My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Bermain Jetski



Arga tersenyum senang, melihat Cheryl yang tengah makan begitu lahap. Ia bahkan, sudah kenyang duluan hanya dengan melihat istrinya itu makan. Ternyata canda tawa mereka di pantai tadi sukses membuat gadis itu kelaparan.


"Kamu gak makan?" tanya Cheryl setelah menelan makanan yang ia kunyah.


"Suapin!" pinta Arga manja.


Cheryl berdecak, namun tak ayal ia pun tersenyum dan menyuapi suaminya itu. "Gimana, enak?" tanyanya.


"Hem, banget!" balas Arga. "Apalagi sambil lihat wajahmu, hah~ rasanya lebih nikmat," rayunya.


"Cih! Gembel," Cheryl menampol pundak Arga yang berada disampingnya, membuat Arga pun p9terkekeh.


"Dahlah, gak usah kayak gitu. Serem tau gak!" ledek Cheryl.


"Udah kayak Key, ya?" kekeh Arga dan dibalas tawa gadis itu.


Canda tawa kembali terdengar dari pasangan itu, disebuah meja dengan payung besar melindungi mereka dari sengatan cahaya matahari.


Suara mereka sampai terdengar para gadis yang tengah bermain di tepi pantai. Senyum bahagia terpancar dari kedua gadis itu.


"Gue seneng deh lihat tuh anak udah bisa ketawa lagi," celetuk Reysa.


Gadis yang tengah berselfi dengannya mengangguk setuju. "Iya. Smoga mereka selalu bahagia," balas Ara.


"Lu juga. Cepet punya cowok dan hidup bahagia," sela Reysa membuat Ara tertawa.


'Apa ada kemungkinan?' batin Ara bertanya, kala ia mengingat siapa pria yang ia sukai.


"Kok, kalian berdua? Dua lagi kemana?" Suara Al mengalihkan atensi kedua gadis itu. Pria itu menghampiri mereka bersama dengan Key.


"Oh, itu mereka sedang adu adrenalin," tunjuk Reysa pada kedua gadis yang tengah bermain papan selancar yang ditarik dengan jetski. Sungguh luar biasa memang nyali Rayna dan Zea ini.


Kedua gadis itu nampak menikmati aktifitas mereka. Bahkan, untuk kali ini mereka dapat melihat gadis dingin yang tidak pernah menunjukkan ekspesi apapun itu tersenyum. Rayna nampak menikamti itu. Bibirnya tertarik membentuk senyum lebar, rambut gadis itu terbang terbawa angin dengan kaca mata hitam bertengger dihidungnya.


"Cantik!" gumam Al tanpa sadar, mata teduh itu tak melepas memandang Rayna dengan senyum tak luntur dari bibirnya.


Key yang mendengar gumaman itu menautkan alis. Lalu, ia melirik Reysa yang juga tengah tersenyum memandang wajah Al. Pria itu terkekeh seraya menggelengkan kepala. "Astaga, cinta itu memang gila!" celetuknya.


Sontak Al mengalihkan pandangan, begitupun Reysa. Sejoli itu merasa tersindir akan ucapan Key. Hingga Al mengalihkan pandangan ke arah lain. Pria kalem itu tersenyum melihat sepasang manusia yang menghampiri mereka.


"Pada ngapain?" tanya Arga mendekat bersama Cheryl.


"Tuh!" tunjuk Ara pada jetski ditengah laut.


"Kayaknya seru tuh! Mau naik?" tawar Arga pada Cheryl.


"Nggak ah, aku takut!" tolak Cheryl.


"Napa takut? 'Kan ada aku? Yuk naik!" bujuk Arga. Namun, Cheryl tetap menolak.


"Heleh, dasar cewek-cewek tuh pada penakut!" celetuk Key meledek.


"Enak aja! Siapa yang takut? Ayo, aku gak takut," bukan Cheryl tapi Ara yang menantang.


Setelah perdebatan panjang kali lebar, akhirnya semua setuju untuk naik jetski. Bahkan Arga yang tidak bisa berenang pun, ingin menguji adrenalinnya sendiri. Demi Cheryl, ia berjanji akan baik-baik saja.


"Lu sama gue!" ajak Key menarik tangan Ara. Ia ingin melihat reaksi Rayna jika Al berdua bersama Reysa.


"Gak mau!" tolak Ara menghempas tangan Key. "Aku sama Kak Al aja!"


