My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Benda mungil



Ceklek!


Arga keluar dari kamar mandi seraya menggosok rambutnya yang masih basah. Ternyata melepaskan sesuatu itu bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu berjam-jam untuk menenangkan si jack yang tak kunjung juga tertidur. Padahal matanya sendiri sudah tidak mampu untuk terbuka. Mengingat hal itu, mungkinkah benda keramatnya akan mampu memuaskan sarangnya?


"Ck! Gue mikir apaan sih?" kesalnya. Tak ingin lama-lama dalam pemikiran yang akan menyebabkan si jacknya bangun kembali, ia pun segera mencari pakaian yang akan ia kenakan.


"Dia udah tidur?" gumamnya setelah mendapatkan kaos dan celana pendek dari dalam koper. Ia celingukan memperhatikan sebentar tubuh yang terbungkus sempurna itu. "Kayaknya udah."


Dirasa sang gadis sudah terlelap, tanpa ragu ia melepaskan handuk dan berniat mengganti pakaian tepat disamping ranjang. Namun, tanpa diduga Cheryl membuka selimutnya hingga dada dan seketika berteriak.


"Aaaaa!!!!"


Pekik gadis itu kembali menutup selimutnya. Dengan cepat Arga kembali meraih handuk yang sudah melorot untuk dikenakannya kembali.


Cheryl yang mendengar Arga keluar dari kamar mandi, berniat menyuruh pria itu untuk tidur disofa. Ia tidak menyadari, jika Arga akan mengganti pakaian dikamar begitu saja. Hingga ia harus pasrah melihat benda gondal gandul yang menciut kedinginan, membuat wajahnya memerah seketika.


"Lu ngapain ganti baju disini? Di kamar mandi sana!" teriak Cheryl.


Bukan hanya Cheryl, Arga pun terkejut bukan main. Ia mengumpat tertahan, menyayangkan senjata keramatnya yang harus dilihat oleh gadis itu. Tanpa menjawab, ia berlalu membawa pakaiannya menuju kamar mandi.


"Ya ampun! Tadi tuh?" tanya Cheryl bangkit dari posisinya setelah beberapa detik mendengar pintu kamar mandi tertutup.


Hawa mendadak panas melihat benda berharga milik Arga yang ternyata begitu panjang. Terakhir ia melihat benda itu, saat mereka masih kecil dulu. Cheryl tak sengaja mengintip Arga dan Key yang sedang pipis waktu itu. Dan sekarang, oh sungguh benda mungil itu kenapa menjadi begitu panjang? Pikirnya.


Gadis itu mengusap wajahnya yang terasa terbakar. "Nggak ini gak bener, pokonya jangan sampai dia satu selimut sama gue, bahaya!" putusnya. Tentu ia tak mau benda panjang itu tiba-tiba menegang dan menerobos tanpa permisi.


Ia meraih bantal disampingnya dan melempar benda itu keatas sofa. Bagaimanapun itu akan membuat mereka aman. Ia kembali berbaring dan menyelimuti seluruh tubuhnya, lalu menggeser ketengah agar kasurnya penuh dengan tubuhnya. Walaupun kenyataannya kasur masih luas untuk ditiduri empat orang seukuran dirinya.


Ceklek!


Pintu kamar mandi kembali terbuka. Cheryl tak membuka lagi selimutnya dan hanya bertetiak dari dalam benda itu.


"Jangan banyak protes, jangan banyak nanya! Pokoknya lu tidur di sofa, gue disini, titik." tegas Cheryl.


"Apa? Gue di sofa?" tanya Arga gak terima. Ia mendekat seraya berkaca pinggang. "Bangun lu! Enak aja lu di sofa, gue disini," titahnya.


"Nggak gue disini," balas Cheryl bersikukuh tanpa merubah posisi.


"Ck!" Arga berdecak kesal. Ia menarik selimut agar gadis itu yang berpindah. Namun, Cheryl begitu kuat mempertahankan posisinya.


"Lu tuh bener-bener ya?" Tidak ada tanggapan apapun dari Cheryl didalam sana.


Waktu yang semakin larut, bahkan Arga sudah terlalu lelah untuk kembali berdebat. Ia pun mengalah dan berlalu menuju sofa. Meski dengan hati yang dongkol, namun rasanya tak ada lagi sisa tenaga untuknya menghadapi gadis itu.


Arga menghempaskan tubuh diatas sofa tersebut dengan melipat tangan menjadi bantal. Hari ini begitu banyak kejutan hingga sukses membuat jiwanya hampir terlepas dari tubuh.


