
Tak berselang lama kedua pria berbeda usia itu sampai disebuah ruang privat resto. Key meminta pak Alex untuk memesan makanan yang ia suka. Dengan senang hati, pak Alex pun memesan makanan mereka.
"Pokonya, saya jamin tidak akan mengecewakan!" ucap pak Alex menjelaskan "harta" yang tak lain adalah para gadisnya pada Key.
"Tapi ... Apa anda bisa memberi saya gadis baru, yang masih 'rapi'?" tanya Key.
Pak Alex nampak berpikir sejenak. Tentu akan sangat susah memenuhi keinginan Key untuk mendapatkan gadis perawan. Sementara ia tau di jaman sekarang sulit sekali mendapatkan gadis yang benar-benar seorang gadis. Kecuali, anak SD tentunya.
Key menarik satu sudut bibirnya. "Selama ini, saya hanya menggunakan gadis perawan. Saya tidak suka bekas siapapun," jelasnya.
"Emm, anda tenang saja. Saya akan berusaha mencari apa yang anda inginkan," lanjut pak Alex meyakinkan. Key tersenyum menyetujui.
Ditengah perbincangan mereka, pesanan pun tiba. Beberapa makanan digelar diatas meja. Seorang pelayan memberi kode pada Key menganggukan kepala.
"Mari, silahkan pak Alex!" ucap Key mempersilahkan dan diiyakan pria itu.
Terlihat pak Alex begitu lahap menikamti makanannya. Bahkan, ia tidak berhenti mengoceh memperkenalkan perusahaannya pula. Tentu, ia juga tidak menyia-nyiakan Key untuk bisa bergabung memberi investasi. Key hanya mengangguk tersenyum mendengar ucapan pria itu.
"Sebaiknya, anda ..." tampak pak Alex mengerjapkan mata berulang kali saat tiba-tiba saja kepalanya pusing.
Key yang melihat reaksi itu tersenyum puas. "Bagaimana, Pak?" tanyanya.
"Saya ... Saya ... Kenapa kepala saya berat sekali?" tanya pak Alex memegang kepaalnya.
"Gak apa-apa pak, saya cuma memberi bapak dosis setengah botol. Paling bapak cuma tertidur sampai pagi," celetuk Key dengan santai.
Sontak pak Alex membelakak kaget. "A-anda?" tunjuknya kearah Key.
"Menjijikan sekali, jika saya harus menyentuh berbagai wanita. Dari pada uang saya dihamburkan untuk para wanita, apa tidak lebih baik saya berikan pada orang yang membutuhkan?"
"Kau? Dasar kau bocah kurang ajar! Berani-beraninya ...." ucapan pria itu terhenti kala tiba-tiba kepalanya kian berat. Ia hanya memegang kepalanya yang terasa akan jatuh.
Key berdiri dan menepuk pundak pak Alex. "Tidurlah dengan nyenyak, pak Alex! Tenang saja, orang-orang saya akan membawa anda kembali ke kamar!" ucapnya.
Pak Alex tidak menjawab, kepalanya sudah tersungkur diatas meja dengan kesadaran sudah hilang entah kemana. Key menyeringai dan memerintahkan dua orang suruhannya untuk membawa tubuh gempal itu.
"Awasi dia! Pastikan dia tertidur sampai pagi!" titah Key.
"Baik, Tuan!" balas keduanya bergegas membawa pria tersebut.
"Lu pikir, lu lebih pintar Tania? Lu lupa, uang adalah segalanya!"
Flash back off~
**
"Keluarin gue! Gue gak mau dipenjara, keluarin gue!" teriak Tania setelah dimasukan kedalam jeruji besi.
"Anda bisa membela diri dipersidangan nanti," balas seorang petugas wanita.
"Gue gak mau, lepasin gue! Buka!" teriaknya semakin histeris. Ia menarik-menarik gembok, hingga menimbulkan suara bising.
Braaakkkk!!!
"Berisik!!!" teriak seorang wanita melemparkan sapu kearah Tania.
Sontak Tania kaget dan menghentikan aksinya. Ia meringis memegang kepala, lalu memutar kursi roda yang menopang tubunya tersebut, untuk melihat pelaku yang melempar sapu pada kepalanya.
Nampak seorang wanita yang lebih tua dari usianya, bertubuh penuh dengan tatto tengah menatap tajam padanya. Tania menelan saliva kuat-kuat melihat wanita itu bersama ketiga wanita disana.
"Seret dia kesini!" titahnya dan diiyakan seorang wanita bersamanya.
Tania menggeleng ketakutan. "Nggak! Jangan, jangan mendekat!" tolak Tania histeris.
