My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Promo Karya Baru "My Hot Uncle"



Hai readers kesayangan❤ Mak othor bawa karya baru nih. Masih squel dari novel-novel sebelumnya yaa ... Kisah Arabella, putri dari Om Rei dan Kia. Yang udah baca "Love Abang Duda" tau dong🤭 Ara, cucu dari bang Age dan Siska, yang suka sama duda anak kembar. Siapa sih duda itu? Yuk buruan serbu!!!



Preview bab :


"Tunggu, jangan dulu dibuka!" Suara seorang gadis dengan nada begitu manja terdengar dari sebuah kamar kost.


"Kenapa, hem?" tanya seorang lelaki dengan suara berat.


"Kamu yakin, Ara gak tau soal hubungan kita?" tanya gadis itu dengan nada yang sama.


"Ck! Dia cuma gadis manja yang gak tau apa-apa. Jangankan melakukan ini, memegang tangan aja, dia menolak!" Suara tawa sejoli itu menggelegar diruangan sempit tersebut.


"Tunggu dulu! Kamu udah janji lho, mau beliin aku tas keluaran baru itu."


"Kamu tenang aja, sore ini Ara udah janji buat transfer uangnya. Jadi, kamu bisa belanja sepuasnya, hem?"


"Aahh ... Vino! Kamu baik banget sih, makin cinta deh," rengek wanita itu yang diakhiri canda tawa keduanya.


Suara itu terdengar jelas oleh seorang gadis berseragam putih abu, yang kini mematung di depan pintu kamar tersebut. Wajahnya memerah dengan mata berkaca-kaca. Kekasih yang selama ini ia percaya, tengah tertawa mesum dengan gadis lain di dalam kamar tersebut.


"Brengs*k!" umpatnya kesal.


"Nih! Gue bawain ini," bisik seorang gadis dengan seragam sama, membawa ember kecil berisi air ditangannya. "Udah buruan sikat, Ra! Gedor aja udah pintunya!"


Belum sempat gadis yang biasa disapa Ara itu mengetuk pintu tersebut, datang seorang pria menghampiri. Seorang kurir paket yang juga hendak mengirim pesanan untuk kamar tersebut.


"Tunggu, Mas!" cegat Ara pelan, ia merampas benda dari tangan pria itu.


Pria itu hendak protes, namun Dea gadis disamping Ara memberi tanda diam pada pria itu, yang langsung dimengerti olehnya.


Hingga Ara membelakak kaget, saat melihat siapa yang memesan dan apa yang dipesan penghuni kamar tersebut. Dea yang penasaran, ikut melongokan wajah melihat paket tersebut. Hingga ia pun tak kalah syok seperti Ara.


Ara memberikan kembali barang tersebut pada kang kurir itu. Lalu, memberikan kode padanya untuk memanggil si penghuni kamar yang masih terdengar bercanda ria. Pria itu mengerti dan segera mengetuk pintu.


Tok! Tok! Tok!


"Permisi, paket!" teriak kang kurir.


Terdengar seseorang menyahuti dari dalam. Tak membutuhkan waktu lama, kunci pintu pun terputar, hingga pintu itu terbuka.


Byurrr!!!


Dea dengan semangat mengguyurkan air dari ember ke wajah lelaki dari dalam kamar itu. Hingga ia terkejut, begitu pun si kang kurir.


"Apa-apaan ini?" kesal lelaki yang


bertelanjang dada dan hanya menyisakan celana abu saja yang melekat ditubuhnya.


"Setan emang dasar!" umpat Dea kesal.


Ara melipat tangan didada dengan wajah datar. Ia berjalan maju membuka pintu itu hingga terbuka lebar. Hingga terlihat seorang gadis diatas kasur yang juga tak kalah syok, menutupi diri dengan selimut. Bukan itu saja yang menjadi perhatian Ara, kemeja sepasang sejoli itu sudah bertebaran dilantai. Dan dapat dipastikan, gadis itu bertelanjang dada. Atau mungkin lebih.


