
Deg!
Hati Cheryl berdebar mendapat tatapan tak biasa dari Arga. Suasana tiba-tiba mencekam, membuat bulu kudunya meremang seketika. Belum lagi sesuatu yang terasa mengganjal dibawah sana, membuat gadis itu harus menelan salivanya kuat-kuat.
Glek!!!
Belum sempat gadis itu menjawab pertanyaan Arga, pria itu sudah meraup bibir ranum Cheryl. Satu tangan Arga gunakan untuk memeluk tubuh mungil, namun berisi itu. Satu tangannya lagi menahan tengkuk sang gadis untuk memperdalam ciuman mereka. Aktifitas mereka menghasilkan decapan-decapan merdu mengiringi suasana malam dengan gerimis yang mendukung.
Tangan yang memeluk tubuh Cheryl mulai bergeliyara menyikap piyama yang dikenakan gadis itu. Membelai lembut kulit punggung Cheryl, yang sukses membuat gelenyar dijiwa si empunya. Dengan reflek kedua tangan Cheryl melingkar, memeluk leher pria itu.
Hawa panas mulai menjalar, pagutan bibir mereka enggan terlepas. Tangan Arga semakin liar mengabsen setiap jengkal kulit perut dan punggung Cheryl. Hingga ia menemukan pengait penutup dua aset berharga milik sang gadis.
Setelah itu, kedua tangan Arga berpindah kedepan membuka satu persatu kancing piyama gadis itu, hingga terbuka lebar. Arga melepas tautan bibir mereka saat dirasa oksigen mulai menipis dari paru-parunya.
Terlihat bibir Cheryl sedikit menebal dan semakin ranum. Arga mengusap bibir itu dengan ibu jarinya. Gadis itu tertunduk dengan rona merah dikedua pipi mendapati tatapan Arga yang begitu mendambanya. Mata yang sudah dipenuhi kabut gairah itu tak dapat disembunyikan oleh Arga.
"Gue gak tau perasaan apa ini? Sekarang yang memenuhi otak gue, cuma lu, lu, dan lu," ungkap Arga. Cheryl kembali mendongak mendengar ungkapan tersebut dengan tatapan tak percaya.
"Apa ...?" Arga menggantungkan ucapannya sejenak, menelisik apa yang ada dipikiran gadis itu. "Lu juga merasakan hal yang sama?" lanjutnya.
Cheryl tersenyum, rona merah dipipi itu kian memerah. "Gue gak tau," cicit Cheryl jujur, dengan menggigit bibir bawahnya.
Arga terkekeh, merasa gemas dengan ekspresi malu-malu Cheryl. "Gimana kalo kita buktikan?" tanyanya. Sontak saja gadis itu menaikan sebelah alisnya tak mengerti.
Arga tersenyum, lalu dengan cepat mengangkat tubuh Cheryl dan membaringkannya diatas ranjang kingsize tersebut. Cheryl memekik kaget karena ulah pria itu.
Belum sempat ia protes, Arga sudah menyambar kembali bibirnya. Membuat ia bungkam dan pasrah berada dibawah kukungan pria yang kini tengah meminta haknya.
"Mmmmhh," Tiba-tiba saja suara Cheryl mendesis, saat bibir Arga berhasil menjangkau ceruk lehernya.
Suara itu bagaikan cambuk yang membuat Arga kian liar. Mengikuti naluri, bibir sexy Arga menjelajah menelusuri setiap jengkal kulit putih Cheryl hingga sampai didua buah bukit bermadu yang digadang-gadang memabukan itu. Tentu ini pertama kali Arga menyentuh bagian sensitif seorang wanita. Meski hubungannya dengan Tania berjalan selama hampir setahun. Namun, dengan pintar wanita itu selalu memperingatkan Arga untuk tau batasan. Tentu, semua itu ia lakukan untuk image yang selama ini ia jaga, yakni menjadi wanita baik-baik dimata keluarga Arga.
"Mmmhhh, Ga!" Suara Cheryl kian melengking, saat Arga tengah bermain didua buah kembar tersebut. Reflek ia mencengkram rambut suaminya itu dengan otak sudah traveling menuju nirwana.
Arga sejenak menghentikan kegiatannya, untuk melepas kaos yang melekat ditubuh atlestisnya. Hawa panas yang menjalari disekujur tubuh membuat ia tak mampu untuk mempertahankan kain tersebut.
Terlihat napas Cheryl yang tampak ngos-ngosan. Dan hal itu memperlihatkan Cheryl yang tampak sexy. Dengan cepat Arga menyambar kembali bibir ranum Cheryl yang kian menggodanya. Ciuman kian liar, pertukaran saliva yang disertai gigitan-gigitan menambah gairah yang kian membuncak. Kedua tangan Arga tak henti memainkan kedua buah yang begitu pas di genggamannya itu.
