
Tiga hari berlalu. Kini sepasang pengantin itu sudah siap untuk kembali pulang. Meski orang tua mereka memberi jatah waktu seminggu, namun dengan alasan tugas kampus mereka yang makin menumpuk. Mereka pun diizinkan untuk segera pulang.
"Hah~ Akhirnya ... Kembali ketempat ternyaman," Cheryl telentang diatas kasur, merentangkan kedua tangan untuk menikmati kasur empuknya.
Arga hanya menghembuskan napas kasar seraya menggelengkan kepala. Ia menutup pintu, menyeret koper mereka kedalam kamar. Seperti perjanjian mereka, Arga berusaha terlihat menjadi suami terbaik didepan kedua orang tua mereka, seolah memanjakan Cheryl dengan tidak membiarkan sang istri membawa koper sendiri.
"Kenapa harus kerumah lu? Kenapa gak kerumah gue aja?" tanya Arga. Pria itu duduk ditepi ranjang meminta penjelasan.
"Kamar gue lebih nyaman," Cheryl menjawab dengan mata terpejam.
"Cih! Kamar kek anak TK gini, dimana nyamannya?" ledek Arga seraya memperhatikan setiap sudut kamar tersebut.
Sontak saja hal itu membuat Cheryl membuka matanya. Seketika ia bangkit dan menatap tajam pada pria yang kini tepat disampingnya.
"Apa lu bilang? Lu-" pekikan Cheryl menghilang terhalang oleh tangan Arga yang membekapnya.
"Suuutt!!! Kecilin suara lu!" peringat Arga pelan. "Lu mau mereka curiga?" tanyanya dan hanya dibalas guliran mata oleh gadis itu.
Arga melepaskan bekapan itu. Matanya memicing pada pintu kamar mereka. Tentu bukan tanpa alasan Arga memberi peringatan. Telinganya yang tajam mendengar gumaman-gumaman kecil dari balik pintu tersebut.
"Lu denger 'kan? Mereka mana bisa percaya gitu aja," bisik Arga. Cheryl mengangguk mengerti, tentu ia bukan orang t*li yang tak bisa mendengar bisik-bisik yang kian ramai itu.
Tiba-tiba gadis itu, menyeringai. Ia membisikan sesuatu ditelinga Arga yang sukses membuat pria itu membelakak. Segera Cheryl menarik Arga ketengah kasur, kemudian menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuh mereka.
"Mmmhhh, Gaa!! Uhhh ...." Cheryl men de sah dengan suara tak main-main.
Arga bungkam, bahkan terpaku mendapat kelakuan gadis itu. Dari mana Cheryl mempelajari hal itu? Gadis itu sesekali mengintip keluar selimut. Memperhatikan orang-orang yang mungkin mulai panas dingin diluar pintu sana.
"Ahhh, Ga, pelan-pelan! Uhhh ...." lagi-lagi gadis itu berteriak kencang. Kemudian setelahnya ia cekikian tanpa suara.
"Lu juga bales, biar seru," bisik Cheryl.
"Hah? Ah iya!" balas Arga yang tiba-tiba ikut merasa panas dingin. Ternyata bukan orang-orang disana saja, Arga sendiri merasakan hal aneh pada dirinya.
Pria itu menarik dan meghembuskan napas pelan untuk memulai aktingnya. "Ahhh ... Lebih cepat, lebih nikmat Cher! Uhhh ... Ahhh ..." Suara Arga terdengar begitu sexy. Hal itu sukses membuat bulu kuduk Cheryl meremang seketika.
Gadis itu terpaku melihat wajah Arga yang seolah begitu menikamati. Wajah putih itu tiba-tiba memanas dengan tenggorokan yang tiba-tiba tercekat.
"Lu balas lagi!" titah Arga.
"I-iya," Cheryl segera menepis pikiran-pikiran itu. Kedua manusia itu pun semakin gencar dengan de sahan silih bersahutan.
Ternyata benar, hal itu sukses membuat orang didepan pintu panas dingin. Mama Chika, mama Jingga, oma Rila dan oma Ayra gelagapan didepan benda persegi itu. Serempak mereka menutup mulut tak percaya. Ternyata anak-anak mereka benar-benar sudah menjadi suami istri. Bahkan mama Chika membuka sedikit pintu kamar tersebut untuk memastikan. Terlihat selimut yang membengkak diatas kasur itu menggunung dan bergerak-gerak. Segera ia pun menutup rapat pintu tersebut.
