
Hari menuju resepsi tinggal menghitung hari. Arga dan Cheryl disibukan dengan fiting baju yang mendadak kekecilan. Bukan salah designer, tapi salah Cheryl yang yang sudah gagal diet menjelang hari H.
"Ya ampun Cher, ini gimana nariknya?" Arga berusaha menarik reseleting dibagian belakang dress yang dikenakan Cheryl.
"Bentar, aku kempesin dulu perutnya," balas Cheryl sekuat mungkin menahan napas.
"Kalo kaya gini yang ada kamu bisa mati," celetuk Arga sarkas.
Sontak Cheryl membalikan tubuh dengan raut wajah kesal. "Kamu nyumpahin aku mati?" kesalnya.
"Bu-Bukan, bukan gitu maksudku," elak Arga tergagap mencoba meraih tangan sang istri. Ia merutuki dirinya yang masih aja asal ceplos dalam bicara. Cheryl menepis tangan pria itu disertai decakan kesal.
"Sayang, bukan kayak gitu. Maaf, aku salah bicara," sesalnya mencoba meraih tangan istrinya lagi.
"Jangan panggil-panggil sayang. Jijik tau," kesalnya kembali menepis.
"Iya, iya maaf salah lagi. Maksudku Cinta. Udah dong jangan ngambek, maafin aku ya!" bujuk Arga memohon.
Cheryl memalingkan wajah dengan bulir menetas dari sudut matanya. "Kayaknya kamu bakalan senang kalo aku mati," lirihnya.
Greppp!!
Arga mendekap tubuh yang kian hari kian berisi itu kedalam pelukannya. "Suutt!! Jangan ngomong kayak gitu! Aku minta maaf. Jangankan untuk pergi selamanya, aku gak akan membiarkan kamu pergi sedetik pun dari pandanganku," ucapnya menenangkan.
"Tapi ... Kamu pasti cari yang baru. Aku 'kan gendutan," isak Cheryl.
"Siapa bilang? Gak ada aku kayak gitu. Mau kamu gendutan, mau kamu kurusan aku gak peduli. Aku tetap cinta sama kamu," balas Arga mengecup pucuk kepala istrinya itu."Udah ya, jangan nangis lagi!"
Arga melerai dekapannya. Lalu, menghapus jejak kebasahan dipipi gadis itu. "Kita cobain lagi dress yang lainnya, hem?" bujuknya dan diangguki Cheryl.
Keduanya pun kembali mencoba beberapa dress yang ternyata sama tak muat. Cheryl nampak kesal mendapati bobot tubuhnya yang naik drastis setelah kedatangan kedua sepupu iparnya.
"Ini semua gara-gara Ara sama Zea. Semua dressku gak ada yang muat," erang Cheryl frustasi.
Arga hanya terkekeh seraya terus menenangkannya. Cheryl benar-benar harus membujuk sang mama menyiapkan kembali dress-dress cantik itu. Entah apa pendapat wanita paruh baya itu, mengingat waktu tinggal tiga hari lagi menuju hari H.
**
Sementara itu, dua orang gadis tengah duduk disebuah restoran yang tak jauh dari butik. Menunggu kedatangan sepasang pengantin yang tengah fiting baju tersebut.
"Ya ampun, si Chemot lama amat," gerutu gadis itu berulang kali melihat jam dipergelangan tangannya.
"Kalo, kamu laper. Makan duluan aja kali, Ra!" balas gadis disampingnya yang tengah sibuk mengotak atik ponsel.
"Ishh kamu mah gak asyik, kak Ze. Tunggu Chemot dulu dah. Biar bikin mukbang lagi," protes Ara.
"Kamu mau bikin pengantin kita bulat?" Zea hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan Ara yang tidak masuk akal.
"Tapi, dia imut kalo bulat, Kak," balas Ara disertai kekehan.
"Ya ampun! Kamu minta diceramahin onty Chika emang," kekeh Zea hingga membuat Ara tergelak.
Keadaan kembali hening, setelah beberapa saat mereka tertawa. Tidak seperti Zea yang sibuk dengan benda dipipih ditanganya. Ara terlihat mulai bosan menunggu kedatangan sejoli itu. Hingga tiba-tiba atensinya menatap sosok tegap yang tengah berjalan menuju resto tersebut.
'OMG, siapa dia?' batin Ara bertanya menatap tak berkedip pada seorang pria.
"Eh, Kak Ze, Kak Ze!" panggil Ara menggoyangkan bahu Zea, dengan tatapan gadis itu tak lepas melihat kemana arah pria itu duduk.
"Hem?" Hanya deheman yang keluar dari bibir Zea.