Dengan cepat Arga dapat melepas celana pendek itu dari kaki Cheryl, menyisakan benda segitiga yang membungkus lebah berambut tipisnya saja. Tak lupa ia pun membuka celana miliknya. Hingga menampakan senjata gondal gandul yang siap betempur.
Kembali, Cheryl menelan salivanya susah payah. Ekspetasi mengenai benda menggantung dan menciut Arga waktu itu, yang pasti besar jika on pun terpampang jelas sekarang. 'Ya ampun pisang Arga beneran besar. Gimana cara si nona melahapnya?' batinnya bergumam sendiri.
Namun, sebelum itu Arga kembali menjelajahi kulit Cheryl. Wajah Cheryl yang nampak cemas, membuat ia berinisaitif untuk kembali membuatnya rileks.
Lenguhan demi lenguhan kembali keluar dari bibir Cheryl. Arga semakin bersemangat menjelajah dibagian perut Cheryl. Hingga bibir itu hampir tiba dibawah perut Cheryl. Pria itu menghentikan aksinya.
Cheryl yang tidak mendapati Arga menyentuhnya lagi, sontak saja tersadar. "Kenapa?" tanyanya kahwatir.
Arga melihat sesuatu yang mengganjal dimatanya. Ia terdiam memikirkan sesuatu. "Apa benar malam pertama itu suka berdarah?" tanya Arga.
Cheryl mengerutkan dahinya heran. "Katanya sih gitu. Kenapa?"
"Bahkan sebelum melakukannya?" tanya Arga lagi.
"Ya ampun!" pekiknya kaget, segera menutupi noda merah disprei putih itu. Arga yang tidak terlalu paham melongo melihat kepanikan Cheryl.
"Kenapa?" tanya Arga bingung, ia hendak melihat kembali noda tersebut. Namun, Cheryl segera mencegatnya.
"Jangan!"
Arga semakin bingung, hingga nampak liptan didahi yang kian kentara. Sebelum Arga kembali berkomentar, Cheryl segera bangkit dari kasur. "Turun!" titahnya.
Namun, otak Arga masih saja ngeleg, tidak bekerja dengan baik. Mungkin karena gairah yang sudah sampai diubun-ubun hingga menutupi kepintaran pria itu.
"Isshh buruan turun!" titah Cheryl.
Dengan terpaksa, Arga pun ikut turun dari ranjang. Segera Cheryl menarik sprei tersebut. Lalu, menutupi bagian depan dirinya dengan kain itu. Ia pun berlenggang untuk memasuki kamar mandi.
"Mau kemana?" tanya Arga bingung.
"Kita gak bisa lanjutin ini," balas Cheryl memasuki kamar mandi.
"Kenapa?"
Cheryl melongokan wajahnya dengan helaan napas kasar. Kemudian ia tersenyum melihat ekspresi Arga yang kebingungan.
"Sorry ... Si nona lagi berdarah. Kita lakukan lain kali ya," jelas Cheryl yang diakhiri senyum dengan menampilkan deretan giginya. Lalu, dengan cepat penutup pintu kamar mandi tersebut.
Arga melongo merasa tak percaya. "Si nona? Berdarah?" tanyanya bermonolog sendiri. Hingga ia pun tersadar sesuatu. Mungkinkah sang istri kedatangan tamu bulanannya?
"Astaga!" pekiknya kaget. "Terus ..." ia melirik pisang tangguhnya yang masih berdiri kokoh. "Ini nasib si jack, gimana?"
"Arrgghh!!!" erangnya frustasi menjambak rambut kasar.
Sungguh tak pernah terbayangkan oleh Arga, ia akan ditinggal pas lagi tanggung-tanggungnya. Ia hanya mampu merutuki si merah yang datang tidak tau waktu.
Hanya helaan napas berat yang keluar dari bibir tampan itu, setelah ia sudah kembali mengenakan boxer dan kaosnya. Arga duduk ditepi ranjang seraya memijit pelipisnya yang berdenyut. Menuggu gadis itu keluar dari kamar mandi.
Ceklek!
Cheryl keluar dari kamar mandi dengan batrhrub melekat ditubuhnya. Arga yang menyadari itu, segera bangkit dan hendak menuju ke tempat itu pula. Namun, Cheryl mencegat lengannya.
"Lu marah?" tanya Cheryl ragu-ragu, saat melihat wajah murung pria itu.
"Nggak!" balas Arga malas.
"Terus?" tanya Cheryl yang masih tak percaya jika pria itu tidak marah. Arga yang mengerti menghembuskan napasnya panjang dengan tangan mengusek pucuk kepala gadis itu.
"Gue mau ke kamar mandi. Lu tidur duluan, jangan tungguin gue!" titahnya lembut.
"Kenapa?"
"Ada yang harus gue tenangin."
\*\*\*\*\*\*