
Sementara itu didalam mobil, Cheryl sibuk sendiri dengan benda pipih ditangannya. Arga yang fokus menyetir, sesekali melirik gadis yang sedari tadi tidak bersuara itu.
"Sepi amat," sindir Arga dengan tatapan masih fokus kedepan.
Cheryl tak menjawab. Gadis itu benar-benar tengah fokus pada benda ditangannya. Terlihat kedua jempolnya, menari lincah diatas layar tersebut.
"Lu lagi chatan sama siapa?" tanya Arga dengan sejuta rasa penasaran menyelimuti hatinya. Entah kenapa ia mendadak kepo dengan kegiatan gadis itu.
Namun, gadis itu tidak juga menyahuti. Hal itu sontak saja membut Arga kesal. "Ck! Selain lemot lu juga berubah t*li, gue rasa."
"Suuutt! Diem," peringat gadis itu memicingkan mata.
Merasa tak terima dengan prilaku gadis itu yang berubah mengesalkan, Arga merampas benda pipih dari tangan sang gadis. Untuk melihat siapa yang membuat gadis itu bertingkah tak memedulikannya. Padahal, baru pagi ini gadis itu berubah manis. Dan sekarang tiba-tiba saja berubah lagi.
"Isshh lu apaan sih?" kesal Cheryl hendak merampas kembali ponsel miliknya. Namun, tentu saja tak diindahkan pria itu.
Arga menghentikan kendaraan roda empat yang mereka tumpangi, ketika ternyata mereka sudah sampai didepan gerbang kampus.
"Gak usah ngeselin deh, Ga! Siniin hape gue," pinta Cheryl terus berusaha menjangkau tangan Arga yang sengaja pria itu jauhkan.
"Gue cuma pengen tau, lu chatan sama siapa," balas Arga bersikukuh tak ingin mengembalikan benda tersebut.
Hingga akhirnya, Arga bisa melihat ruang chat aplikasi hijau yang masih menyala itu. Keningnya berkerut setelah tau siapa yang tengah berbalas chat dengan gadis itu.
"Key?" Arga memperhatikan si pengirim chat itu. Ia pun menolehkan wajah, menatap gadis yang masih berusaha merebut benda itu.
"Lu punya hubungan sama Key?" tanyanya dengan raut wajah tak percaya, bahkan sedikit memerah.
"Apa sih, bukan urusan lu. Sini balikin!" pinta Cheryl lagi.
Entah kenapa hal itu membuat Arga semakin kesal. Ia pun membalikan tubuh untuk berhadapan dengan gadis itu. "Mau lu apa sih? Lu yang buat perjanjian itu, bahkan lu yang minta gue buat mutusin Tania. Dan sekarang, lu sendiri?" cerocos Arga kesal.
"Eh ralat ya, gue gak minta lu buat mutusin cewek lu. Itu 'kan pilihan lu, untuk melangsungkan sandiwara ini. Gue sih gak masalah kalo lu masih mau berhubungan dengan si Tania rafia bermuka dua itu. Tapi konsekuensi lu tanggung sendiri, kalo sampe berurusan dengan papa mertua gue," balas Cheryl lebih nyerocos dari Arga.
"Apa lu bilang?" Arga jelas tak terima kekasihnya dipanggil dengan panggilan itu. Wajahnya mengeras dengan tatapan tajam. Lalu, dengan kuat mencengkram dagu gadis itu. "Jaga omongan lu!" peringatnya.
Cheryl menarik satu sudut bibirnya, ikut menatap mata elang Arga tak kalah tajam. "Kenapa? Lu gak terima? Suatu saat lu bakal tau kebenaran yang selama ini butain mata lu," balasnya dalam hati.
Bukan tanpa alasan Cheryl menyematkan panggilan itu. Isi chatnya bersama Key yang tidak diketahui Arga, adalah pembahasan mengenai prilaku sebenarnya seorang Tania. Key sengaja memberitahu Cheryl untuk membuat rencana memisahkan sepasang kekasih itu.
Cheryl yang baru mengetahuinya tentu merasa kaget. Meski ia suka kesal dengan sikap suaminya itu, namun ia juga tidak bisa membiarkan wanita iblis itu menghancurkan pria yang sayang sudah menjadi suaminya sekarang ini. Apalagi, ternyata sang papa mertua sudah mengetahui semuanya. Sekarang, ia baru paham apa maksud dan tujuan papa Sha untuk membuat Arga lepas dari Tania.
"Ck! Santai aja napa sih?" Cheryl melepaskan tangan Arga dari dagunya.
"Tarik kata-kata lu kembali. Lu gak tau siapa Tania? Kalo lu cemburu, gak perlu juga jelek-jelekin dia!" ucap Arga serius. Tentu ia berspekulasi jika Cheryl tengah cemburu pada kekasihnya. Mengingat sikap gadis itu yang tiba-tiba manis dan sekarang mengesalkan, membuat ia berpendapat jika Cheryl mulai meyukainya.
