My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Berakhir kecewa



Cheryl masih setia mengusap rambut beserta bahu sang suami. Hingga akhirnya Arga pun mulai tenang dan bisa mengendalikan emosinya. Ia menegakan diri, setelah berpikir jernih ia tesadar mungkin itulah cara Tuhan untuk menyadarkannya kembali. Dan jalan yang Tuhan pilih adalah dengan mengikat ia dengan Cheryl dalam sebuah janji suci.


Ia menoleh melihat sang istri begitu khawatir. Tatapan itu begitu tulus dan menyayat hatinya. Bagaimana mungkin, selama ini ia begitu buta mengenali seseorang. Orang yang ia anggap musuh, ternyata orang tersebut yang begitu tulus padanya.


Greeppp!!!


Arga mendekap erat tubuh Cheryl yang terdiam. Mungkin dari sekian luka yang menggores hati, ada satu lapal syukur yang harus ia ucapkan. Ia dipertemukan dengan seseorang yang mungkin akan memyembuhkan lukanya.


"Tetaplah disampingku!" pintanya.


Cheryl tersenyum seraya membalas dekapan tersebut. "Tentu. Aku ini istrimu, tanpa kamu minta aku sudah ditakdirkan disampingmu," balasnya membuat Arga sedikit menyunggingkan senyum.


Arga melepas dekapannya. Ia mengatur napas berulang kali, ingin rasanya menemui wanita itu. Memberi umpatan dan sumpah serapah padanya. Namun, ia tidak akan bertindak sesuka hati, tanpa izin dari gadis yang lebih berhak atas dirinya sekarang.


"Emm, Cher!" Arga terlihat ragu untuk bicara.


Cheryl menaikan sebelah alisnya. "Apa?" tanyanya.


"Haruskah aku nemuin dia?" tanyanya hati-hati.


"Gak boleh!"


Arga menghembuskan napas pasrah seraya mengangguk. "Baiklah!"


"Kecuali, bersamaku!" sela Cheryl menyeingai, Arga tersenyum tipis seraya mengusek rambut gadis itu.


**


Tania tak mengira rahasia terbesarnya akan terbongkar dikhalayak publik. Kini semua orang sudah memandang lain dirinya. Tatapan benci dan jijik dilayangkan semua orang didepan gedung tersebut. Wajah wanita itu memanas antara takut dan marah menguasai dirinya.


"Sebaiknya kita laporin aja dia," celetuk seorang pria.


"Setuju! Setuju!"


"Tapi, sebelum itu kita juga harus kasih dia sanksi. Kita arak keliling kampus tanap pakaian," balas seorang gadis itu.


"Betul tuh betul!!" Riuh orang-orang yang ingin memberi sanksi pada wanita itu.


"Diam!" teriak Tania menghentikan keriuhan disana.


"Video itu palsu!" lanjutnya mencoba membela diri.


"Video itu editan, gue dijebak!" Kembali Tania memainkan dramanya. Ia menunduk menangis, memperlihatkan dirinya yang tak berdaya.


"Heleh, kita gak percaya," celetuk salah seorang gadis.


"Iya, iya!" balas yang lainnya.


"Kalian harus percaya sama gue. Gue gak mungkin kayak gitu. Bisa saja wajahnya diedit dengan wajah gue 'kan?" Tania masih tetap membela diri. Tentu ia tak mau berakhir mengenaskan disana.


Sejenak orang-orang terdiam mencerna ucapan wanita itu. Mereka mulai berbisik-bisik memberi spekulasi.


"Gue disini korban, kalian tau itu. Gue yang dikhianati," lanjut Tania meyakinkan. "Gue yang disakiti ...."


Wanita itu kembali terisak dengan air mata membanjiri pipinya. Semua orang terdiam, mereka memang tidak bisa menghakimi begitu saja, tanpa bukti akurat. Hingga tibalah Arga dan Cheryl menghampiri.


Tania dapat melihat kilat amarah dari mata Arga. Sudah dipastikan pria itu sudah mengetahuinya. Segera Tania mengalihkan pandangan pada gadis disamping pria itu.


"Belum cukupkah, lu hancurin gue?" tanyanya pada Cheryl. Sontak saja Cheryl mengerutkan dahinya heran. Begitupun, orang-orang disana.


"Lu sudah mengambil Arga, hal paling berharga dihidup gue. Dan sekarang? Lu masih mau menjatuhkan gue?" tanyanya pelan, persis orang yang begitu tersakiti.


"Lu masih nanya? Gue tau lu 'kan yang nyebarin fitnah tentang gue?" tuduh Tania menujuk wajah Cheryl.


