
Berulang kali Arga menghela nafasnya berat. Jika boleh jujur ia lebih memilih untuk pulang ke rumahnya sendiri, berada di rumah sang Papa tentu membuat ia merasa tak bebas melakukan hal apapun. Berbeda dengan Cheryl, Ia nampak bahagia memasuki ruangan luas itu.
"Kenapa sih pengen banget nginep di sini?" tanya Arga dengan raut wajah tak semangat.
Cheryl menoleh kearah suaminya yang baru saja mendudukan diri disebelahnya. "Kenapa? Gak boleh?" godanya. Arga hanya berdecak menanggapi.
Bukan untuk menghasilkan suara-suara yang Cheryl maksud sebelumnya, tapi untuk mencari sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu Arga. Tanpa menunggu persetujuan, Cheryl sudah mulai menjelajah membuka setiap laci nakas.
"Sebenarnya apa sih yang kamu cari? Cowok itu gak kayak cewek apa-apa disimpan," tanya Arga heran.
"Ya 'kan? Siapa tahu aja kamu menyimpan sesuatu atau barang gitu, kenangan dari si Tania rapia itu?" cerocos Cheryl memperhatikan barang yang setiap ia temukan.
Arga hanya menghembuskan nafas panjang, tidak habis pikir akan apa yang ada di otak gadis itu. Jangankan mendapatkan barang, mendapat perhatian saja kadang ia harus mengemis terlebih dulu. Ya, tidak seperti dirinya yang siap memberikan apapun untuk mantan kekasihnya itu.
"Ini?"
Suara Cheryl bertanya, sukses membuat lamunan Arga buyar. Ia mendekat ke arah gadis itu untuk melihat apa yang ditemukannya.
Sontak Arga membelakak kaget, saat apa yang ditemukan Cheryl adalah suatu rahasia yang selama ini ia tutupi. Segera pria tampan itu merebut sebuah benda dari tangan Cheryl, hendak menyembunyikan benda tersebut kedalam saku celananya.
Namun, segera Cheryl menepis tangan pria itu. "Tunggu! Apa itu?"
"Em, bukan, bukan apa-apa," elak Arga gelagapan. Cheryl memicingkan mata curiga, instingnya sebagai seorang istri membuat gadis itu masih belum puas akan jawaban suaminya itu.
Greppp!!
Cheryl menangkap tangan yang tersembunyi itu, hingga nampak sebuah tali kain panjang berwarna pink melambai dari tangan besar itu. Gadis itu nampak berpikir. "Kayaknya tali ini gak asing ya, tapi ... Dimana aku pernah melihatnya?" tanyaya bingung.
Arga nampak tegang melihat Cheryl yang nampak memperhatikan benda tesebut. Sepertinya gadis itu tidak mengingat apapun. Dan hal itu membuat Arga bisa bernapas sedikit lega.
"Ehem! Udahlah ini bukan apa-apa. Biar aku buang," Arga hendak berlalu untuk membuang kain itu pada tong sampah kecil dipojok ruangan. Namun, lagi-lagi Cheryl menahannya.
"Jangan! Jangan dibuang!" cegat Cheryl membuat pria itu terdiam mematung.
Cheryl merebut benda itu dari tangan Arga. Lalu, mengenakan tali pink itu untuk menguncir rambutnya. "Sayang kalo dibuang, mening aku pake," lanjut Cheryl.
Arga menghela napas lega, ia pikir gadis itu teringat sesuatu. Kembali gadis itu menggeledah laci nakas itu, hingga ditemukan sebuah figura kecil yang menampakkan foto tiga bocah didalam sana.
"Wah, kamu masih nyimpen foto ini ternyata?" tanya Cheryl takjub, melihat masih ada foto dirinya bersama Arga dan Key saat waktu TK dulu.
Arga tersenyum melihat gadis kecil nan cantik yang begitu narsis dalam foto tersebut, dua bocah laki-laki yang diketahui dirinya dan Key berada didua sisi gadis itu. Nampak Key tersenyum begitu tampan merangkul pundak Cheryl. Sementara Arga nampak cemberut dengan kedua tangan melipat didada.
Cheyl tertawa melihat ekspresi menggemaskan dari Arga. "Kamu lucu banget cemberut kayak gini," ledeknya.
Arga mencubit dua pipi gadis itu, hingga tawa Cheryl kian keras. "Dari pada kamu, jelek banget," balasnya ikut meledek.
"Apaan? Orang cantik kayak gini juga," sangkal Cheryl tak terima.
