My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Rasa nyaman



"Eemmmgh"


Arga bergumam kecil, merasakan kepalanya yang terasa berat. Ia tersadar saat satu tangannya terasa hangat. Lalu, atensi pria itu tertuju pada seseorang yang kini terlelap disampingnya.


Lengkung senyum terukir dari bibir pria itu, mendapati Cheryl yang ternyata sudah menjaganya. Saat tau tangan gadis itu yang ia genggam, ia pun tak ingin melepaskannya.


'Entah apa yang terjadi sama gue? Hingga gue bisa melakukan hal sebodoh ini?' kekehnya dalam hati.


Pria itu bingung dengan dirinya. Rasa ingin melindungi terselip dalam hatinya terhadap gadis itu. Padahal ia tau betul konsekuensi mempertaruhkan diri melakukan itu. Ia tau tidak akan terjadi apapun pada Cheryl yang memang ahli berenang. Namun, rasa khawatir membuat ia menjadi bodoh dan lupa segalanya.


'Apa karena lu istri gue? Atau perasaan benci gue udah hilang?' tanyanya dalam hati seraya merapihkan anak rambut gadis itu.


Cheryl menggeliyat, Arga sedikit terkejut takut-takut seperti pagi tadi yang tiba-tiba saja snag gadis membuka matanya lebar-lebar. Namun, tanpa diduga, Cheryl tidak bangun sama sekali. Gadis itu justru semakin menyusupkan kepala pada ketiak Arga dengan tangan memeluk tubub tegap Arga.


Deg!


Perasaan aneh kembali menyeruak dihati Arga. Degup jantung yang semakin kencang dan menggelitik membuat senyum Arga semakin mengembang. Ia pun membalas mendekap tubuh mungil itu. Hingga rasa hangat dan nyaman memonopoli rasa berdebar dihatinya.


'Harus gue akui, rasa benci gue hilang entah kemana. Yang ada sekarang hanya rasa nyaman dan ingin melindungi. Mungkinkah memutuskan Tania adalah hal yang tepat? Lalu, apa lu mau memulainya bersama gue?'


Arga mengeratkan pelukannya untuk terlelap bersama gadis halalnya itu. Rasa nyaman itu sungguh membuat ia dengan cepat mengarungi dermaga mimpi. Bahkan, ia tidak menyadari sang mama mertua memanggil mereka.


**


Pagi menyapa, sejoli itu benar-benar melewati acara makan malam yang seharusnya mereka hadiri. Namun, entah senyaman apa tidur mereka, hingga melupakan semua itu.


Cheryl menggeliyat bangun, dengan posisi yang sama. Ia sedikit terkejut menyadari tidur didalam dekapan Arga. Namun, ia kembali mengingat keadaan pria itu. Segera ia mengecek suhu tubuh Arga, menempelkan punggung tangan didahi suaminya itu.


"Syukurlah, demamnya udah turun," ucapnya diiringi hembusan napas lega.


Tanpa Cheryl ketahui ternyata Arga pun menyadari itu. Namun, ia tidak ingin merusak suasana manis itu. Ia hanya tersenyum dalam hati dengan mata yang masih ia pejamkan.


"Ya ampun! Jam berapa ini?" Gadis itu menoleh melihat keadaan yang terang benderang.


"Hah~ syukurlah, masih sore," ucapnya tedengar lega. Namun, hal itu tentu saja membuat Arga ingin sekali tergelak.


Tentu ia tau, hari sudah berganti. Namun, gadis itu tak menyadarinya. Hingga dengan susah payah pria itu menahan tawa yang hampir saja meledak.


"Sebaiknya gue segera bangun. Takut mereka sudah siap," Cheryl hendak bangkit, namun tawa Arga pecah juga.


Pria itu tegelak membuat gadis itu sedikit terlonjak dan kembali melihat pria itu. "Isshh lu ngerjain gue ya, pura-pura masih tidur lagi?" kesal Cheryl memukul dada Arga.


"Isshh diem lu, ngeselin!" ia tak henti memukul dada pria itu. Merasa malu, karena dipastikan Arga tau yang ia lakukan barusan.


Arga mmeghentikan tawanya seraya menangkap tangan gadis itu. "Maaf!" ucapnya.


"Au ah!" balas Cheryl melengos memalingkan wajahnya yang kemungkinan memerah.


Arga meraih pipi cantik itu untuk bersitatap dengannya. Hingga mata keduanya benar-benar bertemu. "Maaf, gue udah bikin lu jatuh. Dan makasih lu udah mau merawat gue," ucap Arga tulus.


Deg!


Ini adalah hal manis pertama yang dilakukan Arga pada gadis itu. Hingga sukses membuat sang gadis terpaku dengan hati berdebar tak karuan. Sentuhan lembut di pipinya dari Arga membuat ia benar-benar tak berkutik.