Wanita bertubuh tatto itu menarik dagu Tania dengan keras. Tania hanya meringis meminta ampun. "Lu tau 'kan? Semua anak baru tuh harus diospek terlebih dahulu?" tanyanya.
Tania hanya menangis tidak dapat menjawab. Hingga bentakkan dan cengkraman erat didagu pun membuat ia terlonjak. "Jawab!!!"
"I-iya," balas Tania tergugup.
"Anak pinter!" ucap wanita itu mengusap kepala Tania. Namun, tiba-tiba wanita itu menarik kunciran rambut Tania, hingga ia meringis kesakitan.
"Sekarang, lu bersihin kamar mandi. Buruan!" bentak wanita itu.
"I-iya," Tania dengan gugup menjawab. Ia pun di arahkan untuk memasuki kamar mandi.
"Buruan, manja banget!" titah satu wanita yang ditugaskan mengawasi Tania.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia harus melakukan semua itu. Dengan ragu ia mengambil sikat untuk ia gosokkan dilantai. Namun tangannya tidak sampai dilantai tersebut.
"Aaaa!!!"
Brukkk!!! Tania terjatuh ke atas lantai, saat teman satu selnya itu dengan sengaja mengangkat kursi roda bagian belakang.
"Makanya punya otak tuh dipake! Kalo gitu kan, lu lebih gampang bersih-bersihnya," ledek wanita itu.
Tania hanya menangis mendapat perlakuan itu. Meski kaki dan bok*ngnya tidak merasakan apapun, namun hatinya lah yang merasakannya. Ia terus mendapat bentakan dan umpatan dari wanita yang megawasinya itu. Namun, Tania hanya mampu menerima dan melaksanakan tugasnya.
'Kenapa hidup gue jadi gini, kenapa?' jeritnya dalam hati.
**
Malam sudah kembali menyapa. Kini keluarga besar Arga dan Cheryl hendak makan malam mengadakan pesta barbeque. Terlihat Arga dan Cheryl sekarang sudah bergabung disana. Ini adalah malam terakhir mereka dipulau Dewata. Mereka akan kembali besok pagi untuk kembali pada aktifitas masing-masing. Acara resepsi malam yang sempat tertunda mereka rayakan sederhana sekarang.
"Kalo kalian masih mau tetap disini, gak apa-apa. Nanti pulang, bawa kabar baik," celetuk papa Shaka.
"Maafin aku, Pa! Makasih untuk segalanya,"
Arga memeluk tubuh pria kebanggaannya itu. Setelah mendengar penjelasan Key sebelumnya, sekarang ia tau sang papa begitu menyayanginya. Bahkan pria yang menolak tua itu, benar-benar bekerja keras untuk melindunginya.
Arga yang sempat kesal pada sang papa, akan perjodohannya dengan Cheryl sungguh sangat menyesali hal itu. Jika saja ia tau dari awal, mungkin ia tidak akan sebodoh itu untuk mempertahankan Tania.
"Ck! Udah kamu jangan bikin malu," peringat papa Shaka meminta Arga untuk melepaskan pelukan.
"Gak apa-apa, Pa. Aku emang udah bikin malu," isak Arga tak mau melepaskan.
Papa Shaka menghembuskan napas pelan. "Udahlah semua udah berlalu. Gak ada gunanya mengungkit hal yang tidak berguna. Sekarang banyak hal yang harus kamu urus, Chimut dan masa depanmu." jelas papa Shaka dan diangguki Arga.
"Jadikan apa yang udah terjadi sebagai pelajaran untuk kedepannya. Ingatlah untuk selalu menggunkan otak dan hati dalam satu kesempatan! Pilihlah jalan yang terbaik mengikuti kedua hal itu." nasehat papa Shaka.
"Iya, Pa. Arga akan ingat itu," balasnya yakin seraya melepaskan dekapan.
Kini Arga berganti menghadapi ayah mertuanya. Ia dekap juga pria yang masih tampan itu. "Makasih, Pa! Papa udah kasih aku kesempatan untuk menjaga dan menyayangi Cheryl. Aku janji tidak akan mengecewkan Papa!" ungkapnya.
"Iya, Papa percaya padamu," balas papa Deril.
"Udah-udah dramanya! Mentang-mentang, kita para emak gak lakuin apapun kamu gak mau peluk Mama juga?" ledek mama Chika.
Bukan Arga, tapi Cheryl lah yang memeluk kedua ibu tercintanya itu. "Ini aku yang peluk!"
"Kok, kamu yang peluk, sih?" tanya mama Chika.
"Karena aku gak mau, suamiku peluk-peluk wanita lain!"
\*\*\*\*\*\*