My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Terasa menghangat



Pagi ini susana terasa menghangat. Entah itu karena matahari yang tampak cerah atau kedua hati pasangan yang sudah mau menerima satu sama lain itu. Meski, acara malam pertama mereka harus tertunda untuk kedua kalinya. Namun, itu tak membuat mereka canggung lagi seperti sebelumnya.


"Lu beneran gak marah 'kan?" tanya Cheryl, menatap cermin yang memperlihatkan Arga dibelakang dirinya.


Semalam setelah kejadian itu, Cheryl mencoba untuk tidur terlebih dahulu. Namun, rasa khawatir membuat ia tak kunjung juga menutup mata. Apalagi, melihat Arga yang tak kunjung juga kembali. Membuat Cheryl kian resah. Hingga setelah beberapa menit kemudian, Arga pun keluar dan merebahkan diri disamping Cheryl. Gadis itu pun segera pura-pura tertidur.


"Lu udah tidur?" tanya Arga pelan, melihat sejenak wajah Cheryl. Lalu, mendaratkan kecupan hangat dipucuk kepalanya.


Arga pun merebahkan dirinya telentang menatap langit-langit. Namun, suara de sahan kesal berulang kali terdengar dari pria itu membuat Cheryl gelisah. Ia berpikir pastinya Arga begitu kecewa. Namun, apa daya itu semua bukan kehendaknya. Mengingat kejadian itu membuat Cheryl akhirnya memberanikan diri untuk bertanya demikian.


Arga tersenyum menanggapi. "Ngapain harus marah?" tanyanya yang tengah telaten mengeringkan rambut Cheryl.


"Ya, siapa tau lu marah gara-gara itu," balas Cheryl menundukan kepala, merasa malu untuk menjelaskam semuanya secara detail.


"Itu apa?" goda Arga melirik sang gadis yang kembali merona.


"Ya itu, yang semalam itu," balas Cheryl salah tingkah. Wajahnya terasa terbakar membahas hal itu.


Arga terkekeh seraya mengacak rambut gadis itu. "Lu pikir gue hyper, yang gak bisa nahan?" ucapnya disela kekehan.


Cheryl berdecak kesal. "Ck! Ya 'kan, siapa tau?" kesalnya. "Lagian lu biasa sama Tania. Pasti hal gitu udah gak aneh lagi," celetuknya.


"Ck! Enak aja, ya nggak lah. Pacaran gue itu sehat, tau batasan. Kalo cuma cium-cium sih iya," sergah Arga.


Cheryl menatap tak percaya Arga didepan cermin. "Iya 'kah? Bukannya ..." Gadis itu menggantungkan ucapannya, ia lupa jika Arga hanya tau Tania adalah gadis baik yang tidak terlalu banyak bergaul.


"Bukannya, apa?" tanya Arga menyelidik.


"Ah, nggak! Gue cuma gak percaya aja," sangkal Cheryl beralibi.


Arga tersenyum menanggapi. "Lu harus percaya sama gue. Gue ini masih ori, masih perjaka. Belum tau lubang, cuma tau tangan sama sabun aja," celetuknya diiringi gelak tawa.


"Ishhh nyablak banget sih lu!" kesal Cheryl menimpuk tangan Arga. Bagaimana mungkin Arga bisa bicara begitu prontal padanya? Ia hanya tersenyum tipis disertai gelengan kepala melihat kelakuan suaminya. Tak menyangka mereka bisa membahas hal seintim itu bersama.


"Kayaknya, gak enak ya kalo harus gue lu terus," celetuk Arga, setelah menghentikan tawanya.


Cheryl terkekeh. "Iya juga ya. Aku kamu?" sarannya. Arga tersenyum seraya mengusek pucuk kepala gadis itu gemas. Canda tawa pun, terdengar dari sejoli itu.


Waktu terus berlalu mereka pun segera bersiap untuk berangkat ke kampus. Arga selesai terlebih dahulu dan kini tengah menunggu disofa. Sedangkan Cheryl masih sibuk dengan peralatan yang akan mempercantik dirinya.


Arga memilih bermain game sembari menunggu sang istri. Hingga tiba-tiba dering ponsel mengalihkan atensinya. Ia melkhat siapa yang menghubunginya.


"Tania?" Arga menautkan alisnya heran. Ada apa? Ya, dari semenjak mereka putus, wanita itu tak pernah menghubunginya lagi.


Tak ingin semakin menambah kesalahan pada wanita itu karena mengabaikannya, Arga pun mengangkat panggilan tersebut.


"Apa???"


