My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Sedikit trauma



Setelah selesai dengan urusan rumah sakit, kini Cheryl dan Arga sudah kembali ke hotel. Sementara kedua ibu mereka mengantar terlebih dahulu jenazah wanita korban kecelakaan itu. Korban dinyatakan meninggal karena banyaknya darah yang keluar dari kepala yang terbentur keras.


"Sayang kamu nggak apa-apa?" tanya Oma Rila khawatir, kini seluruh anggota keluarga sudah berkumpul menyambut Arga dan Cheryl di lobby.


"Gak apa-apa, Oma. Aku baik-baik aja," balas Cheryl tersenyum tipis. Bagaimanapun juga gadis itu masih sedikit syok setelah apa yang terjadi hari ini.


"Sebaiknya kita bicarakan lagi ini besok. Cheryl masih butuh banyak istirahat," ucap Arga memberi pengertian.


Semua orang setuju dan membiarkan sepasang pengantin itu untuk kembali ke kamar mereka. Sebelumnya mereka juga sudah mendapat kabar terlebih dahulu dari mama Jingga hingga Mereka pun mengerti keadaannya. Pesta malam pun batal digelar, untung saja pesta tersebut hanya diperuntukkan keluarga saja.


"Kamu istirahat ya!" Arga menaikkan selimut setelah merebahkan tubuh istrinya itu. Lalu, mengecup dalam keningnya.


Pria itu hendak bangkit namun Cheryl mencegatnya. "Ga?!" panggilnya. Arga pun berbalik dan mengurungkan niatnya untuk sebentar ke kamar mandi.


"Hem, kenapa?" tanya Arga membelai pipi cantik Cheryl.


"Aku ... Aku ...." Kembali gadis itu terisak. Bayangan tabrakan itu masih terekam jelas. Saat ia mencoba membangunkannya dijalan itu. Apalagi setelah dokter menyatakan korban meninggal dunia, sungguh hal yang teramat membuat Cheryl ketakutan.


"Suuttt!!!" Arga mendekap kepala Cheryl, mencoba untuk menenangkannya. "Lupain kejadian itu. Kamu berdoa untuk almarhumah, smoga dia diterima di sisi-Nya!" titah Arga.


Cheryl masih belum bisa tenang. Haruskah ia merasa bersyukur, disaat orang lain yang mungkin saja sudah menggantikan takdirnya?


"Semua sudah diatur oleh Tuhan. Tidak akan ada yang bisa menolak Takdir, yang sudah digariskan Tuhan," lanjut Arga menasehati.


Cheryl memeluk tubuh tegap itu. Mencari rasa aman dari suaminya itu. "Jangan tinggalin aku, aku takut!" cicitnya.


"Nggak, aku gak akan pergi. Tidurlah! aku akan menemanimu, hem?" Arga kembali menenangkan, mengecup pucuk kepala sang gadis.


Perlahan, Cheryl pun mencoba memejamkan mata dan melantunkan beberapa doa sebelum akhirnya ia terlelap. Akibat obat tidur pemberikan dokter pula yang membuat gadis itu segera terlelap. Sengaja Arga meminta resep itu, tau pasti hal ini akan terjadi. Pasti membutuhkan cukup waktu untuk Cheryl melupakan kejadian naas itu.


"Tidurlah, Cinta! Mulai detik ini, aku gak akan biarin kamu menghilang dari pandanganku," ucap Arga membelai pipi cantik sang istri.


"Love you!" Sekali lagi kecupan ia layangkan pada kening istrinya itu. Arga ikut memasuki selimut itu, dan mencoba untuk ikut terlelap.


**


"Bagaimana, Dok?" tanya salah satu polisi itu.


"Keadaan kakinya sungguh mengkhawatirkan. Saya tidak yakin dia bisa berjalan kembali," jelas Dokter tersebut.


Para petugas kepolisian itu mengangguk mengerti. "Lalu, kapan dia sadar?"


"Mungkin besok dia baru akan sadarkan diri," balas sang dokter. "Baiklah, saya permisi!"


Tim dokter pun berpamitan pada para polisi itu. Sedangkan para polisi berencana untuk berjaga gilir untuk mengawasi tahanan mereka. Setelah mendapat laporan dari kantor, jika tahanan mereka bukan hanya pelaku tabrak lari. Namun, juga terbukti pelaku pembunuhan berencana. Maka para polisi itu pun harus berjaga lebih ketat.


**


Beberapa jam sebelumnya ....


"Bagaimana?" tanya papa Shaka memasuki kamar Key, bersama sang besan papa Deril.


"Aku udah cek semua Uncle. Chat yang di dapatkan Cheryl itu benar dari nomor Arga, tapi dari ponsel berbeda. Ini artinya, nomor Arga sudah di hack seseorang. Dan saat aku melacak lokasinya, ternyata itu dari ponsel seseorang yang mungkin sekarang sedang sekarat di rumah sakit," jelas Key panjang kali lebar.


"Kurang ajar si Tania. Awas aja gak akan aku ampuni dia," kesal papa Shaka. Papa Deril menepuk pundak besanya itu untuk bersabar.


"Lalu, gimana cctv nya?" tanya papa Deril.


"Ini masih aku selidiki, Uncle. Smoga saja semuanya segera terungkap," balas Key dan diangguki dua pria paruh baya itu.


"Baiklah kita tangkap satu lalat terlebih dahulu. Setelah itu pasti lalat-lalat lainya akan hinggap dengan sendirinya!"


\*\*\*\*\*\*