"Ahh, udah ah. Aku gak kuat. Mereka benar-benar sedang melakukannya," celetuk mama Chika dengan wajah memerah.
"Beneran, Ma! Aku lihat sendiri," balas mama Chika.
"Hemm, bagus kalo gitu," balas oma Ayra senang.
"Sebaiknya, kita pergi. Biarin mereka menikmati waktu mereka," usul mama Jingga dan diangguki ketiganya. Akhirnya keempat wanita itu pun segera berlalu meninggalkan pintu tersebut.
Beberapa saat sebelumnya ...
Arga sempat melihat handle pintu yang bergerak. Tentu ia tau, pasti pintu hendak dibuka. Segera ia menindih tubuh Cheryl dengan selimut tetap menutupi tubuh mereka. Cheryl yang hendak protes segera dibekap Arga dengan kode. Hingga gadis itu pun diam pasrah. Arga terpaksa harus bergerak-gerak diatas tubuh Cheryl. Bahkan tanpa sengaja benda pusat mereka harus saling bersentuhan.
'Oh Tuhan! Kenapa ujian-Mu ini begitu berat,' gumam Arga memelas dalam hati.
'Ya ampun, otak gue plis, jangan melangalang buana!' batin Cheryl memohon.
Hingga beberapa detik berikutnya, Cheryl mencoba melongokan wajah keluar selimut untuk melihat situasi pintu tersebut. Merasa sudah aman, ia menghentikan tubuh Arga tepat ketika sejoli mereka bertemu.
Deg!
Keadaan itu membuat mereka saling menatap. Cheryl merasakan benda keras menyapa nonanya yang berdenyut. Meski itu terhalang kain yang melekat ditubuhnya dan juga ditubuh Arga, namun tetap saja dapat dirasakan gadis itu. Begitupun Arga, keadaan mereka sekarang sukses membuat senjatanya berdiri tegak. Hingga entah dapat dorongan dari mana, tiba-tiba ia ingin melanjutkan apa yang seharusnya mereka lakukan. Ia mendekatkan wajah, mengikis jarak dengan gadis itu.
Lalu, bibirnya benar-benar hampir meraup bibir ranum Cheryl. Hingga suara gadis itu sukses menghetikan aksinya.
"Ga? ada yang keras," celetuk Cheryl pelan.
Seketika Arga tersadar. Segera ia bangkit dengan berdehem keras. Tanpa basa basi ia berlalu begitu saja menuju kamar mandi. Tentu saja ucapan Cheryl membuat ia malu, semalu-malunya. Berharap gadis itu tak menyadari, justru terjadi sebaliknya.
Cheryl ikut bangkit setelah pria itu memasuki kamar mandi. Ia memegang dadanya yang bergemuruh. Mengingat hal yang keras, tentu membuat suhu tubuhnya kian memanas. Hingga ia mengibas-ibaskan tangan untuk menetralkan suhu tubuhnya kembali.
"Oke Cher, tenang, rileks, itu cuma kebetulan. Iya," ucapnya menennagkan dirinya sendiri. Namun, hal itu percuma. Kala otaknya traveling semakin melanglang buana.
"Aisshhh!" erangnya frustasi mengetuk-ngetuk otaknya. Tentu ia belum pernah tau rasanya menyatu dengan pria. Namun, ia juga bukan orang suci yang tidak tau hal itu. Meski ia tidak pernah menonton film biru, namun ia pernah membaca novel dua satu plus plus. Oh sungguh sial!
Sementara itu, didalam kamar mandi Arga terus merutuki dirinya dalam hati. Tentu memalukan untuknya saat kembali bertemu dengan gadis itu. Bagaimana bisa ia hampir hilang kesadaran dan hendak melakukan itu. 'Arrggghhh, sial!' erangnya frustasi.
Untuk menetralkan dirinya, ia memilih untuk membersihkan diri sekaligus menenangkan senjatanya itu. Ia mengelus benda panjang yang berdiri tegak itu seraya mengajaknya bicara.
"Kenapa akhir-akhir ini lu jadi nakal, hah? Terus kenapa harus didepan si chemot? Huh~ memalukan!" gumamnya kesal. Tak ingin terus dalam kedaan itu ia pun terus mencoba menenangkannya.
\*\*\*\*\*\*
Jangan lupa jejaknya gaisss😘😘