
"Gimana para saksi? Sah?"
"Sah!!!"
"Alhamdulillah! Baraqallah ...." ucap pak penghulu yang dilanjutkan dengan doa yang diaminkan semua orang disana.
Arga terpaku dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Satu janji yang tiba-tiba terlontar mantap dengan satu tarikan napas terucap tegas begitu saja. Begitupun Cheryl, ia yang sudah senang akan gagalnya pernikahan itu, seketika membeku kala mendengar ijab yang dilantunkan Arga dan entah kenapa begitu ngena dihatinya. Tatapannya tak lekat menatap wajah Arga dengan perasaan yang sulit ia jabarkan. Selain kesal, ada perasaan lain dihatinya yang ia sendiri tak tau apa itu?
Arga tersadar setelah semua tangan mengatup kewajah. Ia menoleh kearah Cheryl yang kini tengah menatapnya. Rasa ingin marah, namun semua percuma. Dan dibalik itu, ada desiran aneh dihatinya. Perasaan yang sulit ia tafsirkan.
Keadaan ramai dan tepuk tangan tak membuat sejoli itu segera tersadar, keduanya masih menyelami apa yang kini ada dihati mereka masing-masing dengan tatapan saling mengunci. Bahkan suasana terasa hening seketika untuk mereka.
"Apa semua ini nyata? Atau ... Ini hanya mimpi?" batin Cheryl bertanya-tanya.
"Entah apa yang sudah Tuhan gariskan? Yang jelas, semua ini adalah nyata," batin Arga.
"Saudari Cheryl, silahkan menyalimi tangan suaminya!" titah pak penghulu, namun tak digubris sejoli yang masih menyelami alam bawah sadar mereka.
Semua orang terdiam dan menatap aneh keduanya. Hingga sekali lagi pak penghulu mengulang kalimatnya, namun tak juga menyadarkan mereka.
"Ehemmm!!" Baru setelah deheman dari papa Deril keduanya tesentak kaget. Mereka tampak bingung, namun mencoba untuk biasa saja.
Pak penghulu kembali mengulang kalimat yang sama untuk ketiga kalinya. Meski ragu, namun tak urung Cheryl mengikuti intruksi. Ia menyalimi tangan Arga, dengan pria itu menyentuh kepala gadis yang kini resmi menjadi istrinya. Desiran aneh kembali terasa dua manusia itu, apalagi ketika Arga mengecup kening Cheryl. Kedunya sampai menutup mata menikmati jantung masing-masing yang berdegup tak beraturan.
**
Acara inti selesai, semua keluarga satu persatu mengucapkan selamat dan menjabat tangan kedua mempelai bergantian. Namun, si pemeran utama nampak tak ada gairah. Bahkan, jiwa mereka masih melayang entah kemana. Antara sadar dan tidak dirasakan kedua mempelai tersebut.
"Gue nyuruh lu dandan cantik buat gue," bisik Key diantara kedua manusia itu. Seperti sengaja ingin menyinggung sepupunya.
Seketika Cheryl tersadar dari segala lamunannya. Begitupun Arga, segera ia menoleh pada sepupu tengilnya itu.
"Bukan buat dia," tegas Key melirik ke arah Arga dengan ekspresi meledek. Jangan lupakan senyum smirk yang sukses membuat Arga naik darah.
Entah kenapa kalimat Key membuat Arga kesal. Ia hendak mengumpat, namun suara Key kembali menyelaknya.
"Tapi gue seneng, lu sekarang jadi ipar gue. Selamat ya!" ucapnya beralih menatap Cheryl disertai senyumnya. Tangan pria itu terulur memberi selamat untuk sang gadis.
Cheryl menyambutnya seraya menganggukan kepala dengan senyum tipis yang sangat ia paksa. Key melepaskan jabatan tangannya dan beralih pada Arga.
Arga menatap terlebih dahulu jabatan tangan sepupunya itu, kemudian meraihnya dengan tatapan yang masih sama. Berbeda dengan Key yang tersenyum melihat ekspresi sang pengantin.
"Selamat, Ga. Sepupu gue yang paling," Key menggantungkan ucapannya, kemudian hendak membisikan sesuatu ditelinga Arga. Hingga pria itu memicing dengan mata menatap tajam pada pria yang selalu membuatnya darah tinggi tersebut.
