
Brukkk!!!
Arga melempar selimut keatas tubuh Cheryl yang terekspos. Sontak saja hal itu membuat gadis itu gelagapan. Ia yang masih berlayar di samudera mimpi, harus terbangun karena benda yang tiba-tiba menindih tubuhnya.
"Astaga, gempa! Ada gempa," pekik Cheryl bangkit dengan napas terengah-engah.
Tanpa basa basi, Arga berlenggang begitu saja menuju kamar mandi. Ia tidak ingin gadis itu sampai tau, jika senjata kebanggaannya sudah kembali berdiri tegak.
"Gila, itu cuma paha burik. Napa lu mesti bangun, sii?" gerutu Arga kesal pada senjata yang menjulang hampir menembus celananya itu.
Sungguh, itu sangat membuatnya kesal. Hanya karena melihat bagian tubuh gadis itu saja, bagaimana bisa membuat senjatanya berdiri sempurna?
"Nggak! Nggak! Nggak mungkin, ini gak ada hubungannya sama dia," sangkalnya. "Iya, bener. Bukan karena dia," lanjutnya meyakinkan.
"Ini karena, ini karena," Arga mencari-cari alasan untuk dirinya sendiri.
"Karena gue kebelet. Iya, gue kebelet!" finalnya mendapat alasan yang logis. Hingga ia pun segera menuju kloset untuk menuntaskan hajatnya.
Sementara itu di atas ranjang, Cheryl masih duduk kebingungan saat menyadari pintu kamar mandi yang tiba-tiba tertutup keras. "Tuh anak kalo bangunin gak kira-kira ya, kalo gue jantungan gimana? Dasar gak ada akhlak. Udah gitu, nyelonong gitu aja tanpa dosa. Aisshh lakik kok gak ada manis-manisnya," gerutunya kesal.
"Oh iya, aku lupa. Dia 'kan penghuni kebun binatang. Mana punya adab sopan santun," lanjutnya meledek.
"Bodo amat dah. Gue masih ngantuk. Sepuluh menit lagi, enak kali ya?" Gadis itu kembali merebahkan diri dan menutupi tubuhnya dengan selimut hingga menyisakan kepala saja yang terlihat. Lalu, kembali memejamkan mata.
**
"Ck! Sialan, kenapa ini? Euurrggh," umpat Arga kesal, kala senjatanya tak kunjung kembali ke bentuk semula. Walaupun ia sudah mengeluarkan banyak air seninya, namun tetap saja tak membuat benda itu kembali tenang.
"Oh ayolah, Ga! Ini memalukan, masa gara-gara?" Arga menghentikan ucapannya dan kembali mengumpat. "Ouhh ****!!"
Tentu ia tak ingin mengakui bahwa sebenarnya itu gara-gara melihat tubuh Cheryl. Gengsi sekali, jika ia harus mengakui itu. Dengan terpaksa ia harus kembali menenangkan senjata kebanggaannya yang sudah mulai nakal.
Beberapa menit kemudian, Arga selesai dengan aktifitasnya di dalam kamar mandi. Ia keluar setelah berpakaian lengkap. Tentu ia tak mau kejadian semalam terulang kembali. Ia mendekat ke arah gadis itu, ada hal aneh yang belum sempat ia tanyakan. Hingga ia teringat pakaian yang digunakan gadis itu.
"Shh**t!!" Ia tarik selimut sang gadis, dan benar saja. Ia baru menyadari jika bajunya sudah menempel ditubuh Cheryl. Kejadian semalam sungguh membuat ia lupa akan apa yang terjadi.
"Heh, Chemot bangun!" titahnya. Hanya gumaman yang terdengar dari bibir gadis itu.
"Lu bener-bener ya? Bangun gak!" ancamnya, namun tak berlaku apa-apa untuk gadis itu.
"Lu ngapain pake barang gue, hah? Itu baju gue, lepas gak?" omelnya menarik selimut yang hendak ditarik kembali oleh Cheryl.
"Isshhh berisiik!!!" kesal Cheryl dengan mata yang masih tertutup rapat dengan tangan yang masih memepertahankan selimut tersebut.
"Lu tu ya? Bangun gak?" ancam Arga lagi.
"Gak mau, gue masih ngantuk!" tolak Cheryl.
"Gue bilang bangun!" titahnya lagi semakin tegas.
"Nggak!"
"Oke," Arga menghentikan aksinya untuk merebut selimut itu. Hingga Cheryl menutup kembali seluruh tubuhnya dengan kain itu.
"Kalo lu gak mau bangun. Gue akan paksa buat nelanjangin lu," ancam Arga tidak main-main.
Seketika Cheryl bangkit membuka selimutnya seraya berdecak kesal. "Ck! Gak lucu lu tau gak?" kesalnya.
