
Mentari sudah bersinar begitu terang. Namun, hal itu tidak membangunkan sejoli yang masih anteng dalam tidurnya. Dering ponsel pun tidak dihiraukan pasangan pengantin tersebut.
"Ya ampun, ini mereka masih belum bangun juga?" kesal mama Chika yang berulang kali tidak mendapat tanggapan dari kedua manusia itu.
"Sudahlah, Ma. Biarin aja! Kita pulang duluan, biar mereka menyusul," balas papa Deril.
"Haduh ini si Key juga. Susah banget dibangunin. Mana besok udah harus masuk kuliah lagi," gerutu Sena, ketika sama tidak dapat menghubungi putranya.
"Ya udahlah, biarin aja mereka. Lagian bukan anak kecil juga. Udah, ayo buruan!" ajak papa Shaka.
Akhirnya mereka memutuskan untuk segera pulang. Meninggalkan sepasang pengantin itu dan juga Key disana. Mengingat hari cuti mereka semua juga sudah berakhir hari itu. Mereka pun harus bersiap, karena besok mereka harus kembali masuk kerja dan kuliah.
Berbeda dengan sepasang pengantin yang masih menikmati masa-masa pengantin mereka, Key justru sengaja tidak ingin segera pulang. Ia masih enggan bertemu dengan para gadis-nya di kampus. Mendadak ia begitu lelah dengan jadwal kencan yang tidak pernah absen setiap harinya.
"Mening gue disini untuk beberapa hari ke depan. Biarlah gue jadi bodyguard si manten," ucapnya santai.
Kini pria tampan itu tengah menikmati kopi dan berjemur didepan kolam renang di balkon kamarnya. Menjadi anak pemilik hotel tersebut, tentu membuat Key memiliki kamar private untuk dirinya sendiri.
Sementara itu, Cheryl sudah terbangun dari tidurnya. Pergulatannya bersama sang suami tadi malam, sungguh menguras banyak energi. "Ga, bangun!" titahnya.
"Hem," hanya gumaman yang keluar dari bibir pria itu yang masih terpejam.
"Aku laper. Cari makan yuk!" ajak Cheryl.
"Pesen aja, suruh anterin ke kamar," balas Arga yang masih enggan membuka mata.
"Isshh, tapi aku pengen makan diluar. Kita cari resto enak, ya, ya!" bujuk Cheryl. Namun, Arga semakin tidak menanggapi.
Pria itu kian terlelap dengan tangan menumpu menutupi mata. Sepertinya pria itu benar-benar kelelahan semalam. Hingga ia sulit sekali untuk bangun.
Cheryl berusaha keras membangunkan pria itu. Dari mulai menggoyang-goyangkan tubuh, menjawil kedua pipi, memberikan alarm ditelinga, membelekkan mata, bahkan menggelitiki perutnya. Namun, semua nihil! Arga tidak terusik sama sekali.
Cheryl berdecak kesal, kala usahanya semua gagal sia-sia. Padahal ia sangat ingin keluar hari ini. Hingga ia pun berfikir sejenak, bagaimana cara jitu membangunkan suaminya itu?
Gadis itu menyeringai saat suatu ide tiba-tiba terbesit diotaknya. "Oke, kali ini ku pastikan kamu akan bangun!" ucapnya.
"Emmmhh, Cher!" lenguhan terdengar begitu saja dari bibir Arga, setelah beberapa detik kemudian.
Pria itu nampak gelisah dan mencoba mengumpulkan kesadarannya. "Kenapa dibangunin?" tanya Arga, namun tak dijawab apapun oleh gadis itu.
Hingga dimenit berikutnya, matanya pun terbuka lebar saat sadar Cheryl tengah membangunkan si jack yang semalaman sudah tepar.
"Ka-Kamu?" tanya Arga tak percaya, melihat Cheryl yang sedang bermain bersama si jack. Tentu ia tidak percaya, Cheryl mau mengem*t si jack yang sebelumnya selalu gadis itu tolak, dengan alasan jijik. Dan sekarang?
Merasa sudah cukup benda keramat itu terbangun beserta tuannya. Tanpa dosa, Cheryl bangkit dan berlenggang begitu saja menuju kamar mandi.
"Tu-tunggu kamu mau kemana?" teriak Arga, saat sadar ia ditinggal begitu saja.
