
Langit kembali gelap. Sejoli itu melupakan sunset yang membinarkan mata. Disaat semua pasangan ingin menikmatinya bersama, sejoli itu justru menghabiskan waktu didalam kamar. Eithh! Tentu saja, waktu yang mereka habiskan bukan untuk membuat part atau mencari pahala tapi mereka isi dengan kegiatan masing-masing. Arga yang sibuk memimpikan kekasihnya, sedangkan Cheryl sibuk membuat surat perjanjian untuk mereka sepakati.
"Woy! Bangun, gue udah selesai nih!" Cheryl mengguncang tubuh Arga yang masih terlelap diatas kasur.
"Ya ampun, dasar kebo!" gerutunya, kala tak kunjung dapat jawaban dari pria itu.
Gadis itu memilih menaiki ranjang dan mendekat kearah Arga. Hingga terbesit ide jahil darinya. "Hem, gue kerjain ah!"
Perlahan ia mendekat dan hendak mencoretkan bulpoin diwajah tampan itu. Namun, belum juga batang bertinta itu sampai diwajah Arga, mata pria itu sudah terbuka lebar dengan tangan Cheryl sudah ia pegang.
"Mau ngapain, hem?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur. Sepertinya pria itu benar-benar sudah mengarungi dermaga mimpi.
Cheryl cengengesan, kala aksinya justru gagal tak sesuai harapan. Bagaimana bisa dalam drama hal itu tak membuat target bangun? Dia yang coba, belum apa-apa justru sudah ketahuan lebih dulu.
"Gue mau bangunin lu. Sebab lu tidurnya udah kayak kebo. Gak bisa dibangunin cuma dengan ucapan. Maka itu gue mau bangunin dengan bentuk tulisan juga. Siapa tau lu cepet sadar," jelas Cheryl dengan nyablak.
"Ck! Gak lucu," kesal Arga seraya bangkit.
"Gue emang gak lucu. Karena gue cantik," balas Cheryl persis yang dikatakan Arga waktu itu dengan gaya centilnya.
"Kang jiplak!"
"Biarin. Wlekk!"
Arga hanya mendengus kesal. Tentu belum ada tenaga untuknya membalas semua ucapan gadis itu. Hingga ia pun memilih untuk kembali ke topik utama.
"Lu ngapain banguin gue?" tanyanya.
"Oh iya," Cheryl membenahi posisinya dengan duduk bersila dihadapan pria itu. Ia bersiap menunjukan surat perjanjian selama mereka menikah.
Namun, ada satu hal yang mengganjal dimata Arga. Paha yang ia klam burik kembali terpampang jelas didepan matanya. Meski gadis itu mendapatkan piyama. Entah kenapa piyama itu bukan setelan dengan celana panjang yang ia harapkan. Justru kembali celana hot pants yang menjadi setelan piyama tersebut.
Bukk!!
Arga melemparkan bantal untuk mentupi paha yang sial begitu mulus tersebut. Hingga si empunya memprotes kelakuan pria itu.
"Isshh apaan sih lu?" kesal Cheryl. "Gaje deh!" Namun tak ayal gadis itu menerima dan memeluk bantal tersebut.
Tak ingin membahas perkara paha, Arga mengalihkan pembicaraan ke topik utama. "Lu mau bahas apa tadi?" tanya Arga yang ikut bersila dan mulai ke mode serius.
"Oh iya," seketika Cheryl melupakan perkara bantal dan mulai fokus seperti yang dilakukan pria itu. Ia memperlihatkan selembar kertas kehadapan Arga.
Arga meraih kertas dengan tulisan tangan gadis itu. "Surat perjanjian pernikahan?" Ia mengeja judul dari surat tersebut dengan melirik sekilas kearah Cheryl.
"Yapss!!" balas gadis itu tersenyum sumringah. "Surat perjanjian. Orang-orang 'kan bikin surat perjanjian pra-nikah. Nah, kita bikin surat perjanjian setelah nikah," jelas Cheryl.
"Keuntungan buat gue apa?" sela Arga setelah membaca isi didalam sana.
"Banyak dong! Sini gue, bacaain!" Cheryl merampas kertas tersebut dari tangan Arga.
"Denger baik-baik, ya!" titah Cheryl. Padahal tanpa ia bacakan, Arga sudah membacanya terlebih dahulu. Dan hal itu membuat Arga hanya mampu berdecak kesal.