"Udah ayo!" Key memaksa gadis itu. Meski harus mendapat ocehan gadis cerewet itu, namun Key tidak peduli. Ia hanya ingin membuktikan cinta segitiga itu memang ada antara sepupunya dan si kembar.


Akhirnya, dengan pasrah Ara pun mengalah dan menaiki jetski dibelakang Key, setelah mengenakan pelampung terlebih dahulu. Begitupun Al yang sudah siap dengan Reysa dibelakangnya. Tentu hal itu membuat gadis itu teramat senang dapat memeluk perut Al dengan erat.


"Kamu yakin? Kalo jatuh gimana?" tanya Cheryl yang nampak ragu untuk duduk dibelakang suaminya. Tentu ia khawatir karena tidak mampunya Arga berenang.


"Udah ayo naik!" ajak Arga. "Kamu tenang aja, lagian aku pake pelampung. Ada kamu juga 'kan dari belakang," ucap Arga meyakinkan.


Setelah berulang kali meyakinkan, akhirnya Cheryl pun mau menaiki jetski tersebut dan segera memeluk erat tubuh Arga. Ini adalah kali pertama mereka boncengan. Mereka yang biasa naik mobil, tentu baru merasakan hal itu hari ini.


Ketiga jetski pun melesat dari tepian. Cheryl yang sempat ragu, menghilangkan rasa tersebut. Saat hal itu ternyata begitu menyenangkan.


"Teriaklah! Keluarin semua uneg-uneg dihati kamu. Percaya deh, semua akan terasa lebih baik!" titah Arga dengan suara keras.


"Emang iya?" tanya Cheryl tak percaya.


"Iya, coba aja!"


Cheryl menarik dan menghembuskan napas sebelum mengeluarkan suara terkerasnya. "Aaaaaa!!!"


Arga tersenyum lebar. Sungguh menyenangkan bisa membuat sang istri sedikit lebih tenang. Bahkan gadis itu tertawa dapat meluapkan sesak dihatinya.


"Dasar lambat!" ledek Key. "Ayo kejar, kalo berani!" tantangnya melesat cepat.


"Wah, tuh buaya nantangin kita, Ga. Ayo kita kejar!" ajak Cheryl.


Arga tertawa. "Oke, kamu pegangan yang erat!" tithanya. Mereka pun melesat mengejar Key.


"Emm, Al. Kita gak ngejar mereka?" tanya Reysa ragu.


"Kamu mau kita ngejar juga?" tanya Al.


"Hem, itu ..."


"Oke, kamu pegangan!" sela Al. Tanpa menunggu persetujuan ia juga melesat cepat. Sontak Reysa segera memeluk erat perut Al.


Bukan ingin mengejar Key dan Arga. Namun, Al justru berniat mengejar Rayna dan Zea. Ia tidak ingin melewati senyum cantik diwajah gadis itu. Ia ingin melihat senyuman Rayna dari jarak lebih dekat.


Benar saja ia mampu melesat mendekat pada kedua gadis itu. Hingga Al mendapat lambaian dari adik kembarnya yang menyadari keberadaan dirinya.


"Kak Al!!!" teriak Zea.


Sontak Rayna ikut menoleh, senyum yang terukir sejak tadi dibibir gadis itu lenyap seketika. Melihat Reysa yang begitu dekat dengan Al, entah kenapa membuat gadis itu merasakan hal aneh. Segera ia kembali menatap kedepan.


'Kenapa? Apa yang terjadi sama gue?' batin Rayna bertanya.


Tak jauh dari sana, Key tersenyum melihat adegan itu seraya memelankan laju jetski yang ia tumpangi. "Benar 'kan prediksi gue. Cinta segitiga itu beneran ada," ucapanya.


"Cinta segitiga? Siapa?" sambar Ara yang mendengar ucapan Key.


"Ck! Gak peka, lu!" ledek Key.


"Hissh kamu tuh kalo ngomong berbelit-belit. Jelasin aja apa susahnya sih?" omel Ara. "Difikir aku punya indera ke enam apa yang bisa dengerin suara hati?"


Key memejamkan sebelah mata seraya merorek kuping yang dijadikan mic oleh Ara. Sungguh suara gadis itu bukan hanya sampai digendang telinga saja. Namun, juga sampai di sukma terdalamnya.


"Ya Tuhan! Salah gue apa? Dikasih sepupu gini amat ya," gerutu Key yang sukses dapat timpukan dari Ara, hingga keributan dilakukan dua saudara itu.


"Rayna awas!!!" pekikan keras Zea sukses mengalihkan atensi mereka semua.


Byurrr!!!!


\*\*\*\*\*\*