
Hari terus berganti, berita yang sempat viral itu sudah hilang dengan sendirinya. Hubungan antara Arga dan cheryl semakin membaik. Benih-benih cinta mulai tumbuh dari pasangan suami istri itu. Mereka senantiasa kemana pun dan melakukan apapun bersama. Seperti pagi ini, dengan telaten Arga tengah membantu mengeringkan rambut sang istri.
"Ehemm! Cher ..." panggil Arga sedikit ragu.
"Hem?" Cheryl yang tengah sibuk mengoleskan krim diwajahnya hanya berdehem kecil menanggapi.
"Ini udah lebih dari seminggu ya?" tanya Arga.
"Apanya?" tanya Cheryl tanpa menatap wajah pria itu.
"Itu nya," balas Arga ragu-ragu.
Sontak Cheryl menghentikan aktifitasnya, ia menatap sang suami dari cermin dihadapannya. "Kamu kalo ngomong yang jelas deh! Aku bukan cenayang, gak ngerti apa yang kamu maksud," kesalnya.
Arga berdecak kesal, seraya mematikan hair dryer ditangannya. Lalu, menyimpan benda itu keatas meja rias. Terlihat wajah masam pria itu dari cermin. Ia mendudukan diri ditepi ranjang seraya menghela napas kasar.
Cheryl yang lemot, berusaha berpikir apa kesalahannya dan maksud dari pria itu. Hingga setelah selesai meratakan krim, ia teringat sesuatu yang mungkin dimaksud pria itu. Gadis itu tersenyum dan segera mendekat kearah Arga.
Brukk!!
Tanpa aba-aba Cheryl melompat dan mendudukkan diri diatas pangkuan Arga. Sontak saja Arga sedikit terlonjak, namun dengan reflek ia segera menangkap tubuh mungil itu dan memeluknya.
Gadis itu tersenyum manis seraya merangkul manja leher suaminya. "Maaf, aku 'kan lemot," ucapnya dengan mata mengerjap centil.
Arga terkekeh, merasa lucu dengan tingkah istrinya kini. Mereka yang biasa bertengkar dengan gengsi yang tinggi, berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sama-sama nyablak dan saling jujur satu sama lain.
Cup!
Arga mengecup bibir menggoda itu gemas. "Terus sekarang udah paham?" goda Arga dan diangguki cepat oleh Cheryl.
"Apa?" goda Arga lagi.
"Menurutmu?" goda balik Cheryl.
Arga tersenyum dan kembali meraup bibir manis itu. Bibir yang beberapa waktu ini sudah menjadi candu baginya. Rasa yang kian hari kian tumbuh, membawa ia untuk tak melepaskan gadis itu sedetik pun. Meski, ia harus menenangkan si jacknya seorang diri. Namun, ia tidak pernah kapok untuk menjalani ritual tanpa penyatuan mereka sebelum tidur. Dan sekarang, tidak ada alasan untuk ia menenangkan senjatanya itu seorang sendiri.
Decapan kian merdu, memenuhi ruangan yang sudah terang itu. Perlahan Arga menarik tali bathrob yang melekat ditubuh sang gadis, hingga kain putih itu melorot dari bahu putih Cheryl.
Cup!
Bibir Arga mulai bergerak mengecup kulit putih itu. Tak ada sejengkal pun yang terlewat dibagian atas dada dengan tangan bergerak menjamah paha yang terekspos milik sang gadis. Suara lenguhan mulai terdengar dari bibir gadis itu. Perlakuan Arga selalu membuat ia melayang.
Sret! Bruk!
Arga membalikan posisi, hingga gadis itu jatuh telentang dibawah kukungan dirinya. Kain putih ditubuh Cheryl terbuka sempurna, hal yang membuat gairah Arga kian membuncak. Pria itu kembali meraup bibir sang gadis, dengan satu tangan mulai meraup bongkahan kenyal yang menantang itu.
Cheryl pun tak tinggal diam, ia menarik tali bathrob yang dikenakan Arga. Hingga kain itu terbuka lebar. Telunjuk Cheryl dengan nakal menjelajahi lekuk tubuh atletis suaminya. Dari atas turun hingga bawah, hingga tersentuhlah benda gondal gandul yang sudah berdiri tegak itu.