Melihat itu Key terkekeh geli. Sungguh terasa menyenangkan membuat seupupunya itu marah. "Baik!" ledeknya. Hal itu membuat Arga berdecak yang disertai guliran mata malas.
Key tersenyum menang, kemudian hendak berlalu meninggalkan mereka. Namun, tiba-tiba ia kembali berbalik. "Oh iya, satu lagi," ucapnya mendekat dan menepuk pundak Arga. Hanya saja tatapannya justru mengarah pada Cheryl.
"Kalo suami lu nyakitin lu, temuin gue! Karena lu gak pantas buat dapet itu," ucap Key menyeringai, kemudian menatap mengejek pada sepupunya itu.
Hal itu tentu membuat Arga semakin meradang. Namun belum sempat ia melempar kata-kata keramatnya. Key sudah melesat meninggalkan posisi.
"Lu?" Arga hendak mengejar, namun ditahan oleh sang mama disampingnya.
"Ga!" peringat mama Jingga, hingga ia pun diam kembali pada posisinya, meski dengan wajah kesal.
Hingga acara salaman dan foto-foto pun berakhir. Kini para tamu tengah menikmati makanan yang sudah disediakan. Kedua mempeali itu tampak hanya diam diatas pelaminan. Bahkan mereka tak ada niatan untuk makan sama sekali.
Arga menghembuskan napas kasar untuk memulai obrolan dan memecahkan keheningan. Bagaimana pun semua sudah terjadi. Mau disesali pun percuma. Sekarang bagaimana caranya dia memulai hubungan dengan gadis yang selalu membuatnya darah tinggi itu. Ia harus membicarakan rencana apa yang terbaik kedepannya.
"Tapi, semua udah terjadi," lanjutnya.
"Terus? Maksud lu kita harus menjalani pernikahan ini?" tanya Cheryl meminta penjelasan.
Arga terdiam. Bohong jika ia bisa menjadi imam yang baik. Sementara hatinya milik orang lain. Namun, sekarang status membuat ia harus memutuskan.
"Ck! Udahlah gak usah dijelasin juga gue ngerti. Lu gak mungkin mau menjalani pernikahan, begitupun gue," sela Cheryl.
"Gini aja deh kita bikin kesepakatan," lanjutnya menyarankan.
Seketika Arga menoleh. "Apa?" tanyanya penasaran.
"Kita jalani semua kek biasanya. Jangan sampai semua orang tau status kita! Gue gak mau semua orang tau lu suami gue," jelas Cheryl yang sukses membuat Arga menganga. Dia pikir, gue mau mengakuinya istri? Pikirnya.
Arga tertawa sinis. "Lu pikir gue mau?" tanyanya tak terima. "Cewek berisik kayak lu, gak pantes jadi nyonya Argantara!" sungutnya.
"Eh Arganta marga satwa! Denger ya, dalam kamus gue gak ada tuh nama lu nyempil di KTP gue," sungut Cheryl dengan sengit.
"Emangnya siapa yang mau nyempilin nama gue di KTP lu, hah?" tantang Arga.
"Gak ada. Karena emang gue gak mau," balas Cheryl.
"Ck! Dasar lemot lu," kesal Arga ketika jawaban Cheryl gak nyambung sama sekali.
"Lu yang lemot. Dasar penghuni kebun binatang," balas Cheryl tak mau kalah.
"Suuutt! Kalian ini udah dinikahin juga masih aja ribut," lerai mama Chika dan hanya dibalas guliran mata kesal keduanya.
"Udah sekarang kalian siap-siap!" titah wanita paruh baya itu.
"Siap-siap? Ngapain?" tanya Cheryl bingung, mewakili Arga yang juga punya pikiran sama.
"Ya ampun kalian lupa?" bukan menjawab mama Chika justru balik bertanya dengan tatapan tak percaya.
Hal itu semakin membuat Cheryl dan Arga bingung. "Apa?" tanya mereka serempak.
"Kalian 'kan harus segera berangkat," jelas mama Chika.
"Kemana?" tanya mereka lagi yang mendadak menjadi kompak.
"Bulan madu!" celetuk mama Chika dengan mata berbinar.
"Whaaattt????"
\*\*\*\*\*\*
Jangan lupa jejaknya yaa gaiss😘😘
Ini yang sudah jadi imam😂
Ini yang sudah jadi istri😂