"Kenapa hidup gue jadi kayak gini?" gumamnya menatap langit-langit. Lalu, ia melirik melihat kearah Cheryl.


"Kenapa cewek berisik itu harus masuk ke kehidupan gue dan terus ngusik hidup gue?" lanjutnya yang diakhiri hembusan napas panjang.


Tiba-tiba pikirannya tertuju pada sang kekasih yang sedari pagi tidak ia kabari. Ia kembali menghembuskan napas panjang, saat menyadari ponselnya masih dipegang sang papa.


"Maafin aku Tan. Smoga kamu gak terlalu khawatir dan bisa mengerti keadaan ini," lirihnya.


**


"Ck! Kamu kemana sih, Ga? Kenap gak hubungi aku sama sekali?" tanyanya.


Ia terus mondar mandir didalam kamarnya. Hingga suara ponsel mengalihkan atensinya. Ia berdecak saat berulang kali seseorang terus saja menghubunginya. Karena tak tahan dengan suara bising itu, ia pun segera mengangkatnya.


"Iya, hallo!" sapanya tak bersahabat.


"Lu mau ingkar janji?" tanya seorang wanita dari sebrang telepon.


"Kasih gue waktu," balas Tania.


"Waktu lu bilang? Terus selama ini apa belum cukup waktu yang gue kasih?" tanyanya lagi.


"Please Ra, besok gue janji!" ucap Tania memohon.


"Gue gak punya waktu lagi. Pokoknya lu harus bayar hari ini juga! Gue gak mau tau. Atau nggak, anak buah gue yang jemput kesana." peringat wanita itu dan segera menutup panggilan tersebut.


"Ha-hallo? Hallo? Ck sialan!" kesal Tania membanting benda pipih itu keatas kasur.


"Apa yang harus gue lakuin? Saat genting kayak gini, kenapa pak Alex sama Arga gak bisa diandelin?" tanyanya bermonolog sendiri.


"Jalan satu-satunya cuma pak Alex. Gimana pun juga, dia gak bisa buang gue gitu aja!" gumamnya hingga ia pun kembali meraih benda yang sempat ia banting, dan kembali menghubungi seseorang.


"Ada apalagi? Sudah saya bilang, kamu gak bisa kerja lagi," tegas seorang pria disebrang sana.


"Oh ya? Pak Alex yakin ingin membuang saya?" tanya Tania seolah menantang.


"Iya. Saya membuang kamu. Sudah berhenti menghubungi saya. Kamu bukan anak saya lagi," balas pak Alex dari sebrang sana.


"Anda yakin?" tanya Tania dengan seringai dibibirnya. "Saya aset berharga, tidakkah anda merasa rugi kehilangan saya?"


"Saya tidak tau, apa alasan anda membuang saya begitu saja. Tapi saya sangat yakin, sekarang banyak yang datang menunggu saya. Bukan begitu?" lanjut Tania penuh penekanan.


"Coba Pak Alex ingat lagi. Pernahkah saya mengecewakan anda? Pernahkah saya merugikan anda? Bukankah saya begitu menguntungkan anda?"


Terdengar helaan napas panjang dari sebrang telepon. "Baiklah, jangan mengecewakanku!" final pak Alex setelah beberapa saat terdiam.


"Tentu!" final Tania dengan seringai puas.


**


Disebuah kamar pak Alex membanting tubuhnya disofa setelah memutus panggilan dengan Tania. Ia memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Kemudian, ia meraih gelas berisi air merah, menimang gelas itu seolah berpikir keras.


"Kamu memang berharga Tania. Tapi, aku tidak ingin mengambil resiko untuk berurusan dengan pak Shaka. Dia adalah tameng berhargaku," ucapnya.


"Ayolah, sayang!" seorang wanita duduk dipangkuan pria itu dengan pakaian tipis yang membalut tubuh moleknya. "Bukankah kamu bisa menggenggam keduanya, hem?"


Satu kecupan diberikan wanita itu pada bibir Alex. Pria itu terdiam mencerna ucapan wanitanya. Permintaan Shaka untuk meminta data Tania membuat ia ketar ketir. Takut akan berpengaruh untuk bisnisnya, hingga rela melepas Tania. Namun, setelah ia telaah, rekan bisnisnya itu hanya meminta data yang belum jelas tujuannya. Sementara ia mencari tau alasan Shaka, bukankah selama itu ia bisa memanfaatkan Tania? Hingga beberapa detik kemudian ia pun menyeringai.


"Youre right, Baby! Kita bisa menikmati keduanya."


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa jejaknya yaa gaisss😘😘