
Mentari pagi mulai menyingsing, Cheryl terbangun terlebih dahulu. Hatinya sudah sedikit lega setelah Arga menasehatinya tadi malam. Meski ia belum bisa tertidur nyenyak, tapi setidaknya ia merasa lebih tenang.
"Smoga wanita itu bisa tenang disana," gumam Cheryl setelah kembali melantunkan doa.
Tring!
Suara notif pesan terdengar dari ponsel milik Arga beberapa kali. Cheryl melihat Arga masih anteng dalam tidurnya. Terlalu penasaran, ia pun meraih benda pipih itu dari atas nakas. Ia buka layar yang tidak terkunci itu. Hingga menampakan layar utama adalah foto preweed mereka untuk resepsi kemarin.
"Aisshh manis banget sih," gumamnya dengan senyum yang mengembang.
Sungguh, Cheryl tidak mengira jika Arga akan berubah manis padanya. Bahkan, terlihat seperti orang yang tengah bucin. Segera ia melupaka ha itu sejenak. Ia terfokus pada si pengirim pesan, yaitu "Key".
"Akhirnya mereka akur juga," Cheryl semakin mengembangkan senyumnya. Sungguh, senang sekali melihat kedua saudara itu rukun kembali.
Namun, seketika senyum itu sirna. Kala membaca isi pesan dari Key.
[Gue udah cek semuanya. Dan semua ini benar perbuatan Tania. Dia sudah merencanakan kecelakaan itu untuk melukai Cheryl. Tapi, lu tenang aja. Dia sudah ditangan pihak berwajib, dan semua bukti sudah diserahkan ke kantor polisi.]
Seperti itu isi dari chat pertama yang dikirimkan Key. Lalu, Cheryl pun kembali membaca isi chat kedua.
[Sebaiknya, lu jangan ungkit masalah ini didepan Cheryl! Biar ini menjadi rahasia kita sama uncle Sha dan juga uncle Deril. Gue khawatir ini akan mempengaruhi kesehatan Cheryl.]
Pluk!
Cheryl menjatuhkan benda tersebut dari tangannya. Air mata gadis itu kembali jatuh begitu saja. Ia memegang dada yang terasa sesak. Rasa bersalah tiba-tiba menyeruak memenuhi dada, pada wanita yang menjadi korban kejahatan Tania. Secara tidak langsung, bukankah Cheryl sendiri penyebab kecelakaan itu?
Pecah juga tangis Cheryl, yang terdengar begitu memilukan. Jika saja ia tidak bermasalah dengan Tania, mungkinkah kejadian itu tidak akan terjadi? Dan kenapa harus wanita yang tidak berdosa itu? Kenapa bukan dirinya?
Suara Cheryl mampu membangunkan Arga dari tidurnya. Pria itu terkejut mendengar isak tangis dari bibir istrinya. Segera ia bangkit dan melihat keadaan Cheryl yang tersedu-sedu memegang dada.
"Cher, ada apa?" tanya Arga khawatir menangkup kedua pipi istrinya itu. Namun, Cheryl tidak menjawab dan hanya menangis.
Segera Arga meraih tubuh Cheryl, membawa tubuh yang bergetar hebat itu kedalam dekapannya. "Suuttt!! Tenang ya, semua baik-baik aja. Aku ada disini," ucap Arga menenangkan.
Pria tampan itu berpikir jika Cheryl mungkin mengalami mimpi buruk atas kejadian kemarin. Ia belum memahami apa yang terjadi. Tangis Cheryl kian kencang, gadis itu begitu merasa bersalah akan wanita itu.
"Gue pembunuh ...." ucap Cheryl disela isak tangisnya.
Sontak pernyataan Cheryl membuat Arga terkejut sekaligus bingung. Ada apa sebenarnya? Namun, Arga masih mencoba menenangkan mengusap rambut dan punggung istrinya itu.
"Gue pembunuh! Gue penyebab kecelakaan itu! Semua gara-gara gue ...." teriak Cheryl frustasi.
"Suutt!!! Apa yang kamu katakan? Semua sudah takdir. Itu hanya kebetulan!" sela Arga menenangkan.
Cheryl melapaskan diri dari dekapan Arga. "Nggak!" tegasnya menatap tajam ke arah Arga.
"Semua bukan kebetulan. Kecelakaan itu udah direncanain. Mobil itu mau nabrak gue. Dan, dan ...." kembali tangis Cheryl pecah.
