My Enemy, My Husband

My Enemy, My Husband
Berkaitan



"Arga!!!"


Pekikan seseorang mengalihkan atensi Arga yang tengah duduk di kursi tunggu didepan ruang IGD. Sementara Cheryl dan satu korban lagi tengah ditangani dokter.


"Mama!" Arga segera berdiri menyambut ketiga anggota keluarga yang menghampirinya.


"Gimana keadaan Chimut?" tanya mama Chika yang sudah berurai air mata.


"Cheryl baik-baik saja, Ma. Hanya ada sedikit luka dikakinya," balas Arga. Semua orang bernafas lega mendengar itu. Ucap syukur pun terlantun dari bibir semua orang.


"Tapi, belum ada kabar dari wanita itu," lanjut Arga.


Semua orang kembali khawatir. Sebelum berangkat, mama Jingga memberitahu akan keadaan korban yang bersama dengan Cheryl. Saat kejadian pun tidak ada ada yang mengetahui hal itu kecuali mama Jingga. Kepala keamanan yang mengetahui korban adalah sang pengantin segera melaporkan kejadian itu pada mama Jingga. Di karenakan masih berlangsungnya pesta, mama Jingga hanya mencari tau sendiri.


"Gimana sama penabraknya?" tanya Arga yang baru mengingat si pelaku.


"Polisi masih mengejar pelaku. Papa sama Papa Deril dan beberapa petugas keamanan sedang dimintai kesaksian dikantor polisi," jelas mama Jingga.


"Tapi lu tenang aja, polisi udah ngantongin cctv. Jadi mereka akan lebih mudah mengejar pelaku," sambung Key dan diangguki Arga dengan nafas lega.


Arga berjanji tidak akan membiarkan lolos pelaku yang hampir saja membuat ia kehilangan istrinya itu.


"Acaranya gimana?" tanya Arga khawatir. Tentu ia tidak ingin kabar itu menggemparkan seluruh tamu undangan.


"Kamu tenang aja, semua sudah dihandle onty Sena dan yang lainnya," balas mama Jingga menenangkan. Hingga Arga kembali bernapas lega.


"Oh iya, Key. Ada yang mau gue omongin," ucap Arga serius. Key menaikan alis seolah bertanya.


"Sebaiknya, kita bicarakan ini diluar!" Arga mengajak Key untuk membicarakan sesuatu yang terasa ganjil menurutnya. Sementara kedua ibu itu menunggu Cheryl yang belum selesai dengan pemeriksaan.


**


"Apa?!" pekik Key terkejut.


Arga menceritakan hal memgganjal akan kecelakaan ini. Dari mulai chat yang diterima Cheryl, padahal ponsel Arga sendiri ada dikamar. Hingga, terjadinya kecelakaan itu.


"Menurut lu gimana? Gue ngerasa ini aneh, seolah ada kaitannya," tanya Arga bingung.


Key nampak berpikir sejenak. Tentu itu sudah jelas berkaitan. Tapi ... Siapa?


"Tania," celetuk Key.


Arga menautkan alis tak mengerti. "Maksud lu?" tanyanya.


"Mana hape lu?" bukan menjawab Key justru balik bertanya, pria itu mengadahkan tangan meminta ponsel Arga.


Arga pun mencari benda tersebut didalam saku celananya. Sementra jas ia tanggalkan di ruang tunggu, karena penuh darah. Dan ... "Akhh sial! Gue menjatuhkannya dikamar," balas Arga saat mengingat ponsel itu ia tinggal begitu saja karena panik.


Key menghembuskan nafas pelan. "Ya udah, ntar gue ambil," ucapnya.


"Tunggu dulu, maksud lu tadi? Apa ini ada hubungannya dengan Tania?" tanya Arga masih belum mengerti.


"Ya, lu pikir siapa lagi?" tanya Key, lalu menyeruput minuman dihadapannya. Kini kedua pria tampan itu tengah mengobrol disebuah kafe didepan Rumah sakit tersebut.


Arga terdiam mencerna ucapan Key. Benarkah Tania yang melakukannya? Lalu, bagaimana wanita itu bisa sejahat itu?


"Bukan begitu. Cuma ...."


"Lu gak benar-benar tau siapa dia? Selama ini lu cuma dibegoin sama muka duanya tuh cewek set*n," jelas Key dengan gamblang.


