
"Kalian?"
Suara mama Chika memekik, hingga berhasil membuat sepasang manusia itu terlonjak kaget. Keduanya saling tatap dan tersadar sesuatu.
"Aaa!!!"
Lagi-lagi Cheryl memekik seraya menutup dada dengan tangannya. Tanpa segaja, ia menendang barang berharga milik Arga dengan lututnya. Seketika Arga bangkit seraya memegang si jack-nya yang terasa ngilu.
"Ssstt, aww!! Lu gila ya?" ringis Arga tak henti memegang benda itu yang seperti takut kabur.
Segera Cheryl bangkit seraya memebenahi handuknya untuk menutupi dua buah bukit kembarnya. "Lu yang gila! Ngapain lu dikamar gue? Mau buat mesum lu ya?" sungutnya tak terima.
"Ssstt, lu bener-bener ya? Lu sengaja 'kan mau bunuh gue?" Arga masih meringis menahan ngilu yang tak kunjung hilang.
"Lu pikir gue psycopat apa? Dasar mesum," umpat Cheryl kesal.
Keduanya bahkan melupakan ibu mereka yang kini tengah menonton drama mereka diambang pintu. Hembusan napas kasar terdengar dari kedua wanita paruh baya itu dengan pikiran yang sama. Akankah rumah tangga mereka berhasil?
"Ya udah kak Jin, sepertinya pernikahan tidak jadi minggu depan," celetuk mama Chika.
Sontak saja sepasang manusia itu senyap dengan menoleh serentak. Tentu saja dengan pemikiran yang sama.
"Yang bener Ma? Gak jadi nikah minggu depan?" tanya Cheryl dengan antusias, mewakili pertanyaan Arga pula.
Dan diangguki mama Chika dengan mantap. Sementara mama Jingga hanya menaikan sebelah alisnya tak mengerti.
"Yeyy!!! Gak jadi nikah," teriak Cheryl jingkrak-jingkrak. Begitupun Arga senyumnya mengembang sempurna mendengar hal itu. Terlalu senang membuat Cheryl lupa dan memeluk Arga, hingga keduanya berjingkrak bersama, persis anak kecil yang memenangkan lotre.
Mama Jingga menepuk jidatnya melihat kelakuan sepasang anak muda itu. Mama Chika menyeringai dan berdehem keras, hingga kedua manusia itu tersadar dan segera saling melepaskan.
"Pernikahan dibatalkan minggu depan. Dan akan digelar besok pagi," celetuk mama Chika tanpa beban.
"Apaa????" sepasang manusia itu membelakak kaget. Dagu mereka terjatuh dengan otak yang tiba-tiba ngeleg.
"Yapsss! Pernikahan kalian udah didaftarin dari minggu kemarin, jadi tinggal sah aja. Masa tinggal sah kudu nunggu minggu depan. Besok Mama pikir oke. Apalagi lihat kalian yang kayaknya udah gak tahan buat bikin cucu untuk kita," cerocos mama Chika diakhiri nada ledekan akan kelakuan keduanya tadi.
Arga dan Cheryl saling lirik, hingga mengingat kejadian tak menguntungkan mereka beberapa saat yang lalu. Membuat keduanya bergidik jijik dengan guliran mata malas secara serempak sudah melakukan kebodohan itu.
Mama Chika tersenyum sumringah melihat keduanya yang terlihat so sweet menurutnya. Ia yakin, kebencian yang ditunjukan mereka, adalah salah satu kasih sayang tersembunyi dari mereka. Begitupun mama Jingga, ia terkekeh disertai gelengan kepala. Ia hanya bisa berdoa, jika mereka benar-benar berjodoh seperti yang sudah Tuhan siapkan.
"Sudah, ayo pulang!" ajak mama Jingga merangkul lengan sang putra. "Nanti lanjut besok malam lagi," ledeknya yang melihat keduanya hanya mematung tak menimpali.
"Bentar, bentar! Bentar dulu Ma," Arga menghentikan gerakan sang mama, setelah kesadarannya pulih kembali.
"Ma-maksudnya, ki-kita nikah besok?" tanya Arga memastikan dan diangguki mama Jinggga. "Tapi Ma,"
"Gak ada tapi-tapian. Kelakuan kalian sudah diluar batas. Kita sebagai orang tua gak bisa menanggung dosa kalian," sela mama Jingga.
"Tapi, Ma. Kita gak ngapa-ngapain. Tadi tuh kita cuma-" belum selesai penjelasan Arga mama Chika sudah menyelaknya.