Cheryl tertawa menanggapi. "Hello! Apa lu bilang? Cemburu? Hadeuh ... Please ya, Ga! Halu lu tuh ketinggian," sergahnya.
Hal itu membuat Arga sedikit bingung. Apa pendapatnya salah? Cheryl mendekatkan wajah, seraya meraih ponsel dari tangan pria itu. Lalu, membisikan sesuatu ditelinga Arga.
Arga terdiam, semakin bingung dengan maksud gadis itu. Cheryl hanya tersenyum manis melihat ekspresi Arga. "Gak usah dipikirin, itu cuma quotes dari mama Jin, gue juga gak tau artinya apa?" kekehnya.
"Dahlah, gue turun disini!" Cheryl bersiap untuk turun di luar gerbang. "Sampai jumpa lagi pulang nanti my hubby!" pamitnya dengan begitu manis dan tarikan dikedua pipi pria itu.
Gadis itu hendak meraih handle pintu, namun ia mengurungkan niatnya dan kembali menatap Arga. "Oh iya, kalo lu keberatan memakai kemeja itu. Lu boleh buka aja. Ntar pulang, lu bisa pake lagi!" titahnya. Tak lupa ia melambaikan tangan dan mengucapkan 'Dadah!' Lalu, gadis itu benar-benar keluar dari mobil.
Arga terdiam sejenak tanpa ingin segera melajukan kembali kendaraannya. Sungguh sikap gadis itu membuat ia bingung. Sebenarnya apa yang ada dipikirkannya? Mungkinkah efek dari kelemotannya itu? Atau ... "Hahh~ lama-lama gue bisa gila," erangnya frustasi sambil memijit pelipisnya yang berdenyut.
Sementara itu, Cheryl terus berjalan dengan pikiran kembali pada percakapan ia dengan Key. Sungguh, ia masih tak percaya dengan ucapan bahkan beberapa bukti foto yang dikirim pria playboy itu.
'Gue gak tau, kenapa harus gue yang nyadarin lu. Tapi, hati kecil gue mengatakan gue harus melakukannya,' batinnya.
**
Jam pelajaran berakhir. Cheryl berjalan melewati beberapa koridor untuk naik ke atas rooftop. Sesuai janjinya dengan Key, mereka akan bertemu ditempat kesukaan pria itu. Hingga ia juga melewati ruang kelas Arga yang berada tak jauh dari tangga. Sekilas, Arga dapat melihat sang gadis melewati kelasnya, ketika ia juga hendak keluar.
'Mau kemana tuh anak?' batin Arga bertanya.
"Sayang, kita jalan dulu yuk! Aku ada sedikit keperluan yang harus dibeli," ajak Tania merangkul lengan Arga. Namun, pria itu tak menanggapi. Ia semakin penasaran kala mengingat kemana arah gadis itu pergi. 'Rooftop, ngapain?'
"Sayang! Arga!" panggil Tania melambaikan tangan.
"Ah, iya. Kenapa?" tanya Arga gelagapan.
"Kamu kenapa sih, kok melamun? Ada masalah?" tanyanya.
"Hem nggak, kenapa?"
"Dari sejak masuk tadi, aku merasa kamu jadi aneh. Seolah menutupi sesuatu dariku. Apa kamu gak mau cerita sama aku?" tutur Tania dengan wajah sendu.
Arga menghembuskan napas pelan. Ia hampir melupakan kekasihnya itu. Ia tidak bermaksud mengabaikannya, namun entah kenapa otaknya tidak dapat bekerja dan fokus memikirkan gadis berisik yang sekarang sudah resmi menjadi istrinya itu.
Istri? Ia kembali ditampar kenyataan untuk segera menjelaskan semuanya pada sang kekasih. Bagaimanapun juga ia tidak ingin ada hati yang terluka. Apalagi sampai sang papa tau, jika ia masih berhubungan dengan gadis itu.
Arga menangkup wajah sang kekasih, hingga ia mendongak. "Maafin aku ya! Aku gak maksud untuk membuatmu sedih," ucapnya.
Grepp!!!
Tania menubrukkan diri, memeluk erat tubuh tegap Arga. "Jangan berubah! Aku mencintamu, Ga. Aku gak mau kehilangan kamu," lirihnya.
Arga memejamkan mata, tangannya terangkat membelai rambut gadis itu. Ia dibuat bimbang dengan keputusan yang akan ia ambil. Tentu akan sangat sulit menyakiti hati kekasihnya itu.
'Ya Tuhan! Apa yang harus aku lakukan!'
\*\*\*\*\*\*
Jangan lupa jejaknya😘😘