"Mandi. Aku laper!!!" teriak Cheryl dari dalam kamar mandi.
Arga membolakan mata dengan mulut terbuka lebar, menatap tubuh bawahnya. Ia tidak percaya, si jack yang sudah berdiri tegak dengan tega ditinggalkan begitu saja.
"Terus, ini nasib si jack gimana?" teriak Arga frustasi.
"Kamu tidurin aja sendiri!" balas Cheryl dengan entengnya.
Arga menghela napas berat. Ia mengacak rambut frustasi mendengar jawaban itu. Sendiri? Ayolah dibantu si nona pun membutuhkan waktu tidak sebentar. Dan ini harus sendiri?
Tok! Tok! Tok!
"Cher, buka dong pintunya! Bantuin aku tidurin si jack sebentar ya," bujuknya. Namun, tidak ada jawaban apapun dari dalam sana.
"Aku gak bisa tidurin dia sendiri, ya, ya!" Hanya gemericik air yang terdengar dari dalam sana. Dan hal itu membuat hasrat Arga semakin membara.
"Cinta ... Ayo dong! Gak lama kok, bentaran aja. Janji deh!" bujuknya lagi gak mau menyerah.
Namun, bukan mendapat jawaban. Pria itu justru mendapat suara-suara lucknut dari dalam sana. Hal yang membuat Arga kian frustasi. Sementara si pelaku didalam kamar mandi cekikikan tanpa suara. Terlanjur kesal, ia pun sengaja mengerjai suaminya.
"Uhhh, segernya ... Hmmm!!!"
"Ya ampun Cher, tega bener sih. Buka pintunya!" teriak Arga tak henti menggedor pintu tersebut.
'Mampus, emang enak? Siapa suruh bikin kesel?' batin Cheryl cekikikan.
"Honey, baby, sweety ... Ayo dong buka! Masa kamu tega banget sih sama aku?"
'Siapa peduli, sekali-kali kamu kudu dikasih pelajaran. Biar tau rasanya diabaikan!' batin Cheryl merasa puas.
Sementara didepan pintu tersebut. Arga benar sudah frustasi. Berulang kali ia membuang napas kasar untuk menetralkan hasratnya yang kian membuncak.
"Oke, Jack! Tenang, kita fikirin cara lain. Kayaknya nih anak bener-bener nguji kita," gumam Arga berkacak pinggang memicing ke arah pintu.
Beberapa detik berikutnya, ia pun menarik satu sudut bibirnya. "Dikira, aku gak bisa apa?" gumamnya pelan.
"Ehm, Kamu beneran gak mau buka pintu, nih?" teriak Arga.
"Kagak!" balas Cheryl ikut berteriak.
"Oke, kalo gitu. Jangan salahin aku, ya! Aku mau cari LOBANG lain," Sengaja Arga menekan kata lobang, agar sang istri kelabalan.
"What???" pekik Cheryl terdengar shok.
Arga tersneyum. "Nah kena 'kan? Kita hitung, satu .. Dua .. Ti-"
Ceklek!
Benar saja, Cheryl buru-buru membuka pintu kamar mandi setelah mendengar itu. Bahkan, rambutnya yang penuh dengan busa tak ia hiraukan.
"Oh berani lu ya, cari lobang lain? Sini lu, gue-" belum sempat selesai kalimat Cheryl Arga sudah membekap bibir istrinya itu.
Cheryl tidak mengira, jika ia membuka pintu sang suami masih stay disana. Bahkan dengan cepat menyerang dirinya. Meski sempat shok, namun tak ayal gadis itu dapat menyeimbangi.
"Isshh lu ngerjain gue, ya?" kesal Cheryl saat tautan bibir mereka terlepas. Seperti itulah Cheryl, saat kesal hilang sudah bahasa manisnya dan berganti dengan kata cukup kasar.
"Siapa yang ngerjain siapa, hem?" goda Arga mengukung tubuh sang gadis pada dinding. Sontak Cheryl menelan salivanya kuat-kuat melihat mata Arga yang sudah membara.
"Jangan salahin aku, kalo aku gak bisa lepasin kamu!" peringat Arga menyeringai. Lalu, dengan cepat menyambar ceruk gadis itu.
"Arga!" pekik Cheryl
Sejoli itu pun mengulangnya kembali. Seperti tiada habis untuk melakukan aktifitas menyenangkan itu.
\*\*\*\*\*\*