Arga tersenyum menang. Mana berani dia berbuat seperti itu. Ternyata gertakannya mampu melumpuhkan lawan juga. "Gue emang gak lucu, tapi gue tampan," balas Arga dengan percaya dirinya.
"Udah, gue tanya sekali lagi, kenapa lu pake baju gue, hah?" tanya Arga masih penasaran.
"Itu ..." Cheryl menggantungkan ucapnnya bingung harus mebjawab apa? Haruskah ia jujur?
Arga menaikan alis seolah meminta penjelasan. Hingga Cheryl kembali berdecak kesal. "Kenapa mesti dibahas sih?" tanyanya yang membuat Arga bingung.
"Itu ... Itu gue kepaksa," lirihnya pelan.
"Hah?!" Antara tak terdengar dan salah dengar masuk ke telinga Arga.
"Gue, koper gue ..." balas Cheryl menunduk ragu.
"Ck! Gak jelas lu," Arga berlalu menuju koper Cheryl untuk memastikan alasan gadis itu yang tak jelas menurutnya. Lalu, tanpa aba-aba membukanya.
"Eh, lu ngapain?" tanya Cheryl gelagapan. "Jangan!" cegatnya. Namun, sayang! Arga terlanjur membuka benda itu. Bahkan merentangkan salah satu kain yang sempat Cheryl lihat semalam. Hal yang sukses membuat Arga menganga menatap kain tersebut.
Gadis itu menghela napas panjang. Malu? Jangan ditanya! Namun, ia bingung harus menjelaskannya. "Itu ... si Mama," hanya kalimat itu yang mampu ia lontarkan.
Kini sejoli itu semakin menyadari rencana kedua orang tua mereka. Keempatnya begitu apik merencanakan itu semua.
Arga menghembuskan napas panjang. Tentu ia mengerti kenapa Cheryl berani menyentuh barangnya. "Sekarang lu segera bersihin diri lu, terus kita sarapaan. Habis itu kita beli keperluan lu," finalnya mengalah.
Tanpa protes, Cheryl hanya menganggukan kepala dan segera bangkit menuju kamar mandi. Sedangkan Arga kembali melihat kain-kain itu dan menghembuskan napas kasar disertai gelengan kepala.
"Sepertinya mereka benar-benar ingin bunuh gue!"
**
"Dimana Arga?" Tanpa basa basi Tania menghampiri Key yang tengah duduk disalah satu meja kantin.
Pria tampan itu tersenyum menanggapi. "Gue gak salah denger?" bukan menjawab ia justru bertanya balik.
"Gue gak bercanda, dimana Arga?" tanya Tania lagi. Suara wanita itu terdengar tegas dan serius.
"Harus nanya gue? Bukannya lu yang lebih tau?" tanya Key lagi dengan mulut tak henti mengunyah permen karet. Tentu terselip seringai diakhir ucapan pria itu.
"Arkeyano!" tegas Tania dengan suara pelan, namun mata menyalak tajam.
Key tertawa meledek. Bagaimana mungkin satu wanita memiliki begitu banyak muka? Sungguh menjijikan! Pikirnya.
"Apa baby?" tanya Key santai. Ia berdiri untuk menatap wanita itu. Hingga keduanya saling menatap dengan mata sama-sama mengandung ancaman.
Key mendekatkan wajah pada telinga wanjta itu. "Lu gak perlu galak-galak gitu, semua orang bisa tau siapa lu sebenarnya," bisik Key yang terdengar sebuah ancaman.
"Jangan main-main sama gue!" peringat Tania pelan, namun penuh penekanan.
Key kembali tersenyum meledek. "Lu gak perlu khawatir, bukannya lu sendiri yang sudah membuat jarak antara gue dan sepupu gue itu? Beribu ucapan gue mustahil didengar, gak kayak satu kata manis dari mulut lu, hem bener 'kan?"
Tania mengepalkan tangan karena merasa salah sudah bertanya pada pria itu. Tanpa kata lagi, wanita itu berlenggang meninggalkan Key disana.
Key tersenyum mengejek pada wanita itu. Kemudian menyeringai menatap punggung Tania yang semakin menjauh.
"Lu bisa membuat jarak antara gue dan Arga. Tapi, lu ... Gak bisa hancurin hidup keluarga gue!"
\*\*\*\*\*\*
Mohon maafin mak othor gaisss🙏 baru bisa up... aku udah beberapa hari drop, baru bisa nulis hari ini🤧 nulis dalam keadaan trisemester pertama tuh, luar biasa ternyata. Mohon dimaklumi yaa semuanya🙏 doain smoga mulai besok bisa update seperti biasa..