Mata mereka kian mengunci. Arga mendekatkan wajah, rasa ingin menyesap bibir sang gadis tiba-tiba kembali terbesit dipikirannya. Hingga dengan berani ia benar-benar menyambar benda kenyal itu. Mata pria itu reflek terpejam, menikmati kelembutan dari bibir ranum yang selama ini selalu membuat ia kesal. Bibir yang selalu mengajaknya beradu argumen. Ternyata bibir itu begitu memabukan pula untuknya.


Rasa benci yang selama ini tumbuh diantara mereka sirna seketika. Ego yang selama ini membentengi runtuh dengan rasa nyaman dan ingin tau satu sama lain. Permainan bibir yang awalnya lembut kian menuntut. Membangkitkan sesuatu yang selama ini selalu mereka hindari. Arga bergerak mengukung gadis itu tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Memeluk tubuh mungil itu hingga tubuh mereka merapat, memberi sengatan yang luar biasa. Bahkan, inti sejoli mereka bertemu dengan keadaan yang sama-sama tegang.


Arga melepas tautan mereka, ketika dirasa oksigen sudah mulai menipis dari rongga paru-paru mereka. Mata keduanya kembali bertemu dengan napas tersenggal.


Hingga suara dering ponsel mengalihkan atensi mereka. Segera Cheryl tersadar seraya mendorong tubuh pria itu dari atas tubuhnya. "Gu-gue, gue ke kamar mandir dulu," pamitnya dengan gugup tanpa melihat wajah Arga.


Segera gadis itu ngibrit memasuki kamar mandi. Arga tersenyum, kemudian meraba bibir dengan ibu jarinya. Tak menyangka ia bisa melakukan semua itu. Hingga ia tersadar pada ponselnya yang berbunyi nyaring.


"Tania?" gumamnya. Arga menghembuskan napas panjang. Ia melupakan satu hal yang belum ia selesaikan.


"Hallo!"


"Baiklah, tunggu aku di Kafe biasa!" Arga pun menutup panggilan tersebut. Mungkin inilah saatnya ia memperjelas semuanya dengan Tania. Ia tidak ingin menyakiti lebih jauh kekasihnya itu.


**


"Kok, sepi. Pada kemana?" tanya Cheryl kebingungan kala dapur begitu sepi dan juga rapi. Ia tidak melihat siapapun disana. Bahkan, ia masih belum menyadari hari sudah berganti.


Gadis itu berjalam mencari orang diberbagai ruangan, namun nihil tidak ada siapapun. Hingga ia melihat Arga yang sudah rapi berjalan kearahnya.


"Ga, orang-orang pada kemana ya? Kok, sepi?" tanyanya kebingungan.


Arga tersenyum merasa lucu. "Emang lu gak lihat jam?" tanyanya dan dibalas gelengan gadis itu.


Arga yang gemas mengusek pucuk kepala sang gadis. Cheryl hanya berdecak kesal dengan perlakuan suaminya itu. Lalu, Arga memutar tubuh sang gadis melihat jam dinding dibelakang tubuhnya. "Lihatlah! Ini jam berapa?" tanyanya.


Seketika mata Cheryl membola. Sungguh ia shok bukan main. "Whaatt?!" pekiknya. "Jadi, ini udah pagi?" tanyanya tak percaya.


"Makan malam udah lewat. Sekarang waktunya kita sarapan," jelas Arga.


Cheryl menggela napas berat, merasa tak percaya ia bisa melewati acara makan malam tersebut. Dan bagaiman mungkin ia sampai terlelap begitu lama?


Arga yang mengerti segera merangkul gadis itu. "Udah, ayo kita sarapan!" ajaknya menggiring tubuh sang gadis menuju dapur.


Ia mendudukan Cheryl yang masih merasa kebingungan dikursi meja makan. Lalu, ia mengambil roti untuk mereka sarapan dan mengolesinya dengan selesai.


"Habis sarapan, gue mau nemui dulu Tania. Gak apa-apa 'kan?" izin Arga. Seketika Cheryl mendongak, merasa aneh dengan ucapan pria itu.


"Lu minta izin sama gue?" tanya Cehryl tak percaya.


"Hem, kenapa? Gak boleh?" bukan menjawab Arga justru balik bertanya.


Cheryl yang masih merasa aneh, berdiri dan mendekat kearah Arga. Lalu, punggung tangannya kembali mengecek suhu kening pria itu. "Lu baik-baik aja 'kan?" tanyanya khawatir.


Arga tersenyum, melepas pisau pengoles selai kedalam wadahnya. Kemudian, meraih tangan gadis itu untuk ia genggam.


"Gue baik-baik aja. Bukankah sudah seharusnya, seorang suami meminta izin pada istrinya?"


Deg!


\*\*\*\*\*\*


Ayo jejaknya gaiss jangan lupa😘