My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Makan siang



"Ga?!"


"Hem?"


Sepasang manusia itu tengah telentang berdampingan di kasur yang sudah seperti kapal pecah. Bantal bertebaran diatas lantai. Sprei putih pun sudah tidak terbentuk lagi. Mungkin untuk pasangan pengantin itu adalah hal biasa, mendapati kamar berantakan dipastikan semua karena gairah yang membara diantara keduanya.


Namun, bukan hal itu yang terjadi antara dua manusia tersebut. Mereka benar-benar berperang, membuat kamar begitu berantakan. Perang bantal dan guling lah yang dilakukan sepasang pengantin itu. Setelah sekian lama, untuk pertama kalinya lagi mereka bercanda ria seperti demikian. Terakhir mereka melakukan itu saat masih TK dulu. Dan sekarang mereka baru saja kembali ke masa itu.


"Aku laper. Cari makan yuk!" ajak Cheryl.


Arga membalikan tubuh mengahadap sang gadis. "Hem yuk!" balasnya. Namun ia justru mencondongkan wajah mengikis jarak dengan Cheryl. "Makan pisang mau?" godanya.


Cheryl berdecak seraya menahan bibir sexy Arga. "Kamu yang kenyang, aku yang kejang-kejang," celetuknya.


Sontak saja Arga tertawa mendengar kalimat nyeleneh dari istrinya itu. Sepertinya godaan itu tidak mempan untuk seorang gadis yang tengah kelaparan. Tak tega juga, Arga pun segera bangkit dan mengulurkan tangan padanya. Namun, Cheryl masih kesal tak menanggapi. Bibir ranum itu mengerucut menambah wajahnya yang kian kusut.


"Ayo! Mau makan, apa dimakan?" tawar Arga.


Meski dengan decakan, tak ayal gadis itu meraih tangan Arga. Lalu, bangkit dari posisinya. Arga mengusek gemas rambut Cheryl yang berantakan. Hingga siempunya semakin merengek. Namun, Arga hanya menjauh tanpa dosa untuk meraih ponsel miliknya.


"Ini mereka lagi makan siang di resto outdoor. Kita disuruh nyusul." Arga membaca isi chat dari orang tua mereka yang ternyata sudah menunggu.


"Hem, dimana?" tanya Cheryl seraya menyisir rambutnya.


"Ada dibawah," balas Arga. Cheryl hanya mengangguk beroh ria menanggapi.


Ia memang belum tau tempat ini. Apalagi saat sampai tadi, mereka memutuskan untuk segera ke kamar.


"Ya udah, buruan siap-siap!" ajak Arga meninstruksi. Sejoli itu pun bergegas bersiap untuk bergabung makan siang.


**


Sementara itu acara makan siang sudah mulai diadakan diluar ruangan terbuka itu, dengan menikmati suasana dan pemandangan menuju pantai yang tak jauh dari hotel tersebut.


"Selamat siang semuanya!"


Pekikan seorang wanita mengalihkan atensi mereka. Nampak tiga orang wanita dan dua orang pria menghampiri.


"Ahhh Onty Feby ... Akhirnya datang juga," pekik Sena.


Wanita tua yang masih segar itu tersenyum menghampiri. "Iya dong! Maaf ya, kita baru nyampe," balas Feby.


"Iya, gak apa-apa, Onty. Oh ya, Riska mana?" Mama Jingga berdiri menyambut tamunya itu.


"Nah ini si biang keroknya. Katanya disuruh nungguin, eh ternyata dia gak jadi ikut. Ada problem sedikit katanya. Euhh ngeselin, emang!" gerutu wanita yang masih cantik itu.


Mama Jingga hanya tersenyum, begitu pun orang-orang disana yang sudah tertawa menyambut cerocosan wanita itu.


"Ya udah, yuk Onty! Semuanya kita duduk, kita makan siang bersama," ajak Mama Chika yang ikut mendekat menyambut keluarga Feby.


Mereka pun akhirnya ikut duduk bergabung dimeja yang sudah disediakan. Berhubung begitu banyaknya orang, jadi mereka pun terpisah dibeberapa meja.


"OMG!" cicit Ara menutup mulutnya sendiri.


Zea yang kebetulan duduk disamping Ara mendengar gumaman gadis itu. "Kenapa?" bisiknya bertanya heran.


"Ternyata Om itu ...." cicit Ara berwajah pucat, dengan tatapan mengarah pada orang-orang yang baru bergabung disana.