"Ehem!" Cheryl berdehem terlebih dahulu sebelum memulai membaca isi teks tersebut.
"Yang bertandatangan dibawah ini. Arganta marga- eh, maksud gue Argantara Zavilio Pratama sebagai pihak pertama," ucap Cheryl sedikit cengengesan, karena hampir salah menyebut nama. Arga hanya mendengus kesal mendengar ocehan gadis itu.
"Dan Cheryl Maylaffayza sebagai pihak kedua. Beberapa hal yang harus kedua belah pihak sepakati selama menikah." lanjutnya kembali menjeda kalimat.
"Satu, pihak pertama tidak boleh mencampuri urusan pihak kedua,"
"Terus lu boleh mencampuri urusan gue?" tanya Arga kesal.
"Yappss!!" balas Cheryl mantap.
Tentu saja Arga tak terima dengan aturan semacam itu. "Apa? Gak bisa gitu lah, itu gak adil," protesnya.
"Adil dong! Gimana pun juga, lu 'kan suami. Gue berhak tau lah isi dompet lu, bahkan gue berhak menguras isinya kalo mau. Ya, siapa tau lu diem-diem kasih jajan sama pacar lu tuh, sekarang itu gak boleh. Terus 'kan duit suami emang duit istri. Dan duit istri milik istri sendiri. Suami mana berhak ikut campur, benar gak?" jelas Cheryl panjang kali lebar.
Arga mulai memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut. Ini yang dimaksud urusan, urusan apa? Urusan duit kah?
"Bentar dulu. Ini maksud lu, urusan yang dimaksud urusan duit?" tanya Arga bingung sendiri.
"Yappss itu 'kan termasuk urusan. Dan masih banyak urusan yang lain juga. Coba lu cek google soal pernikahan. Disitu dijelaskan, segala urusan suami, istri berperan penting disana. Dari mulai segala kebutuhan suami, 'kan menjadi urusan istri. Makan, nyiapin baju dan segala macam menjadi urusan istri. Suami? Mana ada mencampuri urusan istri. Disuruh bersihin piring kotor bekas makan sendiri aja, gak mau. Beralaskan ada istri. Jadi, dapat disimpulkan istri berhak mencampuri urusan suami. Tapi tidak sebaliknya," jelas Cheryl lagi nyerocos panjang kali lebar.
Arga menghembuskan napas panjang. Entah gadis itu yang terlalu pintar atau dirinya yang terlalu bodoh. Penjelasan itu sungguh membuat sakit kepalanya. Tak ada kalimat yang dapat ia cerna dengan benar.
'Mampus, pusing-pusing dah! Yang jelas lu gak bisa ngatur hidup gue,' batin Cheryl tersenyum menang.
"Ehem! Nomor dua," lanjut Cheryl.
Arga mengangkat tangan untuk menghentikan ucapan gadis itu. "Bentar, gue belum ngerti penjelasan lu!"
"Ck! Udah. Pokoknya lu setuju aja. Kalo lu belum ngerti, nanti lu tanya si Dylan cepmek. Pasti ngerti," balas Cheryl dengan entengnya.
Dylan cepmek? Siapa lagi? Hal itu tentu membuat Arga semakin bingung. Namun, gadis itu terus nyerocos membahas nomor dua.
"Nomor dua. Pihak pertama dan kedua melakukan kewajiban mereka sebagai suami istri-" belum selesai penjelasan Cheryl Arga sudah tertawa menyelaknya.
"Kewajiban apa, hem?" tanyanya mencondongkan tubuh. Hingga Cheryl sedikit tergugup.
"Ya, ya kewajiban. Seperti lu nafkahin gue. Gue melayani semua kebutuhan lu," balas Cheryl gugup.
Arga tersenyum menyeringai. "Termasuk kewajiban itu?" tanyanya menaikan alisnya.
Cheryl yang terfokus dengan wajah Arga yang kian dekat, dibuat bingung. "A-apa?" tanyanya semakin gugup. Reflek Cheryl memundurkan kepala dan Arga yang semakin dekat. Hingga posisi Cheryl mengadah menatap Arga diatasnya.
"Kewajiban menafkahi batin?"
Deg!
\*\*\*\*\*\*
Jangan lupa jejaknyaa yaa gaisss😘😘