"Tania yang selama ini lu kenal, bukan Tania yang sesungguhnya. Dia tuh sangat licik. Kalo lu masih juga gak percaya. Mungkin sekarang waktunya lu percaya."


"Dia gak akan pernah berhenti sebelum membuat Cheryl celaka dan terluka. Tujuannya bukan untuk mendapatkan lu balik. Tapi, untuk membuat kalian hancur," lanjut Key panjang kali lebar.


Arga memicingkan mata dengan tangan mengepal kuat. Mungkin benar yang dikatakan Key, selama ini ia dibodohi wanita itu. Namun, jika tujuan Tania adalah mencelakakan Cheryl, tentu ia tidak akan terima.


"Gue gak akan lepasin siapapun itu yang mau celakain istri gue," geram Arga.


Key tersenyum puas. "Itu yang mau gue dengar dari lu!"


"Lu bantu gue, cari tau soal chat itu!" pinta Arga dan diangguki oleh Key. "Dan ... Cctv! Gue yakin ada seseorang yang mengikuti gue dan Cheryl saat keluar dari ballroom. Temukan orang itu, jangan sampai lepas!" lanjut Arga.


Key mengangguk mengerti. "Oke, gue akan bergerak sekarang!"


Setelah sepakat, Key kembali ke hotel untuk mencari ponsel Arga dan mengecek cctv. Sementara Arga kembali ke Rumah sakit untuk melihat kondisi sang istri.


'Tania ... Gue gak akan pernah lepasin lu! Lu harus menerima akibat dari setiap perbuatan yang lu lakuin. Bukan untuk sakit hati gue, tapi untuk istri gue!' batin Arga.


Pria itu berjalan menyusuri koridor menuju IGD. Terlihat Cheryl sudah duduk diatas kursi roda. Sementara tim dokter terlihat bicara serius dengan kedua ibunya dan seorang wanita tua yang kemungkinan keluarga pasien korban kecelakaan itu.


"Ga?!" Mata Cheryl berkaca-kaca menatap Arga. Segera Arga berjongkok melihat keadaan istrinya.


"Iya, Cher. Gimana keadaan kamu?" tanya Arga merapihkan anak rambut Cheryl yang sudah berantakan.


"Ga ...a...a..." Cheryl memeluk erat leher Arga dengan isak tangis dari bibirnya.


Arga yang sempat shok, akhirnya mengerti keadaan disana. Apalagi mendengar wanita tua itu juga menangis histeris, yang kini ditenangkan oleh ibu dan ibu mertuanya. Sesuatu yang buruk pasti telah terjadi. Arga membalas pelukan sang istri, mengusap rambut istrinya itu seraya menenangkan.


Ia tidak bisa membayangkan jika saja Cheryl yang berada diposisi itu. Andai istrinya itu kurang gesit sedikit saja. Mungkinkah ia pun akan kehilangannya? Bulir air mata kembali luruh dari ujung mata pria itu. Ia mengecup dalam rambut Cheryl dengan mengucap syukur dalam hati, Tuhan masih melindungi istrinya.


**


Sementara itu, disebuah jalan langgang sebuah mobil merah melesat bagai kesetanan saat dua mobil polisi mengejarnya. Seorang wanita yang mengendarai mobil tersebut, sudah tidak memedulikan keselamatannya. Suara sirine dari mobil yang mengejar, membuat ia hanya hapal menginjak pedal gas saja.


"Sial! Harusnya lu yang mati Cheryl. Gue gak akan tertangkap sebelum lu mati!" ucapnya dengan emosi meluap.


"Gue Tania bersumpah, akan buat kalian hancur. Arga ... Cheryl ...."


Dorrr!!!


Suara peringatan dari senjata yang ditembakan polisi, semakin membuat Tania kesetanan. Ia bertekad untuk tidak tertangkap.


Dorrr!!!


Sekali lagi tembakan peringatan itu berhasil mengenai ban mobil merah itu, hingga Tania hilang kendali. Lalu, mobil itu pun berputar ditengah jalan. Bukan hanya pedal rem namun pedal gas juga masih saja wanita itu injak. Hingga mobil pun terpental dan terjungkir beberapa kali. Mengakibatkan wanita didalam sana menjerit kesakitan karena terhimpit.


"Aaaa!! Sakit!!!"


\*\*\*\*\*\*