Arga mendaratkan tangan dipinggang gadis itu, hingga kedua manusia itu tergelak dan bercanda bersama.
Brukkk!!!
Sejoli itu terjatuh diatas kasur, dengan posisi Arga dibawah dan Cheryl diatas tubuh besar itu. Tawa keduanya pun hilang ditelan keheningan. Arga menatap dalam mata indah Cheryl, detak jantungnya berdegup berkali-kali lebih cepat.
Netra kecoklatan nan cantik itu yang selalu membuat Arga benci. Benci, untuk mengakui jika ia terpesona melihatnya. Dan sekarang? Ia siap mengakui itu.
"Bentar!" sela Cheryl menahan ucapan pria itu. Tatapan Cheryl beralih pada figura yang masih ia pegang.
Hingga didetik berikutnya, ia pun membelakakan mata. "Iya, aku tau!" pekiknya.
Arga menaikan sebelah alis tak mengerti. Bukankah ia belum memberitahu apa yang tengah ia pikirkan? Belum sempat Arga bertanya, Cheryl sudah memperlihatkan foto tersebut persis didepan matanya.
"Nih lihat!" titahnya. Arga gak mengerti apa maksud istrinya itu. Arga sedikit menjauhkan figura tersebut untuk menatap Cheyl.
"Pita ini sebenarnya punyaku 'kan?" selidik Cheryl memegang rambut kuncirannya. Arga hanya terdiam tak menjawab.
"Waktu itu aku memberikan pita ini pada kaki Key yang terluka," jelas Cheryl. "Apa kamu merebutnya?" selidiknya lagi memicingkan mata.
"Lalu, kenapa kamu simpan?"
Arga menelan salivanya susah payah. Sebenarnya itu adalah hal spontan yang ia lakukan. Sebuah aib yang sangat memalukan untuk seorang Arga yang memiliki gengsi tinggi. Namun, semua sekarang tak ada gunanya. Dia sudah memantapkan hati untuk membuang ego dan gengsi itu pada Cheryl.
Pria itu menghembuskan nafas panjang. Lalu, menarik pita itu dari rambut sang gadis, hingga tergerai menutupi sebagin wajah cantik istrinya.
Kemudian, ia merapaihkan rambut itu kedepan telinga si empunya. Mata Cheryl mengerjap cepat mendapati perlakuan tersebut dengan degup jantung tak beraturan.
Arga tersenyum, mengingat betapa lucu kelakuannya waktu itu. "Kamu mau tau?" tanyanya.
"Hem, apa?"
Arga mengangkat tubuh Cheryl, merebahakn tubuh gadis itu disampingnya. Ia memiringkan tubuh dengan satu tangan ia tekuk untuk menyangga kepalanya. Sekali lagi, pria itu membenahi rambut Cheryl. Lalu, melambaikan pita itu dihadapan sang gadis, bersama memori otak yang terputar belasan tahun yang lalu.
"Waktu itu ...."
Flash back on~
Suara tangis seorang bocah berseragam TK membuat atensi teman-teman beralih menatap dirinya. Bocah itu terduduk di atas rumput dengan memegang lututnya.
"Kamu kenapa, kok nangis?" tanya gadis kecil menghampiri dan berjongkok dihadapan bocah laki-laki itu.
"Aku jatuh, sakit!" isak bocah laki-laki itu.
"Coba aku lihat!" pinta gadis itu seraya mencoba melihat lutut sang bocah.
Key, bocah laki-laki tampan itu menghentikan tangisnya, seraya membiarkan sang gadis melihat luka di lututnya.
Cheryl, sang gadis kecil mencoba meniup perlahan lutut berdarah Key. Gadis itu menarik sebuah pita berwarna pink dari rambutnya. Lalu, ia mengikatkan pita tersebut pada lutut Key.
"Dah sembuh. Jangan nangis lagi, ya!" hibur Cheryl kecil disertai senyumnya.
Key pun tersenyum seraya menganggukkan kepalanya dan berjanji tidak akan menangis lagi. Cheryl berdiri, lalu mengulurkan tangan mengajak Key untuk kembali bermain. Dengan senang hati Key pun meraih tangan mungil itu dan kembali bergabung dengan teman-temannya.
Di sisi lain seorang bocah laki-laki menatap kesal pada kedua bocah itu. Wajah tampan itu cemberut menggemaskan dengan kaki menghentak di atas tanah.
"Isshh ngeselin!"
\*\*\*\*\*\*