
Hari keberangkatan ke pulau Dewata pun tiba. Keluarga opa Ar sudah siap bersama kedua anak dan dua mantunya, beserta kedua cucu mereka yang mana salah satunya adalah sang pengantin, yakni Arga. Besannya, orang tua Jingga yaitu Juna dan Agel yang merupakan Kakek dan Nenek Arga juga. Sedangkan, dari Abi karena sudah tidak adanya orang tua hanya menyisakan istrinya Sena dan sang putra Key. Dan besan baru mereka dari keluarga Cheryl, yakni Devan dan Rila Kakek Nenek Cheryl, beserta Deril dan Chika orang tuanya.
Sementara itu ada pula dari keluarga opa Age dan oma Siska. Ada putra dan menantunya Aska dan Vani, beserta kedua putra putri kembar mereka Alzein dan Alzea. Tidak lupa sang besan besti oma Siska, Lia dan Ivan. Dari putri dan menantunya juga Kia dan Rei, beserta sang putri Arabella. Sementara besan dari Rei, yakni ibu dari oma Siska sendiri dan ayah Rei sudah berpulang juga. Menyisakan sang Kakak Rangga dan istri, beserta putranya. Namun, tidak dapat menghadiri.
Kedua keluarga besar itu sudah siap dengan jet pribadi milik Abi, sehari sebelum hari H tiba. Si raja bisnis dengan kekayaan berlimpah itu, tidak segan mengelurkan dana untuk acara sepupunya tersebut.
"Oh iya, keluarga onty Feby tidak sekalian barengan?" tanya Sena pada sang Mama.
"Nggak, mereka masih menungu Riska dan Daffa. Katanya akan menyusul sore nanti," balas oma Ayra.
Keadaan didalam pesawat begitu santai. Para orang tua memilih untuk istirahat dan terlelap. Namun, ada juga yang sibuk dengan pasangam masing-masing. Begitupun, dengan para muda mudi yang sibuk dengan aktifitas mereka. Seperti, sepasang raja dan ratu hari ini. Sejoli itu tengah sibuk mendengarkan lagu bersama dengan satu headset yang menempel di sebelah masing-masing telinga mereka.
Kursi yang bergandengan membuat mereka dengan mudah pula berpegangan tangan. Sungguh keadaan yang berubah seratus delapan puluh derajat dari beberapa bulan yang lalu. Sepasang manusia yang sering sekali tak akur itu mendadak hening dan begitu damai dengan kedua tangan bertautan tak ingin lepas. Kepala Cheryl menyandar dibahu Arga dengan tenangnya.
"Aku kira mereka tidak akan pernah akur," celetuk Alzein dari belakang kursi mereka.
Key yang berada disampingnya terkekeh. "Mereka memang gak pernah akur, tapi ada tempatnya," balasnya. Alzein menautkan alis tak mengerti ucapan Key.
"Dikamar!" celetuk pria berjulukan buaya itu, lalu tertawa.
"Ck! Dasar," Al menyenggol bahu sepupunya itu.
"Lu gak pernah tau, karena lu gak pernah pacaran," ledek Key.
Al tersenyum menanggapi. "Buat apa pacaran, kalo udah ada yang pas tinggal nikah aja," balasnya.
"Cih! Dan lu siap nikah gitu?" ledek Key lagi.
"Jika dia jodohku, aku siap nikah!" balas Al tersenyum, dengan bayangan kembali pada sosok seorang gadis yang tidak sengaja ia senggol semalam.
Key hanya terkekeh menggelengkan kepala mendengar jawaban sepupu kalemnya yang kemungkinan tengah jatuh cinta itu. Menurut Key, seorang gadis sangatlah ribet. Maka dari itu ia enggan menggunakan hati saat pacaran dengan siapapun.
Sementara dari belakang mereka, kedua gadis juga tengah membahas hal yang menurut Zea tidak berfaedah. Berulang kali Ara terus membahas om-om yang mereka lihat di resto kemarin. Dan hal itu membuat Zea teramat jengah.
"Menurutmu ya, Kak. Dia duda apa beristri?" tanya Ara antusias.
"Mana aku tau. Emang aku kenal?" balas Zea malas.
"Isshh Kak Ze, jangan gitu dong! Kasih aku semangat, kek." protes Ara mengerucutkan bibirnya. "Bilang dia duda gitu, biar aku semangat," lanjutnya.