"Emmmhh, Cher!!!" Arga mengadah seraya memejamkan mata mendapati senjatanya dimanjakan tangan Cheryl.
Arga membuka mata, terlihat mata itu berkabut penuh damba menatap Cheryl. Dengan cepat ia menarik kain putih itu dari tubuhnya, lalu melemparnya kesembarang arah. Ia menyingkirkan tangan Cheryl dan kembali menjamah kedua bongakahan kenyal itu, lalu membiarkan senjatanya bertemu dengan paha mulus sang istri. Bahkan, satu tangan Arga sudah bergeliyara menyapa sinona yang ternyata sudah basah.
Antara geli dan sensasi luar biasa dirasakan Cheryl, tubuhnya yang terasa tersengat aliran listrik berleok ke kanan dan kiri, dengan kaki tak mau diam.
"Ouhh, Ga!" desisnya menggigit bibir bawahnya.
"Kau siap?" bisik Arga dengan napas memburu. Cheryl hanya mengangguk pasrah. Tubuhnya sudah begitu menerima setiap perlakuan pria itu.
Arga meyakinkan hati terlebih dahulu. Ia ingin melakukan itu dengan didasari cinta dengan istrinya. Perlahan namun pasti Arga mulai mengarahkan si jack untuk menyelami si nona manis. Cheryl meremas sprei kuat-kuat untuk menahan sesuatu yang menyesakkan dibawah sana. Ingin sekali ia berteriak sekencang mungkin, namun ia mencoba tahan dengan menggigit bibir bawahnya.
"Tahan sebentar!" pinta Arga mengecup seluruh wajah Cheryl dan hanya diangguki gadis itu.
Rasa perih yang dirasa Cheryl membuat ia meringis, sekuat mungkin ia menahan namun hantaman pertama itu membuat ia tidak mampu untuk tidak mengeluarkan suara. Arga yang peka, segera menyambar bibir Cheryl untuk membungkamnya.
Hingga setelah berusaha keras, akhirnya si jack bisa menyelam sempurna menembus titik terdalam si nona.
"Ahhhh!!!" Rasa lega yang diiringi napas ngos-ngosan terdengar dari sejoli itu.
Arga meraup dan membuang napasnya teratur. Ia tidak menyangka, penyelaman akan sedahsyat ini. Ia melihat wajah Cheryl yang nampak memucat dengan bulir keringat membanjiri wajah cantiknya.
"Maafin aku, ini pasti sakit ya?" tanya Arga khawatir dan dibalas anggukan pelan oleh Cheryl.
Arga mendaratkan kecupan dalam pada kening Cheryl. "Kamu tahan ya! Aku janji, akan pelan-pelan," pinta Arga. Cheryl hanya mengangguk pasrah.
Meski ingin menolak, namun tubuhnya justru meminta lebih. Rasa penasaran membuat ia pasrah dan menerima apapun perlakuan Arga padanya.
"I love you, Cheryl." Sekali lagi Arga mengecup pucuk kepala gadis itu.
Cheryl tersenyum haru, hatinya menghangat mendapat pernyataan cinta untuk pertama kali dari suaminya. "Me too," balasnya. Ia meyakinkan diri untuk melakukannya juga dengan cinta.
Arga ikut tersenyum. "Aku mulai, ya!" izinnya dan diangguki mantap oleh Cheryl.
Arga mulai bergerak pelan, sangat pelan. Seolah si nona adalah barang mudah pecah yang harus dia jaga baik-baik. Sesuatu menyengat menjalari tubuh pasangan itu. Gerakan pelan tersebut mencipatakan suara-suara sexy yang keluar begitu saja dari bibir keduanya.
"Emmhhh, Ga!"
"Iya, Cher! Uuhhh ..."
"Ouhh ini, ini luar biasa. Lebih cepat, Ga!" racau Cheryl kala sesuatu dalam dirinya seakan meledak. Bahkan, rasa perih sebelumnya berganti dengan rasa yang tak mampu ia jabarkan.
"Oke, aku akan lebih cepat!" balas Arga. Sesuai intruksi pria itu mulai bergerak lebih cepat. Menciptakan hentakan memabukam untuk keduanya.
Suasana kamar kian panas, de sahan kian bersahutan menggema didalam kamar tersebut. Hingga entah dimenit keberapa, erangan panjang mengakhiri suara-suara tersebut.
******