Arga kembali mendekap tubuh ringkih itu dengan mencoba menebak apa yang sebenarnya terjadi. Ia membiarkan sang istri menangis sejadi-jadinya. Ia hanya mencoba menenangkan tanpa bersuara. Hingga atensi Arga beralih pada ponsel yang tergeletak dipangkuan gadis itu. Ia pun segera meraih benda tersebut yang kemungkinan membuat Cheryl seperti itu.
Benar saja tebakannya. Cheryl pasti seperti itu mungkin karena sesuatu dari ponsel yang ternyata sebuah chat dari Key. Pria itu memejamkan mata yang disertai ******* pelan. Inilah yang ia takut sejak semalam. Jika benar semua itu terencana, yang ia takutkan adalah keadaan Cheryl. Dan sekarang? Ia bingung harus mengahadapimya seperti apa.
**
Sementara itu, seluruh anggota keluarga sudah berada diresto untuk menggelar sarapan bersama. Berharap dengan demikian, mereka dapat membantu mengurangi sedih Cheryl akan hal kemarin.
"Apa mereka belum bangun?" tanya mama Chika khawatir. Mama Jingga hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
Tring!
Key membuka chat yang masuk kedalam ponselnya.
[Cheryl membaca chat dari lu. Dan sekarang keadaannya makin buruk.]
Satu chat yang ternyata dari Arga, membuat pria tampan itu mendesah kecil.
"Ada apa Key?" tanya Al yang berada disampingnya.
"Gak ada apa-apa!" balas Key mencoba sebiasa mungkin dan hanya diangguki Al.
"Emm, barusan Arga chat. Katanya, mereka gak bisa gabung sama kita," ucap Arga pada orang-orang disana.
Semua orang menghela napas dalam. Mereka begitu khawatir akan keadaan Cheryl. Tentu bukan karena tau itu sebuah kecelakaan yang direncanakan yang menyebabkan Cheryl sedih. Namun, mereka hanya tau jika kecelakaan itu tepat didepan mata Cheryl. Yanga mana mungkin saja akan menyisakan trauma untuk gadis itu.
Hanya Key dan kedua pria paruh bayalah yang tau semua kebenaran itu. Ketiga pria itu hanya saling lirik, bahkan kedua pria paruh baya itu seperti mengerti akan maksud Key.
"Emm, ayo kita mulai sarapan! Mungkin Chimut ingin menghabisakan waktu berdua bersama Arga," ajak papa Sha mengalihkan perhatian mereka. Tentu ia tidak ingin semua orang khawatir dan keadaan semakin tidak kondusif.
Semua orang setuju, meski dengan hati yang masih khawatir. Terutama mama Jingga. Wanita si paling peka dan paling tau karakter suaminya itu mengerti, ada sesuatu yang disembunyikan pria tercintanya itu.
'Apa yang sebenarnya terjadi?' batin mama Jingga.
Begitupun, mama Chika. Sebagai seorang ibu, tentu hatinya tak tenang sama sekali sedari kemarin memikirkan putri satu-satunya itu. Hingga tangan sang suami yang menggenggam mengalihkan atensinya.
"Sudah, jangan terlalu banyak pikiran! Percayalah, Chimut pasti baik-baik aja. Kamu percayakan sama Arga?" peringat papa Deril menenangkan dan diangguki mama Chika disertai senyum tipis.
Papa Deril tersenyum memberi semangat, ia mengusap kepala sang istri meyakinkan. Hal yang tidak pernah berubah dari dulu. Papa Deril memanglah type pria yang begitu lembut. Hingga selalu sukses menenangkan hati wanita itu.
'Smoga demikian! Aku hanya berharap, putriku selalu bahagia dalam keadaan apapun,' batin mama Chika.
"Kasihan ya, Chemot. Seandainya aku diposisinya, aku juga pasti sama. Aku gak akan tenang dan mungkin gak akan pernah bisa tidur," ucap Ara yang berada jauh dari meja kedua orang tua sang pengantin itu.
Seperti sebelumnya, meja mereka kini terpisah-pisah. Satu meja hanya memuat empat sampai lima orang saja.
"Iya. Gak kebayang sih gimana keadaannya? Tapi satu hal yang gue tau, Cheryl bukan gadis lemah. Dia pasti cepat bangkit," balas Reysa mencoba berpikir positif.
Key menghela napas dalam, mendengar pembicaraan orang-orang semeja dengannya. Ia mendongak menatap gedung tinggi itu, menatap salah satu kamar yang ditempati pasangan pengantin itu.
'Gue harap juga begitu. Smoga lu bisa membuat Cheryl seperti dulu, Ga!'
\*\*\*\*\*\*