Ara tertawa remeh melihat kondisi kamar lelaki yang harus ia akui kekasihnya itu. Ia mendekat pada gadis yang tentu saja ia kenal. Dea mengikuti sahabatnya masuk ke dalam seraya merekam momen tersebut.


Sementara Vino, lelaki itu masih mematung di dekat pintu.


"Jadi kayak gini cara lu bergaya hidup? Ngakang di hadapan pacar orang? Cih, menyedihkan!" ledek Ara.


Gadis yang masih meringkuk itu hanya tertunduk malu. Sintia yang terkenal dengan gaya hidup mewah dan arogan, tentu tidak ada yang mengira kelakuannya seperti itu. Semua orang berpikir ia terlahir dari seorang konglomerat yang berwibawa.


"Ra, Ra, tenang dulu, aku bisa jelasin!" Vino mendekat hendak menggapai tangan Ara, namun ditepis kasar gadis itu.


Ara membuka tas gendongnya, mengambil dompet dari dalam tas itu. Lalu, mengambil beberapa lembar uang pecahan ratusan ribu. Dengan kasar, ia melempar uang tersebut ke hadapan wajah Sintia.


"Makan tuh duit!"


Semua orang yang menyaksikan hal itu semakin membelakak kaget. Ara menghadapkan diri pada Vino dengan senyum sinis. "Gue udah bayarin, l*nte lu! Selamat bersenang-senang!" ucapnya penuh penekanan.


Ara hendak pergi, namun tangan Vino mencegatnya. "Tunggu, Ra! Ini gak seperti yang kamu pikirin. Kamu salah paham," elak Vino membela diri.


Kembali Ara menepis kasar tangan lelaki itu. "Jangan sentuh! Tangan lu terlalu kotor untuk nyentuh gue!"


"Ra, aku mohon, Ra. Aku gak mau ada kesalah pahaman diantara kita. Aku sayang sama kamu, Ra!" rengek Vino, masih mencoba untuk membujuk, mencekal tangan Ara kembali.


Ara memicing dengan senyum sinis. "Sayang? Sayang duit gue maksud lu?" tanyanya. Bahasanya yang biasa aku-kamu berubah menjadi kasar.


"Denger baik-baik, Alvino. Gue Arabella Diazmara, tidak memiliki hubungan lagi dengan lu. Mulai detik ini, kita ... Putus!" final Ara menghempas kasar tangan Vino. Lalu, gegas berlalu dari ruangan itu, yang kemudian diikuti Dea.


"Dasar lu pada, pasangan gak tau diri!" umpat Dea lagi kesal, sebelum meninggalkan tempat itu.


Vino terpaku sejenak mencerna ucapan Ara. Hingga ia tersadar dan segera ingin mengejar kekasihnya itu. Namun, tercegat oleh kang kurir yang menunggu dan menyaksikan drama mereka.


"Tunggu! Ini bayar dulu," cegatnya, mencekal tangan Vino.


"Tapi, Mas! Saya harus kejar dulu pacar saya," balas Vino yang hendak pergi.


"Saya gak mau tau, pokoknya bayar dulu!" Kang kurir yang sudah lelah menunggu, tak membiarkan Vino pergi.


Dengan berdecak kesal, ia pun meraih uang dari saku celananya dan memberikan uang tersebut pada kang kurir.


"Nah gitu dong! Makanya, kecil-kecil jang sok sok an, nyewa l*nte. Belajar aja yang benar dulu! Diputusin pacar 'kan?" ledek kang kurir menyerahkan pesanan Vino. Kemudian, berlalu meninggalkan tempat itu.


Hal itu membuat Vino semakin kesal, selain mendapat ledekan, ia juga tidak bisa mengejar kekasihnya itu.


"Ahhh, sial!" erangnya frustasi.


***