"Apa?" sela mama Chika. "Kalian pikir kami bodoh apa? Kalian bisa saja melakukan lebih, jika kita gak segera datang." lanjutnya memojokan.
"Ck!" Arga berdecak kesal, hingga ia melihat Cheryl yang seperti tengah mengingat sesuatu. "Lu jangan diem aja dong! Bela diri kek," kesal Arga menatap sinis pada Cheryl.
Ya, seperti itulah kelemotan seorang Cheryl. Pantas saja Arga memanggilnya Chemot, yang berarti Cheryl lemot. Bukan Chimut Cheryl imut seperti yang orang tua mereka sematkan.
"Ck! Dasar lemot. Au ah susah ngomong sama lu," kesal Arga berlenggang terlebih dahulu meninggalkan kamar Cheryl.
"Pokoknya, aku gak mau nikah sama chemot. Titik!" teriak Arga dari luar kamar.
"Siapa juga yang mau nikah sama lu, penghuni kebun binatang, mesum lu!" balas Cheryl tsl kalah berteriak.
"Bodo amat!" balas Arga masih juga berteriak semakin menjauh.
Cheryl mendumel seiring hilangnya suara Arga yang mungkin sudah sampai lantai bawah. Kedua ibu itu terkekeh geli melihat tingkah kedunya yang sangat lucu. Hingga mama Jingga berpamitan untuk pulang juga. Ia juga berpesan untuk mempersiapkan segalanya pagi nanti.
"Ma, Mama bercanda 'kan? Mau nikahin aku sama Arga besok?" tanya Cheryl yang baru menyadari topik utama dari percakapan mereka.
"Ya nggaklah, ngapain bercanda. Seriusin aja," celetuk mama Chika sekenanya.
"Isshhh Mama! Aku gak mau. Aku gak mau nikah sama Arga," tolak Cheryl kesal.
"Terus, kamu gak mau nurutin kemauan opa?" sela mama Chika.
"Ya, ya ...." Cheryl nampak kebingungan dan hal itu tak disia-disiakan mama Chika untuk memojokannya.
"Kamu yakin, gak mau dinikahi Arga. Bahkan tadi kalian hampir saja ...." Mama Chika menggantungkan ucapannya.
"Isshh apaan sih, Ma. Aku sama Arga gak ngapa-ngapain," selanya dengan pipi tiba-tiba memerah. Ditanya hal sensitif seperti itu membuat Cheryl gelagapan.
"Tapi tadi tubuh kamu udah terpampang jelas dimata Arga. Masih mau ngelak," sela mama Chika.
"Ck au ah, aku mau ganti baju. Mama buruan keluar," usir Cheryl mendorong sang mama keluar kamarnya. Meski sang mama misuh-misuh masih ingin membahas itu, namun tak didengar Cheryl yang sudah pusing.
"Aaakkhh bodo amat!"
Gadis itu berteriak kesal seraya berjalan menuju lemari pakaian. Bagaimanapun juga ia harus segera membungkus tubuhnya yang seharusnya mulai menggigil, kini justru kembali terasa gerah. Ingin sekali ia kembali berendam, namun itu tidak akan memungkinkan untuk kesehatannya. Hingga ia memilih untuk berganti pakaian dan tidur. Mengharapkan besok akan ada keajaiban untuk pernikahan itu tidak terlaksana.
Begitupun Arga, setelah mendapat ceramah panjang kali lebar dari sang papa, akan tanggung jawab dirinya sebagai lelaki karena sudah berani memasuki kamar gadis dan hendak berbuat tidak-tidak, membuat pria itu frustasi setengah hidup. Rencananya untuk bernegosiasi dengan sang gadis, justru membawa petaka yang membuat ia semakin terpojok. Hingga ia semakin sulit untuk mengelak.
"Aakkhhh sialan!" umpatnya kesal.
Ditengah kekalutannya, tiba-tiba saja suara notif pesan terdengar dari ponsel miliknya.
Tania
[Besok jemput aku ya!]
Hembusan napas kasar terdengar dari bibir pria tampan itu. Bagaimana ia akan menjelaskan semua ini pada sang kekasih? Ia tidak berani untuk sekedar membalas chat tersebut, apalagi memberitahu hal yang pastinya akan membuat kekasihnya itu terluka.
"Maafin aku, Tan!"
\*\*\*\*\*\*
Jangan lupa jejaknya yaa gaisss😘