My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Degup jantung



Hening!


Kedua manusia itu terpaku, dengan bibir saling bertemu. Jangan tanya bagaimana detak jantung mereka? Sudah dipastikan tidak akan baik-baik saja untuk keduanya yang pertama kali melakukan itu. Kedua mata mereka bertemu saling menyelami. Bahkan mereka melupakan akan status 'Musuh' yang mereka sandang.


Ting tong!


Suara bel berbunyi mengembalikan kesadaran mereka. Cheryl yang tersadar lebih cepat, segera mendorong Arga dari atas tubuhnya hingga pria itu terjungkal kesamping. Gadis itu bergegas bangkit, wajahnya tiba-tiba memerah dengan jantung yang masih berdegup tak beraturan. Ia yang biasa mendumel, lebih memilih meninggalkan posisi dan segera berlenggang ke kamar mandi tanpa sepatah kata pun.


Arga menatap kepergian Cheryl dengan jantung yang tak kalah berdegupnya. Satu tangannya meraba bibir yang sempat bertemu dengan bibir sang gadis. Ada gelenyar aneh yang membuat ia sulit menjabarkannya. "Gue kenapa?" gumamnya meraba dada.


Hingga ia tersadar pada suara bel yang kembali terdengar. Segera ia bangkit dan berjalan kearah pintu keluar untuk membukanya. Ternyata itu pelayan hotel yang mengirim makan malam untuk mereka. Arga mempersilahkan pria itu memasuki ruangan mendorong troli yang dibawanya.


"Maaf Tuan, mengganggu waktu anda," sesal sang pelayan merasa sudah mengganggu moment romantis didalam sana.


"Tidak apa-apa. Anda boleh keluar!" titah Arga seraya menyodorkan uang tips pada pelayan tersebut.


"Terima kasih, Tuan." balas pria itu meneriam uang. "Biar saya siapkan dulu, Tuan." sang pria hendak menyiapkan makan malam keatas meja yang tersedia, namun Arga mencegatnya.


"Tidak perlu, keluarlah!" titahnya.


"Emm, baik Tuan," balas pria itu merasa sedikit sungkan, karena merasa belum mengerjakan tugasnya dengan baik.


Arga hanya menganggukan kepala. Sang pelayan yang mengerti segera keluar dari ruangan tersebut. Ia berpikir, mungkin tamunya itu sedang dalam keadaan tanggung. Terlihat tidak ada pasangan pria itu yang entah kemana. Mungkinkah ia benar-benar sudah mengganggu? Mungkin juga sang tamu ingin memberikan hal romatis pada pasangannya, hingga menyuruhnya untuk segera keluar. Pikirnya.


Sementara itu didalam kamar mandi, Cheryl mematung didepan pintu. Ia memegang dadanya yang bergemuruh.


"Kenapa sama gue?" tanyanya bermonolog sendiri. Kemudian, ia meraba-raba wajahnya yang terasa memanas. Lalu, tiba-tiba tangannya beralih pada bibir yang terjamah bibir Arga tadi.


"Ini?" tanyanya, "bibir gue," rengeknya.


Ingin ia marah pada Arga. Namun, entah kenapa ia merasa hal lain. Hingga ia hilang gairah untuk memarahi pria itu. Bahkan rasa itu berubah menjadi rasa malu. Bagaimana ia menghadapi Arga?


"Ishh ngeselin," kesalnya. Merasa tubuhnya lengket, ia pun memutuskan untuk membersihkan diri untuk menghindari Arga. Berendam mungkin akan memakan waktu lama dan ia akan keluar setelah Arga terlelap. Kira-kira seperti itu rencana Cheryl saat ini.


Gadis itu segera mendekati bathtub yang terhalang kaca buram besar sebagai skat. Betapa terkejutnya Cheryl memasuki ruangan tersebut. Aroma memekat memasuki indera penciumannya. Ternyata, bathtub sudah terisi air berwarna putih susu dengan taburan kelopak bunga mawar dan beberapa bunga lainnya yang mengambang diatas air tersebut.


"Huh~ mereka bener-bener totalitas menyiapkan semuanya," lirih Cheryl. "Andai ini pernikahan sesungguhnya, aku akan jadi wanita paling bahagia mendapat ini semua," Lagi-lagi pikiran itu, tiba-tiba saja kembali terbesit dikepalanya.


Hingga ia tersadar kembali. "Ishh, apaan sih gue ini. Dahlah, lebih baik cepat berendam. Kek nya enak nih. Sayang juga 'kan fasilitas kek gini dianggurin," cerocos Cheryl terkekeh sendiri.


Ia pun segera membuka seluruh kain yang melekat ditubuhnya dan mulai memasuki tempat penampungan air itu, yang ternyata masih terasa hangat.


"Uhh nyamnannya," ucapnya memejamkan mata. Tanpa ia sadari, ia sampai terlelap di dalam sana.


Hal itu membuat penghuni kamar merasa aneh, sudah lebih dari satu jam gadis itu belum juga keluar dari sana. Hingga ia sedikit khawatir. Apalagi tak ada kata apapun yang sempat Cheryl ucapkan sebelum memasuki ruangan tersebut.


"Tuh anak ngapapin didalam sana? Apa dia tidur?" tanya Arga bermonolog sendiri. Bahkan ia sendiri sudah berganti pakaian, bahkan sudah bosen menonton televisi.


Ya, tidak ada ponsel dan alat komunikasi yang diberikan orang tua mereka. Tentu hal itu agar mereka terbebas dari dunia luar. Apalagi para orang tua tau, Arga masih berhubungan dengan Tania.


Arga segera bangkit untuk mendekati pintu kamar mandi dan menanyakan keadaan sang gadis. Meski ia sempat tidak ingin peduli. Namun, nasehat sang papa mertua terngiang dipikirannnya. Hingga ia tiba-tiba merasa tak tenang dan memilih untuk memastikan gadis itu baik-baik saja.


Tok! Tok! Tok!


"Chemot!" teriak Arga memanggil. Sekali lagi ia mengetuk pintu itu.


"Chemot! Lu ngapain sih didalam? Lama bener," kesalnya. Namun, tak ada tanda-tanda orang dalam ruangan itu.


"Eh lu gak usah bercanda ya, gak lucu tau gak," Arga mulai terlihat panik kala tak ada sahutan dari dalam sana.


Tak henti, ia terus menggedor pintu tersebut dengan teriakan pula. Namun, hasilnya masih tetap sama.


"Wah, jangan-jangan dia???"


"Brakk!!!"


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa jejaknya gaiss๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