Sontak Zea mengikuti arah tatapan Ara, hingga tertuju pada seorang pria dewasa. Sebentar gadis itu bingung, namun didetik berikutnya ia membolakan mata. Saat sadar itu adalah orang yang memenuhi otak Ara akhir-akhir ini.


Saat bertemu kemarin, ia benar-benar tak menyadari itu. Belum lagi mereka bertemu entah berapa tahun yang lalu. Mungkin hanya saat mereka masih kecil saja. Jarak mereka yang jauh memanglah membuat mereka hampir melupakan satu persatu orang-orang dikota itu.


Tubuh Ara merosot, gairahnya seketika sirna saat mengetahui pria yang ia kagumi, adalah orang yang ia kenal. Bahkan, apa yang dikatakan Zea benar. Bahwa, mungkin saja pria itu memiliki anak seusia mereka.


"Udah lupain aja! Nanti kita cari yang bening-bening, hem!" ucap Zea menyemangati.


Ara hanya mampu menghembuskan napas pasrah. 'Nasib-nasib kenapa juga om tampan itu harus jadi uncle Iky?' batinnya merutuki.


Dimeja yang sama, tatapan Al juga berfokus pada meja dengan orang-orang baru itu. Ia menyunggikan senyum melihat salah satu gadis disana. Begitu juga gadis dari meja tersebut. Ia menjadi salah tingkah ditatap seperti itu.


'Astaga, apa Al lagi lihatin gue?' batin Reysa bertanya sendiri.


'Please, jangan lihatin gue terus! Gue bisa pingsan disini,' gumannya masih dalam hati.


Ia berdehem untuk menteralkan dirinya. Mencoba mengatur napas untuk terlihat biasa saja.


'Apa gue sapa duluan ya?' batinnya bertanya lagi. 'Ah iya, mening gue sapa aja!'


Tidak ingin menyianyakan itu, pelan-pelan Reysa mengangkat tangan, melambai kearah Al. Senyum mengembang dilemparkan Reysa untuk pria pujaannya itu. Namun, senyuman itu perlahan hilang, saat tidak ada respon apapun dari Al. Hingga ia menyadari satu hal, pria itu bukan tengah menatapnya. Tapi, kemungkinan seseorang yang berada disampingnya. Ia pun menjatukan tangannya dan mengikuti arah mata Al.


Deg!


Benar, Al tengah memperhatikan saudari kembarnya, Rayna. Bukan dirinya. Meski sepertinya Rayna tidak menyadari itu, tapi Reysa yakin, tatapan Al mengarah pada gadis disampingnya itu.


Seketika hatinya terasa tertusuk beribu duri. Saat ia terlampau percaya diri, kenapa alur yang ada tidak sesuai harapannya? Kenapa Al lebih memperhatikan saudari kembarnya, dari pada dirinya?


"Rey, kamu kenapa?" tanya oma Feby. Sontak atensi orang-orang yang tengah fokus makan mengarah pada gadis itu.


Begitupun Rayna, gadis itu menatap aneh pada Reysa yang berkaca-kaca. Lalu, atensi gadis itu itu tidak sengaja menangkap netra seseorang yang tertuju padanya.


'Ngapain, cowok itu terus natap gue?' batin Rayna kesal. Segera ia menggulirkan mata memutus tatapannya pada Al.


"Aku gak apa-apa, Oma!" balas Reysa berusaha baik-baik saja.


"Kamu sakit?" tanya papih Rizky yang ikut khawatir.


"Nggak, Pih! Gak apa-apa," elak Reysa tersenyum.


"Isshh, kamu pasti mabuk pesawat ya?" celetuk oma Feby meledek, hingga membuat kedua pria itu tertawa.


"Apaan sih, Oma. Nggak!" elak Reysa tak terima.


Namun, berbeda dengan Rayna. Perhatian dan ke khawatirkan semua orang terhadap saudarinya itu sungguh membuat ia kesal.


Krett!!!


Gerakan kursi mengalihkan atensi mereka, hingga oma Feby pun bertanya. "Kamu mau kemana Ray?" tanyanya.


"Toilet!" balas Ray singkat.


Tanpa menunggu jawaban, gadis itu sudah berlenggang begitu saja. Semua orang disana hanya mampu menghembuskan napas panjang. Mereka semakin bingung, semakin hari sikap gadis itu semakin dingin.


'Apa lu juga menyukai Al, Ray?'


\*\*\*\*\*\*