"Ya ampun, Ra. Bisa gak seleramu itu gak nyeleneh kayak Mami kamu? Masa suka sama om-om? Itu sama aja kamu suka sama si papa, atau uncle Sha, atau uncle Abi," nasehat Zea.
"Udahlah, lupain uncle itu. Seandainya dia punya anak. Aku yakin, anaknya seumuran kita."
"Lagian ya, masih banyak cowok keren yang masih bujang. Kamu gak akan kehabisan stock, Ra!" lanjutnya.
Ara berdecak kesal dengan raut wajah yang masam. "Tapi, Kak. Yang bujang juga belum tentu perjaka. Zaman sekarang bujang perjaka itu gak ada. Mening duda sekalian!" celetuknya.
Keplakan tangan dilayangkan Zea pada punggung tangan sepupunya itu. "Enak aja! Al masih bujang, woy! Aku jamin itu," Gadis itu membela saudara kembarnya dari tuduhan Ara yang asal nyablak.
Ara tergelak mendengar pembelaan Zea pada kembarannya. Mungkin untuk orang lain iya, tapi untuk turunannya sepertinya itu mustahil.
"Terserah ...." kesal Zea
Tak terasa pesawat yang mereka tumpangi sudah sampai di Bandara. Tinggal membutuhkan waktu beberapa menit lagi mereka akan sampai dihotel mewah yang tentunya milik Abi juga.
**
Brukkk!!
"Uhh nyamannya," Arga merebahkan diri diatas kasur bertaburan kelopak bunga mawar yang indah.
Sengaja mereka mempersiapkan kamar pengantin untuk pasangan pengantin itu.
"Isshh kamu tuh, main tidur aja! Aku 'kan belum foto dulu," kesal Cheryl yang ingin mengabadikan kasur cantik itu.
Arga terkekeh melihat bibir kerucut sang istri. Lalu, ia bangkit dan dengan cepat menarik tangan gadis itu, hingga terjatuh bersama diatas sana.
"Arga!" pekik Cheryl kaget.
"Kenapa?" goda Arga memeluk erat tubuh istrinya itu.
Cheryl melihat mata Arga yang tidak biasa, sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. "Kamu mau apa?" selidiknya.
Arga tersenyum dan dengan cepat membalikan tubuh mereka, hingga posisi pun berubah. "Ngapain lagi? Bukannya kita harus mencoba kekuatan ranjang ini?"
"Isshh, dasar m*sum!" Cheryl mengusap kasar wajah suaminya itu. "Gak ah, aku cape," tolaknya.
"Oh ya, bukannya kamu suka yang m*sum? Hem, hem?" goda Arga semakin gencar, mendekatkan wajahnya.
"Ishh apaan enggak!" elak Cheryl terkekeh dengan kedua pipi memerah.
Ya, Cheryl memang selalu kalah dalam permainannya bersama Arga. Namun, gadis itu juga yang selalu menggoda terlebih dahulu.
Arga terkekeh, semakin gemas untuk menggoda istri m*sumnya itu. "Masa?" tangan Arga sudah bergeliyara mamasuki baju yang Cheryl kenakan.
Seketika Cheryl tergelak, saat merasakan geli diperutnya. "Aaa ampun! Ga, berhenti!" pekik Cheryl mencoba menahan tangan Arga. Namun, pria itu tetap melayangkan gelitikan dipinggang sang istri.
Gelak tawa terdengar dari sepasang manusia itu. Hingga suara ponsel bergetar pun tak mereka dengar sama sekali.
"Astaga! Ini manten udah mulai tempur 'kah?" tanya mama Chika yang tidak dapat menghubungi pasangan tersebut.
"Sudahlah, Ma! Biarin mereka menikmati waktu mereka. Kamu jangan mengganggu, biar kita segera punya cucu," celetuk papa Deril.
"Iya, Chi. Biarin mereka menikmati masa-masa bucin. Setelah sekian purnama mereka hanya adu mulut. Sekarang biarin lah mereka beradu yang lain," sambar Sena dengan sarkas. Hingga membuat suasana riuh dengan gelak tawa.
Berbeda dengan papa Shaka dan Key. Kedua manusia itu tengah memikirkan hal dan ke khawatiran yang sama.
'Smoga, semua berjalan dengan baik!'
\*\*\*\*\*\*