"Isshh fokus mulu, lihat dulu!" bujuk Ara agar sepupunya itu bisa melihat apa yang ia lihat.
"Apa sih?" tanya Zea yang sedikit kesal.
"Kakak lihat cowok itu! Ya ampun, Kak. Ganteng banget," pekik gadis itu.
"Itu, Kak. Yang pake kemeja putih yang digulung sampe siku itu," tunjuk Ara dengan semangat.
"Maksudmu, om-om?" tanya Zea tak percaya dan diangguki semangat oleh Ara dengan mata tak lekat menatap pria dewasa itu.
"Ya ampun, Ra. Matamu siwer apa?" tanya Zea shok. "Itu mah om-om seumuran si Papi." Gadis itu menggelengkan kepala tak habis pikir dengan pemikiran gadis itu.
"Tapi, ganteng banget, Kak!" sela Ara masih bersikukuh.
"Ganteng dari hongkong, udah tua juga. Lagian ya kalo Mami kamu tau. Kamu sukanya sama om-om, aku jamin kamu bakal dipesantrenin." Zea benar-benar tidak habis pikir dengan penglihatan sepupunya itu.
"Isshh, Kakak ini. Si Mami mana mungkin kayak gitu. Lagian ya, dia sendiri juga nikah sama omnya. Si Papih 'kan omnya. Sah-sah aja tuh!" protes Ara.
Zea harus meraup banyak-banyak kesabaran menghadapi sepupunya itu. Ia tidak pernah menang memang melawan Ara dalam bicara.
"Denger ya Arabella, yang cantik paripurna. Uncle Rei sama onty Kia jarak usianya itu gak begitu jauh. Lha ini?"
"Tapi, ya. Alzea si kembar yang wajahnya jauh berbeda," balas Ara meledek Zea, yang sontak dapat timpukan sedotan dari gadis itu.
Ara terkekeh dan kembali melanjutkan ocehannya. "Cinta itu gak memandang usia. Mau usiamu setengah dari usia dia juga gak ada masalah. Yang penting hati, HATI," tekannya. "Ngerti gak?"
"Ck! Au ah," kesal Zea. Lagi-lagi ia harus mengalah pada ocehan gadis itu.
"Rame bener, ngomongin apaan sih?" Pertanyaan Cheryl mengalihkan atensi kedua gadis itu. Sejoli itu pun mendudukan diri dihadapan mereka.
"Ini, Cher. Masa iya Ara sukmmmphh," belum selesai ucapan Zea, Ara sudah membekap gadis itu terlebih dahulu.
Tentu ia tak ingin hal nyelenehnya diketahui Arga si mulut lemes, bisa-bisa ia akan menjadi bahan bullyan sepupunya itu. "Bukan, bukan apa-apa," elak Ara.
Selain mendapat bekapan, Zea juga mendapat injakan dari gadis cerewet itu. Memperingati agar Zea berhenti bicara.
"Kalian kenapa sih aneh banget?" tanya Arga menyelidik dengan mata memicing.
"Aneh kenapa sih enggak, hppph" elak Ara yang sudah melepaskan bekapannya diiringi desisan tertahan. Zea hanya mendengus kesal seraya membalas injakan itu.
"Ini dari tadi makanan kalian anggurin aja?" tanya Cheryl mengalihkan perhatian. Entah kenapa menu yang sudah tersaji begitu menggugah seleranya.
Cheryl hendak meraih salah satu makanan berlemak tinggi diantara makanan itu, namun Arga segera mencegatnya.
"Ingat, mulai sekarang kamu harus diet. Dengar gak tadi kata tante Rose?" peringat Arga.
"Ck! Tapi, Ga?" rengek Cheryl.
"Empat hari Cinta, cuma empat hari," balas Arga.
"Cieee CINTA? Bukan Chemot lagi, ya?" ledek Ara yang baru mengetahui, bahwa Arga begitu bucin sama istrinya itu. Padahal Ara juga mengikuti Arga menyematkan nama itu dari dulu.
Zea tertawa, tentu mereka tau bagaimana pasangan itu dulu. Meski tidak tumbuh bersama, tapi kedua gadis itu sedikit tau permusahan sejoli yang menjadi suami istri itu.
"Ck! Gak usah ngeselin kalian!" kesal Arga menatap tajam keduanya.
"Uhhh atut," ledek Ara semakin menjadi. Kedua gadis itu tak henti tertawa. Hingga sukses membuat Arga meradang.
Pria itu hendak berdiri memberi pelajaran pada kedua sepupunya itu, namun Cheryl segera menghentikannya.
"Udah, Ga!"
"Tapi mereka ngeselin!"
"Sadar diri, Ga. Lu sendiri juga ngeselin!"
\*\*\*\*\*\*