Pekikan keras Arga sukses membuat Cheryl yang tengah menyapukan gincu dibibirnya tersentak kaget. Benda berwarna baby pink itu sampai keluar dari garis bibirnya dan hal itu tentu saja membuat gadis itu kesal.


"Isshh, Arga!!!" teriak Cheryl.


Namun, pria itu tak menanggapi dan masih sibuk mendengarkan ucapan seseorang dari sebrang telepon. "Oke-oke, gue kesana sekarang!" final Arga menutup panggilan tersebut.


Cheryl yang melihat Arga meraih jaket dan mencari sesuatu membuat gadis itu menghentikan aktifitasnya yang tengah mengahapus lipstik tersebut. "Kenapa?" tanyanya heran.


"Aku harus pergi," balas Arga yang terlihat panik.


"Tania dalam bahaya," balas Arga bergegas hendak pergi setelah mendapat kunci mobil yang ia cari.


Sontak saja hal itu membuat Cheryl sedikit kesal dan ikut berdiri. "Tunggu! Maksud kamu, bahaya. Bahaya kenapa?" tanyanya mencekal tangan Arga.


Arga menghembuskan napas kasar. "Aku gak bisa jelasin sekarang. Tania dalam bahaya. Dia mau bunuh diri," ucapnya panik dan berlalu pergi.


"What??" Cheryl shok bukan main. Namun didetik berikutnya ia pun tersadar dan segera ikut menyusul Arga. Ia pensaran apa benar Tania senekat itu?


"Eh, tungguin aku!" Cheryl berlari mengikut langkah jenjang Arga.


Brukk!!!


"Astaga! Kamu?" tanya Arga tersentak kaget dengan suara pintu mobil yang ditutup keras.


"Aku ikut," sela Cheryl yang sudah mendudukkan diri.


"Tapi-"


"Udah buruan! Aku mau lihat drama tuh cewek. Seberapa nekat sih dia?" sela Cheryl yang sudah siap mengenakan sabuk pengamannya.


Arga pun hanya pasrah dan segera menyalakan mesin mobilnya. Ia benar-benar takut terjadi sesuatu pada wanita itu, karena dirinya. Terlepas dari perpisahan itu, ada kemungkinan wanita itu benar-benar akan nekat.


**


Suasana hening dalam mobil tersebut. Cheryl melirik wajah Arga yang tampak khawatir. Ada rasa sakit diujung hatinya, melihat Arga yang mungkin masih mencintai mantannya itu.


"Apa boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Cheryl hati-hati.


"Hem, apa?" tanya Arga melirik sekilas.


"Sebenarnya kamu dan Tania beneran sudah putus, atau ...." Cheryl terlihat ragu untuk melanjutkan pertanyaannya.


Arga yang mengerti arah pertanyaan Cheryl menghembuskan napas panjang. Mungkin ini saatnya ia jujur, akan permintaan kekasihnya itu. Mungkin saja ada solusi, jika ia bicara dengan Cheryl.


"Ada hal yang ingin aku kasih tau," ucap Arga, Cheryl menaikan alis seolah bertanya. Terlihat Arga berulang kali menarik dan menghembuskan napas, seperti tengah menyiapkan mental untuk bicara.


"Sebenarnya ...." Arga pun menceritakan pertemuan terakhirnya waktu itu dengan Tania. Ia pikir ucapan wanita itu hanya main-main. Apalagi ia tidak melihat Tania di kampus sekali pun. Ia juga sempat menghubungi wanita itu, namun panggilannya selalu saja diabaikan. Dan sekarang?


"Ya ampun! Gila ya tuh si Tania. Sudah nyebarin gosip pada seluruh anak kampus, laporin gue ke komunitas pelakor, dan sekarang ...." cerocos Cheryl kesal. Bahkan, ia tidak kembali ke mode semula.


"Maksudnya? Dia yang laporin kamu pada komunitas itu?" tanya Arga tak percaya dan hanya diangguki Cheryl.


"Kamu jangan nuduh dia sembarangan! Gak mungkin, dia kayak gitu," bela Arga.


"Terserah, gimana pendapatmu? Asal kamu tau, dia gak sebaik yang kamu kira," sela Cheryl.


Arga terdiam enggan menanggapi. Ia tidak ingin sampai bertengkar kembali dengan Cheryl yang mungkin akan semakin memperkeruh suasana.


Tak berselang lama, mobil yang mereka tumpangi sampai disebuah jembatan. Terlihat riuh orang-orang dari kerumunan disana. Arga berlari cepat keluar dari mobil diikuti Cheryl pula.


"Tania!!!"


\*\*\*\*\*\*