Cheryl tertawa meledek. "Gue? Lakuin itu, buat apa? Buat viral kayak lu?"


Tentu saja sikap santai Cheryl membuat ia meradang. Bisa saja gadis itu ikut terlibat dalam penyebaran video dirinya. Tapi, dari mana? Pikirnya.


Wanita itu sebisa mungkin menahan emosinya. Ia tidak ingin semua berakhir dirinya yang kalah dari gadis itu. "Buat nutupin kalo lu PELAKOR!" tegas Tania.


"Gak salah tuh? Tapi ... Itu terdengar lebih baik sih, dari pada lu ... PEL*CUR!" jelas Cheryl.


Habis sudah kesabaran Tania. Ia hendak melayangkan tangan pada pipi gadis itu, namun segera ditangkap oleh Arga.


"Jangan sentuh istri gue!" peringat Arga dengan tatapan menyalak tajam.


Suasana menjadi semakin hening dan tegang. Semua orang tidak ingin hilang kesempatan untuk menonton pertunjukan itu.


"Kenapa, Ga?" tanya Tania sendu menatap mata tajam Arga. "Apa kamu gak percaya padaku? Apa segitu mudahkan kamu melupakanku, hingga kamu lebih percaya dia dari pada aku yang sudah lama menemanimu?"


"Jawab, Ga!" titah Tania. "Apa kamu sudah gak mencintaiku lagi hah?"


"Berhenti membodohi gue, Tania!" teriak Arga. Beberapa orang dibuat kaget, tak terkecuali Cheryl dan Tania.


"Selama ini gue udah berusaha memberikan segalanya buat lu. Bahkan gue gak pernah mengeluh atas kurangnya lu memperhatikan gue," jelas Arga.


"Tapi sekarang? Lu nyadarin gue, kalo gue adalah cowok bodoh yang hanya bisa lu manfaatin!" lanjutnya.


"Lu tau, rasa bersalah gue begitu besar sama lu. Gue merasa gak adil memperlakukan lu. Tapi apa? Apa gak ada rasa bersalah lu sama gue, saat melakukan semua itu?" Arga menjeda sejenak ucapannya.


"Lu bilang apa, editan? Gue kenal lu lebih dari yang orang lain tau. Gue kenal lu meski dari belakang. Gue kenal suara lu tanpa harus melihat wajah lu!" Tania hanya memejamkan mata mendengar semua itu.


Arga melepaskan pergelangan tangan wanita itu. Meski amarahnya kian membuncak, namun ia di didik tidak untuk melakukan tindakan kekerasan pada seorang wanita.


"Ga ..." lirih Tania mengiba dan hendak meraih tangan Arga. Namun, ditepis pria itu.


"Jangan sentuh gue, bangsat!" teriak Arga.


Deg!


Untuk pertama kalinya Tania mendapat bentakan dan kata-kata kasar dari Arga. Sakit? Tentu saja. Itu adalah hal yang harus ia terima dari segala perbuatannya. Namun, bukan Tania namanya jika berpikiran demikian. Justru dendam dan marah semakin menguasai dirinya.


"Mulai detik ini, jangan pernah sebut nama gue lagi! Jal*ng!" peringat Arga begitu sarkas.


Sontak semua orang terkejut dengan penuturan Arga. Bukan hal aneh memang mendengar pria itu berucap kasar, tetapi pada Tania? Tentu baru kali ini mereka dengar.


Setelah mengatakan itu, Arga meraih tangan Cheryl. Ia menggandeng tangan sang istri dan berlalu dari tempat itu. Meski ia belum puas memaki, namun ia merasa itu tidak ada gunanya lagi.


Tania menatap penuh benci pada tangan yang bertautan itu. Semua sudah berakhir, tapi tidak dengan dendam yang ada dipikirannya. 'Gue bersumpah, akan menghancurkan kalian!' batinnya.


"Ck! Ck! Ck!" Atensi wanita itu teralihkan oleh suara seseorang. Tania memicing melihat siapa yang kini tengah meledeknya.


"Gimana rasanya?" tanya Key dengan nada ledekan, melipat tangannya didada. "Mendebarkan? Menyakitkan? Atau menyenangkan?"


Pria itu tertawa diakhir kalimatnya. Tania semakin meradang mengepalkan kedua tangannya. Ia baru sadar, siapa dalang dari semua ini. "Lu?" tunjuk Tania pada wajah Key.


"Apa?" tanya Key, meraih telunjuk itu. Mata keduanya bertemu dan saling mengunci. Kilat amarah nampak jelas dari kedua netra itu.


"Bukankah sudah gue pastikan, kalo lu akan hancur sehancur-hancurnya!"


******